Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
TEARS FOR LILI



"Bbbrrruuuaaaakkkk... kaaiiinnnngggg... kkkkaaaiiiinggg!!!..."


Mendengar suara benturan yang cukup keras serta suara seekor anjing yang kesakitan, sontak Oma Rosa terkejut dan... berteriak. Panik


"TUHANKU! Lili... Lili... ada apa sayang!? Kenapa kamu Lili!?... dimana kamu!?... aaaduuuhhh!... ya TUHAN!... Lili... Lili... dimana kamu!?... Lili..." Wanita Tua yang buta ini langsung berdiri. Mencari anjing kesayangannya. Kedua tangan Oma Rosa meraba-raba angin. Mencoba mengetahui posisi Lili dengan indera yang lain. Indera penciuman. Dan ... Dia pun terjatuh... dengan merangkak Nenek Alexa ini terus mencoba mencari posisi Lili berada.


Tangan tua itu terus meraba-raba tanah. Berharap dengan sangat untuk bisa menemukan anjing kesayangannya. Lili.


Usaha dan kegigihannya tidak sia-sia. Tangan Oma Rosa itu mendapatkan sebuah tubuh yang tergeletak diatas tanah. Tubuh dari seekor anjing yang dipelihara semenjak kecil... Lili.


"Lili... kenapa kamu, sayang!?... bangun... ayo bangun... Lili... Ya BAPA, tolong Lili..." Suara wanita tua ini terdengar lirih, tidak mampu lagi Oma Rosa bersuara keras. Air matanya langsung terjatuh, larut di dalam kesedihan yang mendalam.


"Hahaha... Rasakan! Mati kau Anjing! Hahaha...


Seorang pengemudi mobil pick up, berhenti agak jauh dari lokasi kejadian. Menurunkan kaca mobil dan menertawakan anjing yang baru saja ditabraknya... Dengan sengaja.


"Bbbrrruuuaaaakkkk!!!"


Terdengar lagi bunyi hantaman yang cukup keras. Bunyi Nitta yang dengan sengaja, langsung dihempaskan begitu saja oleh Andi.


Andi berlari kearah Oma Rosa dan Lili berada. Melihat seekor anjing yang tertabrak dan seorang nenek tua yang menangis. Hati pelajar SMA kelas tiga ini sakit sekali.


Melihat sekelilingnya. Mata Andi melihat dua batu yang cukup besar, lebih besar dari genggaman tangan. Diambilnya batu itu. Pandangannya sekarang mengarah pada mobil pick up yang menabrak Lili dengan sengaja.


"Kurang ajar!!! Salah apa dia sama kamu!!!? Bangsat!!! Turun!!! Aku pecahkan kepalamu, sini!!..." Langkah Andi bergerak ke mobil pick up itu. Entah sudah berapa banyak kata-kata "mutiara" khas Surabaya terlontar dari mulut Andi. Suaranya keras. Membentak-bentak penuh kemarahan.


Melihat seorang cowok dengan membawa batu besar penuh kemarahan mengarah kepadanya. Sopir pick up itu pun sangat ketakutan, langsung tancap gas meninggalkan Andi.


Dengan kemarahan saja, kerusakan yang bisa dihasilkan sudah menakutkan. Apalagi kemarahan ditambah kesedihan... dijamin sangat menakutkan. Believe me. It's true.


"Jangan kabur!!! Keparat!!! Jangan kabur!!!" Andi mengubah langkahnya. Langsung berlari dan berteriak-teriak, mengejar pick up yang langsung kabur, ketika melihatnya mendekat dengan membawa dua batu besar.


Andi terus mengejar, tapi mobil pick up itu melaju terlalu cepat. Cowok yang sering menyapa dan suka berbicara dengan hewan ini pun kelelahan. Posisi badannya seperti orang yang sedang melakukan rukuk, nafasnya terengah-rengah karena lelah. "Ja... ngan... k... bur... sini... sini... pengecut..."


Dilemparkannya kembali dua batu besar itu ke tanah. Dengan tenaga yang masih tersisa, Andi kembali ke tempat Oma Rosa dan Lili berada.


"Nek... nenek, gak kenapa-kenapa kan!?" tanya Andi kepada Oma Rosa setibanya dia di tempat kejadian itu.


Tapi Oma Rosa tidak menjawab pertanyaan Andi. Dalam tangisnya, wanita tua itu berdoa kepada TUHAN, meminta kesembuhan dan keselamatan untuk anjing kesayangannya. Lili.


"Ya BAPA Kami yang ada di Surga. Dimuliakanlah nama-MU. Dengarkanlah doa dari seorang wanita tua buta yang berdosa ini, tolong selamatkanlah Lili, beri Lili kesembuhan. Karena hanya dalam Kuasa-MU semua itu bisa terjadi..." Dalam doa Oma Rosa menangis. Larut dalam kesedihan. Dalam Keyakinannya kepada TUHAN, dia teteskan air mata untuk makhluk yang menemani hari-hari Oma Rosa dan keluarga. Dan memasrahkan semua kepada Sang Penguasa Alam Semesta.


Andi melihat tubuh anjing yang tergeletak didepannya, berusaha menolong mahkluk yang juga ciptaan ALLAH SWT itu.


Tubuhnya hanya tergores kecil, tapi semua tulang yang ada didalam tubuh anjing itu remuk. Hancur dibagian dalam. Matanya terlihat sedih. Bukan bersedih karena kematian yang akan menjemputnya. Tapi sedih, karena sebentar lagi, dia akan meninggalkan manusia yang telah memberikan kasih sayang yang tulus kepadanya. Oma Rosa dan keluarga.


"Hei... bangun... bangun... jangan mati... jangan mati... Ya ALLAH, dia juga makhlukmu, tolong selamatkan anjing ini... Ya ALLAH." Andi menggoyang-goyangkan Lili yang sudah tidak berdaya itu. Dan air mata Andi pun mulai... menetes, jatuh perlahan membasahi pipinya.


"Bangun... bangun... tolong... jangan mati... tolong... Ya ALLAH... tolong... dia tidak bersalah Ya ALLAH... tolong... Ya ALLAH... tolong..." Kepala Andi mendongak ke langit. Pandangannya diarahkan fokus ke awan. Meminta pertolongan ALLAH SWT. TUHAN seluruh Alam Semesta.


Kemudian kepala Andi pun menunduk.Hatinya sakit sekali.Melihat seekor anjing yang tidak bersalah, ditabrak dengan sengaja. Kejam.


Air mata itu semakin deras mengalir turun membasahi wajahnya. Hidungnya juga tak dapat lagi membendung lendir-lendir kesedihan yang jatuh bersamaan, turun menembus bulu-bulu halus yang tumbuh diatas bibirnya.


Dalam keadaan menangis, Andi bergerak meminta pertolongan. Didatanginya rumah-rumah yang ada disekitar lokasi peristiwa itu.


Sebuah rumah didatangi Andi untuk meminta pertolongan. Bel rumah itu sudah ditekan dan berbunyi. Pagar sudah dikentong-kentong. Salam pun juga sudah diucapkan. Tapi tak ada satu pun penghuni rumah itu keluar untuk menemui Andi.


Begitu juga dengan rumah kedua dan ketiga. Semua sama. Diam. Andi tahu ada orang didalam rumah-rumah itu. Mobil dan motor yang terparkir rapi di carport, lampu yang menyala, sayup-sayup terdengar suara musik dan televisi yang menyala adalah tanda, kalau didalam rumah ada orangnya.


ALLAH is All Seeing.


Andi tidak menyerah. Bukan Andi kalau cepat menyerah. Dia berlari ke pos satpam terdekat. Meminta pertolongan.


"Pak... pak... tolong pak... tolong...!"


Tapi rupanya pos satpam itu kosong. Mungkin satpamnya belum datang atau lagi kontrol di komplek perumahan.


Sadar kalau pos satpam itu kosong, Andi berlari menuju arah jalan raya. Begitu paniknya Andi, sampai-sampai dia tidak menyadari kalau ada mobil yang melaju ke arahnya...


"Cccciiiiiiittttttttttttt!!!!


Sebuah mobil mengerem mendadak. Berhenti tiba-tiba.


"Allahuakbar!!! Andi berteriak keras menyebut nama ALLAH. Tubuhnya terhempas jatuh ke aspal jalan raya itu.


Andi berusaha bangkit...


"Pak tolong.... Pak... ada anjing ditabrak...!"


Tapi mobil itu keburu tancap gas. Ngebut lagi meninggalkan Andi secepat kilat.


Andi berusaha berdiri. Tangan dan lengannya lecet-lecet. Berdarah. Celana jinsnya sobek di bagian paha kanan. Kaki kanannya keseleo. sakit sekali.


Namun Andi tetap berusaha berdiri dan berjalan kembali ke tempat Oma Rosa dan Lili berada.


Dengan tangan, lengan yang terluka dan kaki yang sakit sekali kalau dibuat jalan. Andi berjalan pincang. Air mata mengiringi langkah Andi. Merasa usahanya sia-sia untuk mencari pertolongan.


Dengan langkah yang tertatih-tatih, Andi kembali melewati pos satpam yang tadinya kosong.


"Lho Mas, kenapa jalannya pincang?Tangan, lengan Mas berdarah, kenapa ini sampeyan kok bisa sampai begini!?" Seeorang keluar dari pos satpam itu dan menghampiri Andi. Pak satpam ini terkejut melihat kondisi Andi.


"Insyaallah, saya baik-baik saja, Bapak. Ada yang lebih membutuhkan bantuan, Bapak. Tolong ya Pak," pinta Andi kepada Security ini.


'Ada apa ini sebenarnya? Tolong jelaskan ke Bapak," balas Bapak satpam ini, yang merasa heran dengan perkataan Andi barusan.


"Gak ada waktu buat jelasin, Pak. Tolong, sekarang Bapak ikut saya. Ada seorang nenek dan anjingnya yang sangat membutuhkan pertolongan. Sekarang ya Pak, tolong," mohon Andi kepada Bapak satpam itu untuk segera menolong Oma Rosa dan Lili.


"Nenek-nenek? Anjing?... jangan-jangan...?" sontak kaget, Bapak satpam itu mendengar perkataan Andi. Pikirannya langsung tertuju pada sosok yang dia kenal selama ini. Ibu dari Bos pemilik komplek perumahan ini.


"Iya Mas... ayo! Naik motor dengan saya. Tunjukan lokasinya," pinta Bapak satpam itu kepada Andi.


Lalu mereka berdua bergegas menuju lokasi Oma Rosa dan Lili berada.


Sesampainya di lokasi kejadian. Betapa kagetnya Bapak satpam itu. Melihat Ibu dari pemilik komplek perumahan tempat dia bekerja, duduk bersimpuh menemani seekor anjing yang tergeletak diatas tanah. Dan Security yang baik ini pun juga mengenal Lili.


Bergegaslah dia menuju Oma Rosa setelah mematikan mesin dan menaruh motornya di dekat Oma Rosa.


"Oma Rosa, Lili! Apa yang terjadi!? Siapa yang melakukan semua ini!? Mohon maaf Oma, sini, biar saya bantu berdiri." Dengan tanggap, Bapak satpam itu langsung membantu Oma Rosa untuk berdiri dengan hati-hati.


"Terima kasih, Pak Karim." Tubuh tuanya dipaksakan berdiri dengan bantuan Security komplek perumahan yang ternyata namanya Pak Karim.


Kesedihan masih terlihat diwajahnya. Air mata yang tadi menetes dengan deras, kini terhenti sudah. Mencoba mengiklaskan serta menerima kepergian dari sahabat terbaik manusia ini. Seekor anjing yang bernama Lili.


"Mari Oma, naik motor saya, pulang ke rumah. Nanti biar saya dan udin (pembantu Oma Rosa) yang kembali kesini untuk membawa LIli pulang," kata Pak Karim kepada Oma Rosa.


"Terima kasih, Pak Karim. Lebih baik, Pak Karim, pulang ke rumah saya, beritahu Alexa. Biar nanti dia dan Udin yang menjemput saya dan Lili sekalian pakai mobil," jelas Oma Rosa yang sepertinya masih ingin bersama-sama Llili di saat-saat terakhirnya.


"Nenek pulang saja langsung bersama Bapak ini. Tangan nenek terluka. Biar bisa langsung diobati. Anjing ini biar saya gendong sampai ke rumah nenek. Bapak, nanti pelan-pelan ya, kalau bonceng nenek. Supaya saya bisa mengikuti dari belakang," kata Andi yang tidak tega dengan kondisi fisik Oma Rosa yang terluka di kedua tangannya.


"Tapi Nenek..." Belum selesai Oma Rosa berkata, Andi memotong perkataan wanita tua ini.


"Tolong nek, ijinkan saya menggendong anjing ini sampai di rumah nenek. Saya ingin, baik, nenek maupun anjing ini langsung mendapatkan perawatan." sahut Andi memberi penjelasan kepada Oma Rosa.


"Ya sudah kalau begitu. Nenek hargai niat baik kamu. Baiklah, Pak Karim, tolong antar saya pulang. Pelan-pelan ya Pak Karim. Dan buat kamu, anak muda, terima kasih ya, atas semua yang telah kamu lakukan untuk nenek dan Lili." Oma Rosa mengabulkan permintaan Andi. Dan dengan dituntun oleh Pak Karim berjalan kearah motornya. Menaiki motor itu, segera menuju tempat kediamannya yang letaknya tidak jauh dari lokasi kejadian. Sekitar 500 meteran.


Tapi rupanya Pak Karim lupa dengan kondisi Andi yang tangan dan lengannya terluka dengan kaki kanannya yang sakit. Sehingga membuat pelajar kelas tiga SMA ini harus berjalan pincang.


kemudian Andi menundukan badannya. Dengan tenaga yang masih tersisa, dia berusaha mengangkat dan menggendong Lili yang masih hidup tapi tidak berdaya itu.


Mata anjing itu melihat kepada Andi. Dan dia mengedipkan mata secara perlahan kepada si penolongnya ini.


"Terima kasih manusia." Mungkin itu arti dari kedipan mata Lili barusan.


"Kamu harus tetap hidup ya. Aku janji kalau kamu sembuh, aku akan sering mengunjungimu." Air mata Andi menetes kembali ketika dia berhasil menggendong Lili. Dan Andi tahu bahwa Lili sedang menahan sakit yang luar biasa saat itu.


Dengan menahan rasa sakit di kaki kanannya. Andi berjalan tertatih-tatih dengan menggendong Lili. Selama perjalanan ke rumah Oma Rosa, tak henti-hentinya Andi menyemangati Lili untuk kuat dan bertahan. Untuk tetap hidup.


"Ya ALLAH... Ya ALLAH... lihatlah dia... kasihan sekali Ya ALLAH... kamu yang kuat ya... jangan mati..." Perih hati Andi melihat anjing yang tengah digendongnya itu. Air matanya kini turun semakin deras, saat merasakan penderitaan Lili.


Mata Lili yang tadinya tertutup, terbuka perlahan-lahan. Menatap Andi dengan pandangan teduh. Seakan dia mau mengatakan sesuatu kepada Andi.


"Ini sudah takdirku, manusia. Saudara-saudaraku telah menunggu aku. Sudah Takdir dari Bangsaku untuk melayani Bangsa manusia hingga akhir hayatnya. Begitu juga, sudah Takdir dari Bangsaku untuk dihina, diperlakukan kasar dan mati oleh Bangsa manusia. Dan Kami menerima Takdir itu... wahai manusia. Terima kasih, sudah mau menolong dan menangis untukku. Meskipun kamu tidak mengenal aku. Terima kasih."


Pandangan Mata Lili seakan mengisyaratkan semua yang tertulis diatas. Bahwa dia... siap menerima... Takdirnya. Dan mata itu pun kembali tertutup dengan tenang.


Andi sudah sangat kesakitan. Tenaga dan emosinya telah terkuras habis. Tiba di rumah Oma Rosa, dia pun langsung menjatuhkan dirinya sendiri. Meletakan Lili dengan hati-hati diatas tanah. Dan... tubuhnya jatuh kebelakang. Lemas. Dengan lirih menyebut asma ALLAH, " ALLAH...HUAKBAR..." Andi kemudian pingsan. Tak sadarkan diri.