
Hujan deras masih mengguyur Surabaya malam itu. Kelihatannya hujan yang sangat lebat itu merata.
Andi nekat menerjang derasnya hujan. Pandangannya terhalang. Tapi tetap itu tidak menjadi panghalang buat cowok yang baru saja dikasih "Angpao" oleh seorang gadis yang cantik. Andien.
Tekadnya kuat untuk segera pulang. Karena do'i tahu, ada yang sedang menunggu plus kuatir di rumah. Orang tuanya. Terutama... Mamanya.
Waktu sudah menunjukan jam 10 malam. Seorang wanita sudah berumur tapi masih terlihat cantik itu, menyibak tirai jendela rumahnya.
Melihat kearah halaman rumah. Kecemasan mulai datang mengganggunya. Saat anak kesayangan nya belum juga tiba di rumah.
"Kamu tuh, dari pada mondar-mandir gitu, mending sini, nonton TV. Filmnya bagus, bintangnya idola kamu dulu... Cak Pan," kata Pak Jaka Samudra kepada istrinya, yang terlihat gelisah.
Rupanya Pak Jaka Samudra ini sudah sampai rumah lebih dulu. Dari perjalanannya mencari petunjuk untuk melindungi keluarganya, sekaligus untuk mengalahkan Pria perlente yang menguasai ilmu hitam yang hebat itu.
"Papa ini, bagaimana sih!? Andik itu belum pulang! Diluar hujan deras sekali, hati Mama gak tenang, Pa! Tenang banget, Papa ini!" jawab Ibu Roro yang sebel kepada suaminya, yang memang begitu orangnya, gak mudah panik ataupun bingung.
"Ma, Andik itu sudah besar. Insyaallah, dia pulang dengan selamat." Pak Jaka Samudra berusaha menenangkan hati istri tercintanya.
"Makanya sini, ini lho filmnya main. Ada Cak Pan, Ma, idola kamu." Masih dengan caranya mencairkan suasana, Pak Jaka Samudra ini menggoda istrinya.
"Papa ini, nyebelin. banget! Belain nonton film! Mau ada Cak Pan, gak ngaruh, ini anak Kita belum pulang." Tetap berdiri didepan jendela rumah, Wanita yang masih terlihat cantik ini, menunggu kedatangan putranya. Cuma itu yang dia pikirkan.
Tetapi Mama Andi ini, baru tersadar, ada perkataan yang aneh telah diucapkannya.
"Sebentar... Cak Pan, siapa Pa? Mana pernah Mama punya bintang idola namanya Cak Pan, aneh!" protes Mama Andi ini kepada suaminya. Lalu memutar badannya ke arah televisi jadul yang ada didepannya.
"Papa ini, bisa-bisanya bercanda! Itu kan Van Damme, Papa! Gak lucu! Kalau goda lagi,awas nanti kalau "minta", gak akan Mama "beri". Ini gimana!? Sudah jam setengah sebelas malam, Andik belum pulang juga!" Ancaman yang ampuh dikeluarkan Mama Andi ini yang jengkel dengan suaminya. Dan itu yang membuat Pak Jaka Samudra tidak berani menggoda istrinya lagi. Takut gak "dikasih" ya... hehehe. Catatan : yang belum cukup umur, dilarang mikir yang gak-gak, ok?
"Gitu saja kok marah sih, sayang. Ya deh, gak lagi... hehehe," Pak Jaka Samudra langsung merayu istrinya, kala mendapat "ancaman" itu.
"Kreeenggg...!!! Kreeenggg...!!!
Tak lama kemudian, terdengar suara bising yang amat akrab bagi Mama dan Papa Andi. Suara dari motor bebek jadul milik anak kesayangan mereka. Andi Bayu Samudra.
Mesin motor itu masih belum dimatikan. Meraung-raung, dengan lampu depan masih. menyala ditengah derasnya hujan malam itu.
"Ceklekk"
Dongkrak motor pun diturunkan. Andi segera turun untuk membuka pintu pagar rumah. Lalu naik lagi ke punggung Nitta dan masuk langsung ke halaman rumah.
Begitu motornya di parkir dengan rapi disamping motor Papanya. Andi segera menutup pintu pagar rumahnya kembali.
"Waduh... basah semua, bisa masuk angin nih," kata Andi dalam hati yang tepat didepan pintu rumahnya.
"Kkreeekkkk..."
Pintu rumah itu terbuka dari dalam. Tampak seorang wanita paruh baya keluar dari pintu itu. Ibu Roro. Mamanya Andi.
"Kamu itu, dari mana saja toh, le!? Pamitnya main band, tapi pulang sampai larut malam gini. Kehujanan lagi. Mama kuatir dari tadi, kamu tahu!" Kedatangan Andi langsung disambut "kata-kata" indah khas emak-emak.
"Waalaikumsalam... Mama sih gak apa-apa, kamu mampir-mampir, tapi ya, bilang! telepon Mama, telepon Papa. Ini juga, hp kamu, gak bisa dihubungi. Buat Mama gelisah, tahu! Ayo cepat masuk, ganti baju kamu. Mama buatin kamu wedang jahe," kata Mama Andi kepada anak kesayangannya itu. Sebentar kan ngomelnya... hehehe. Pinter juga si Om ini.
"Ya Ma, Andi minta maaf." jawab Andi yang segera masuk rumah, setelah melepas jaket dan menaruhnya di jemuran bawah.
"Assalamualaikum Pa... maafin Andi ya Pa." Melakukan hal yang sama. Mengucap salam, mencium tangan Papanya dan meminta maaf.
"Waalaikumsalam.. ya sudah gak apa-apa, cepat sana ganti baju, mandi kilat, lalu turun lagi. Mama kamu sedang buatin kamu wedang jahe," jawab Pak Jaka Samudra yang tetap woles. Beliau kan pernah muda juga. Jadi lebih bisa memaklumi dan gak banyak tanya.
Andi segera bergegas naik ke kamarnya. Melepas semua pakaiannya yang basah, menaruhnya di jemuran atas dan langsung mandi.
Selesai mandi dan ganti baju, Andi langsung turun. ke bawah. Ke ruang makan. Disana sudah ada Mama dan Papanya.
Kelihatannya mau disidang nih, begitu pikir Andi. Terus melangkah turun apapun yang terjadi.
"Pa, Ma, ada apa nihl, kok pada ngumpul?" tanya Andi yang heran melihat orang tuanya duduk didepan meja makan.
"Sini nak, duduk sini. Diminum dulu, wedang jahe buatan Mama ini," pinta Mama Andi yang sudah membuatkan secangkir wedang jahe untuk anak tercintanya.
Andi lalu ikut duduk didepan meja makan. Bergabung dengan kedua orang tuanya.
"Terima kasih, Ma," jawab Andi singkat.
"Sssruuupuuuttt..."
"Enak sekali, wedang jahenya, Ma. Mantap," puji Andi untuk wedang jahe buatan Mamanya itu.
"Ndik, tadi siang, kata Mama, kamu pingsan ya? Kenapa? Coba ceritakan lagi ke Papa," tanya Pak Jaka Samudra yang mendapat laporan istrinya waktu telah tiba di rumah.
"Oh... yang tadi siang itu. Jadi begini, Pa..." Andi lalu bercerita tentang peristiwa tadi siang. Peristiwa yang sampai membuat dia pingsan.
Bercerita mulai awal, dia ketiduran, lalu mimpi dan lain-lain. Sampai akhir, gak ada yang terlewatkan.
"Tidak mungkin, itu mitos. Tidak mungkin, senjata itu real..." Pak Jaka Samudra kaget mendengar semua yang diceritakan anak tunggalnya ini.
Kaget, bukan tentang mimpi anaknya yang seakan- akan real, model film-film Hollywood. Tapi tentang dua buah kuku palsu berwarna hitam itu.
"Papa ini, dengerin gak sih! Dicerita Andi kan, gak ada bahas soal senjata! Yang ada Kakek tua itu, pohon sawo, cewek jaman rikiplik, kuku palsu, mana ada ngomongin tentang senjata?" Andi heran dengan perkataan Papanya barusan.
"Kamu memang belum tahu tentang dunia Spiritual. Dua buah kuku palsu berwarna hitam itulah senjata yang Papa maksud. Dan itu tidak mungkin ada. Karena infonya senjata itu cuma mitos. Ya... Kuku Pancanaka itu cuma... mitos." Pak Jaka Samudra memberi penjelasan kepada anak kesayangannya itu. Bahwa dua benda pemberian si Kakek tua itulah senjatanya. Senjata yang dahsyat. Senjata Penghancur untuk semua mahkluk di Alam Semesta ini.
"Apa!!! Kamu tonjok anak orang!? Andien... Andien... kamu itu cewek! Bukan preman! Mbok ya, kamu itu kayak Ajeng, adikmu. Kayak Mamamu... Midori. Ampun deh Tante sama tingkah pola kamu, Andien." Tante Maya kaget bukan kepalang, mendengar cerita keponakannya yang cantik ini barusan.
Andien yang melihat Tantenya ngomel-ngomel gak jelas itu, langsung ngeloyor pergi, masuk kamar. Meninggalkan Tante Maya sendiri di ruang tamu.
"Andien... Andien, andai Mamamu masih hidup, tentu kamu tidak akan jadi keras seperti ini," kata Tante Maya dalam hati, ketika Andien meninggalkannya begitu saja.
Andai juga Tante Maya tahu, siapa sebenarnya Midori Tokugawa Hidetoshi. Mama Andien dan Ajeng. Mungkin do'i bakal pingsan atau bahkan... ngompol di celana. So kita lihat saja, ok?