Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
FOR THE FIRST TIME



"Duk... duk... ALLAHUAKBAR... ALLAHUAKBAR... "



Suara adzan dhuhur berkumandang, memecah kebekuan yang membawa sensasi.



Andi pun tersentak dari pesona cinta yang ditabur Natalie lewat paras cantiknya.



"Astagfirullah... kenapa aku ini? Andi ingat dia sepupu Bastian!" Kata hati Andi mulai berbisik mengingatkan sebuah hal penting.



Wajahnya tetap maju mendekati wajah Natalie yang sudah menutup matanya. Mengarah sedikit kesamping kanan dan membisikan sesuatu. Dengan lembut.



"Natalie... buka mata kamu ya. Ayo pulang... sudah dhuhur... cantik." Andi berbisik lembut ke telinga gadis cantik yang berada dalam pelukannya itu.



Dengan detak jantung yang masih berdegup kencang, Natalie langsung membuka matanya. Dan prosesor otaknya yang cerdas, langsung mengolah kata untuk membuat alasan. Persiapan kalau ada pertanyaan yang bisa membuatnya salting.



"Oh... eh... apa? Sudah dhuhur ya! Aku takut jatuh, makanya aku merem. kamu sih bay, nakal," jelas Natalie langsung memberi Andi alasan. Mencoba menerka pertanyaan yang akan dilontarkan kakak kelasnya ini.



"Siapa yang nanya? Aneh juga nih cewek...!" pikir Andi dalam hati.



kemudian Andi melepaskan pelukannya dari tubuh gadis cantik ini. Gak pakai lama, Natalie langsung merapikan seragamnya.



"Oh begitu... ya sudah, ayo pulang, berkemas dulu yok," ucap Andi tanpa membahas lebih panjang lagi tentang ucapan Natalie barusan.



Andi menuju ke tempat alat pancingnya tadi berada. Dan...



"Wadooohhhh!... alat pancingku mana ya?" Sesampai disana, cuma bayangan alat pancingnya yang ditemui Andi. Alias kosong. Hilang.



Natalie bergegas menyusul Andi, setelah mendengar teriakan pelajar SMA berkumis ini.



"Bay, ada apa? kenapa kamu teriak-teriak gak jelas gitu?" tanya Natalie.



"Ini... alat pancingku... hilang! Tadi kan disini, pas kamu mau ambil tadi, yang katamu pelampungnya tenggelam! Sekarang kok gak ada ya! jawab Andi sambil menunjuk posisi alat pancingnya tadi.



Natalie yang otaknya encer alias cerdas itu, sudah bisa menduga siapa yang nekat membawa alat pancing cowok yang telah berhasil membuat dirinya... Jatuh hati ini.



Dan gadis cantik ini malah tertawa, melihat cowok yang dipujanya ini kebingungan.



"Kok kamu malah ketawa!? Apanya yang lucu!? Bantuin nyari kek! Berdoa kek! Atau apa gitu! Eh.. malah ketawa!" Sebel juga rupanya Andi, melihat Natalie yang tertawa, pas do'i lagi kebingungan.



"Hahaha... Bayu... Bayu... mau dicari kemanapun, gak mungkin ketemu! Alat pancing kamu tuh kebawa masuk kedalam sungai sama ikan. Makanya kalau lagi mancing itu... harus fokus. Jangan meleng! Ada cewek kuliahan, langsung nyosor! Sekarang... bye... bye... alat pancing..." sindir Natalie.



Padahal ya, kalau dipikir-pikir, yang buat Andi gagal fokus kan Natalie. Kok malah Alexa yang dibawa-bawa. Brekele... brekele....



"Oh iya... ya. Masuk akal logika kamu, Lie. Ya sudah, biarin saja. Insyaallah, nanti bisa beli lagi kok." Enteng sekali jalan pikiran Andi, kala tahu analisa


penyebab alat pancingnya hilang.


"Yok pulang. Aku antar kamu sampai rumah. Kebetulan sebentar lagi juga waktunya jam sekolah selesai. Nanti kalau ditanya orang tua kamu, bilang saja, pulang cepat, gurunya meeting. Jadi pulang lebih awal, ok?" Ngajari gak jujur nih, Andi!



"Pinter juga kamu, Bay, buat alasannya. Cowok mah memang begitu, pinter cari-cari alasan. Ketahuan kalau suka bohong." ucap Natalie kepada Andi. Memuji sekaligus menyindir.



"Ya begitulah... ayo pulang," sahut Andi singkat.



Andi dan Natalie pun meninggalkan lokasi pemancingan di komplek perumahan Wisma Permai Indah itu.



Mengarah ke timur, menuju tempat tinggal Natalie.



"Lho bay, kok lewat sini? Tadi kita kan dari barat, kenapa kearah timur? Kamu gak salah jalan kan?" Bingung juga Natalie dengan arah laju motor yang diambil Andi.



"Sutorejo Prima kan, rumah kamu? Lewat sini lebih dekat. Percaya deh!" jawab Andi menyakinkan Natalie, kalau dia tidak salah arah.



"iya... Kamu kok tahu rumah aku? Tahu dari siapa? Kapan kamu tahu itu?" Natalie heran juga mendengar perkataan Andi.



"Ya tahu lah! Aku kan sering ngantar Bastian ke rumah kamu. Bastian kan pelupa. Kalau pas Pak Mat gak ada, Bastian minta tolong ke aku buat nganterin." jelas Andi.



"Oh... dari Bastian toh... hhhmmm... Bastian banyak ngomong gak, tentang aku!?" Selidik Natalie. Kuatir kalau sepupunya itu bicara yang gak-gak ke Andi.



"Gak banyak sih! Tapi ngomong," jawab Andi yang tetap fokus pandangannya kedepan. Lagi nyetir soalnya.



"Ngomongin apa saja!?" Kuatir benar lho Natalie ini kelihatannya. Very Keppo.



"Ya... Bastian itu, bilang kau kamu cantik, baik, nurut sama orang tua. Hhhmmm... terus, dia bilang juga, kamu tuh rajin, pintar, manja, tapi..." Natalie gak tahu, kalau Andi cuma menggoda lewat perkataannya.



"Tapi apa bay!? Tapi apa!? Cepetan ngomong!" Bastian, awas ya kalau ketemu, aku bikin jadi lemper, kamu! Natalie sudah menyangka bahwa sepupunya akan keceplosan.



"Manja... tapi... jorok! Malas mandi. Itu yang bilang Bastian lho ya!" Dalam hati Andi tertawa jahat. Berhasil membuat Natalie emosi.



"Eh... sorry ya! siapa yang malas mandi!? Aku rajin mandi, tahu! Mulai rambut sampai kaki, wangi semua! Awas ya Bastian! Ngatain adiknya sendiri jarang mandi! Biar nanti aku laporin ke Mama, Papaku. Ke Mama, Papanya Bastian juga!" Satu lagi yang Andi lupa bilang, Bastian tuh pernah ngomong, kalau Natalie itu.. tukang lapor. Hehehe....



Ternyata jarak antara perumahan Wisma Permai Indah dan perumahan Sutorejo Permai itu dekat sekali. Cuma sekitar 10 menit perjalanan.



"Lho, kok cepat banget sampainya, Bay? Berarti dekat dong, sama rumahku?" Lagi-lagi Natalie ini heran. Banyak herannya cewek rumahan ini.



"Iya... dekat kan kalau lewat sini. Rumah kamu yang pagar hijau itu, kan!?" tanya Andi, yang iseng saja, siapa tahu Natalie lupa sama rumahnya sendiri. Ngetes ceritanya.



"Iya... betul, Bay," jawab Natalie.



Setelah melewati pintu masuk perumahan, Andi langsung mengarahkan Nitta ke rumah mewah sebelah kiri jalan utama perumahan exclusive di daerah Surabaya timur itu.



Nitta berhenti tepat didepan pagar tinggi, berwarna hijau. Didalamnya terdapat bangunan sebuah bangunan mewah dengan empat pilar yang membawa kesan clasic pada rumah mewah itu.



Dua mobil mobil sedan mewah berlogo lingkaran dengan tiga pilar terpajang rapi disana. Ada taman juga dan ada pula pos satpamnya.



Di lantai atas, tampak sepasang mata dibalik tirai, mengintip dan memperhatikan gerak-gerik tamu yang datang tepat didepan pagar rumahnya.



"Bay, mau masuk dulu? Aku kenalin sama Mamaku yuk," ajak Natalie yang baru turun dari Nitta.



"Lain kali saja ya. Aku belum sholat dhuhur nih. Mau cepat-cepat ke masjid." Andi menolak dengan halus ajakan Natalie untuk masuk ke rumahnya dulu.



"Ok. Aku gak maksa kok. Eh Bay, ini buat kamu." Natalie membuka tas sekolahnya dan memberikan sesuatu kepada Andi.



"Undangan!? Siapa yang nikah, Lie? Kamu?" tanya Andi menggoda Natalie.



"Iiihhhh Bayu, siapa yang mau nikah sih!? Itu undangan ulang tahunku. Datang ya!" Memang benar kata Bastian, kalau Natalie itu... manja. Nada itu lho... bikin gak mampu pokoknya....



"Natalie Cantik, group bandku kan pengisi acara ulang tahun kamu. Jadi sudah pasti, aku datang. Minggu malam, kan!" Andi menyakinkan Natalie dengan logika yang simple.



"Aku gak lupa kok.... Itu... itu..." Kepalanya menunduk. Rambut indahnya menutupi wajah cantik Natalie yang malu meneruskan kalimatnya.



"Itu apa Lie?... ayo cepetan ngomong, sudah telat banget nih sholat dhuhurnya!" Andi sedikit memaksa Natalie untuk meneruskan kalimatnya yang terputus sesaat.



Natalie bergerak cepat, mendekat, membisikan sesuatu, dan langsung pamit kabur. Membuka pagar dan masuk kedalamnya.




Tangannya melambai kepada Andi, ketika Natalie sudah masuk ke dalam pagar rumahnya. Berlari-lari kecil. Tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan misinya yang sukses memberikan undangan itu untuk Sang Penjaga Hatinya kelak. Dan... dipeluk dua kali oleh Andi, tentunya juga termasuk dalam angannya.



"Waalaikumsalam. Main kabur saja tuh cewek... Aku pulang Lie!" teriak Andi dari luar pagar.



"Oh ya.. Tante, saya pulang dulu, assalamualaikum!" Hampir saja Andi lupa mengucap salam kepada Mama Natalie. Meskipun kenal juga gak. Gak sopan lagi, pakai teriak-teriak segala.



No probelmo mas bro... yang penting... pamit, ok?



"Waalaikumsalam," jawab sosok yang sedari tadi mengintip dari balik tirai jendela lantai dua rumah mewah itu. Dan dia adalah Mama Natalie. Ibu Yanti.



Andi segera meninggalkan. rumah Natalie. Mengarah ke jalan raya. Mencari masjid terdekat disekitarnya.



Setelah bertemu masjid yang tidak jauh dari komplek perumahan Sutorejo Permai. Gak pakai lama, Andi masuk ke halaman masjid itu. Dan menunaikan ibadah sholat dhuhur yang sempat terlambat itu.



Selesai sholat, Andi langsung meninggalkan masjid itu. Meluncur pulang ke rumah.



"Oh iya... hampir lupa aku. Beli kacang sukro. Mampir ke mini market dulu, ah!" kata Andi yang hampir saja lupa membelikan makanan favorit ayam jago kesayangannya itu. Sukro.



Melaju pelan, Andi mencari minimarket yang ada disekitar JL. Sutorejo itu.



"Ah... ada minimarket tuh. Mudah-mudahan ada barangnya." Andi melihat sebuah minimarket di kanan jalan. Lalu segera menuju kesana.



Andi berhenti di depan sebuah minimarket. Masuk kedalam, tak lama kemudian dia keluar lagi. Cepat banget belanjanya.



"Aduhhh... merk yang gambar burung habis. Adanya yang merk Bug Bunny kembar itu. Mau cari dimana lagi ya? Ok lah, cari lagi. Harus dapat kacang sukro yang merknya gambar burung itu." Andi bertekad untuk menemukan makanan kesukaan Sukro. Tapi yang merknya gambar burung, bukan yang gambar Bug Bunny kembar itu.



Bukannya Sukro itu sok manja. Kan sama-sama kacang sukro? bedanya apa sih?



Jelas beda. Kacang Sukro yang merknya gambar burung itu, kacang pertama yang dimakan Sukro, waktu do'i kecil dulu. Bahkan sebelum akhirnya dia punya nama Sukro. Jadi ikatan cintanya sama merk ini sudah merasuk kedalam jiwa. Tidak bisa pindah ke lain hati.



Andi bergerak dari minimarket satu ke minimarket lain yang ada disekitar JL. Sutorejo itu. Tapi merk itu tidak ada. Kosong. Tapi Andi tidak menyerah. Pokoknya harus dapat. Semangat!



"Tan, Andien pergi keluar, sebentar kok, cuma beli camilan, boleh ya!?" Andien yang baru datang dari sekolah barunya, ganti baju, langsung mau pergi lagi. Gak pakai mandi dulu lagi!... ckckck... ckckck... sungguh ttteeerrrlllaaallluuu...



"Andien, kamu kan baru saja pulang sekolah, masa mau pergi lagi! Boleh- boleh saja sih! Tapi paling tidak, kamu mandi dulu, atau makan dulu, gitu." Wanita yang masih terlihat cantik untuk seumurannya ini memberi nasehat kepada Andien.



"Malas Tan! Sebentar kok... swear," jawab Andien dengan dua jari telunjuk nya.



"Ya sudah. Jangan lama-lama. Cantik kalau bau, juga percuma. Datang nanti, langsung mandi ya, sayang." Tante Maya akhirnya memperbolehkan Andien pergi.



"Makasih Tan. Andien berangkat dulu," balas Andien. Pamitan, ambil kunci mobil city carnya dan langsung kabur. Gak pakai lama.



"Tinnn... tinnn... Pak Udin, tolong buka pagarnya! Saya mau keluar!" Teriak Andien pada security tempat tinggalnya.



Seseorang berseragam satpam bergegas berlari. Membukakan pagar besi yang tinggi itu untuk anak tertua bosnya.



"Silahkan non Andien. Hati-hati dijalan." Pak Udin memberi sapaan yang sopan kepada Andien.



"Ya Pak. Terima kasih," jawab Andien dengan sopan juga. Dan langsung... makkkk wussss. Gak cowok, gak cewek, sama... suka ngebut. Jangan ditiru ya adik-adik..



"Dari tadi muter-muter, gak dapet-dapet. Mudah-mudahan di sekitar Galaxy ini ada minimarket yang jual merk itu." Pencarian Andi akhirnya sampai di daerah Galaxy. Lumayan jauh dari daerah Sutorejo.



"Ccccrrrrooottttt...."



"Hei! Kurang ajar! Jalannya Mbahmu ya! Kotor semua ni jaketku! Awas ya!" Andi mengejar mobil yang ngebut setelah menggilas genangan air yang tepat berada disampingnya.



Tak ayal lagi, air itu tanpa diperintah, langsung muncrat ke jaket dan ke wajah Andi. Makanya pakai helm dong....



Kemampuan Nitta dalam mengejar mobil itu bagai bumi dan langit. Edisi pertama dikelasnya ini memang harusnya pensiun dari dunia persepedamotoran. Nitta memang dibuat untuk menyalip mobil dan motor yang berhenti buat parkir. Jadi sudah tahu kan! bakalan terkejar gak tuh mobil.



Sadar akan kemampuan motornya, Andi pun menyusuri jalan raya yang sangat lebar itu. Berharap menemukan mobil yang telah menggenjrot dirinya. Akhirnya...



Disebuah minimarket, Andi melihat mobil itu sedang parkir. Mobil city car berlogo huruf besar dan bertipe jenis aliran musik tertentu. Mobil dengan warna putih bergambar perempuan cantik pakai kemben. Digambar dengan gaya Manga Jepang, membuat gambar di pintu mobil ini unik dan punya ciri khas tersendiri. Dan tentunya mudah untuk diingat.



Andi pun langsung memarkir motor nya, melepas jaketnya yang kotor, menaruh di stang, lalu berjalan menghampiri mobil itu.



Berharap yang didalam mobil itu adalah pria. Atau paling tidak yang mengemudikan mobil itu adalah seorang pria.



"Hei... keluar kamu! Cepat keluar dari mobil!" Andi dengan nada agak keras meminta pengemudi yang ada didalam mobil itu keluar.



Ditunggu beberapa menit, tidak ada seorangpun dari dalam mobil itu. Andi pun curiga.



"Orangnya kemana sih!?... Pantesan saja, wong kosong. Mana orangnya ini!?" Andi melihat dari balik kaca mobil itu. Dan kecurigaannya terbukti. Bahwa mobil itu kosong.



"Hei... kamu lagi ngapain!? Didepan mobilku, lihat-lihat dari luar! Mau maling ya, kamu!?" Seorang gadis cantik tiba-tiba muncul dari pintu minimarket itu. Dan langsung menuduh Andi, yang memang gerak-geriknya seperti mau maling.



Tidak terlalu kaget sih, Andi, mendengar seruan itu. Badannya memutar menghadap gadis cantik yang menuduhnya itu.



"Pantes... ngawur! Cewek rupanya yang nyetir," kata Andi dalam hati.



"Gak apa-apa! Lain kali kamu kalau nyetir jangan ngebut!" Sedikit redah emosi Andi, melihat ternyata yang mengemudikan mobil itu cewek.



Andi lalu kembali ke motornya. Berjalan pelan dan menganggap semua itu telah selesai. Itu menurut kamu! Menurut Andien!?



"Hei... main kabur saja! Sudah salah! Gak minta maaf! Hei... kalau aku tanya, dijawab! Beraninya kamu membelakangi aku! Hei!" Andien gak terima dengan sikap Andi yang menurutnya meremehkan dia. Berjalan cepat dan menarik pundak Andi.



Andi pun membalikan badannya. Sekarang wajahnya menatap Andien dari jarak dekat. Dan...



"Apa! Jangan aneh-aneh! Cepat, kembali ke mobil! Langsung pulang! Ngerti kamu!" Nada Andi agak keras. Jengkel dengan sikap dan perkataan Andien barusan.



"Oh... iya... aku balik ke mobil." Aneh memang, tapi sepertinya Andien menuruti semua perkataan Andi.



"Hei... sebentar!" Andi menahan Andien yang hendak kembali ke mobilnya. Matanya melirik sebuah produk camilan yang ada ditangan gadis cantik ini. Kacang sukro bermerk burung terbang kemasan jumbo.



"Iya... ada apa?" jawab Andien yang masih nurut saja dengan perkataan Andi.



"Aku minta kacangmu itu! Cepat sini berikan!" Andi merasa beruntung. Dari tadi dia cari-cari tuh kacang. Eh, sekarang malah dapat gratisan.



"Oh ya... ini ambil." jawab Andien. Patuh dengan langsung memberikan kacang sukronya yang baru dia beli.



"Thanks. Sekarang, langsung masuk mobil dan pulang!" Setelah mendapatkan kacang itu. Andi langsung pergi meninggalkan Andien.



"Bbrrreekkk"



"Lho, ngapain aku ini? Kenapa aku harus nurut sama dia? Saudara bukan, pacar juga bukan, kenal saja gak! kenapa!? Apa yang terjadi!? Lho, kacangku mana!? Mana kacang sukronya!? Kuurraanngg aajjjaarrr! Aku dihipnotis! Aaawwaasss kkkaammuu!!! Aaaaacccchhhh!!!" Jeritan kemarahan Andien menggema. Merasa ditipu mentah-mentah. Dihipnotis oleh cowok yang sebenarnya satu SMA dengan dirinya.



Dan kejadian ini adalah yang pertama dalam hidup Andien. Dihipnotis oleh seorang cowok....


.