
"You float like a feather in a beautiful world. I wish i was special. You're so very special.....
But i am a creep. I am a weirdo. what the hell i'm doing here. I don't belong here...."
Sebuah lagu yang gak pernah ada matinya menjadi lagu pembuka yang cocok buat mengisi pagi hari ini dengan semangat baru.
Dan memang sebuah pilihan yang smart oleh Cak Gondrong untuk memutar lagu dari group rock Radiohead yang berjudul Creep,buat menemani pelanggan-pelangan setianya.
Gak cuma smart tapi tepat. Satu orang aneh sudah datang ke warungnya untuk larut dalam buaian kenikmatan kopi buatannya.
Disusul dengan tiga makhluk aneh yang sebentar lagi akan datang ke warungnya, membuat Jantung Cak Gondrong berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang.
Seperti boy band, mereka bertiga datang bersamaan. Motor diparkir secara bersamaan plus aksi mereka turun dari motor masing-masing, juga bersamaan pula. kebayang khan?
Winoto turun dari motor koplingnya, perlahan melepas helm serta kaca mata hitamnya. Menebar senyum tanpa tahu do'i tersenyum kepada siapa. Yang penting senyum...
Begitu juga dengan Stefano alias Wahe (nama Chinese do'i) perlahan turun dari motor bebek andalannya, terdiam sejenak, membetulkan ikat kepala warna kuning kesayangannya. Bergambar seruling bambu bertuliskan "Dangdut Is The Music Of My Country." Dan memang Wahe itu dangdut mania. Do'i banyak tahu penyanyi-penyanyi dangdut. Mulai Rhoma sampai Ikke Nurjanah. Hafal lagu-lagu mereka. Turun dari motor dengan style yang sama dengan Winoto... melepas kaca mata hitamnya.
Tapi semua adegan keren tadi tidak akan mungkin kita dapati pada pengendara motor ketiga, yaitu Robert alias Bandot. Dengan tubuh yang subur alias gendut, rupanya Robert ini mendadani dirinya diluar nalar orang waras. Topi kepala beruang plus kaca mata renang yang tali karetnya diganti dengan tali rafia warna ungu. Sungguh membuat selera makan siapapun atau apapun langsung hilang. Jadi adegan melepas kaca mata renang agak ruwet menjelaskannya.
Dengan body yang subur seperti itu plus jerawat mengundang diseputar wajah dan rambut gontang (gondrong tanggung) keriting, penampilan Robert secara keseluruhan memang terlihat sangar.
Maka dari itu do'i mati-matian mengubah citra penampilannya yang sudah terlanjur parah dari sononya. Dia ingin terlihat sedikit lebih imut. Simple.
Hati ingin tapi modal gak ada. Maka semua masukan pun didengar serta dilakukan oleh Robert. Dan dari semua pemberi masukan, gadis kecil dengan gigi kawat, rambut dikuncir dua bernama Ima, yang dipilih Robert menjadi konsultan gaya dan kepribadiannya. "Om... Om amlet (kampret maksudnya mungkin), Om ake oppi beluang ini deh... asti akep, Kellen ayak Ima," saran Ima dengan suara candelnya kepada Robert. Dan bisa dilihat kan hasil akhirnya...
"Hallo... Om, hallo... Drong. Eh Drong, kopi hitam satu yang merk Kapal Keruk, ok?" sapa Winoto sekaligus memesan kopi kesukaannya.
"Hallo juga, Wi," balas Andi
"Siap bosku, tapi sabar, airnya aku masak dulu ok," Sahut Cak Gondrong membalas sapaan pelanggan setianya itu.
"Hei Om, Wi. Drong, aku kopi susu saja, rokok ecerannya satu batang saja. Om, kamu juga mau?" tanya Wahe kepada sohibnya itu.
"Hallo juga He. Ya gak apa-apa, satu saja. Thank." Andi menerima tawaran Wahe dengan senang hati.
"Kamu juga mau, Wi?" Ganti Wahe bertanya kepada Winoto yang juga sohibnya itu.
"Hei juga He. Gak He, thanks. Kamu kan tahu aku gak merokok. Lagian kata Papa aku merokok itu gak baik. Bisa merusak mata." Penjelasan singkat dari Winoto tentang bahaya merokok. Dan itu membuat semua yang mendengar heran sekaligus maklum. Kok bisa merusak mata sih?! Kalau merusak paru-paru sih... possible. Tapi kalau mendebat Winoto, bisa seharian berdebat dengan do'i untuk hal yang gak penting. Karena memang Winoto dikenal sebagai Raja ngeyel. Meskipun kapasitas otaknya terbatas. Jadi dimaklumi saja, ok
"Ya sudah kalau gak mau. Drong, rokok ecerannya dua. Nanti aku yang bayar semua."Memang jauh dari kata pelit sohib kita yang satu ini. Meskipun do'i itu Chinese. Dan pelit memang bukan masalah ras. Tergantung tiap-tiap individunya saja.
"Ok, He. Tapi sabar ya, airnya baru dimasak. Rokoknya sekalian nanti sama kopinya, ok?" ucap Cak Gondrong kepada Wahe.
Sementara ketiga temannya sudah larut dalam obrolan. Sosok yang satu ini masih dibingungkan dengan kaca mata renangnya. Lagian siapa yang suruh pakai kaca mata renang. Ada-ada saja kamu tuh Dot.. Dot....
"Aduhhh... gimana nih melepasnya? Erat sekali ikatannya. Aduhhh... somebody help me, please!" Rintihan yang memilukan dari seorang giant.
"Hallo... hallo semua, aku masih disini lho. Bisa nolongin daku gak?" Robert melambaikan tangannya kearah teman-temannya, persis seperti lambaian seorang peserta uji nyali ketika sudah mulai ketakutan. Akan tetapi mereka malah cuek bebek dengan "penderitaan" sohibnya yang satu ini.
"Hallo... aku ini manusia lho, bukan setan. Ayolah guys, please... tolong," pinta Robert dengan memelas. Tapi tetap... gak berhasil. Kasihan deh, Loe, Bert.
Namun tiba-tiba rengekan Robert terhenti. Matanya lalu dipejamkannya. Mungkin Robert akan mengeluarkan kesaktiannya yang tidak diketahui oleh teman-temannya. Tapi semua itu salah... kisanak. Masih ada terusannya. Matanya memang terpejam, tapi bukan untuk merapal mantra. Melainkan untuk membayangkan kenikmatan apa yang bakalan hadir sebentar lagi. Penciuman yang tajam sebagai penggemar kuliner membuat do'i sangat ahli memprediksi aroma makanan yang sedang mendekat.
"Gggrreeeenggg.... gggrreeeenggg... tet... tet..."
Sebuah motor bebek dengan box yang diikat dibelakang berhenti tepat di depan warung kopi Giras Cak Gondrong. Pengendaranya seorang cewek pakai baju seragam SMA. Baju seragam SMA Perjuangan.
Posisi yang tepat berhenti didepan warung Kopi Giras Cak Gondrong, tidak membuat cewek itu tergerak untuk menolong Robert yang berada tepat didepan motornya juga. Sekalipun wajah Robert sudah pucat pasi. Sekali lagi, kasihan deh, loe, Bert.
"Hallo... semua. Om Gondrong, nasi bungkusnya nambah ya?" Rupa-rupanya cewek ini penjual nasi bungkus yang hampir setiap pagi mampir ke warung kopi Giras Cak Gondrong untuk menitipkan nasi bungkus buatan mama tercintanya. Benar-benar seorang Entrepreneur sejati.
Sambil sekolah, cewek yang penampilan sehari-harinya sederhana, rambut dikuncir, rok panjang hampir menyentuh kaki, tanpa make up, ingin supaya cita-citanya bisa terwujud. Yang jelas bukan jadi model, tapi jadi pengusaha catering terkenal. Makanya do'i semangat banget menjalani ini semua. Good girl.
"Oh ada mbak Santi toh! Boleh kalau mau ngisi lagi. Total uangnya kemarin berapa?" Senyum ramah Cak Gondrong menyambut supplier nasi bungkusnya ini.
"Iiiihhhh... Om Gondrong, nama saya Sofie bukan Santi. Kok lupa terus sih!" protes kecil Sofie kepada Cak Gondrong yang selalu salah memanggil namanya.
"Oh ya maaf. Jadi semua berapa totalnya, mbak Roti?" balas Cak Gondrong yang lagi-lagi masih salah menyebut nama cewek itu.
"Iiiihhhh... kok malah Roti sih! Sofie! S-O-F-I-E!" jelas Sofie yang jengkel sampai harus mengeja namanya sendiri.
"Hhhmmm... hei Kopri... bisa nolongin Robert?" sela Robert yang masih berusaha berharap pertolongan dari siapapun.
"Ini lagi!... apaan sih Bert! Namaku kan Sofie. Pada nyebelin semua nih!" Sofie menjawab sapaan Robert dengan ketusnya.
"Ya... ya... maaf. Robert minta maaf ya Sapi. Sekarang mau gak nolongin Robert?" Dengan semangat 45 Robert masih terus berharap pertolongan dari makhluk hidup. Meskipun tanpa disertai pendengaran yang sempurna.
"Aaacccrrrr!... Sofie kok malah dipanggil Sapi! Nyebelin!... nyebelin!... semua!" teriak Sofie yang jengkel dengan semua orang yang ada disana. Selalu salah menyebut namanya.
"Ya sudah! Bye semua...!" Sofie yang ngambek langsung ngacir dari warung Kopi Giras Cak Gondrong. Langsung mak.. werrrr menaiki motor bebeknya menuju ke sekolah.
"Lho mbak Sari mau kemana? Urusannya belum selesai nih!" teriak Cak Gondrong yang masih saja salah menyebutkan nama Sofie.
"He... kenapa dengan Ranti ya? Kenapa dia marah? Kan benar namanya Ranti," cetus Om sambil menoleh ke Wahe.
"Gak tahu tuh Surti. Gitu saja kok ngambek!" Sahut Winoto menimpali perkataan Andi.
"Nih kopi kamu, Wi, dan ini kopi plus rokoknya dua batang buat kamu, He." Cak Gondrong langsung mengantarkan pesanan para pelanggannya ketika kopinya sudah selesai dibuatnya.
"Drong, pinjam guntingnya?" tanya Andi kepada Cak Gondrong.
"Nih guntingnya, eiittt... tapi buat apa dulu! Jangan bunuh diri disini lho! Bisa repot nanti," canda Cak Gondrong yang menarik kembali tangannya yang akan memberikan gunting kepada Andi.
"Husss... kamu itu kalau bicara asal saja. Gak mungkin lha! Tuh Gunting buat bunuh Robert.... eh salah, buat nolongin Robert. Ayo cepetan sini. Keburu ngompol tuh anak." Andi segera meminta kembali gunting yang ada di tangan Cak Gondrong.
"Ya sudah ini, balikin lho ya!" Akhirnya Cak Gondrong dengan ikhlas memberikan guntingnya kepada Andi. Hitung-hitung amal soleh.
"Ya... ya..." sahut Andi yang kemudian segera menghampiri sohibnya tersebut.
"Makanya toh Dot, jangan aneh-aneh jadi orang itu. Kalau memang gak punya kaca mata hitam ya sudah, langsung berangkat saja," saran Andi kepada Robert. Dan....
"Ccceekriikkk..." Andi menggunting tali rafia yang dari tadi sangat sulit dibuka ikatannya oleh Robert. Gimana gak sulit, wong ikat mati, erat sekali. Dasar gembul.
"Puji Tuhan, thanks Om. Kamu memang sahabat Robert yang paling baik. Gak kayak Winoto dan Wahe. Kejam, gak punya hati," sindir Robert sambil mengerilingkan mata kepada dua sohibnya yang dari tadi tanpa perasaan lebih memilih menikmati kopi mereka ketimbang menolong Robert.
Dan Robert yang terbebas dari keruwetan yang dibuatnya sendiri, langsung masuk kedalam warung dengan senyum cerianya.
"Hallo semua... I am back!" Robert tersenyum lebar kepada semua yang ada di dalam warung kopi Giras Cak Gondrong. Meski berwajah dan berpenampilan amburadul, cuma Robert yang selalu membalas dengan senyuman siapapun yang menyakitinya. Ohhhh... sweet banget deh, sampai mau pipis nih...
"Bukannya kita cuek, Dot, kamu sih hobi banget buat teman kamu repot," sahut Wahe yang baru saja menyalakan rokoknya.
"Yyyaaa nniihh... Haandoottt (nyam... nyam... nyam)," lanjut Winoto sambil menguyah dua pisang goreng sekaligus.
"Hei Wi, kalau makan jangan sambil ngomong. Keselek lho nanti," kata Andi mengingatkan sohibnya itu.
"Dot, kamu mau kopi atau apa gitu?" sela Cak Gondrong.
"Itu saja Es jeruk, ok?" jawab Robert yang segera bergabung dengan para sohibnya.
"Bro, hari ini aku mau mancing, ada yang mau ikut gak?" Andi membuka obrolan dengan menawarkan sebuah kegiatan yang diyakini do'i akan membuat ketiga sohibnya ini pasti tertarik. Simple saja, hobi mereka kan sama semua... suka manjang-manjangin libur.
"Wadohhh... aku gak bisa Om. Hari ini mau bantuin Papaku. Banyak yang pesanan kripik yang harus dikemas dan dikirim ke expedisi." jelas Winoto kalau do'i sibuk banget hari ini.
"Bagus dong Wi. Mau dikirim kemana?" sela Wahe menyemangati winoto.
"Yup... benar tuh He. Semua mau dikirim ke luar negeri. Kata Papa butuh waktu kurang lebih 24 jam kalau naik pesawat menuju ke lokasi." Semangat sekali Winoto memberikan penjelasan.
"Oh ya, Alhamdulillah kalau begitu Wi. Keluar negeri mana? Rusia? Amerika? atau dimana?" Gak cuma Wahe, Andi juga menyemangati Winoto
"Ba... tam, hebat kan... hehehe..." tegas Winoto dengan bangga akan bisnis keluarganya yang sedang berkembang pesat itu.
Sontak mereka semua yang mendengar tanpa kecuali Cak Gondrong yang lagi asyik memeras jeruk buat Robert, ikut-ikutan histeris, mendengar jawaban Winoto.
"Wwwhhhaaattt! Bbbataamm!" Seperti sebuah paduan suara, mereka mengucap kalimat yang sama. Wi... Wi... Batam kok diluar negeri... aneh!
"Lho... lho... kenapa? Salah? Apanya yang salah, pren?" Jadi ikut-ikutan kaget juga Winoto. Dan sekarang kita tahu kan, gak semua anak pengusaha cccerrrrdaasss... hehehe...
Tapi ya sudahlah. Biarlah cuma Winoto yang menganggap Batam itu di luar negeri.
"Ya sudah. kalau gak bisa ikutan," kata Andi tanpa merespon pertanyaan Winoto barusan.
"Kalau kamu, He?" tanya Andi kepada Wahe.
"Sorry berat Om, gak bisa. Siang ini aku harus siap-siap. Banyak yang mau aku lakukan." jawab Wahe tanpa memberi penjelasan.
"Ada acara penting ya, He?" Andi rupanya keppo dengan perkataan Wahe tadi. Acara apa sih??? Paling ambil surat tilang di pengadilan. Dan memang betul, pengemar dangdut yang satu ini punya hobi lain yang mungkin cuma do'i yang happy banget dengan hal ini... yaitu hobi kena tilang polisi. Gak salah kan kalau menyebut mereka semua... Creep. Aneh....
"Pokoknya ada deh," canda Wahe yang masih tetap bungkam dengan kegiatan rahasianya.
"Kamu Dot, alasan kamu apa?" Tanpa basa basi Andi langsung mengalihkan pertanyaannya ke Robert.
"Kok gitu sih Om. Kamu kan tahu aku ini Presenter. Malam ini aku ada Talk Show. Temanya "Special Moment With Jeng. Kunti." Jadi siang ini aku ada briping dengan team Dunia Lain," tandas Robert penuh kejujuran.
Robert memang polos, gak suka boong, kecuali kepepet... hehehe. Tapi semua benar kata Robert tadi. Karena Robert ini bisa lihat hantu. Bahasa kerennya, Indigo.
"Jadi beneran nih pada gak bisa semua!? Ya sudah gak apa-apa kok," jawab Andi yang memaklumi kesibukan sohib-sohibnya itu.
"Mungkin la... uuuhhuukkk... uuhhhukkk..." Belum sempat meneruskan kalimatnya. Tiba-tiba asap tebal datang tanpa diundang. Mengarah dan menyebar masuk ke warung kopi Giras Cak Gondrong. Masuk tapi gak pesan kopi.
"Aadduhh nih asap apa?... uuuhuukk.. uuhhhukkk..." Winoto pun mengalami hal yang sama dengan Andi.
"Uuhhhukkk... uuuhhhukkkk... uuhhhukkk..." Semuanya batuk-batuk karena serangan asap tebal bak petugas kelurahan melakukan penyemprotan Fogging.
Ada apa nih!? kenapa tiba-tiba ada asap tebal??? Mungkinkah ada kemunculan Monster...aaduhhh...??? Mana Ultraman... mana Ultraman???
Atau jangan... jangan....
..