
"Malam Tanteku yang cantik... muaccchhh!" Andien yang telah tiba di rumah, langsung menyapa Tante Maya plus dengan kecupan dipipih adik kandung Papanya itu.
"Andien! Kenapa kamu basah semua seperti ini!? Kamu kan naik mobil! Kok bisa sampai basah semua seperti ini!?" Tante Maya kaget sekali melihat kondisi fisik keponakannya yang cantik jelita ini.
"Hehehe... panjang ceritanya, Tan. Andien ganti baju dulu ya, entar Andien balik lagi, ok Tanteku yang cantik," kata Andien yang segera naik keatas. Ke kamarnya.
Tante Maya cuma bisa bengong, melihat kelakuan Andien barusan. Ya aneh saja. Gak biasanya Andien itu memuji dirinya. Walaupun kenyataannya memang Tantenya Andien ini masih terlihat cantik.
"Ada apa sich, Tan? Kok ribut-ribut!" tanya Ajeng sambil membawa jus jeruk kesukaannya.
Ajeng memang ada di dapur, buat jus jeruk untuk dirinya sendiri. Karena pembantunya sudah tidur. Jadi dia terpaksa harus buat sendiri. Ya bagus kalau begitu. Majikan yang pengertian. Betul tidak?
"Tante Maya! Ditanya kok malah bengong," kata Ajeng dengan nada yang sedikit kencang dengan mentoel pundak Tantenya.
"Oh ya... Jeng, kamu tanya apa?" balas Tante Maya yang baru tersadar dari sikap mematungnya.
"Ya kan! Tante itu kenapa kok bengong? Ditanya, diem saja," tanya Ajeng kepada Tante Maya.
"Enggak Jeng... Tante heran sama kakak kamu, sepertinya Andien kesambet dech! Aneh sekali sikapnya tadi," jelas Tante Maya kepada Ajeng.
"Oh jadi kak Andien sudah pulang, Tan! Terus anehnya dimana?" tanya Ajeng lagi.
"Ya aneh saja. Tadi itu sudah dia basah semua pakaiannya dan satu lagi, pakai muji-muji Tante lagi. Mana pernah Andien seperti itu. Iya Khan!" jawab Tante Maya.
"Kayak gak kenal Kak Andien saja Tante ini. Dia khan memang aneh. Bukan Kak Andien kalau gak aneh. Sudah gak usah dipikirin Tan. Oh ya, Tante mau jus jeruk ini?" tanya Ajeng sambil menyodorkan jus jeruk buatannya.
"Gak Jeng, terima kasih. Tapi betul juga ya kamu, Andien khan memang aneh orangnya. Ya dech, Tante terima saran kamu," kata Tante Maya membenarkan perkataan Ajeng tentang Andien.
Tante Maya mulai bisa melupakan sikap Andien barusan. Lalu Tante Maya dan Ajeng pun sambil duduk-duduk di sofa yang super empuk, ngobrol santai.
Andien yang sudah selesai mandi dan ganti baju, segera keluar kamar menuju lantai bawah.
Dilihatnya Tante dan adiknya sedang ngobrol santai di sofa. Andien menuruni tangga dan menghampiri mereka berdua
"Jeng, apa itu yang kamu minum? Kelihatannya enak," tanya Andien kepada Ajeng.
"Jus jeruk, mau?" tanya Ajeng.
"Mau," jawab Andien.
"Gak usah la yau, bikin sendiri," Rupanya tadi itu Ajeng cuma pura-pura mau berbagi dengan kakaknya. Andien.
"Dasar pelit loe, Jeng!" kata Andien sedikit jengkel pada adiknya.
"Gitu saja marah, nich minum," kata Ajeng yang ternyata cuma menggoda kakaknya.
"Ya gitu, baru Ajeng yang Kak Andien kenal." Andien lalu meminum jus jeruk buatan adiknya itu.
"Enak ya?" tanya Ajeng.
"Ya enak. Thanks ya," jawab Andien.
"Gak apa-apa kok, Tan. Tadi itu mobil Andien, bannya bocor. Gitu saja, Makanya Andien basah kuyup," jelas Andien kepada Tantenya.
"Sejak kapan kamu, mau tangan kamu kotor? Gak mungkin itu. Ada yang bantuin kamu kelihatannya," terka Tante Maya.
"Ya sich, Tan, ada yang bantuin," jawab Andien berterus terang.
"Benar khan, ada yang bantuin. Siapa?" tanya Tante Maya.
"Hmmm... cowok yang kemarin itu, Tan," jawab Andien singkat
"Mak... maksudnya? Jangan bilang cowok yang kamu tonjok kemarin malam itu!" kata Tante Maya dengan rasa khawatir.
"Yup... benar sekali, Tan," jawab Andien singkat.
"Aduh gawat ini! Hati-hati sama dia lho, Ndien! Itu pasti cuma modus saja atau pura-pura saja, supaya kamu lengah dan dia bisa leluasa ngapa-ngapain kamu!" jelas Tante Maya dengan pikiran negatifnya.
"Ini sebenarnya, lagi ngomongin siapa sich? Kok Ajeng gak paham! Lagian, Tan, seharusnya kita berterima kasih sama cowok itu, bukan malah mikir negatif!" Ajeng yang sedari tadi hanya sebagai pendengar, akhirnya gak tahan juga buat ikutan ngobrol. Dan memang do'i bingung atas perkataan Tantenya tadi.
"Tuh, Tan, Ajeng saja paham. Dan lagi, mau ditonjok berapa kali pun Andi gak akan marah sama Andien," jelas Andien yang nambah bikin Tantenya bingung. Dan Ajeng juga tentunya.
"Siapa tadi namanya!? Andi!? Kok bisa kamu tahu namanya!? Benar khan, ini pasti cuma akal-akalannya... siapa tadi namanya!? Amir!?" Tante Maya masih bersikukuh dengan cara berpikirnya. Tapi yang gak salah juga sich. Wajar. Seorang Tante mengkhawatirkan keponakannya.
"Hallo... ada manusia lain lho, disini. Kok gak ada yang jawab pertanyaan Ajeng ya," sahut Ajeng sambil melambaikan tangannya. Seperti acara uji nyali di salah program acara televisi. "Jadi, Mas, kalau gak kuat, cukup melambaikan tangan ke kamera. Nanti saya dan kru akan menjemput anda," kata si Presenter. Harry Kejepret karet.
"Namanya Andi, Tan. Mau tahu gak kenapa Andi gak bakalan marah ke Andien, meskipun Andien tonjok berkali-kali?" kata Andien sambil mengganti posisi lipatan kakinya, dan menatap Tante Maya.
"Emang kenapa!? Gak mungkin itu, mana mungkin ditonjok berkali-kali gak balas, gak dendam, gak punya niat buruk! Impossible!" jawab Tante Maya ketus.
"Mau... mau, Kak! Ajeng mau tahu!" Beda dengan Tante Maya, Ajeng antusias ingin tahu.
"Mau tahu gak, Tan!" tanya Andien lagi.
"Ihhhh, cepetan ngomong, biarin Tante Maya gak mau tahu, Ajeng Khan mau tahu! sahut yang jengkel, gak sabar ingin mendengar jawaban dari Kakaknya yang cantik ini.
"Ya mau! Cepet bilang kenapa!?" jawab Tante Maya yang sebenarnya malas untuk mau tahu. Karena dia yakin, kalau Andi itu cuma pura-pura baik.
"Jawabanya simple. Andi itu... Andi itu..." Andien sengaja tidak langsung mengatakan yang sebenarnya. Supaya yang lain penasaran.
"Ya kenapa, cepetan bilang! Tadi maksa-maksa, ingin tahu gak, Tan, eh, sekarang malah diputus-putus ngomongnya," protes Tante Maya kepada Andien.
"Iya nich, Kak Andien! Ayo cepetan ngomong, kenapa!?" Rupanya Ajeng juga penasaran.
Sambil menatap sesuatu yang gak jelas, Andien mulai hanyut dalam lamunannya. Masih terekam jelas diingatannya semua yang terjadi sebelum dia tiba di rumah.
Dan yang paling dia ingat, bagaimana Andi memeluknya dengan lembut dan lalu mencium bibirnya dengan mesra, sampai akhirnya Andien pun membalas ciuman Andi di tengah hujan yang deras saat itu. Mereka berciuman dengan hujan lebat sebagai saksi cinta mereka yang sudah mereka rasakan ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya
"Andi itu... ternyata baik, lembut, gak kasar seperti yang Andien kira. Dan ternyata, Andi mencintai Andien, Tan. Makanya dia gak akan bisa marah kepada Andien. Karena dia cinta sama Andien. Dan satu lagi... dia juga good kisser..." Andien memang gak sadar telah ngucapin itu semua itu. Semua itu kalimat itu keluar dengan sendirinya. Gak disetting.
"What!!! Kamu dicium sama dia!!! OMG!!! teriak Tante Maya sambil menepuk jidatnya sendiri.