
Hujan turun dengan deras secara tiba-tiba, itu tidak hanya terjadi di daerah Tretes, tapi juga di Sidoarjo, Mojokerto, dan Surabaya.
Sebuah rumah dipinggiran kota Sidoarjo, secara tiba-tiba bergetar. Seperti ada gempa bumi disekitarnya. Tapi ternyata tidak. Cuma satu rumah itu yang berguncang.
Letaknya cukup jauh dari rumah lain yang merupakan tetangganya. Dan ada keanehan lagi yang terjadi. Yang terbangun karena guncangan itu cuma seorang pria dengan umur berkisar lima puluh tahunan.
Istri dan anak-anaknya masih tertidur pulas. Pria yang di desanya terkenal sebagai Juragan ayam potong itu terbangun tiba-tiba.
Rumah yang terbilang paling besar dan mewah di desa itu bergetar dan bergoyang secara tiba-tiba.
"Ada "tamu" tidak diundang rupanya.." Pria berpenampilan sederhana ini segera mengganti pakaian tidurnya.
Lalu melangkah menuju sebuah lemari. Di lemari itu terdapat kotak kecil. Kemudian pria paruh baya itu mengambil kotak berlambang buaya putih yang ada di dalam lemari pakaiannya.
Kotak kecil itu dibuka. Isinya kalung dengan mata batu jambrut berwarna biru, selembar udeng dan sebotol cairan berwarna merah.
Semua diambil dan dipakainya. Kalung dileher, udeng hitam bertuliskan huruf honocoroko dikepala. Dan botol kecil berisi cairan merah itu dimasukkan ke saku celananya.
Diluar rumah yang mewah itu hujan masih turun dengan deras. Melangkah mantap menuju ke pintu. Dan membukanya.
Tampak samar-samar oleh pria paruh baya itu, seorang pria tanpa pakaian dan alas kaki sedang menunggu ditengah lebatnya hujan saat itu.
Rupanya pria yang menjalankan ritualnya tadi di sebuah villa di Tretes telah berpindah tempat dengan seketika. Dan itulah salah satu kesaktian yang didapat dari sesembahannya... Invankra.
Pria yang terkenal dengan julukan Ki Demang itu melangkah maju. Sekarang keduanya berada ditengah hujan yang sangat deras dengan disertai hembusan angin yang kencang.
"Siapa kau sebenarnya!? Berani-beraninya kamu mengganggu kediamanku, Ki Demang Broto Suseno!" Ki Demang membuka percakapan dengan sebuah gertakan.
"Hahaha... Siapa aku? Kamu tidak perlu tahu! Yang pasti, malam ini, aku akan mengirimmu ke Neraka!" jawab pria tanpa pakaian itu.
"Kurang ajar!!! Berani sekali kamu! Kamu tahu siapa aku!?" Mendengar perkataan si "tamu" tak diundang barusan. Sontak Ki Demang marah besar.
"Tahu. Kamu cuma orang bodoh penyembah Jin-jin tolol. Yang sok jagoan, berlagak sebagai pembunuh bayaran. Buatku, kamu adalah sampah. Tidak lebih." Dengan santai dan tenang, pria penyembah Invankra ini menghina habis Ki Demang Broto Suseno.
"Bbaannggssaatt!!! Berani kamu ya!!! Baik! Kita mulai saja!" Ki Demang sangat emosi mendengar semua hinaan yang ditujukan padanya.
"Ayo... tunjukkan semua kesaktiannya, tolol!" Mulut pria berambut pendek dan rapi ini sangat berbisa. Selalu menghina dan terus menghina... Ki Demang Broto Suseno.
Ki Demang mengarahkan tangannya ke tanah. Membentuk seperti cakar. Tangan itu bergetar. Seperti menarik sesuatu dari dalam tanah tersebut.
Mantra pun segera diucap oleh Ki Demang Broto Suseno. "Ajiku... Aji Segorowedi, gawe rupo rusak-e bumi... hiiiiaattt!!!
Dipukulkan telapak tangannya ke tanah. Dan tanah pun kemudian bereaksi. Tiba-tiba terangkat membentuk gelombang seperti gelombang laut. Bergerak maju menghantam sosok pria tanpa alas kaki itu.
"Jjjeeedddaaarrr!!!"
Tanpa ampun, gelombang tanah yang besar itu menabrak tubuh pria yang ada didepannya. Hantaman itu menghasilkan bunyi yang keras. Dan badan pria tanpa pakaian ini hilang, tertimbun oleh tanah.
"Mati kau!!! Begitu jadinya, kalau berani menghina aku! Ki Demang Broto Suseno." Juragan ayam potong ini berbangga diri. Melihat lawannya telah hancur terkena ilmu saktinya.
"Ventus... Ventus!!! Veni, Et... Curcuma... Vertereee!!!
Terdengar suara yang keras dari dalam tumpukan tanah itu. Dari dalam tanah mencul hembusan angin. Angin itu berputar. Terus berputar semakin cepat. Menerbangkan semua tanah yang menguruk badan pria penyembah Invankra ini.
Penglihatan Ki Demang Broto Suseno yang masih bagus itu, membuat dirinya mengira lawannya sudah R.I.P, tapi ternyata... "tamu" bermulut kotor ini masih hidup. Dan itu membuat Juragan ayam potong ini seakan tidak percaya.
"Aappp... aappaaa... dia masih hidup! Mustahil!" Kaget sekali Ki Demang melihat pemandangan didepannya.
Tumpukan tanah itu telah berterbangan kemana-mana. Dan pria penyembah Invankra ini ternyata dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada luka di tubuhnya, baik luka luar atau pun luka dalam. Hanya saja rambutnya menjadi kotor karena tanah.
Segera dia membersihkan rambutnya dari tanah yang dihasilkan oleh gelombang tanah yang besar tadi.
Dan tanpa banyak bicara pria ini menyerang balik Ki Demang Broto Suseno. Sebuah pertarungan jarak jauh, tanpa bersentuhan tangan dan kaki terjadi disini. Dasyat dan mematikan.
"Turbinis... Vass... ti!"
Telunjuk tangan kanannya dihadapkan keatas. Diputar-putarnya telunjuk itu. Dari gerakan tersebut, muncul perlahan hembusan angin. Angin yang tidak terlihat mata itu, perlahan menampilkan wujud fisiknya. Berputar dari bawah, membentuk lingkaran, semakin keatas lingkaran itu semakin mengecil dan mengerucut. Dan sekarang yang terlihat adalah bentuk miniatur dari... angin... tornado.
"Immm... ppeee... ttuuusss!!!"
Digerakkannya telunjuk itu kedepan. Seketika juga, small tornado itu bergerak cepat, laksana anak panah, kearah Ki Demang Broto Suseno.
Mata Ki Demang Broto Suseno terbelalak melihat lawannya Masi hidup. Dan tetap terbelalak, melihat aksi pria tanpa alas kaki ini. Bisa menciptakan angin tornado yang sangat mematikan.
Kontan Ki Demang Broto Suseno menggebrak tanah kembali. Membuat tameng dari tanah untuk menahan serangan angin tornado dari lawannya itu.
"Aji Segorowedi, wujud pager madeti awakkk!!!" Secara tiba-tiba, tanah didepannya bergerak keatas dan memadat, menjadi keras. Menjadi perisai untuk melindungi tubuhnya.
"Wuusss... wuusss... wuusss... jeeelluusss!... uuukkkk!... bblekkk!"
Angin tornado itu bergerak cepat dengan terus berputar. Tameng dari tanah yang mengeras itu memang tidak hancur. Tapi ujungnya yang runcing, berhasil membuat lubang. Tanpa harus menghancurkan tameng tersebut.
Meluncur bebas, mengenai dada sebelah kiri Ki Demang. Tidak membuat pria paruh baya itu berteriak. Tapi hanya suara lirih yang terdengar, dan... langsung roboh kebelakang.
Ki Demang Broto Suseno memang terluka didalam tubuhnya. Tapi serangan angin tornado kecil itu tidak membuat Juragan ayam potong mati.
Dengan susah payah, dia berusaha bangkit. Namun gerakan yang dipaksakan itu membuat Ki Demang Broto Suseno malah memuntahkan darah kehitam-hitaman.
"Huuuoookkk..." Darah kehitam-hitaman keluar dari mulut Ki Demang Broto Suseno. Dihapusnya darah itu dengan lengannya. Lalu perlahan mulai bangkit lagi untuk berdiri tegak.
"Hebat juga, kau! Tapi... ini belum berakhir!" kata Ki Demang Broto Suseno.
"Segorowedi, segorokali, Segororowo, dalem ngundang Gusti Pangeran Brojogeni. Pangeran Bajulputeh.... Dateng!!! Dateng!!!" Mantra ritual diucapkan. Sambil membasuhkan darah itu ke wajah.
"Ritual konyol! Jin tolol butuh persembahan darah manusia! Untuk bisa kuat butuh darah... Hahaha... konyol sekali!" Ritual yang menakutkan seperti itu pun dihina dan jadi bahan tertawaan pria penyembah Invankra ini.
"Dengar baik-baik! Panggil semua Raja Jin setanah Jawa ini, kalau perlu! Dan satu lagi, saudara pengusaha yang kau teluh titip salam... sampai jumpa di Neraka!" Masih dengan nada menghina, pria tanpa alas kaki itu berkata kepada Ki Demang Broto Suseno.
Tubuh Ki Demang Broto Suseno bergetar hebat. Tangan dan kakinya mengejang. Kuku-kuku pada jari tangan dan kakinya tumbuh memanjang. Warna kulit Juragan ayam potong itu berubah menjadi sangat putih, tapi berkerut-kerut. Semua itu terjadi setelah mantra dan ritual pemanggilan dilakukan.
Suara Ki Demang Broto Suseno berubah lebih berat. Bau amis menyebar kemana-mana.
Berarti sosok yang berdiri agak jauh dari pria tanpa pakaian ini bukan lagi Ki Demang Broto Suseno, tapi... Pangeran Brojogeni. Raja Jin Buaya putih.
"Weerrr... weerrr... aaakkuu ttaahuuu siiaappaa kaaammuuu..." Bersuara berat, terdengar terbata-bata dan bergetar, Pangeran Brojogeni mulai bersuara.
"Weerrr... weerrr... aaakkuu ggaakk weeddiii, ttiiddaakkk tttaaakkuuttt. Aaakkuu jjjuuggaa Ppeenguuuaassaa... weerrr... weerrr," kata Pangeran Brojogeni. Raja Jin Buaya putih itu.
"Hahaha... lucu... lucu sekali, kamu, cicak! Berjuta-juta tahun, belum ada cerita bangsa Setan kalah dengan bangsa Jin! Hahaha... tolol-tolol! Tapi... ya sudah, keluarkan semua kesaktiannya," Benar-benar sangat meremehkan pria penyembah Invankra ini.
Mata Pangeran Brojogeni langsung memerah dan melotot. Terlihat marah sekali. Mendengar penghinaan itu.
"Weerrr... weerrr... Bbbaajjuull Sseewwu!" Panggilan kepada prajurit bangsa Jin telah terucap. Hujan lebat dan angin kencang semakin menjadi-jadi.
Tiba-tiba air pun meninggi, seperti ada yang membendung air hujan yang sangat deras itu. Lokasi tempat mereka bertarung menjadi banjir. Sehingga terlihat seperti sebuah sungai yang baru dibuat.
Dan entah datang dari arah mana. Bermunculan banyak sekali buaya-buaya besar. Ribuan buaya.
Ketinggian air sudah mencapai lututnya. Tapi pria ini santai, tersenyum dan tenang. Padahal sebentar lagi, ribuan buaya-buaya akan menyerangnya. Dia tetap berdiri dengan relaxnya.
"Weerrr... weerrr... mmmaajjuu! Bbuunnuuhhh Sseeetttaann iiittuuu!" Pangeran Brojogeni mengomando pasukan siluman Buaya untuk bergerak maju dan menghabisi lawan yang super sombong didepannya.
Perlahan ribuan pasukan siluman buaya ini bergerak maju. Menuju sasaran.
"Umbra... Invankra!!!"
Matanya berubah menjadi merah semua. Tumbuh dengan perlahan sepasang tanduk.
"Kkrreeetteekkk... kkrreeetteekkk... kkrreeetteekkk... Aaaacccrrrr!"
Matanya memejam dengan sangat, kepalanya bergoyang pelan, kesana-kemari, menyeriai menahan sakit, waktu tanduk itu muncul dan tumbuh.
Tumbuh semakin panjang dengan bentuk yang aneh. Pertumbuhan tanduk itu terhenti setelah mencapai ukuran kira-kira tiga puluh centimeter.
Muncul dibelakang pria paruh baya yang masih terlihat keren ini, bayangan sosok makhluk bersayap dan bertanduk. Terus membesar, bukan membesar keatas, tapi kedepan. Membungkukkan badan.
Bayangan. hitam itu terus membesar. Terus bergerak maju menuju arah para prajurit siluman Buaya. Begitu juga dengan pasukan siluman Buaya itu, yang terus bergerak maju.
Bayangan hitam bersayap itu terus maju membesar. Dan ketika bayangan itu berada diatas pasukan siluman Buaya. Kejadian aneh pun terjadi.
Tubuh pasukan siluman Buaya itu mengeluarkan asap. Seperti dibakar oleh api yang sangat besar. Berguling-guling diatas air dan hancur dengan sendiri.
"Bbuuummmmm!... hheessstttt... tarrrr!"
Semua terlihat seperti dibakar sesuatu. Dan semua hancur secara tiba-tiba tanpa mengeluarkan suara yang keras.
Melihat pasukannya mati secara tiba-tiba, Pangeran Brojogeni pun terlihat panik. Bergerak kesana-kemari, dengan jari-jari tangan memegar, seperti gerakan pada tarian Barong dari pulau Dewata. Bali.
Dan ketika bayangan hitam bersayap itu ada diatas Pangeran Brojogeni, tak ayal tubuh Raja Jin Buaya putih langsung merasa terbakar juga.
"Weerrr... weerrr... paannass... paaannnaasss... Baattaarriii Duurrgaa... ttoolloongggg... paannass...!"
Tingkahnya semakin tidak karuan. Berteriak kepanasan. Bahkan memanggil nama Dewi tertinggi dari seluruh bangsa-bangsa Jin tanah Jawa. Batari Durga.
Melihat lawannya kalang kabut kepanasan. Pria penyembah Invankra tidak menyia-nyiakan kejadian itu. Dipanggilnya senjata pamungkas Invankra untuk menghabisi lawannya.
Telapak tangan kanan dibukanya. Dan mantra pun segera diucapkan.
"Hastam... Calvariae... Looo... cusss!"
Sekarang di tangan pria penyembah Invankra ini sudah menggenggam sebuah tombak.
Dengan tombak berwarna merah berhias huruf-huruf aneh yang berwarna emas, mulai mempersiapkan serangan cepat. Dan.....
"Makkkwusssss..."
Secepat kilat pria tanpa alas kaki ini melesat, berlari super cepat kearah Pangeran Brojogeni dan menancapkan tombak dengan ujung yang sangat runcing dan tajam itu, langsung ke dada sebelah kanan Raja Jin Buaya Putih ini.
"Hhhhuuuuuuuaaaccccrrrr!!!"
Teriakan Pangeran Brojogeni keras sekali, ketika badannya tertembus oleh tombak sakti itu dan mati seketika.
"Jjjrruuuooosss!"
Pangeran Brojogeni langsung roboh, begitu tombak tengkorak itu dicabutnya. Lalu tubuh itu kembali ke wujudnya semula. Menjadi Ki Demang Broto Suseno yang tergeletak diatas genangan air.
Banjir selutut orang dewasa itu, mulai menyusut. Begitu juga dengan hujan yang lebat itu. Angin yang tadi mengganas, kini perlahan mulai mengendorkan hembusannya.
Setan telah memainkan tipu dayanya. Tanpa ada luka sedikitpun, sosok Juragan ayam potong ini tergeletak tak bernyawa lagi diatas tanah yang masih basah.
Pertarungan yang cukup singkat. Karena memang bukan lawannya. Setan adalah Setan, Jin adalah Jin. Dan Setan tercipta lebih kuat dari bangsa Jin. Karena itulah Setan adalah musuh yang nyata bagi siapapun.