Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
PLAY BOY



Berjalan perlahan bak model, gadis cantik itu berjalan mendekati segerombolan serigala buas yang duduk berjejer didepan kelas IIIA3.



Pandangan matanya menatap tajam ke arah seorang siswa. Begitu posisi gadis itu sangat dekat dengan bangku panjang didepan kelas IIIA3.



Begitu juga dengan siswa yang ditatap tadi, juga memandang mata gadis cantik itu. Tapi gak menatap tajam, cuma heran. Ternyata cewek cantik yang nonjok dia itu satu sekolah.



Ya, Andi heran, sekaligus senang. Gadis cantik yang buat dia tidak bisa tidur itu ada di sekolahnya. SMA Perjuangan.



Sedangkan Andien, dibalik tatapan matanya yang tajam itu, dia sendiri juga gak nyangka, kalau cowok yang ditonjoknya itu satu sekolah dengannya.



Semua melongo, semua terpana, ketika Andien melewati gerombolan Serigala buas yang duduk di bangku kelas IIIA3.



"Oh... Dewi Cintaku, kenapa engkau hanya lewat didepanku? Bukankah kamu tahu, ada aku, Kang Mas Robert diantara cowok-cowok ganjen ini!" Robert mulai nyeletuk dengan rayuan gombalnya yang norak.



Mendengar Robert mulai celometan, menggodanya, Andien pun berhenti, berbalik lagi menuju Robert dan....



"Ceeplakkk... ceeplakkk... ceeplakkk!"



Kali ini Robert yang jadi "korban" keganasan Andien. Gak ngomong... langsung nampar. Good... good... good...



"Aadduuhhh! Saakittt! Lho kamu, kenapa ikutan nampar aku? Aku kan gak goda kamu!" Rupanya gak cuma Andien yang nampar Robert, tapi satu cewek lagi yang juga ikut-ikutan nampar.



"Kamu memang gak goda aku! Tapi... muka kamu itu lho! Nyebelin! Jadi aku kalau lihat kamu, pengen banget nampar kamu!" jelas cewek yang ikut-ikutan nampar itu, cuek. Langsung pergi ninggalin Robert begitu saja. Tanpa permintaan maaf.



"Andien! Tunggu aku. Kita masuk kelas bareng, ok?" teriak gadis penampar Robert itu memanggil teman satu kelasnya. Andien



"Ayo Har," Andien menunggu cewek yang memanggilnya itu. Kemudian bersama-sama masuk kelas mereka. Kelas IIIA1.



"Hahaha... Bandot... Bandot, makanya jangan ke PD-an. Kita saja yang Boy band gak berani goda... Bandot... Bandot!" sindir Bastian kepada Robert.



Semua tertawa melihat "penderitaan" Robert. Tapi Robert gak marah. Karena Robert itu mukanya saja sangar, tapi aslinya baik. Tapi do'i masih heran, kenapa Hartini ikut-ikutan nampar dia. Bingung juga.



Kok Robert, kita juga bingung kok. Tapi gak perlu dipikir. Itu biasa, kalau ada orang yang tergila-gila buat nampar Robert. Penduduk sekitar Kalijudan pun juga merasakan hal yang sama dengan Hartini.



Jadi sekarang tahu kan, yang namanya Hartini itu gimana perlakuannya kalau sama Robert. Jadi gak salah, kalau Andi tadi mau melaporkan Robert ke Hartini. Betul tidak!?.



Semua anak kelas IIIA3 pada happy. Karena hari ini tidak ada pelajaran. Dan seperti biasa, mungkin sebentar lagi mereka akan dipulangkan.



"Itu yang pakai kumis, siapa?" tanya Andien kepada Hartini. Sobat baru Andien di SMA Perjuangan.



Dari pintu kelas IIIA1, Andien dan Hartini mengintip cowok-cowok keren kelas IIIA3.



"Kenapa? Naksir?" Pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan. Hartini ini memang cocoknya masuk kelas IIIA3. Do'i ini Ratu gosipnya kelas IIIA1.



"Apaan sich, kamu Tahu gak siapa dia!?" tanya Andien lagi.



"Aku kasih tahu, kalau mau naksir cowok, peraturan pertama, jangan cowok-cowok kelas IIIA3, peraturan kedua, terutama sama yang punya kumis itu! Sudah anakny nakal, suka berkelahi dan ini yang paling penting, Ndien, dia itu Play boy! Pacarnya banyak! Bahkan info dikalangan, mengatakan kalau dia pernah ngehamili cewek! Iiihhh... amit-amit!" Penjelasan yang mantap, panjang dan banyak bohongnya, telah terucap dari mulut si Ratu gosip ini. Hartini.



'Panjang banget! Aku kan cuma nanya namanya dia siapa!?" jengkel juga Andien sama cewek sok kece ini.



"Kalau tentang dia, harus panjang! Supaya kamu gak jadi korbannya. Namanya Bayu, tapi teman-temannya manggil dia Om. Dan satu lagi, info tadi gak gratis. Jadi kamu harus traktir aku , ok?" Pandai juga Hartini ini. Tapi lebih tepatnya.... Modus.



"Iya mudah itu. Nanti kamu bisa makan sepuasnya dikantin," jawab Andien.



"Asyik... beneran lho ya! Sudah gak usah dipikir, infoku itu akurat, kebenaran nya mendekati 99%," kata Hartini yang berusaha supaya Andien benar-benar jadi bayarin dia di kantin. Dan Andien pun mulai terpengaruh. Mulai percaya, kalau Andi itu... Play boy.



"Eh, ada yang mau ikut ke kantin, gak?" tanya Andi pada sohib-sohibnya.



"Gak dech, Om, kamu saja. Aku disini saja, lihat-lihat pemandangan," jawab Fredy.




"Om, aku ikut. Tapi bayarin ya," Kalau yang minta ditraktir seperti ini cuma tiga orang yang punya hobi gak modal seperti ini, kalau gak Robert, ya Liesman bersaudara. Padahal mereka itu jobnya banyak lho. Dan untuk kali ini Robert yang nyeletuk, ikut tapi... minta dibayarin.



"Aku juga ikut, Om," sahut Bastian.



"Ok! Ayo ke kantin. Bro, ke kantin dulu ya," sapa Andi pada sohib-sohibnya yang gak ikutan ke kantin.



Akhirnya mereka bertiga pun menuju ke kantin. Dan sudah tentu melewati kelasnya Andien. Kelas IIIA1.



Melihat Andi CS bergerak ke kantin, Andien pun bersiap menyusul. Dan do'i punya rencana khusus buat Andi.



"Mau aku traktir sekarang?" tanya Andien.



"Sekarang? Ya... mau dong, tahu saja kamu, kalau dari pagi aku belum makan... hehehe." Girang banget Hartini, mendengar ajakan Andien untuk ke kantin. Berarti impian dia buat dapat gratisan terkabul.



Tak lama kemudian, Andien dan Hartini meninggalkan kelas. Menuju kantin yang letaknya di dekat kelas IIIA1.



"Tante, pesan mie goreng satu, pakai telor dan es teh satu," kata Bastian kepada Ibu kantin yang biasa dipanggil oleh siswa-siswi SMA Perjuangan Tante. Tante Puji.



"Saya pesan, kopi hitam satu, Tan," sahut Andi, yang langsung pesan juga ketika sampai di Kantin.



"Kalau aku, pesan mie kuah rasa kurma ada, Tan?" kata Robert yang memang suka pesan makanan gak jelas dan aneh ini. Maklum teman ngobrol saja gak jelas... si Mbak Kunti.



"Kamu itu ya Robert, ada saja! Mana ada mie kuah rasa Kurma! Ada rasa kayu, mau?" jawab Tante Puji yang agak jengkel juga dengan Robert.



"Ya sudah gpp. Tapi kayunya jangan dipotong-potong ya Tan. And es jeruk satu, ok?" jawab Robert dengan gaya sok imut dan sok tajir. Padahal yang bayar nanti... ya... Andi.



"Eh, minggir! Bangku ini sudah aku sewa!" Andien datang tiba-tiba didepan Andi, Robert dan Bastian, yang baru saja mau menempelkan pantat mereka ke bangku yang sudah disiapkan Ibu kantin. Tante Puji.



Perbuatan Andien yang sok jagoan itu, membuat Hartini ketakutan, karena Hartini tahu siapa yang digertak oleh gadis cantik yang baru jadi sobatnya ini.



"Andien! Kamu itu apaan sich! Mereka ini preman sekolah ini. Sudah jangan cari masalah!" Hartini menarik lengan Andien dan mengatakan sesuatu yang belum diketahui oleh Andien.



"Hehehe... maaf ya, Om, Bas. Dia anak baru." Cengar-cengir langsung minta maaf sobat Andien ini.



"Ngapain takut, sama mereka! Ayo cepat pergi! Atau mau aku tonjok lagi muka kamu!?" Andien dengan tangan dipinggang bergaya bak jagoan. Lebih tepatnya... preman... hehehe... maaf ya Ndien.



Mendengar perkataan Andien barusan, Bastian dan Robert sontak kaget. Karena memang mereka belum pernah ditonjok sama Andien.



"Eh, kamu kalau ngomong, jangan kasar! Pakai ngusir kita segala! Emang sekolah ini punya Bapakmu, apa!?" kata Bastian menegur perbuatan Andien.



"Memang bukan! Tapi Kepala Sekolah SMA Perjuangan ini Pamanku. Pak Wiranto itu Pamanku," jawab Andien tegas dengan gaya yang masih sama.



"Terus kalau kamu keponakannya Pak Wir, kamu bisa seenaknya gitu!? Mimpi! Dan lagi siapa juga yang pernah kamu tonjok itu!?" sahut Bastian yang rupanya terlibat adu mulut dengan Andien.



"Siapa!? Tanya tuh, sama teman kamu! Sudah ngambil kacangku, gak mau ganti!" jawab Andien sambil menunjuk Andi.



Semua pada terbelalak, kaget, heran, gak masuk akal, partisipan, atau apalah. Pandangan mata Robert dan Bastian langsung tertuju pada sohibnya. Andi. Sedang Hartini hanya bisa melongo, sambil menutup mulutnya.



"What!!! Om, ditonjok cewek!!!



Mungkin itulah yang ada dipikiran Robert, Bastian dan Hartini. Dan itu membuat Andi... malu



Karena malu, Andi pun langsung meninggalkan kantin. Tidak berkata apa-apa. Dia marah tapi tidak bisa berbuat apapun.



Tidak menyangka, kalau akan dipermalukan oleh gadis yang telah membuat hatinya bergetar.



"Dasar Play boy! Rasain!" kata Andien dalam hati. But why, Andien? But why, Andien?