Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
MEET U AGAIN



Setelah mendapat "Kado", berupa bogeman dari gadis cantik, Andi pun pulang langsung ke rumah, dengan keadaan hidung yang masih mengeluarkan darah.



Berulang kali berhenti sejenak, untuk menghusap darah di hidungnya, tapi darah itu masih terus keluar.



Dalam perjalanannya pulang, hujan pun turun kembali dengan deras. Klop sudah. Berdarah dan basah kuyup.



Terus meneruskan perjalanan, meskipun saat itu sedang turun hujan yang sangat deras.



Sebenarnya pada saat kena tonjok Andien saat itu, Andi benar-benar marah. Tapi otak warasnya mengingat pesan Mamanya, kalau dia tidak boleh memukul seorang wanita, apapun masalahnya.



jadi Andi hanya bisa menyimpan kemarahannya itu dalam hati. Dalam perjalanan, cowok kelas tiga SMA ini berpikir, mungkin dia juga yang salah. Karena tidak berusaha lebih keras untuk mendapatkan kacang sukro merk burung itu.



Dan tidak cuma mengevaluasi kejadian tadi, pikirannya masih terbayang wajah cantik Andien. Gadis yang telah membuat hidungnya berdarah-darah.



"Kamu cantik sekali, tapi sadis. Mungkin ini memang salahku. Tapi..." kata Andi dalam hati sambil tetap meluncur mengendarai Nitta.



"Ini Non, pesanan es tehnya. Ngomong-ngomong, tadi ada apa ya kok ribut-ribut?" Cak Kan menghampiri Andien dengan membawa tiga puluh bungkus es teh, sambil menanyakan tentang keributan kecil di warungnya tadi.



"Itu lho Pak, saya ketemu sama cowok yang ambil kacang sukro saya tadi siang. Dan dia gak mau ngembaliin tuh kacang. Berkelit-kelit. Ya sudah, saya tonjok saja mukanya. Beres," tutur Andien dengan santai kepada Cak Kan. Pemilik warung kopi itu.



"Sebentar-sebentar, jadi cowok brengsek itu, ditonjok sama Non. Bagus lah kalau begitu. Tenang saja Non, disini aman kok," balas Cak Kan yang kelihatannya mendukung perbuatan Andien.



Lalu Pria bertubuh subur ini, keluar warung. Tengok kanan kiri, seperti mencari sesuatu atau... seseorang.



"Cari apa, Pak?" tanya Andien yang bersiap menuju mobilnya. Tadi total pembelian es teh itu sudah bayar semua. Langsung dibayar didepan. Jadi tinggal pulang saja.



"Eh... gak Non, tadi sepertinya, Bapak mendengar ada yang manggil nama Bapak, waktu saya buatin Non es teh. Tapi kok sekarang, gak ada orangnya. Saya kenal banget sama suara itu. Suaranya si Om." jawab Cak Kan.



"Oh itu. Tadi memang ada sih, cowok yang datang ke warung ini. Ya cowok yang saya tonjok barusan itu, Pak," jelas Andien santai.



"Sebentar-sebentar, Jadi tadi yang datang kesini barusan, cuma satu orang cowok saja! Dan cowok itu yang Non tonjok! Betul begitu?" Cak Kan berusaha mengartikan perkataan Andien.



"Iya, memang kenapa, Pak?" tanya Andien.



"Ciri-ciri cowok itu, kuning Langsat, rambut agak gondrong, ganteng dan berkumis, ya?" balik Cak Kan yang bertanya ke Andien.



"Iya Pak. Memang kenapa, Pak? tapi kalau ganteng sih... gak kali Pak" tanya Andien lagi.



"Ya itu Non, orang yang Bapak cari. Itu si Om, Non!" Mendengar perkataan Andien, Cak Kan bisa memastikan bahwa yang tadi ditonjok itu... si Om atau Andi atau Bayu. Pelanggan setianya.



"Kok Om sih Pak! Berarti bukan dia. Pak,kalau om-om sudah tua,ini lho anaknya masih mudah,gimana sih Bapak ini!?" Gak nyangka y... cantik-cantik,lemot juga Andien ini... he... he... he...



"Aduhhh...Non ini,gimana sih!? Om itu namanya,bukan menunjukan usianya" jelas Can Kan yang terlihat gemes juga sama jaringan otak gadis cantik ini. Makanya benar kata pepatah "rajin\=smart",bukan "cantik\=smart"... belum tentu beb.




"Banyak banget namanya. Pasti dia itu nakal sekali. Suka modus. Buktinya, beneran dia lho Pak, yang ambil kacang sukro saya," Andien berpikir memang pantas cowok berkumis tadi itu mendapat tinjunya.



"Om yang Bapak kenal, gak seperti itu Non, anaknya. Jadi beneran dia yang ambil kacangnya Non?" tanya Cak Kan lagi. Karena memang tidak yakin benar dengan cerita Andien.



"Sebenarnya dia gak ambil sih, Pak. Tapi minta. Tetap saja dia yang ngambil kan!" Andien mencoba mempengaruhi Cak Kan.



"Waktu minta itu, maksa gak?" tanya Cak Kan menyelidiki bak detektif Koran,itu lho detektif di film kartun jepang,yang detektifnya itu cowok,terus disuntik jadi anak kecil itu lho. Koran kan namanya!? Wait... wait... itu disuntik atau direbus y dia itu??? Kok lupa...



"Gak sih, tapi..." jawaban Andien. yang belum selesai membela diri, langsung dipotong oleh Cak Kan.



"Dia gak maksa, tapi Non, berikan kacang itu ke Om?" Bak Detektif Koran lagi,Cak Kan mencoba mencari kebenaran.



"Iya," jawab Andien singkat.



"Itu namanya bukan ambil, tapi minta Non. Makanya saya heran, kok tumben si Om ambil barang orang. wong dia itu, meski bukan anak orang kaya, tapi cukup kok. Apalagi, setahu saya, dia juga kerja freelance, pasang dekorasi pernikahan sama pamannya." Penjelasan yang panjang lebar dari Cak Kan. Tapi tetap itu tidak bisa diterima oleh Andien.



"Ya gak bisa, Pak! Masa kacang yang baru saja saya beli, saya nurut saja berikan ke dia! Dia itu Penyihir, Pak! Tukang menghipnotis," terang Andien yang kekeh ngeyel. Tetap menganggap Andi... Penyihir.



"Hahaha... si Om, bisa menghipnotis orang? Hahaha... lucu banget si Non ini. Ini mah si Non sendiri yang terhipnotis... hahaha... lucu... Banyak lho yang seperti Non. Gak tahu ya, wajahnya gak ganteng-ganteng amat, tapi kok banyak cewek yang naksir. Mungkin karena hatinya... ya, karena hatinya..." Cak Kan tertawa geli mendengar penjelasan Andien.



"Uuuhhh... si Bapak, kalau membela, sebegitunya! Saya pulang dulu, Pak!" Andien yang sebel dengan semua pembelaan Cak Kan kepada Andi, gak kuat, dan langsung pamit go home ke pemilik warung kopi itu.



"Oh ya Non. Terima kasih. Semoga lancar. Hati-hati dijalan," jawab Cak Kan.



Andien pun segera masuk kedalam mobilnya. Untung Andien segera mengakhiri obrolannya bersama Cak Kan. Kalau tidak dia akan kehujanan waktu berjalan menuju mobilnya.



Hujan turun dengan derasnya. Hanya terpaut Beberapa detik saja dengan masuknya Andien kedalam mobil.



Andien segera pergi meninggalkan warung kopi Cak Kan dan melanjutkan misinya. Misi? Hoi... misi apaan? Kayak film-film Spionase saja.



Kelihatannya saja Andien itu kasar, tapi do'i itu salah satu orang yang peduli... peduli dengan sesama yang kekurangan. Dan itu perintah Allah SWT terbanyak dalam Alquran... bersedekah.



Jadi tiga puluh es teh itu untuk dibagi-bagikan ke pengemis, tukang becak atau siapa pun yang membutuhkan.



Dan hujan deras itu tidak akan membuat niatnya terganggu atau dibatalkan. Terus move walau hujan turun dengan derasnya malam itu.



"Apa benar aku yang salah? Terlalu berlebihan? Apa benar aku yang terpesona? Karena mendengar suaranya saja, hati ini serasa bergetar. Apalagi waktu melihat wajahnya. Dan dia tidak membalas, meskipun hidungnya berdarah oleh pukulanku. Kenapa? Atau mungkin benar kata Bapak pemilik warung itu, karena hatinya?" Berbagai pertanyaan hadir ketika gadis cantik ini dalam perjalanan nya mencari orang-orang yang pantas mendapatkan bantuan darinya.



Pikiran dan hati Andien mengevaluasi kejadian di siang hari dan di malam hari dengan cowok yang sama. Andi Bayu Samudra.



hatinya mulai menemukan sebuah kebenaran tentang cowok yang baru saja ditonjoknya itu. Bahwa Andi memang berbeda. Dan itulah yang membuat hatinya... bergetar.