
Entah jam berapa hujan yang tadinya turun sangat deras menjelma gerimis dan akhirnya perlahan pamit, malu-malu.
Matahari lambat tapi pasti mulai menyembulkan. Wajah cerahnya diufuk. Perlahan sinarnya mulai menyusup
ke segenap penjuru. Menerpa siapapun dan apapun, seakan bertandang sembari menyapa ramah seluruh penduduk jagad bumi tanpa kecuali.
Sepasang mata yang tadinya dikerukupi kelopak rapat-rapat, mengerjap sesaat, berkas cahaya lembut itu menyentuhnya. Bak terkesiap, sontak ia berdiri, membusungkan dada, menarik nafas dalam-dalam dan...."Kukuruyyuuuuuuukk....!!!"
Berkas cahaya mentari yang bangkit dari peraduan malamnya, untuk yang kesekian ribu kali rupanya masih cukup tega membangunkan Sukro dari tidur lelap. Pulas, sampai ngiler-ngiler.
Mari berkenalan. Sukro, the roaster.Betul sekali...! Sukro adalah seekor ayam jantan yang amat disayang dan dimanja. Kasih sayang yang tulus dibalasnya dengan selalu bersetia memperdengarkan lantunan nada nyaring memekakkan telinga demi menyambut matahari.
Nama Sukro punya sejarah. Sejak baru menetas dari cangkang telur, kacang sukro sudah jadi makanan favoritnya(tidak tahukah sang pemilik bahwa kacang sukro sungguh berbahan telur ayam juga? Tega nian, mengajarkan perilaku kanibalisme rupanya). Maka dari itulah sang pemilik tanpa pikir panjang memberinya nama "SUKRO".
Sungguh paparan sejarah yang enggak penting banget, bukan? Oh ya... nama pemilik Sukro adalah Andi Bayu Samudra. Seorang anak kelas 3 SMA. Menurut Mama, papa, sampai Neneknya sih Andi pemuda yang tampan. Dari semua kenormalan yang melekat di tubuh Andi, ada yg aneh. Entah mengapa orang selalu mengimbuhi huruf "k" dibelakang namanya itu. Andi hampir selalu dipanggil Andik. Jawa banget deh kesannya. Mulai dari orang tuanya, tetangganya, hingga tukang nasi goreng dorong yang jarang lewat depan rumahnya pun memanggil Andik.
Tapi jangan kaget kalau tak seorangpun kalau tak seorangpun teman di sekolahnya memanggil dengan nama Andi ataupun Andik. Di sekolah, ia dipanggil Bayu, atau si Om. Lho,kok si Om...? Entahlah, mungkin karena dirinya satu-satunya yang nekat memelihara kumis di sekolah itu.
Nah, rupanya Sukro baru saja selesai menyanyikan "lagu kebangsaannya" dengan militansi yang bisa dibandingkan dengan seorang vokalis band rock antar kampung saat manggung 17 Agustusan. Lantas Sukro mengerillingkan matanya ke arah jendela kamar, menerka respon dari sosok kesayangannya yang berada didalam kamar, persis didepan kandangnya itu.
Oh...oh... rupanya sosok tersebut masih asyik meringkuk, molor dengan khidmatnya. Sukro menggelengkan kepala, seakan paham dan turut prihatin
Do'i pun serta merta mengambil kuda-kuda.Udara pagi yang dingin menusuk, dihirupnya kuat-kuat hingga dadanya terbusung maksimal. Dan ronde kedua dimulai." Kuukuruuyyuuuukk...!!! Panjang dan amat keras kokoknya kali ini. Itulah jurus maut" nyanyian badai menyongsong pagi" andalan Sukro yang sangat efektif membuat siapapun yang tengah lelap sontak bangun. Seakan menyangka gempa bumi menyergap.
Benar saja. Sosok dibalik jendela yang pulas tertidur itu sontak terbangun. Kaget, terlompat dari pembaringan sambil teriak setengah sadar,"Aku milikmu, Lie...!"
Tanpa bisa menghindar, karena masih setengah menghuni alam mimpi, kepalanya lantas terbentur gitar buntut yang tergantung ditembok disamping tempat tidur.
"Gumbreeennggg...!!!"
"Aduuuh...! Sakittt sekali!" umpat Andi sambil mengelus kepalanya yang baru saja sukses mencium pantat gitar tanpa ampun. Perih juga rasanya.
"Ealaahh... ternyata tadi itu cuma mimpi toh!" Andi bergumam sembari mengusap-ngusap kepalanya yang berdenyut nyeri.
Terbangun dari mimpinya yang indah plus bonus berupa benjut dikepalanya, membuat Andi sangat jengkel luar biasa.Dan semua itu terjadi cuma gara-gara oknum yang satu itu....
"Sukroooo...!!!" jerit Andi protes berat.
Dan dengan sikap cuek kakinya melangkah mantap menuju wadah tempat air minumnya. Lalu dengan gaya khas seekor ayam, dia menikmati air didalamnya untuk sekedar membasahi kerongkongannya. Persiapan, siapa tahu perlu diadakan ronde ketiga, pikirnya nakal.
"Gluk...gluk...gluk...pethook! Sukro seakan berkomentar singkat,lalu melenggang. So innocent.
"Jam berapa sekarang ya?" gumam Andi kesal, seraya berdiri meraih jam weker yang tergeletak diatas televisi.
"Oaaaach..." Andi menguap masih mengantuk, ingin rasanya kembali meringkuk di ranjang, meneruskan lelap sembari memburu mimpi yang barusan putus terlampau dini.
"Wah, rupanya memang sudah jam setengah lima pagi. Pantas saja Sukro bertingkah," Komentarnya saat pandangannya berhasil menangkap posisi jam weker dikamar yang gelap itu. Lampu kamarnya memang sengaja dimatikan, biar mematuhi seruan pemerintah. Hemat listrik. Kan, Andi anak baik, ceritanya....
Sholat subuh dilakukannya dengan khusyuk. Ini memang aktivitas yang tak pernah putus Andi lakukan untuk membuka hari-harinya. Enggak cuma baik, kan. Tapi sekali lagi, ceritanya...
Nah, sekarang giliran melakoni ritual khusus tiap pagi. Cuma Andi yang sanggup melakukan ritual berbahaya itu yaitu mengeluarkan Sukro dari kandangnya, biar do'i bisa olahraga ringan, berjalan mondar mandir dengan bebas sambil menghirup udara pagi. Melepas penat Kungkungan kandang.
"Morning,kro...gimana tidurnya?Enak tuk,dingin? Yok, sini keluar," sapa Andi kepada sahabat kecilnya itu. Pintu kandang yang terkunci itu dibuka dan dibiarkannya menganga. Toh Sukro nanti akan melenggang keluar dengan sendirinya.
Lalu, dengan agak malas, Andi menuju kran dibawah tandon air serta memasang selang air. Biasa deh, siram-siram tanaman dihalaman atas yang luas.
Papa Andi kan sangat gemar memelihara tanaman. Beragam jenis tanaman yang tertanam apik diberbagai ukuran pot. Dari ukuran mini hingga maksi.
Menyirami tanaman memang tugas wajib bagi Andi setiap hari selain mengeluarkan si lucu Sukro. Kalau sampai kelupaan, pasti deh uang sakunya yang tidak besar-besar amat, didiskon lima puluh persen.Yang tadinya berupa warna purple, berubah wujud lembaran berwarna coklat. Resiko yang mesti ditanggungnya bila sampai lupa menyiram tanaman. Dan Andi nggak bisa bohong, ya... karena selalu dicek oleh Papanya Andi.
Peristiwa uang jajan yang kena diskon itu bukan sekali dua terjadi."Sakitnya tuch disini (sambil menunjuk leher) dan disini (sekaligus menunjuk perut)," keluh Andi kepada teman-teman sekolahnya, tiap peristiwa diskon uang jajan berlangsung. Lapar plus haus maksudnya, minta traktiran.
Hari gini berbekal sekolah dengan selembar uang kertas coklat? Perasaan engga banget deh.... Walaupun Andi sesungguhnya hanya bercanda, karena dirinya masih amat bersyukur atas pemberian orang tuanya. Lagian meskipun masih kelas 3 SMA, tapi Andi sudah bisa cari uang sendiri, yang salah satunya, Andi ini jago banget bikin layang-layang. Dari yang bisa terbang sampai yang nggak bisa terbang, maksudnya buat hiasan gitu.
Itu dia...! Kepala Sukro nongol dari balik pintu kandang. Celingak celinguk jenaka menyelidiki kondisi dan situasi luar kandang. Setelah yakin semuanya clear, barulah Sukro kandang dengan kesan macho.
"Plok...plok...plok... Kuukuruuyyuuuukk...!" Sukro mengepakkan sayap dan kembali berkokok. Mulai mondar-mandir berjalan pelan seakan melakukan gerak pemanasan. Mematuk-matuk kecil di plesteran semen halaman atas. Padahal, disana tidak ada sisa taburan jagung, cacing tanah, apalagi kacang sukro kesukaannya. Semua sudah ditandaskannya sejak menjelang senja kemarin.
"Sukro...Sukro...gaya thok," pungkas Andi sambil tertawa kecil melihat polah tingkah sobat kecilnya itu. Dan itulah kebiasaan. Sukro setiap pagi selama bertahun-tahun.
Seandainya boleh membalas komentar bosnya, niscaya Sukro akan menimpali dengan heran,"Siapa gerangan yang dibilang gaya thok? Siapa sih yang tukang gaya? Gak kebalik tuh? Perasaan, situ deh yang gaya tok, kalau ngaca saja 5jam, cuma buat nyisir kumis doang, belum nyisir rambut lho itu, bisa pecah kacanya nanti. Belum lagi kalau mandi, wadohhh... parah deh, kalau mau lama-lama dikamar mandi... it's oke, tapi tolong... please banget,"Jangan pakai nyanyi!" Bisa pecah semua nanti. So ketahuan kan, siapa yang gaya tok!
Ya... begitulah aktifitas rutin Andi di setiap paginya. Hampir selalu dihiasi dengan keceriaan. Meskipun ada kalanya juga nggak. Seperti disetiap hari Senin, yang selalu buat Andi lemes alias males. Ya.. itulah human being. Selalu ada saatnya.