Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
THE PROTECTOR



"Yakin!? Tetap tidak mau bicara!" Seorang wanita cantik berkata dengan seorang pria yang berada diatas ring tinju. Pipit, wanita yang cantik tapi... sadis.



"Sampai mati pun, aku tidak mau mengatakan kepada kalian semua, keberadaanannya." balas pria berbadan kekar itu.



Wanita itu kemudian melangkah maju, namun tiba-tiba, terdengar suara yang menghentikan langkahnya.



Suara berat dari seorang pria yang berbadan tinggi besar dan berambut cepak ,melarang Pipit untuk meneruskan langkahnya.



"Hei Pit, giliranku sekarang ini. Kemarin kamu sudah. Diam dan saksikan saja pertunjukannya." Lalu Pria muda berbadan kekar ini pun maju. Badannya sama kekar dengan pria yang ada diatas ring itu. Memandangi sekitar. Seperti mencari sesuatu.



"Mau cari apa kau?Senjata? Hadapi aku di ring ini dengan tangan kosong!" kata Pelatih utama Club Bela Diri Full Body Contac ini. Kiki Siregar.



Pria berotot ini tidak menjawab. Pandangan matanya menemukan sesuatu. Tiang besi penyangga tempat berlatih bela diri ini.



Langkah maju menuju kesana. Sesampainya di tiang besi itu, tangan pria berambut cepak ini memegang benda keras tersebut dan diam untuk sesaat.



"Hhhaaa!... sudah selesai." Pria penyayang anjing ini berkata sendiri, lalu membalikan badan. Menghadap Kiki yang sudah menantinya di atas ring.



"Perkenalkan namaku Bull. Dan aku akan membunuhmu sebentar lagi." Tenang sekali Bull menebar ancaman kepada Kiki. Lantas bergerak maju perlahan menghampiri Kiki. Penantangnya.



"Jagat Dewa Batara! Ti... tidak mungkin... mustahil! Tubuh Emas Antaboga!" Mata sosok bertubuh besar ini terbelalak.



"Bag... bagaimana... mungkin!? Tubuh Emas Antaboga menjadi pelindungnya!" Sosok berilmu tinggi ini, masih tidak percaya dengan pengelihatan matanya.



Baik jaket dan baju yang dikenakan Pak Jaka Samudra ini terkoyak habis. Hal yang sama juga terjadi pada celananya.



Terlihat oleh sosok berambut gondrong itu, tubuh Pak Jaka Samudra berubah warna, seluruh tubuhnya sekarang berwarna emas. Tubuh Emas Antaboga. Shang Yang Antaboga, Dewa Naga Penguasa Kayangan Sapta Pertala.



"Ini pasti campur tangan, kalian! Kenapa, kalian selalu saja membela Kalijaga!? Kenapa!" Berkata sendiri dengan mata menatap langit. Sosok yang berumur ratusan tahun melakukan protesnya.



"Uuhhh... benci aku!... benci aku!... benci aku!" Bertingkah seperti anak kecil. Melompat-lompat melampiaskan kejengkelan hatinya melihat peristiwa itu.



Perlahan, badan yang tadinya diam, mulai bergerak. Kedua telapak tangannya mencoba menekan tanah, tempat dia tersungkur.



Lengannya bergerak keatas, mencoba mengangkat tubuhnya yang penuh dengan luar dan dalam. Dengan menahan sakit yang luar biasa, Pak Jaka Samudra melakukan semua itu.



"Uuuuaaaacccrrrr!"



Tubuh yang tertelungkup itu, terhempas kembali. Membentur tanah untuk yang kesekian kalinya. Pak Jaka Samudra tidak mampu membuat tubuhnya bergerak naik. Dan jatuh kembali.



Namun dia tidak menyerah. Dengan tenaga yang masih tersisa. Mencoba bangkit kembali.



Warna tubuhnya, perlahan kembali ke warna semula. Putih. Berjuang terus sampai akhir.



"Ayo Jaka... bangun, bangkit, jangan menyerah!" Pak Jaka Samudra menyemangati dirinya sendiri.



Rasa sakit yang luar biasa itu tidak dirasakannya. Kembali dia mencoba bangkit untuk yang kedua kalinya.



Kedua telapak tangannya kembali dibuat pondasi. Menekan tanah padat yang keras. Bersamaan dengan itu, lengannya digerakkan keatas.



Perlahan, tubuhnya mulai bisa terangkat. Lalu kakinya mulai digerakkan juga.



Dengan posisi kaki ditekuk sebelah, badan membungkuk, lengan dan tangannya menahan tubuh yang penuh dengan luka itu. Kepalanya mulai digerakkan keatas. Ingin menatap sosok bertubuh tinggi dan besar itu.



"Uukkk... aaccrrr!"



"Sama seperti Eyang... saya adalah pelindung... untuk istri... dan anak... saya... Eyang Noyo Genggong... hhuuuookkk..." Papa Andi ini memuntahkan darah merah kehitaman dari mulutnya. Luka luar dan dalam yang parah dideritanya saat ini.



"Weleh... weleh... kamu tahu namaku!?" Sosok ini menghentikan tingkahnya yang seperti anak kecil, ketika namanya disebut oleh Pak Jaka Samudra. Eyang Noyo Genggong. Penjaga Utama Harta kekayaan Kerajaan Majapahit.



"He^... he^... he^... Kenapa harus Kalijaga lagi yang terus dibela!? Kenapa!?" Seperti judul drama live di TV, Eyang Noyo Genggong mewek termehek-mehek. Merasa keputusan Langit tidak adil terhadap dirinya.



"Sssssroootttt... sssrrrooottt!"



Diambilnya selembar kain putih untuk menghapus tangisan ala India dan mengeringkan hidungnya yang meler.



"Aku harus kuat... aku harus kuat... ini takdir." Tidak cuma Pak Jaka Samudra yang menyemangati diri sendiri, tapi Eyang Noyo Genggong juga.




"Mau bilang apa lagi? Ini sudah keputusan Langit. Ya sudah. Terima ini!" Berada tepat didepan Pak Jaka Samudra, Eyang Noyo Genggong memberikan sesuatu kepada Papa dari Andi Bayu Samudra ini.



"Hhhiiiattt... ceeprokkk... ccceeprakkk... ccceeeprokkkk!"



Begitu Bull memasuki ring, Kiki langsung menyerang. Menghajar dengan pukulan terkerasnya kearah wajah pria berambut cepak ini. Tapi dia sengaja tidak menghindari atau menangkis pukulan lawannya, yang benar-benar jago bela diri ini.



Menyarangkan pukulan beruntun ke wajah Bull, Kiki pun mundur sejenak. Melihat reaksi lawannya yang berbadan kekar ini.



"Apa!!!" Terkejut sekali Kiki, melihat wajah dan hidung Bull tidak terluka sedikit pun.



Bull menggerakkan lehernya kekanan dan kekiri. Kepalanya ditegakkan, menghadap Kiki sambil tersenyum.



"Pukulanmu seperti banci! Pukul aku, tendang aku! Lebih keras lagi!" sindir Bull kepada Kiki.



Sontak perkataan Bull, membuat Kiki sangat emosi. Dengan kemarahan yang memuncak, menyerang Bull kembali. Tanpa ampun.



"Maatiii kauuu!!! Hiiiiaattt!!! Ceeeprakkk... ccceeepprokkk... ccceeeppprakkk... ceeedaassss... ceeedaassss!"



Pukulan dan tendangan keras Kiki mengarah dan mengenai tepat di wajah, perut dan dada. Bertubi-tubi. Dan kalau gerakan mematikan itu menghantam orang lain. Sudah dipastikan pilihannya cuma ada dua, rumah sakit atau kamar mayat.



Tapi ini... Bull. $eorang manusia yang terlahir dengan kemampuan membunuh yang sempurna. Jelas beda!


"Hhooss... hhhooosss... hhhooosss... badannya keras sekali seperti besi... hhhooosss...." Nafas Kiki tersengal-sengal. Dia heran sekali, lawannya kali ini kuat sekali. Tidak merasakan sakit sama sekali. Meskipun sudah dihajar dengan sepenuh tenaga.


"Sudah!? Capek!? Cuma segitu kemampuanmu!? Sekarang... gantian... hiaaattt!!!... ccccpprookkkk!!!" Melihat lawannya sudah kehabisan tenaga. Gak pakai basa-basi, Bull langsung menyerang dengan tinjunya. Cepat, Kuat dan mematikan.



"Bblleeetakkkk!!! Aaaaaccccchhhhhh!!! Sakittt!!!"



Melihat Bull akan menyerang wajah, Secepat kilat Kiki memasang double cover untuk melindungi wajahnya. Tapi... percuma. Pukulan Bull bagaikan besi menghantam keras ke tangan Kiki. Dan seketika tulang-tulang tangan Kiki patah.



"Aaaaaccccchhhhhh!!!"



Teriakan kesakitan dari mulut Kiki keluar keras kembali. Ketika dengan sigap Bull langsung mencengkeram pundaknya.



"Sakittt yaa!!!? Teriak yang keras!!! Hahaha!!! Aku sudah bilang! Aku akan membunuhmu! Sudah terlambat, untuk bicara! Matiii kauuu!!!" Bull memang sadis. Teriakan kesakitan dari Kiki, tidak membuat pria muda ini luluh dan memberi ampun kepada pelatih bela diri ini.



Puas sekali, Bull mendengar teriakan kesakitan dari lawannya. Tawa Bull semakin menggema ketika dia menambahkan rasa sakit yang luar biasa dengan mencengkeram pundak Kiki. Dan....



"Bbbllleeetttaakkk!!!



Rahang kanan kiri, hancur, kepala dan lehernya menoleh kekiri dengan cepat. Mematahkan leher dari seorang pelatih bela diri yang melindungi keberadaan muridnya.



Pukulan tinju kanan Bull, menghantam keras bagaikan palu godam. Tepat diantara rahang dan leher Kiki. Membuat bunyi keras. Dan akhirnya mengakhiri perlawanan Kiki seketika.



Kiki... mengorbankan nyawa, tidak mau berbicara tentang keberadaan muridnya. Sebuah perlindungan luar biasa dari seorang guru.



Setelah memastikan bahwa Kiki benar-benar sudah mati. Bull pun turun dari ring.



"Rozak! Sekarang tugasmu. Bakar tempat ini. Jangan sampai kita meninggalkan jejak," kata Bull kepada pria berambut gondrong lurus, yang semenjak tadi hanya berpangku tangan, melihat duel maut itu.



"Baik!" jawab pria dengan umur tiga puluh lima tahunan itu.



"Ulo Weling... metuo!" Mantra telah diucap. Memanggil senjata sakti berbentuk rantai panjang dengan ujung yang runcing seperti mata tombak.



Muncul dari dalam tanah, menembus keramik lantai tempat latihan bela diri milik Kiki. Membelit perlahan seperti ular ke kaki Rozak. Memanjat keatas tanpa diperintah.



Telapak tangan Rozak kini sudah memegang senjata saktinya "Rantai Sakti Ulo Weling".



Dilebihkan beberapa jengkal rantai sakti itu. Kemudian diputarnya rantai itu dengan cepat.



"Wuunggg... wuunggg... wuunggg... cccllapp... cccllapp!



Rantai sakti yang sudah diputar-putar dengan cepat itu digesekkan mengenai keramik lantai. Percikan api pun timbul. Pertama api itu kecil. Namun angin yang dihasilkan perputaran rantai sakti milik Rozak itu, membuat api semakin membesar. Dan membakar seluruh tempat itu.



Pipit, Rozak dan Bull akhirnya pergi dari tempat itu. Tanpa meninggalkan jejak. Berjalan santai lewat pintu belakang. Menuju sasaran berikutnya.



Berapapun banyaknya nyawa yang harus dikorbankan. Bagi Pipit, Rozak dan Bull, itu bukan urusan mereka. Apapun resiko yang harus ditanggung, meskipun itu dengan nyawa.Yang terpenting tujuan mereka... tercapai. Karena itulah tugas mereka sebagai pembunuh bayaran profesional.