
Semua yang tadinya sempat panik, melihat Fredy yang tidak segera bangun, kini menjadi lega. Fredy pun akhirnya bangkit didetik-detik perhitungan terakhir.
"Fredy! Ayo! Jangan menyerah!" teriak Robert yang girang sekali melihat sohibnya itu telah bisa berdiri tegak kembali.
"Iya Fred! Kamu pasti bisa!" Tidak cuma Robert yang menyemangati Fredy, tapi juga Wahe dan semua sohib-sohibnya.
"Ya Tuhan, terima kasih. Fredy akhirnya bisa bangkit berdiri kembali," kata Bang Karpov dalam hati, yang juga sangat senang, melihat anak didiknya yang tidak pantang menyerah itu.
"Fredy! Kamu baik-baik saja, sayang!?" Lana berkata keras dari pinggir arena pertandingan.
Fredy menoleh ke Lana, kekasihnya. Tidak berkata apa-apa. Hanya tersenyum dengan kepala mengangguk tiga kali. Semacam memberi sebuah pesan kepada Lana, kalau dia... baik-baik saja.
Wasit pertandingan lalu maju memegang kedua tangan Fredy. Memastikan apakah Fredy masih mau melanjutkan pertandingan.
"Kamu baik-baik saja? Masih mau lanjut?" tanya Wasit pertandingan.
"Saya baik-baik saja. Oh ya Pak, boleh pakai jurus lain?" Sebuah pertanyaan aneh keluar dari mulut Fredy. Jurus lain? Waohh....
"Dengar baik-baik anak muda! Cuma satu jurus yang tidak diperbolehkan disini! Jurus Langkah Seribu alias lari dari pertandingan, jelas!" jelas Wasit pertandingan tegas.
"Ok! Kamu siap!?" tanya Wasit pertandingan kepada Fredy.
"Siap Bosque!" jawab Fredy dengan semangat.
"Ok! Pertandingan dimulai. Fight!" Sebuah kalimat singkat dari Wasit pertandingan. Fight.
"Mau pakai jurus apapun, hasil akhirnya pasti sama! You're finish!" ledek Henry yang sering kali memancing emosi Fredy.
"Henry... Henry, tadi itu cuma main-main! Ayo maju sini! Kupecahkan mulut kamu yang kotor itu!" Sekarang Fredy sudah berani membalas ledekan Henry. Nyali dan mental Fredy rupanya sudah kembali menyatu didalam dirinya.
Tapi Henry tetap tenang, mendengar ledekan balasan dari Fredy. Dengan tersenyum Henry mulai melangkah maju perlahan mendekati Fredy.
Melihat Henry yang maju mendekat, Fredy pun mempersiapkan diri. Mempersiapkan jurus barunya. Dan jurus itu terlihat aneh dimata semua yang melihat pertandingan itu.
"Hei, Fred! Jangan main-main! Yang serius! Dengan mata terbuka saja, kamu dihajar! Ini malah ditutupi pakai tangan!" teriak Wahe yang heran dengan jurus baru Fredy.
"Fredy! Apa-apaan kamu! Mana pernah aku mengajarkan jurus itu! Ayo ganti jurus kamu itu!" Bang Karpov sebagai guru pun protes dengan jurus baru Fredy itu.
Melihat lawannya menutupi muka dengan kedua tangannya, Henry pun berhenti dan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... lucu... lucu... lucu sekali kamu! Hahaha... oh God... sampai mules perutq... hahaha... ya sudah, bertingkahlah kamu, kepet!" Henry geli sekali melihat jurus baru Fredy. Lawannya.
Kedua telapak tangan Fredy terbentuk lurus. Kedua telapak tangan itu menutupi wajah Fredy. Yang menonton ataupun Henry mengira, Fredy sedang bercanda. Padahal tidak! Itu jurus ciptaan Fredy sendiri... jurus cilukba. Pemuda yang aneh... otomatis nama jurusnya juga aneh. Sangat ngawur. Seperti gak ada nama lain saja.
Melihat lawannya menutupi mukanya dengan tangan, Henry yang sekarang posisinya sangat dekat dengan Fredy, langsung melayangkan tendangan kerasnya bertubi-tubi ke wajah dan tubuh Fredy.
"Jeeedddaaasss... jeeedddaaasss... jeeedddaaasss...!"
Dan betapa kagetnya Henry. Semua tendangan kerasnya itu bisa ditangkis oleh Fredy dengan mudah.
Kok Henry! yang nonton saja juga kaget. Padahal pandangan mata Fredy terhalangi oleh tangannya sendiri.
Fredy ternyata tidak hanya pawai menangkis serangan dengan jurus anehnya itu. Tapi juga hebat melakukan serangan balik.
"Bukbukbuk... bukbukbuk... bukbukbuk...!"
Telapak tangan yang diletakkan didepan mukanya itu, digerakkan menyilang dengan cepat dan membuat bingung pandangan lawan. Dan... Tinju Pemecah Es.
"Ccccceeeeprroookkkkk!!!"
Keras sekali tinju Fredy mendarat dimuka Henry. Lebih tepatnya, mendarat pas dirahang Henry.
Bagaimana Henry gak pingsan! Wong Fredy itu latihannya tiap hari mukulin es batu pakai tangannya. Kan Tante Santi, Mamanya Fredy jualan Es campur. Nah, Fredy ini yang bagian mecahin es batunya. Apalagi pas rahang. Ya sudah wasallam.
Dengan sigap, Wasit pertandingan langsung menuju ke tempat Henry tersungkur. Dan memberi hitungan.
"Satu, dua, tiga, empat, lima... sembilan, sepuluh...!" Wasit pertandingan langsung menyilangkan tangannya, begitu dia selesai menghitung dan Henry tidak bisa bangun lagi.
Fredy pun akhirnya berhasil mengalahkan Henry, pemegang sabuk hitam Karate Kyokushinkai. Dengan jurus anehnya.
Semua yang ada dipinggir arena pertandingan bersorak gembira. Bang Karpov, Lana dan sohib-sohibnya semua senang. Semua menyambut kemenangan Fredy yang fenomenal itu.
Tidak terkecuali dengan Andi, yang juga ikut senang dengan kemenangan Fredy. Sohibnya.
Melihat Fredy menang. Andi yang sedari tadi menonton dari jauh, langsung pergi meninggalkan teman-temannya.
Dia memang sengaja menonton dari jauh, buat jaga-jaga, kalau-kalau Kakek Guntur bisa lolos dari pantauan security gedung Go Skate. Dan ternyata sampai Fredy memenangkan pertandingan itu, Kakek Guntur tidak datang juga. Berarti aman.
Andi memang tidak berpamitan dengan sohib-sohibnya. Ada hal yang penting yang harus dia selesaikan.
Perjalanan dari gedung Go Skate ke tempat tujuan Andi memang cukup memakan waktu.
Wajar kalau Surabaya merupakan sebuah kota dengan tingkat kemacetan yang tinggi, karena Surabaya adalah kota terbesar kedua setelah Jakarta di Indonesia.
Sudah macet, cukup jauh pula jaraknya, dari gedung Go Skate ke tempat tujuan Andi selanjutnya. Belum lagi terlihat jelas di angkasa awan mendung. Jadi bisa sewaktu-waktu turun hujan.
Dan tanpa berlama-lama, Andi langsung mengarahkan Nitta menuju daerah Arief Rahman Hakim. Ke warung Kopi Cak Kan.
Janji tetaplah janji dan itu harus ditepati. Dan Andi telah berjanji kepada Andien untuk mengembalikan Kacang Sukro yang telah diambilnya dari gadis yang super cantik itu.
Setelah melewati beberapa jalan yang macet, akhirnya Andi pun sampai juga di warung kopi Cak Kan.
Begitu sampai, dengan segera motor diparkir, lalu masuk kedalam warung kopi tersebut.
"Hallo Cak Kan," sapa Andi begitu tiba di pintu masuk warung kopi Cak Kan.
"Hallo juga Om. Tumben nich. Gak biasa-biasanya, kesini dua hari berturut-turut. Eh, ada apa nich?" tanya Cak Kan yang sedikit heran dengan kedatangan Andi kali ini.
"Gak ada apa-apa kok. Eh Cak, itu cewek yang kemarin nonjok saya sudah datang belum?" tanya Andi Kepada Cak Kan.
"Lho... lho... lho, ada apa lagi nich! Jangan bilang kamu balas nonjok dia! Mbok ya sudah, jangan diterusin berantemnya! Apalagi dia kan cewek, Om, apa gak malu kamu, mau mukul cewek!?" Begitu mendengar Andi menanyakan Andien, Cak Kan langsung bernegatif thinking kepada Andi.
"Cak Kan... Cak Kan! Masa sich saya mau balas nonjok dia! Kemarin malam, saya sudah janji sama dia, mau balikin kacangnya. Gimana cewek sadis itu sudah datang atau belum?" jelas Andi dengan menunjukan tentengan tas kresek putih kepada Cak Kan.
"Oh begitu. Ya maaf dech. Cak Kan itu cuma gak mau saja ada keributan lagi disini," jawab Cak Kan meminta maaf.
"Ya... ya tahu! Terus cewek itu sudah datang? Sampai tanya tiga kali aku ini!" protes kecil Andi kepada Cak Kan.
"Tuh... itu cewek yang kamu cari, ada diseberang sana. Kelihatannya mobil ada masalah tuh, Om. Cepetan kesana dan bantuin!" kata Cak Kan sambil menunjuk sebuah mobil putih yang ada diseberang jalan.
Jadi Andien memang sudah datang. Dan membeli es teh dengan jumlah yang lumayan banyak. Seperti biasanya.
Dan Andien memang telah menunggu kedatangan Andi untuk menepati janjinya.
Tapi setelah ditunggu beberapa menit, Andi belum datang-datang juga, akhirnya Andien pun pulang. Dengan hati yang jengkel, merasa telah dibohongi oleh Andi.
"Ternyata dia sama saja dengan cowok-cowok yang lain. Tukang bohong! Sudah Penyihir, tukang bohong pula! Awas ya, kalau ketemu, aku tonjok lagi nanti dia!" gumam Andien berkata-kata sendiri waktu didalam mobil putih kesayangannya.