Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
KISS ME SLOWLY



"Dddduuubbraaakkkk!!!



Robert yang berperan jadi Spiderman KW 2000 ini, ternyata bisa juga terpojok oleh serangan Mikel si Kelinci. Penjahat di cerita yang gak jelas ini.



Terdesak. Robert mundur kebelakang. Tepat membelakangi pintu kelas IIIA3. Rupanya serangan Mikel The Rabbit membuat keseimbangan Spiderman KW 2000 ini kacau.



Semakin mundur dan akhirnya menabrak pintu kelasnya. Robert pun terjatuh sampai keluar kelas. jatuh terjengkang tepat didepan Pak Wiratno yang sedang mengantar Tante Maya dan Andien.



"Hehehe... Pak Kepsek... sebentar ya." Seperti orang yang gak punya dosa sedunia. Robert bukannya takut, tapi malah tertawa lirih kepada Pak Wiratno dan tamu-tamunya. Menyuruh menunggu lagi!



"Kurang ajar, kau Bug Bunny KW! Sekarang terimalah jurusku... "Tongkat Nenek Sihir"... bbbrrreeemmm... bbbrrreeemmm... cccciiiattt!" Robert ini benar-benar pemberani atau O'on sih!? Hallo... ini ada Kepsek... cuek banget! Main teriak saja! Bangkit berdiri lalu menaiki gulungan karton yang dibawanya, seperti naik motor, terus lari masuk kelas membalas kekalahannya.



Robert... Robert... Nenek Sihir itu gak naik tongkat, tapi naik karpet! Gitu aja gak tahu, payah!...



"Seperti yang saya bilang tadi... spesial kelas, bukan!" Pak Wiratno berkata sambil menoleh ke Tante Maya dan Andien yang hanya bisa bengong dan berkata dalam hati setelah melihat peristiwa ajaib itu.



"Duuuhhh... amit-amit deh! Semoga di kelas Andien, murid-muridnya waras dan normal-normal semua," kata Tante Maya dalam hati. Tenang Tan, kelas IIIA1 itu aman, ok?



"Dasar! anak-anak gila semua di kelas ini!" Andien pun juga berkomentar dalam hati rupanya.



Itu baru dua puluh satu murid yang ada didalam kelas IIIA3 saja, sudah membuat Tante Maya dan Andien berpikir negatif seperti itu. Nah, kalau dua puluh tiga jumlah murid kelas IIIA3 ini masuk semua. Apakah Tante Maya masih tega menyekolahkan Andien di SMA Perjuangan? So We will see...



Pak Wiratno yang sebelumnya mengantar Ajeng ke kelas IIA3. Kelas Ajeng belajar. Lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena Robert, segera menuju Kelas IIIA1 bersama Tante Maya dan Andien.



"Masih sakit, Lie?" tanya Andi setelah melakukan pertolongan pertama kepada Natalie. Mengulum jari telunjuk gadis cantik ini.



"Eh... apa Bay? Oh... sudah gak. Terima kasih, Bay." Natalie yang sempat mematung melihat tindakan Andi barusan. Kembali tersadar dari lamunan tentang perasaannya untuk cowok yang berada didekat dia.



Dua kali sudah, jantungnya dibuat berdetak lebih kencang oleh semua perbuatan Andi kepadanya hari ini. Dan Natalie tidak menyesali keputusannya bolos sekolah hari ini bersama pemuda yang hobi bicara dengan binatang ini.



"Alhamdulillah kalau begitu. Cuci tangan kamu dulu gie. Pakai air mineral ini." Andi membuka air mineral itu dan menuangkannya ke jari telunjuk Natalie yang sakit. Biar bersih gitu.



"Terima kasih, Bay. Kamu perhatian banget sama aku," puji Natalie.



Tanpa berkomentar apapun tentang pujian Natalie barusan. Andi mengambil lagi mata pancing dan roti kompyang yang sudah dibentuknya menjadi bulat tadi.



"Nah, sudah terpasang umpannya. Tinggal dilempar ke sungai, terus ditunggu. Beres." Setelah semua beres, Andi melempar umpan yang sudah terpasang itu ke sungai.



"Ssssssuurrrrrrrr... cemplung..."



"Sambil nunggu, aq mau tanya... kenapa kamu mau ikut bolos sama aku, Lie?" Pertanyaan yang kelihatannya sulit untuk dijawab Natalie dengan jujur.



Natalie terdiam sejenak. Bingung juga rupanya do'i. " Duuuhhh... mau bilang apa nih! Jujur kan gak mungkin. Masa cewek yang ngomong duluan! God... please, help me."



"Eh... anu... karena... aku... belum pernah bolos... ya... itu... aku belum pernah bolos... hehehe." Mata Natalie melirik keatas. Mencari kalimat yang tepat dan masuk akal untuk menjawab pertanyaan Andi.




"Lie... gak perlu kamu tahu rasanya bolos sekolah. Kamu tahu... bolos itu gak baik. Jangan meniru aku." Andi menatap mata indah Natalie. Berkata pelan memberi pengertian.



"Maaf ya... sebentar. Nah sudah... cakep." Andi menyentuh rambut Natalie yang turun menutupi wajah cantik Natalie dan menaruh ke sela-sela telinga Natalie.



Natalie hanya bisa menatap wajah Andi ketika melakukan semua itu.



"Gak apa-apa, Bayu. Aku senang kok. Seumur-umur sekolah, baru kali ini bolos. Perasannya campur aduk. Takut ada yang lihat, takut pihak telepon rumah, gimana nanti alasannya kalau ketahuan orang tuaku, tapi disisi lain, ada sesuatu yang terlepas dari tubuh ini, tidak memikirkan rutinitas yang ada, sekolah, ketemu guru, buat PR dan lain-lain. Refreshing." Mata Natalie menatap ke arah sungai. Sebuah penjelasan yang masuk akal terlontar dari bibirnya yang indah.



"Ya... aku tahu itu. Tapi bolos bersamaku, itu sebuah kesalahan. Mungkin kalau kamu bolosnya sama Lisa atau sama yang lain. It's ok. Kamu punya citra yang baik di sekolah, di mata guru-guru, di mata teman-teman kamu. Dan aku gak mau itu tercoreng. Ketika semua tahu kamu bolos bersamaku." Baru tersadar akan kenyataan, Andi menyesali tindakannya yang mengijinkan Natalie ikut bolos dengannya.



Entah ada yang punya hajatan nikah atau sunatan, atau Ulang Tahun, sayup-sayup terdengar suara musik disela-sela percakapan Andi dan Natalie.



"Bayu... tadi kan aku sudah bilang bahwa.... eh bay, pelampungnya masuk kedalam air... tarik! Natalie yang sedari tadi mengarahkan pandangannya ke sungai. Segera melangkahkan kakinya dengan cepat ketika mengetahui pelampung pancing yang mengambang itu masuk ke dalam air sungai. Tanda kalau ada sesuatu yang menarik senar pancing Andi. Dan....



"Aaaaacccchhhh!!!



Begitu semangatnya Natalie melihat pelampung pancing yang masuk kedalam air sungai itu. Bergerak dengan sangat cepat. Sampai-sampai kakinya bergerak tidak beraturan, kaki kirinya tersangkut kaki kanannya sendiri.



Keseimbangan Natalie hilang. Tubuhnya terjerembab kebelakang. Terjengkang bebas hendak membentur rumput-rumput ditanah taman itu.



Sebuah tangan dengan lengan yang kekar menangkap tubuh Natalie yang jatuh kebelakang. Mata Natalie yang coklat itu menatap mata si penangkap tubuhnya itu. Terkejut dengan bibirnya yang terbuka sedikit.



Nafasnya terengah, jantung berdetak lebih kencang dari pada dua peristiwa sebelumnya. Jarak antara wajahnya dengan wajah Andi hanya sekitar dua puluh centi meteran. Sejengkal. Dekat sekali. Begitu juga dengan jarak bibir mereka....



"Stay with me, baby, stay with me.


.........



Well I'm not sure what this is gonna


be.


But with my eyes closed all I see.


Is the sky line through the window.


The moon above you and the streets


below.


Hold, my breath as You're moving in.


Taste your lips and feel your Skin.


When the time comes, baby don't


run.


................ JUST KISS ME SLOWLY



Suara musik yang tadinya samar-samar, perlahan mulai jelas terdengar. Menembus masuk ke dalam telinga siapapun yang ada disekitarnya. Dan Parachute membawakan hits yang berjudul "Just Kiss Me Slowly" dengan sangat indah dan menawan.



Jantung Natalie sudah semakin kacau detakannya. Otaknya juga blank. Gak bisa mikir, ketika Andi mulai perlahan mendekatkan wajahnya, yang tentunya mendekatkan bibir Andi ke bibir Natalie.



Dan Natalie hanya bisa pasrah... memejamkan mata... secara perlahan... tanpa tahu apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi...