Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
LILI



"Tiiiinnnn...tiiiinnnn... hai Bayu"



Sebuah mobil berhenti tepat didepan Andi dan Natalie. Membunyikan klakson. Seorang gadis cantik membuka kaca mobilnya dan menyapa Andi.



"Iiihhhh... siapa sih? Ganggu saja!"



Terkejut dengan suara klakson mobil dan suara seorang gadis. Andi segera menggerakkan tangan dan lengannya untuk membantu Natalie berdiri sempurna. Natalie pun juga segera membuka matanya.



"Uppss... hampir saja keterusan... ingat Andi, Natalie itu sepupu Bastian. Sohib kamu." Nurani Andi muncul setelah tersadar oleh suara klakson mobil yang berhenti tepat didepannya.



Andi segera merapikan rambutnya yang cukup panjang untuk seorang pelajar SMA. Jatuh terurai menutupi wajah.



Begitu pula dengan Natalie. Segera merapikan rambut dan seragam sekolahnya.



"Hai juga, Alexa." Andi membalas sapaan gadis yang masih duduk didalam mobil itu.



"Alexa... Kamu menyapa... Bayu? Bayu, siapa yang kamu sapa?" Seorang nenek yang duduk di bangku belakang langsung buka suara setelah mendengar sebuah nama yang terucap dari bibir cucu kesayangannya itu.



"Bayu yang itu Oma... yang Oma kenal... yang menyelamatkan Lili!" jawab gadis cantik itu kepada Neneknya yang memang tidak bisa melihat lagi alias buta karena kecelakaan.



"Alexa... bantu Oma turun. Bram, kamu juga turun," pinta wanita tua itu kepada anak dan cucunya.



"Ya Ma. Alexa, tunggu Papa turun dulu, ok? Nanti kita sama-sama membantu Oma keluar dari mobil." kata Pak Setiawan Brahma. Papa Alexa.



"Akrab banget kelihatannya," pikir Natalie dalam hati.



Seorang pria paruh baya seumuran Papanya Andi turun dari mobil berlogo telur lonjong bertanduk itu. Bergerak memutar, membuka pintu belakang mobil tersebut.



Kemudian keluar juga dari dalam mobil, seorang gadis cantik... ehhhmmm... \*\*\*\*, celana jins pendek yang ketat (press body), dengan kaos kuning berlogo Superman, yang kemungkinan terlalu kecil untuknya. Too small? Lha itu sampai perutnya yang mulus sedikit terlihat. Berarti kan kekecilan! Bukan kekecilan, memang modelnya seperti itu... udik!



Bersama dengan pria yang ternyata adalah Papa gadis ini, membantu seorang wanita tua yang hendak keluar dari mobil mereka. Oma Rosa maksudnya.



Pintu belakang pun dibuka.



"Ma, pelan-pelan ya keluarnya. Awas kepala Mama." Pak Brahma mengarahkan Mamanya yang buta untuk bergerak maju menghampirinya.



"Ya Oma, hati-hati ya. Pelan-pelan, Oma." Alexa pun ikut mengarahkan Oma Rosa.



Melihat Oma Rosa akan keluar dari mobil, Andi mengajak Natalie untuk menghampiri mereka.



"Lie, ayo kesana. Rupanya ada Oma Rosa. Gak enak kalau kita masih disini. Beliau kan tidak bisa melihat, Lie," ajak Andi kepada Natalie dengan... menggandeng... tangan Natalie.



Untuk kesekian kalinya Natalie gak protes terhadap semua yang dilakukan Andi kepada dirinya. Seperti biasa... pasrah doang... kayak tadi...



Dengan hati-hati, Pak Brahma dan Alexa menuntun Oma Rosa yang keluar dari mobil mereka. Maju beberapa langkah. Mendekati Andi dan Natalie yang terlihat menghampirinya.



"Pagi Oma." Andi mengucap salam kepada Oma Rosa. Dimajukan langkahnya mendekati Wanita Tua yang tidak bisa melihat itu. Lalu... mencium tangan beliau.



"Pakai cium tangan segala... ini siapanya Bayu sih! jadi mencurigakan deh!" Natalie berkata dalam hati tentang pemandangan yang baru saja disaksikannya itu.



"Pagi juga Bayu." Oma Rosa membalas sapa Andi dengan senyum ramahnya.



"Hhhmmm... ternyata kamu tidak sendirian, toh, Bayu. Ayo sini... siapa nama kamu, cantik?" Oma Rosa meminta Natalie untuk maju, memperkenalkan dirinya.



Suara lembut Oma Rosa, membuat Natalie tidak bisa berdiam diri. Dirinya perlahan-lahan maju dengan sebuah pertanyaan. " Kok bisa tahu Oma ini, kalau ada aku disamping Bayu?"



"Ayo kesini sayang... maju sini. Indera penglihatan Oma memang sudah hilang, tapi tidak dengan indera penciuman Oma. Wangi sekali kamu, cantik. Perkenalkan diri kamu ke wanita tua yang buta ini..." Kembali Oma Rosa meminta Natalie untuk memperkenalkan dirinya.



Natalie melangkah maju lebih dekat. Hingga didepannya sekarang seorang wanita tua yang tidak bisa melihat tengah menanti sebuah kata yang terucap dari bibir indahnya.



"Selamat pagi, Oma. Saya Natalie. Temannya Bayu." Sedikit canggung rupanya Natalie memperkenalkan dirinya ke Oma Rosa.



"Selamat pagi juga, Natalie. Ijinkan Oma untuk menyentuh wajah kamu, sayang." Oma Rosa menyambut uluran tangan Natalie dengan ramah. Dengan senyuman lembut wanita yang kira-kira sudah berumur 80-an ini meminta ijin kepada gadis cantik dihadapannya itu. Untuk menyentuh wajah cantik gadis yang berada disamping Andi.



"Si... silahkan Oma." Dengan masih diliputi rasa canggung, Natalie mengijinkan Oma Rosa untuk menyentuh wajahnya.



Perlahan, tangan-tangan tua itu mulai menyentuh dan meraba wajah Natalie dengan lembut.



"Ya TUHAN... Kamu cantik sekali, sayang. Wajah kamu lembut sekali. Ada kebahagian yang Oma rasakan saat ini. Dan kamu merasakan itu sekarang. Kebahagian. Benar kan, cantik?" Mata Oma Rosa memang tidak bisa melihat lagi. Hatinya... tidak akan menjadi buta untuk bisa merasakan kebahagian di raut wajah Natalie.



Mendengar semua perkataan Oma Rosa, Natalie hanya tersenyum. Matanya yang indah mengisyaratkan kalau dia malu mengakui kebenaran perkataan Nenek Alexa ini didepan Andi.



"Tapi sayang... kecantikan yang sesungguhnya ada... disini. Di Hatimu. Ketika Hati telah bisa merasakan kelembutan. Maka lengkaplah sudah kamu sebagai seorang wanita. Cantik diluar dan didalam. Dan langkah awal untuk sampai ke tahap itu... berbuatlah banyak kebaikan dalam hidupmu." Sebuah kata-kata bijak disampaikan Oma Rosa, ketika telunjuknya menyentuh hati Natalie.



"Terima kasih Oma. Insyaallah, semua yang Oma katakan tadi, akan Natalie ingat selalu," kata Natalie kepada Oma Rosa.



"Bayu, Bagaimana kabar kamu sekarang?" tanya Oma Rosa kepada Andi.



"Alhamdulillah... Bayu baik Oma. Oma, sendiri, bagaimana kabarnya? Sehat?" balas Andi yang sekarang ganti menanyakan kabar Oma Rosa.



"Puji TUHAN, Bayu, Oma sehat. Oh ya, kenalkan ini anak Oma, Papanya Alexa." Oma Rosa memperkenal anaknya kepada Andi.



"Alhamdulillah, kalau begitu. Senang mendengar Oma sehat." Lalu Andi menghampiri Pak Brahma yang berdiri tidak jauh dari Oma Rosa.



"Pagi Om. Saya Bayu. Senang bisa bertemu," ucap Andi kepada Pak Brahma. Dengan sopan Andi menunduk lalu mencium tangan kanan Papa gadis cantik yang kuliah di jurusan Akuntansi ini.




"Aduhhh... sering dipuji lagi! Pa... Papa cepat pulang dari Ausinya..." Natalie merasa dirinya kalah langkah dengan Alexa yang baru Andi kenal.



"Wajah Bayu memang pasaran, Om. Jadi wajar kalau ada banyak orang yang mirip saya," jawab Andi logis.



"Ya... ya... mungkin benar kata kamu, Bayu. Mirip. Tapi siapa dan dimana, itu yang Om lupa. Ini ngomong-ngomong, kalian gak sekolah? Mancing ya?" Feeling Pak Brahma mulai merasakan ada yang ganjil dengan adanya Andi dan Natalie disini. Pakai seragam sekolah di jam aktif sekolah di Komplek Perumahan miliknya itu.



"Papa... pakai nanya segala... Kayak gak pernah jadi pelajar SMA saja," sindir Alexa kepada Papanya.



"Benar kata Alexa.... Bram. Mama masih ingat dulu ketika kita masih tinggal di Bandung, berapa kali Papa kamu dipanggil ke sekolah karena ulah kamu. Ingat, gak? sahut Oma Rosa menambah perkataan Alexa. Dan itu membuat Pak Brahma malu. Karena kalau cuma bolos itu sepertinya terlalu sepele bagi beliau. Bolos, tawuran, kebut-kebutan itu hobi Papanya Alexa dulu waktu jaman-jaman SMA.



"Hehehe...iya Om. Hari ini memang jadwal saya... mancing. Dari pada sendirian mancing, jadi saya culik saja adik kelas saya ini. Perfect." Andi menjawab pertanyaan Pak Brahma dengan gaya lucunya. Biar gak diceramahi sama beliau.



Belum sempat Pak Brahma merespon ucapan Andi, Alexa mengatakan sesuatu yang membuat Natalie... paannnaasss.



"Oh adik kelas rupanya... syukurlah kalau begitu," sindir Alexa.



"Maksudnya, adik kelas... syukurlah... itu apa!? Natalie maju selangkah. Didepan Andi. Wajah yang biasanya lembut, imut, manja, berubah seketika. Alis tebalnya sedikit terangkat. Nada bicara agak keras. Tanda kalau gadis cantik ini sedang marah.



"Lie... sudah... sudah... nanti cantiknya hilang lho," goda Andi untuk menenangkan Natalie.



"Biarin! Ayo jawab... apa maksud perkataan kamu tadi itu!?" Gak mempan rupanya candaan Andi barusan kepada Natalie. Sangar juga ya Natalie kalau marah....



"Gak dewasa... maklumlah anak kecil!" Alexa dengan santainya masih saja menyindir Natalie. Membuat sepupu Bastian ini makin emosi.



"Dengar tuh, Bay, jengkilin banget kan!" Natalie rupanya ingin Andi memihaknya.



"Ya... iya... jengkelin, tapi... tapi ingat kata-kata Oma Rosa barusan. Ingat kan!? Dan kamu... Alexa, sudah jangan seperti itu. Kamu kan lebih tua dari Natalie... belajar mengalah, paham!?" Disatu sisi Andi menenangkan Natalie, disisi lain menegur Alexa.



Oma Rosa dan Pak Brahma hanya diam saja melihat konflik kecil diantara Alexa dan Natalie. Sekaligus ingin tahu bagaimana cara Andi menengahi masalah itu.



"Benar kata Bayu... Alexa. Kamu yang lebih tua harus lebih dewasa lagi ya, sayang. Dan buat kamu Natalie, harus lebih sabar ya, sayang. Emosi tidak akan menyelesaikan masalah, ok cantik?" Nada lembut Oma Rosa selalu saja bisa menenangkan hati siapapun. Termasuk Andi. Apa hubungannya ya!?



"Oh ya Bayu, Om juga mengucap terima kasih ke kamu. Semua yang sudah kamu lakukan untuk Lili itu, sangat Om hargai. Meskipun dia sudah tidak bersama kami lagi," sahut Pak Brahma mengalihkan pembicaraan.



"Lili itu siapa, Bay?" tanya Natalie yang sudah agak reda emosinya kepada Alexa.



"Lili itu Anjing Oma, Natalie. Dia yang dulu biasa menemani Oma berjalan-jalan di komplek perumahan ini," sahut Oma Rosa memberi penjelasan kepada Natalie.



"Oh begitu ya, Oma," balas Natalie manggut-manggut mendengar perkataan Oma Rosa.



"Andai kalian semua melihat, Bagaimana Bayu marah, bagaimana Bayu menangis, bagaimana yang begitu paniknya meminta pertolongan, menggendong Lili sampai rumah. Tentu kalian akan berpendapat sama dengan Oma. This young man is a Hero." Ingatan Oma Rosa kembali ke masa lalu, ketika anjing kesayangannya disebut namanya dalam percakapan ini.



"Bayu menangis, Oma!? Mendengar Bayu menangis saja Natalie belum pernah, apalagi melihat. Seru nih! Ceritain Oma." Natalie terlihat antusias sekali ingin mendengar cerita Oma Rosa. Ketahuan kan sekarang! Pernah nangis.



"Apanya yang Hero sih, Oma! Ada-ada saja deh." Andi merasa gak nyaman disebut oleh Oma Rosa sebagai seorang Hero.



"Mas Bayuuu... kapan Oma ceritanya, kalau kamu jawab terus? Sudah diam sebentar, ok?" protes kecil Natalie pada Andi. Dan tentunya dengan nada manja.



"Iya nih Bayu... diam dulu dong... ssstttttt..." tambah Alexa dengan jari telunjuk didepan bibir sexinya.



Kompak nih ye.....



"Jadi dimarahin deh aku..." sahut Andi pasrah.



"Alexa, tolong ambilkan kursi lipat Oma di bagasi ya, sayang." pinta Oma Rosa kepada Alexa.



"Ya Oma," jawab Alexa.



"Gak apa-apa, kan, Bayu. Oma cerita itu." Oma Rosa meminta ijin kepada Andi.



"Ya Oma. Silahkan." jawab Andi singkat.



"Oma... ini kursinya. Duduk sini, Oma." Alaxe mempersilahkan Oma Rosa untuk duduk di kursi yang telah diambilnya dari Bagasi mobil.



"Terima kasih ya, cantik," kata Oma yang kemudian duduk di kursi itu.



"jadi begini ceritanya. Saat itu Oma ingin jalan-jalan ke taman komplek perumahan ini. Seperti biasa Oma membawa LIli. Sebagai penunjuk jalan." Ingatan Oma mulai menerawang jauh kebelakang. Mengenang hari-harinya bersama Lili, Anjing gembala Jerman yang sejak kecil sudah dipelihara dan dirawat dengan baik oleh keluarga ini.



"Pagi itu begitu cerah, namun siapa yang menyangka, kalau hari itu ada sebuah musibah." Oma Rosa melanjutkan ceritanya.



"Biasanya Lili begitu tenang. Ketika Oma duduk, dia pun ikut duduk. Dan tanpa sadar, Oma melepas tali yang ada di tangan Oma. Tali yang ujung lainnya mengikat pada gelang leher Lili." Masih terekam jelas kejadian itu di ingatan Oma Rosa. Karena memang baru beberapa yang lalu semuanya terjadi.



Masih terbawa suasana hati yang senang akan hadirnya pagi hari ini.Tanpa Oma Rosa sadari, Lili bangkit berdiri dan bergerak. Melakukan hal wajar seperti layaknya seekor anjing. Mencari sesuatu.



Dan... mata Oma Rosa mulai berkaca-kaca. Tidak sanggup menahan air matanya, ketika hendak memulai kembali menceritakan kejadian itu.



Semua mendengar, semua melihat, expresi wajah dari Oma Rosa saat itu. Natalie merapat, menggenggam tangan Andi. Lalu menatap kakak kelasnya ini sejenak.



"Apa yang sudah membuat beliau begitu sedih? Dan kenapa kamu menangis, Bay? Menangisi apa? Siapa yang kamu tangis?" Natalie bertanya dalam hati dan berharap pertanyaan-pertanyaannya akan segera terjawab.


.


.


.


.