
Perjalanan Andi dan Natalie di pintu masuk sebuah perumahan. Perumahan Wisma Permai Indah.
"Lie, nanti mampir dulu ke toko kelontong ya. Aku mau beli roti," kata Andi.
"Nah, kalau roti, aku mau tuh, Bay.\* sahut Natalie. Memang do'i ini lebih suka makan kue atau roti daripada nasi.
"Sebetulnya bukan buat kamu sih. Tapi kalau kamu mau, ya pilih saja. Nanti aku yang bayar," ucap Andi pada Natalie.
Tak jauh dari pintu masuk komplek perumahan memang ada toko kelontong. Andi menghentikan dan mematikan mesin motornya. Dan sekali lagi, Natalie berpikir, "Kalau bukan buat aku, terus buat siapa lagi?"
"Ayo Lie, turun. Kamu pilih ya roti atau kue yang kamu suka, ok?" kata Andi.
"Bay, kamu beli roti itu buat siapa?" tanya Natalie sambil merapikan roknya yang sedikit menekuk keatas. Sekali lagi, cuma sedikit lho ya.
"Buat umpan ikan," Jawa Andi.
"Bukannya ikan itu umpannya cacing, Bay?" tanya Natalie sedikit bingung.
"Iya cacing. Tapi biasanya aku pakai roti kok," jelas Andi singkat.
"Yuk Lie, masuk." Andi mengajak Natalie masuk kedalam toko kelontong yang cukup besar dan komplit itu.
"Pagi Ko Beny," sapa Andi kepada pemilik toko kelontong itu.
"Pagi juga. Walah, Gua kira siapa? Pagi-pagi sudah ada yang belanja. Gimana kabarnya, Yu?" tanya Ko Benny ramah.
"Ternyata kenal juga toh sama pemilik toko ini," kata Natalie dalam hati.
"Baik. Ko Beny sendiri, gimana kabarnya? Baik?" balas Andi.
"Ya Puji Tuhan, baik Yu. Lho, ini kamu kok gak sekolah? Bolos ya? Waduhhh, Lu jangan sering-sering bolos. Kasihan orang tua Lu cari uang." Ko Beny menasehati pelanggannya yang masih berstatus pelajar SMA itu. Dengerin tuh Mas Bro!
"Ya Ko, terima kasih sudah diingatkan. Gak tahu hari ini bawaannya malas saja. Insyaallah, besok-besok gak lagi deh, janji." Dengan sumpah dua jari, Andi menyakinkan Ko Beny. By the way ini cuma saran ya, Ko Beny... jangan percaya, ok Bosku?
"Beneran lho ya! Lho ini, bolosnya sama dia?" Ko Beny menunjuk Natalie yang berada dibelakang Andi.
"Aduhhh... me... me, lu kok ikut-ikutan bolos sama Bayu! Lu itu cakep. Kelihatannya Lu, anak baik-baik. Yu, jangan kamu ajari yang gak-gak lho ya! Sekali lagi Ko Beny menasehati Andi.
"Gak Ko, tenang saja. Eh, Kompyangnya ada, Ko?" tanya Andi.
"Ada. Mau beli berapa, Yu?" Balas Ko Beny.
"Satu saja, Ko. Buat umpan ikan." sahut Andi.
"Sebentar ya, Gua ambilin dulu." Ko Beny bergerak ke pojok toko. Turun dari meja kasirnya.
"Lie, kamu pilih deh, mungkin ada yang kamu suka!" kata Andi kepada Natalie.
"Sudah Bay. Ini saja," sahut Natalie yang rupanya sudah hunting terlebih dulu jajanan yang dia suka.
" Oh itu. Ambil saja." balas Andi.
"Ini Yu, Kompyangnya. Sama apalagi?" tanya Ko Beny.
"Sama tambahin air meneralnya yang tanggung dua botol, Ko. Terus Snack ini 5 bungkus. Jadi totalnya berapa?" Andi memberikan snack yang diambil Natalie tadi kepada Ko Beny. Sekalian meminta semuanya untuk ditotal.
Setelah membayar belanjaan itu, Andi dan Natalie pun berpamitan kepada Ko Beny. Siap melanjutkan perjalanannya.
Berangkatlah Andi dan Natalie menuju lokasi pemancingan. Tempat Andi biasa mancing, yang ternyata ada didalam Komplek perumahan Wisma Permai Indah.
"Oh ya Lie, nanti ijin dulu ya, dengan Satpam perumahan. Kamu gak usah turun, aku saja yang turun minta ijin. Kebetulan aku kenal dengan beliau," jelas Andi disela-sela perjalanan.
"Ya Bay." jawab Natalie singkat.
Lagi-lagi Natalie berkata dalam hati, "Banyak sekali kenalan cowok ini..."
"Pagi Pak Karim," sapa Andi dengan ramah setelah turun dari motornya. Enak kan, jadi orang yang ramah itu... hehehe...
"Pagi juga. Eh, kamu toh, Bayu! Lho, ini gak sekolah? Bolos ya! Bapak tahu, pasti kamu kesini jam segini ini, mau ketemu sama non Alexa ya! Cucu Oma Rosa itu, kan! Anak mudah jaman sekarang, sampai segitunya kalau punya niat." Pak Karim menjawab salam Andi dengan tebakan yang sangat-sangat keliru. Dan rupanya do'i gak tahu kalau yang ditebak ini bawa teman cewek.
"Ehemmm... ehemmm..." Natalie memberikan kode, kalau dia ada.
"Oalah, kamu bawa teman toh, Bay! Maaf ya mbak, Bapak gak tahu." kata Pak Karim setelah mengetahui ada Natalie.
"Gak apa-apa, Bapak." sahut Natalie yang masih duduk di jok sepeda motor.
"Lagian, Pak Karim, pagi-pagi sudah nebak yang gak-gak. Saya kesini mau minta ijin. Mau mancing seperti biasa," tutur Andi.
"Ya maaf. Bapak kira mau ketemu non Alexa. Soalnya dia kemarin waktu pulang kuliah sempat mampir kesini... nanyain kamu. Oh ya, titip salam juga." Pak Karim ini gimana sih! Gak tahu ya! Ada yang sensi mendengar semua itu.
"Tadi Karina, sekarang Alexa... anak kuliahan lagi! Kejutan apa lagi nanti selanjutnya!?" kesal gitu Natalie dengan kenyataan yang ada di lapangan tentang pujaan hatinya. Tapi tenang ya gadis cantik. Semua itu cuma teman.
"Ya sudah kalau begitu, silahkan, kalau mau mancing. Bapak kasih kalian ijin," ucap Pak Karim kepada Andi.
"Terima kasih, Pak Karim. Kalau begitu, saya pamit dulu, mau langsung menuju lokasi." Andi bergegas meninggalkan Pak Karim. Dengan berpamitan dulu tentunya.
"Terima kasih, Bapak. Mari dulu, Bapak," sahut Natalie yang juga tidak lupa berpamitan dengan Pak Karim.
"Ya sama-sama. Hati-hati kalian semua." balas Pak Karim dengan sebuah pesan singkat. Hati-hati.
Andi dan Natalie pun segera melanjutkan perjalanan. Sebuah lokasi pemancingan yang letaknya tidak seberapa jauh dari Pos Satpam perumahan. Tempat Pak Karim bertugas.
Sebenarnya itu bukan tempat pemancingan khusus. Tapi sebuah sebuah sungai kecil yang tepat berada didalam Komplek perumahan tersebut.
Tepat disampingnya sungai itu. Ada taman kecil yang tertata rapi dan asri. Indah sekali. Dilengkapi dengan tempat-tempat duduk yang disemen secara permanen. Dan adem. Karena dibuat dibawah pohon-pohon yang rimbun dan rapi. Jadi pas banget untuk berteduh.
"Nah, kita sudah sampai. Ayo turun." Andi meminta Natalie untuk turun dari Nitta. Lalu memarkir motornya dengan rapi.
"Enak sekali ya, Bay, disini. Sejuk. Tempatnya bersih. Teduh. Apalagi langit terlihat mendung. Gak panas." Natalie lalu membuka topi yang sedari tadi dipakainya.
"Blinggg... blinggg... blinggg..."
"Sejuk sekali, Bay." Bak model iklan sampoo, Natalie menggoyang-goyangkan rambut indah pelan-pelan. Rambut panjang bergelombang yang hitam berkilau.
Melihat pemandangan indah seperti itu, Andi hanya bisa terpana, " Memang benar Lie, kata semua orang. Kamu itu sangat cantik, tapi..."
"Hei, Bayu, diajak ngomong, kok bengong sih," tegur Natalie kepada Andi yang sedang tertegun memandang dirinya.
"Lihat apa sih kamu, Bay? Gak ada apa-apa tuh." Natalie memutar badannya kekanan, kekiri. Mencari tahu apa yang membuat Andi mematung seperti itu. Gak tahu atau pura-pura gak tahu!
"Ya, ayo berangkat, Lie," Andi yang seakan terhipnotis, naik kembali ke jok motornya dan meminta Natalie untuk naik.
"Lho bay, kita kan, baru sampai. Mau pergi kemana lagi?" tanya Natalie yang heran dengan sikap Andi saat itu.
"Oh ya... iya, kita kan baru sampai. Hehehe... sorry, lupa." Pikiran Andi yang sempat blank, kini perlahan kembali normal. Baru sadar rupanya do'i kalau Natalie itu sangat cantik. Hallo... kemana saja kamu, mas bro?
Kemudian Andi masuk ke area taman kecil disamping sungai. Jaketnya dilepas, dan diletakannya disebuah tempat duduk dari plesteran semen yang ada di situ.
"Lie, ayo, masuk sini. Awas, pelan-pelan. Pegang tanganku." Andi mengulurkan tangan untuk memudahkan langkah Natalie.
Natalie pun menyambut uluran tangan Andi. Kakinya melangkah dengan mudah menuju ke posisi Sang Pujaan hati.
"Lie, kamu duduk di sini ya." Andi menunjuk tempat duduk yang sudah dialasi dengan jaketnya.
"Terima kasih. Bay, aku boleh tanya sesuatu gak." Gak sabar juga Natalie untuk menanyakan apa yang menjadikan hatinya gundah sedari tadi.
"Boleh. Mau tanya apa? asal jangan tanya soal Matematika. Aku gak bisa Matematika soalnya. Fisika, kimia, biologi juga ding... hehehe..." canda Andi.
"Ya, ngapain aku nanya itu. Gak penting. Aku mau tanya... hhhmmm... aku mau tanya, siapa Karina dan Alexa itu?" Natalie berusaha menyelidiki seberapa dekat mereka dengan Andi.
"Ssssrrreeetttttt..."
"Sebelum aku jawab. Ini ada roti coklat spesial buatan Mamaku. Enak kok. Gak kalah sama roti-roti mahal pokoknya. Makan ya." Andi memberikan roti coklat yang tadi belum sempat dimakannya itu kepada Natalie.
"Terima kasih ya, Bay. Jangan lupa cerita dan jangan balik tanya, ok?" Natalie menerima roti itu dan langsung menagih janji Andi.
"Ya... iya. Keppo banget rupanya kamu!" goda Andi kepada Natalie.
"Iiihhhh... Bayu, cepetan cerita! Rotinya gak aku makan lho! Kalau kamu nunda-nunda terus." Wajah dan Natalie gak seirama. Wajahnya jengkel tapi...
nada suaranya manja. Seperti suka gitu kalau digoda. Marah sekalipun... kamu tetap cantik, baby.
"Ya deh. Karina itu temanku di SMP dan Alexa itu juga temanku. Tapi baru kenal. Sudah?" jelas Andi singkat. Dan tidak mungkin Natalie akan menyudahi pertanyaan dengan penjelasan sesingkat itu.
"Belum!... nyam... nyam... nyam... api..." Niatnya bertanya detail,tapi sambil makan... belepotan deh. Roti coklat itu tidak tergigit sempurna oleh Natalie, sehingga ada sedikit hiasan coklat melebar ke pipi tanpa disadarinya.
"Lie, maaf ya..." Andi mengambil sapu tangannya. Menghapus lembut hiasan coklat yang ada disamping bibir indah Natalie.
Natalie hanya bisa diam tak bersuara. Matanya melihat wajah Andi tak berkedip. Dan seketika jantung berdetak kencang dengan sederet ketakutan yang menggoda. "Jangan-jangan, sebentar lagi, aku mau di.... ya Tuhan, gimana ini! Aku belum siap..."
"Sudah bersih. Lain kali kalau bicara, jangan sambil nguya makanan ya," saran Andi kepada Natalie.
"Alhamdulillah... ternyata... terima kasih ya Allah." Natalie bersyukur dalam hati.
"Terima kasih. Lanjutin ceritanya," pinta Natalie. Sudah mulai tenang rupanya.
"Lanjutin? Apanya yang dilanjut. Kan, aku sudah cerita semua," jawab Andi.
"Belum. Itu kan versi simplenya! Kalau Karina wajar kamu bisa kenal, tapi Alexa? Cewek kampus lagi. Ayo ceritain, Bay!" Natalie keppo banget, sampai maksa gitu. Nadanya manja kayak gitu... namanya bukan maksa tapi pengen disayang... hehehe...
"Panjang ceritanya, Lie. Tapi gak apa-apa. Aku akan cerita." Nyerah
deh Andi.
"Ya, cepetan!" sahut Natalie.
"Waktu ada kejadian disini. Ada seekor anjing ditabrak mobil. Anjing itu ternyata punya Oma Rosa, nenek Alexa. Dan yang nolong itu guk-guk ya... aku. Simple." Andi mempersingkat ceritanya. Kalau cerita panjang lebar, bisa ada saingan baru dong, di sini. \*\*\*\*\*\*\*.
"Benar begitu ceritanya?" selidik Natalie yang baru tahu kalau Andi juga suka bohong.
"Ssssrrreeetttttt..."
"Beneran itu! Aku tuh kalau pagi sampai siang gak boleh bohong, tapi sorenya gak apa-apa bohong," jelas Andi sambil mengeluarkan alat pancingnya.
Lalu alat pancing itu ditarik keatas. Supaya memanjang dan siap digunakan.
"Sekarang gantian, aku yang tanya, boleh?" tanya Andi sambil mengambil roti kompyang yang tadi dibelinya. Dicuil sedikit lalu dipelintir-pelintir sampai membulat seperti kelereng.
\*Boleh. Mau tanya apa? Eh bay, itu umpannya ya? Biar aku coba pasang ke mata pancingnya ya?" pinta Natalie yang memang belum memancing sebelumnya.
"Memang bisa? Nih, coba pasang umpan ini ke mata pancingnya. Tapi awas hati-hati. Ujungnya tajam sekali." Andi mengijinkan Natalie untuk memasang umpan itu. Dan....
"Mmmeeeooongggg!
Seekor kucing tiba-tiba melompat ke arah Natalie. Sontak terkejut sekali gadis cantik itu. Sehingga mata pancing yang hendak dipegangnya, secara tidak sengaja menusuk jari telunjuknya yang lentik itu.
"Aaaaacccchhhh!!!... sakit sekali, bay!" teriak Natalie yang kesakitan.
Dengan tanggap, dipegangnya jari telunjuk Natalie, lsg dicabut ujung mata pancing dari jari telunjuk Natalie.
Semua dilakukan Andi dengan cepat. Kalau pelan-pelan tambah sakit. Dan dengan cepat pula, jari telunjuk yang mengeluarkan darah itu langsung dikulum untuk menghentikan keluar darah dari jari Natalie itu.
Sebuah cara kuno yang sangat efektif untuk menghentikan keluarnya darah dari jari manapun. Memasukan ke mulut lalu menghisap darah itu sampai tidak keluar lagi.
"Aaaduuuhhh... Bay, sakit, pelan-pelan," seru Natalie yang tidak melarang Andi melakukan itu kepadanya.
Perlahan rasa sakit di jari telunjuk Natalie mulai hilang. Rasa sakit itu sekarang berubah menjadi rasa yang baru pertama kali ada dihatinya yaitu Cinta.
"Setiap kali adalah yang pertama buatku ketika aku bersamamu. Pertama kali dalam hidupku, seorang cowok menyelamatkan nyawaku tanpa memperdulikan apapun. Pertama kali dalam hidupku, seorang cowok bertarung untukku. Pertama kali dalam hidupku, seorang cowok menyentuh hidung dan rambutku. Dan pertama kali juga, seorang cowok mengulum jariku, merasakan darahku, tanpa rasa jijik, tanpa berpikir dua kali. Hanya untuk menolongku. Cowok itu adalah kamu, Andi Bayu Samudra. And for all that I will say to you... I Love You.