
"Om... om., Om mau ke Asrama Brimob, ya?" Seorang anak kecil tiba-tiba menyapa dan bertanya kepada Pak Jaka Samudra yang baru saja hendak meninggalkan sebuah masjid. Setelah dia selesai melakukan sholat Azhar.
Pak Jaka Samudra tidak menjawab. Tubuhnya diputar kekiri dan kekanan. Menengok kebelakang. Kuatirnya bukan dia yang diajak bicara oleh anak kecil ini.
"Kamu bicara sama saya, nak?" tanya Pak Jaka Samudra.
"Ya ampun... iya dong Om. Kan cuma ada Om disini. Eh Om... om, kalau mau ke Asrama Brimob, saya tahu tempatnya. Sudah dekat dari sini." Anak kecil itu bicaranya lancar sekali. Tidak ada cadel-cadelnya pada perkataannya.
"Siapa yang mau ke Asrama Brimob? Om, memang akan ke sebuah tempat. Tapi yang pasti bukan kesana." Pak Jaka Samudra ini heran perkataan anak kecil ini. Seperti peramal. Tapi salah semua tebakannya. Karena sejak sampai di kota Mojokerto, Papa Andi belum tahu akan kemana tujuannya.
"Sudahlah Om, jangan bohong! Dosa lho kalau bohong! Habis sholat lagi. Gini ya Om, dari sini Om, lurus ke barat, nanti pelan-pelan saja. Kalau sudah ketemu pohon besar, Om belok kiri." Anak kecil itu ngeyel, memaksakan kehendaknya. Bahwa Pak Jaka Samudra harus ke Asrama Brimob.
"Adik kecil, Om gak bohong. Om memang tidak mau ke Asrama Brimob. Om sendiri juga belum tahu, mau kemana setelah ini," jelas Pak Jaka Samudra.
"Iya kan! Benar kan! Makanya Om, dari pada bingung-bingung, mending Om ke Asrama Brimob saja. Sekalian kalau Om kesana, saya mau titip pesan buat Kakek saya, gimana deal?" Lucu sekali gaya anak kecil ini berbicara. Sok tahu, sok pinter dan sok tua... hehehe...
"Hehehe... lucu juga kamu. Kamu dan Kakek kamu tinggal didalam Asrama Brimob itu?" Geli juga Pak Jaka Samudra melihat gaya bicara anak kecil ini.
"Gak Om, tapi dibelakang Asrama Brimob. Saya terusin ya... nah nanti kalau sudah belok kiri, lalu lurus, ada perempatan pertama, baru belok kanan. Sampai deh di Asrama Brimobnya." Detail sekali pengarahan arah dari anak kecil ini. Mustahil anak umur kira-kira tujuh atau delapan tahunan bisa menjelaskan sedetil ini. Dan Pak Jaka Samudra masih belum menyadari hal itu.
"Karena kamu bersikeras, nyuruh Om kesana, ok! Om akan ke Asrama Brimob." Nyerah juga Papanya Andi. Hitung-hitung bantu si anak kecil ini juga, supaya tidak kena marah sama Kakeknya.
"Ya gitu dong, Om! Dari tadi kek nurut saya kan enak! Ini saya terburu-buru soalnya. By the way, Kakek saya itu orangnya... yang pasti sudah tua,badannya kekar dan tinggi besar,ramah, periang dan baik hati. Om, pasti senang kalau ketemu Kakek saya." Masih dengan gaya lucunya, anak kecil ini menjelaskan ciri-ciri Kakeknya.
"Hehehe... gaya sekali kamu, pakai bahasa Inggris segala. Lucu banget lho kamu!" Pak Jaka Samudra tidak bisa menahan tawa. Pemikirannya anak kecil ini, anak ajaib, masih kecil tapi omongannya seperti orang tua. Geli sekali Papanya Andi ini.
"Iya dong Om. Sekarang ini semua harus bisa bahasa Inggris. Biar gak dibilang udik... hehehe... Oh ya Om, nanti kalau masuk rumah jangan lupa salam ya. Kakek kurang suka sama orang yang tidak sopan. Dan... kalau Kakek saya tanya, bilang saja saya ikut lomba catur antar Kerajaan. Ok Om? Bye... Om," kata anak kecil itu.
"Lomba catur antar Kerajaan?... Hhhmmm... mana ada lomba catur antar Kerajaan?" Sontak Pak Jaka Samudra kaget plus heran terhadap perkataan anak kecil itu barusan. Sejenak beliau berpikir, berkata dalam hati. Dan menurutnya itu mustahil.
"Ada-ada saja kamu itu... lho kemana perginya anak kecil itu? Cepat sekali menghilang. Berarti... memang aku harus kesana. Ini petunjuk Langit." Pak Jaka Samudra baru menyadari bahwa si anak kecil tadi itu bukan manusia. Belum selesai beliau berbicara, anak kecil itu sudah menghilang. Padahal baru ditinggal mikir sebentar saja.
Tanpa berlama-lama, Pak Jaka Samudra langsung menuju tempat yang dimaksud... Asrama Brimob kota Mojokerto.
Hujan yang tadi turun secara tiba-tiba dan deras sekali. Kini menjadi redah. Segera Andi mempersiapkan diri. Membereskan semua pekerjaan rumahnya sebelum nantinya berangkat ke Studio Tujuh untuk latihan band.
Tugas pertama, memasukan Sukro ke kandang. Dan itu butuh perjuangan dan semangat 45 yang membara. Tugas kedua, mandi. Tugas ketiga ini berat juga yaitu makan dan tugas terakhir adalah nonton TV sambil nunggu waktu Magrib.
"Uuhhh... cukup melelahkan," kata Andi sambil menyeka keringatnya.
"Mantap sekali nasi goreng pedas buatan Mama. Memang ya, Mama itu jago masak. Nanti kalau aku punya istri harus bisa masak kayak Mama. Uhhhhh... pedas banget mantap..." Habis makan toh! Kirain habis push up!
Ketiga tugas itu sudah diselesaikan oleh Andi dengan perfecto. Tinggal tugas keempat yang gak penting buat dibahas... hehehe....
"Kak, nanti Ajeng ikut ya?" pinta Ajeng pada Andien.
"No way! Kamu bikin repot saja kalau ikut!" jawab Andien ketus.
"Gak lagi deh, Ajeng janji. Ajeng nurut. Gak akan banyak minum dan gak akan makan yang pedas-pedas," balas Ajeng yang ngotot pengen ikut.
"Sekali tidak... ya... tidak. Kakak trauma ajak kamu, Ajeng. Yang kebelet pipis, kebelet beol... ngerepotin pokoknya!" Andien juga tetap pada pendiriannya. Ajeng tidak boleh ikut.
"Pelit! Aku bilangin Papa nanti! Jengkelin! Mentang-mentang aku gak bisa nyetir, aku gak diajak! Kalau Papa pulang, aku minta dibeliin mobil. Biar bisa pergi kemana-mana!" kata Ajeng yang langsung mengeloyor meninggalkan Andien. Jengkel karena tidak diajak kakaknya itu pergi.
"Bilangin! Lapor sana sama Papa! Emang gue takut! sahut Andien dengan logat Jakartanya.
Setelah mengikuti arahan anak kecil itu, akhirnya Pak Jaka Samudra sampai juga di Asrama Brimob itu.
Tidak jauh dari Asrama Brimob itu ada jalan setapak kecil. Masuklah Pak Jaka Samudra kesana. Pemikiran beliau, petunjuknya bukan Asrama Brimob itu, dia harus bertemu dengan Kakek anak kecil itu. Dengan harapan, dia bisa mendapatkan solusi. Sebuah solusi untuk mengalahkan Penyihir dengan kekuatan ilmu hitamnya yang hebat itu.
setelah sampai di lokasi. Papa Andi ini tidak melihat satu rumah pun yang ada disana. Cuma tanah kosong dengan sisa-sisa tumpukan bata yang sudah rusak. Seperti ada sebuah bangunan yang sengaja dirobohkan atau mungkin dihancurkan.
Pak Jaka Samudra merasa aneh dengan semuanya itu. Matanya tidak menangkap satu pun makhluk yang ada disana. Baik manusia atau pun bangsa jin.
Sama dengan Andi, anaknya. Pak Jaka Samudra juga seorang Indigo. Jadi dia bisa melihat makhluk halus juga. Aneh! Itu yang ada didalam pikiran Pak Jaka Samudra.
"Disini kosong. Tidak ada rumah seperti yang dikatakan anak kecil itu. Jin juga tidak ada disini. Aneh! Biasanya banyak sekali Jin yang suka berkeliaran di tempat seperti ini. Tempat apa ini sebenarnya? Sampai-sampai Jin pun enggan atau takut berada disini." Pak Jaka Samudra berkata sendiri, melihat sekelilingnya. Mencoba memecahkan misteri yang dengan logikanya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarohkatu!... assalamualaikum warahmatullahi wabarohkatu!..." Pak Jaka Samudra mengucap salam. Mengingat pesan anak kecil itu, bahwa Kakeknya suka dengan orang yang sopan.
"Kuuraanggg Aajjjaarrr!!! Berani-beraninya kamu!!! Mengucap kalimat terlarang itu!!!" Nadanya membentak keras. Marah sekali. Perlahan muncul sosok yang tinggi besar. Perut buncit, rambut gondrong. Menggunakan busana ala Kerajaan. Kerajaan Majapahit.
"Ya ALLAH! Apa itu!? Jin atau Setan itu!?" Pak Jaka Samudra kaget dengan penampakan sosok yang satu ini. Tidak cuma kaget karena pemandangan menyeramkan didepannya, tapi juga karena dibentak tiba-tiba. Padahal dia sudah sopan.
"Ramah? Apanya yang ramah? Pemarah... baru cocok itu." Pak Jaka Samudra baru sadar kalau dirinya sudah kena tipu oleh anak kecil itu. Tapi mungkin dengan cara ini, sosok ini bisa muncul.
Tinggi sekitar dua meteran, badannya gempal, gemuk tapi kekar, perutnya buncit. Wajahnya garang, meskipun tanpa kumis dan jenggot, memandang dengan mata melotot. Terlihat benar-benar marah dengan kehadiran Pak Jaka Samudra.
"Lagi-lagi masih ada hubungan dengan Kalijaga! Pergiii!!! Atau kamu matiii!!!" Suara yang berat itu, membentak keras. Suasana makin mencekam. Terlebih ancaman sosok ini yang akan membunuh Pak Jaka Samudra, kalau dia tidak... pergi.
"Hormat saya... Eyang. Tapi maaf, saya tidak akan pergi. Sebelum..." Pak Jaka Samudra membungkuk, memberi salam kepada sosok yang sangat sangar ini. Belum sempat meneruskan kalimatnya, sosok ini langsung marah, memotong perkataan dari keturunan Sunan Kalinyamat ini. Murid dari Sunan Kalijaga.
"Pergiii kataku!!! Aku tidak mau! Melihat keturunan dari murid Kalijaga ada disini! Atau kuhabisi kamu! Mengerti!!!" Sosok ini rupanya tahu siapa sebenarnya Pak Jaka Samudra. Dan entah kenapa, mantan Panglima Perang Majapahit ini benar-benar murka akan kedatangan nya.
"Saya tidak akan pergi, Eyang! Sebelum saya mendapat jawaban. Saya harus melindungi istri dan anak saya dari kekuatan jahat yang mengincar nyawa mereka. Jadi mohon maaf, Eyang, atas kelancangan saya ini." Pak Jaka tetap pada pendiriannya. Tidak akan pergi. Dan dia tahu siapa yang berdiri didepannya ini.
"Begitu! Tetap tidak mau pergi!? Baik!" Sosok ini mundur selangkah, menarik nafas dalam-dalam. Ditahannya sejenak. Dan....
Tiba-tiba angin berhembus kencang. Menggerakkan semua yang ada disana. Pohon, rumput, batu-batu kecil. Semua bergerak.
"Wwwwwuuuuusssshhhh......"
"Ssoommm... Ssssooommmaaaaa!!!"
Teriakannya keras sekali. Entah apa yang diucapkan sosok tinggi besar ini.
"Uuuuaaaaaccccrrrrrrr!!!"
Pak Jaka Samudra seketika terlempar beberapa langkah kebelakang. Tubuhnya terhempas di tanah yang kasar. Jatuh tertelungkup. Semudah debu yang tersapu oleh angin yang lirih.
Kedua telapak tangan berdarah. Menggesek dengan keras tanah kasar yang bercampur dengan kerikil. Tubuhnya sakit semua. Jaket yang dipakainya sobek di bagian lengan dan perut. Begitu pula dengan celana kain yang dipakainya... sobek menggerus landasan yang kasar itu.
Pak Jaka Samudra belum menyerah. Mencoba bangkit. Dan tetap... tidak melawan.
"Eekkk... aaggg... hhhhhu.... hhhhu..."
"Masih bandel rupanya! Pergi! Atau nyawamu melayang." Sosok Berpenampilan ala prajurit Kerajaan ini memberi peringatan terakhirnya.
"Maaf... E... yang... Sa... ya ti... tidak a... kan... per... gi," jawab Pak Jaka Samudra yang sudah terlihat terluka cukup parah.
Tanpa basa-basi lagi. Sosok tinggi besar ini kemudian memejamkan mata.
Dan membuka matanya dengan cepat.
"Sommaaa... Watuuu... Genggongggg!"
"Wuunggg.... wuunggg... wuunggg...!"
Tiba-tiba muncul pusaran angin disamping kanan dan kirinya. Perlahan pusaran angin membentuk seperti bola. Berputar terus dan mencapai bentuk akhirnya... sebuah batu bulat sebesar kelapa yang mengambang di udara. Tepat disamping lengan kanan dan kiri sosok sakti ini.
"Aku tidak main-main, manusia! Pergi! Atau mati! Atau melawanku! Kau pasti mati kalau hanya berdiam diri!"
Salah satu ilmu pamungkas telah dikeluarkan oleh mantan Panglima Perang Majapahit ini. Dan dia benar-benar serius hendak menghabisi nyawa Papa dari Andi Bayu Samudra ini.
"Saya tidak akan... melawan Eyang. Bukan itu tujuan saya. Maaf... Eyang. Silahkan Eyang." Pak Jaka Samudra tetap saja pada pendiriannya. Tidak akan pergi dan tidak akan melawan. Meskipun nyawanya dalam bahaya. Pasrah kepada ALLAH SWT, apapun yang terjadi.
"Bodohhh!!! Gobloookkk!!! Perisai Dewa, Setan bahkan milik Malaikat pun tidak bisa menahan aji Soma Watugenggongku! Apalagi tubuh Manusiamu itu! Bodohhh sekali!!!" Karena marah yang luar biasa melihat Papa dari Andi ini yang lebih memilih pasrah dari pada melawan. Tanpa berlama-lama, meluncur dengan kuat dan dasyat batu bulat yang pertama. Yang ada disamping kiri sosok dengan wajah beringas ini.
"Sommaaa... Waattuuu... Genggongggg!!! Seeraanggg!!!"
Meluncur kuat, cepat dan dasyat. Satu batu bulat sebesar kelapa itu. Tepat mengarah ke tubuh Pak Jaka Samudra.
"Allahuakbarrrr!!!... Aaaaccccrrrrrrr!!!"
"Bbboooommmm!!!"
Menghantam dengan keras tubuh Pak Jaka Samudra yang posisinya sedikit menjauh dari sosok berilmu tinggi ini.
Dan kini posisinya lebih menjauh lagi. Terpelanting jauh kebelakang. Kembali jatuh tertelungkup dengan sederetan luka yang lebih parah di sekujur tubuhnya. Diam dan tidak bergerak lagi.