
Adzan subuh mulai berkumandang. Dari dalam sebuah masjid kecil, merdu terdengar panggilan untuk bersujud kepada Sang Maha Pencipta.
Suara marbot masjid Alqomar yang selalu setia menemani masyarakat disekitar tempat tinggal Andi. Khas dengan suara seraknya yang indah seperti suara seorang rocker sejati.
Andai Pakde Jumali mau ikut audisi Indonesia idol, engga cuma Andi dan orang tuanya yang yakin bakalan lolos audisi, tapi semua masyarakat sekitarnya juga yakin lolos. Wong suaranya mirip banget sama Andi Liani, rocker tahun 90-an. Tapi beliau tetap memilih untuk jadi marbot sebuah masjid kampung kecil. Namanya juga pilihan hidup.
Andi yang untuk pertama kali dalam hidupnya semenjak Sukro dewasa, terbebas dari rasa perih dan hiasan indah berupa benjol dikepalanya, bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan sholat subuh.
Tapi setelahnya... "Wadohhh... sekarang kan senin!" Andi menepuk jidatnya sendiri setelah menyadari hari itu adalah hari yang membosankan bagi dirinya. Semua mata pelajaran yang buat do'i ngantuk ada di hari ini.
Ada pelajaran matematika yang selalu buat Andi harus siap menerima seleksi alam... yaitu dihukum berdiri diluar kelas. Belum lagi menggambar, walah-walah menggambar kendi saja dapat nilai kursi terbalik alias empat, apalagi disuruh menggambar yang lebih sulit lagi. Contohnya menggambar burung. Bisa-bisa Pak Mali guru menggambar di SMA Perjuangan itu kena stroke. Itu baru Andi, belum yang lainnya seperti Tedy dan Winoto, teman-teman sekelas Andi, yang lebih parah kemampuan gambarnya dari pada Andi.
Ditambah bonus ada mata pelajaran sosiologi... sudah deh klop. Lebih dari separuh isi kelas, sudah bisa dipastikan jiwanya akan traveling kemana-mana. Ada yang sudah sampai Hongkong, sampai Rusia, bahkan ada yang sampai beli souvenir buat dibawa pulang. Itulah kehebatan dari mata pelajaran ini yaitu bisa menghipnotis separuh isi kelas untuk molor dengan tersenyum. Hebat engga tuh!
Jadi berdasar analisa yang mendalam dan konsultasi dengan cak Bokir, penjual ikan kampung sebelah maka Andi memutuskan untuk menambah hari liburnya (tahu kan maksudnya!).
"Kira-kira siapa ya yang mau ikut holiday kali ini?" Serius sekali Andi merancang acara holidaynya. Karena mendadak sih, jadi gak ada persiapan.
"Aacchhh... biarin saja kalau memang engga ada yang mau ikut. Tapi mungkin enak kali kalau yang nemenin cewek cantik, kayak Natalie atau Grace mungkin!" Pemikiran yang sedikit nakal terlintas dibenak Andi.
"Maaf ya Memory, tapi ini terpaksa..." Andi lalu mengambil alat pancing yang bisa dilipat. By the way, Memory itu siapa ya? Kenapa harus minta maaf pula? Kan Idhul Fitri masih lama.
"Muat gak ya? Coba deh dites dulu." Andi mencoba memasukan satu set alat pancing lengkap kedalam Memory (Pasti pikirannya memory hp ya...? tet tot... salah besar!).
Mana mungkin satu set alat pancing yang super lengkap dimasukan ke memory hp! Kalau ke kantong ajaibnya Doraemon... pasti muat. Memory yang dimaksud disini tas ransel warna coklat kesayangan Andi.
Bukan tas mahal sih! Bahkan kalau dilihat dari bentuknya sekarang ini seperti tas ransel yang habis kena terlindas bis umum antar kota. Terkoyak-koyak penuh luka yang diperban dengan kain yang gak semotif. Tapi kenangannya... bro... bro.... sungguh membekas hingga ke jari-jari kaki. Baik Mama dan Papa Andi sering menawarkan Andi untuk ganti tas. Tapi Andi tetap kekeh menggunakan tas antik itu.
Rada-rada unik ya? Semua benda kesayangan Andi punya nama. Sarungnya dikasih nama Lutung. Terinspirasi dari film jadul Lutung Kasarung. Gitarnya dikasih nama Gombloh. Nama penyanyi nyentrik Surabaya yang terkenal lewat lagunya Kugadaikan Cintaku. Motor apalagi, sudah pasti tuh motor punya nama... Nitta nama motor bebek Andi yang jadul tapi terawat bersih dan ori.
"Ngepres banget. Pas reseletingnya nih. Heekk.. ekkk... susah banget... sruutt... srruutttttt... akhirnya masuk juga. Syukur deh, muat." Beberapa menit mencoba akhirnya satu set alat pancing itu bisa muat ke dalam Memory.
"Sukro yang lucu... yang lucu... yang lucu." Nyanyian sok merdu dari suara fales Andi menyapa Sukro yang lemes, gak semangat didalam kandang.
"Sudahlah kro, jangan dipikir. Baru kalah satu kali saja kok loyo. Semangat... semangat!" Andi menyemangati Sukro sambil membuka gembok pintu kandang hewan kesayangannya itu. Dan Andi tahu betul penyebab Sukro jadi no spirit seperti ini.
Namun bukan Sukro namanya kalau tidak bisa akting. Lulusan AAFC (Acting Academy For Chickens) ini memang sedang akting. Pura-pura loyo. Padahal....
Kekalahannya dengan si bos dini hari tadi, membuat Sukro.. pannass. Dengan cepat otaknya langsung memprogram sebuah aksi pembalasan yang tidak kalah kejamnya.
Setelah membuka gembok pintu kandang Sukro, Andi pun menuju kran air yang letaknya masih sama... dibawah tandon air. Selang pun dipasang. Dan kegiatan siram menyiram tanaman berlangsung dengan disertai suara falesnya yang menyanyikan lagu kebangsaan anak-anak playgroup. "Lihat kebunku penuh dengan macan...." Ngawur poll bukan?
Tanpa disadari Andi yang sedang asyik menyiram tanaman, sebuah kepala mungil nongol dari sebuah pintu kandang yang telah terbuka lebar itu.
"Aman." Sukro pun melangkahkan kakinya satu per satu keluar dari kandang VIP miliknya. Pelan dan nyaris tak terdengar. Dan secara perlahan pula kaki-kaki mungilnya dilangkahkan menuju ke sisi barat, lalu ke timur, kadang belok juga dan selalu membelakangi Andi, tidak beraturan arah tujuannya.
Rupanya semua itu dilakukan bukan karena iseng. Setiap dua tiga langkah Sukro berhenti dan... menaruh "ranjau" daratnya ke semua arah yang ditujunya.
"Suuuuukrrrrroooooo...!!!" Andi berteriak jengkel kepada Sukro, setelah menyadari kakinya baru saja menginjak "ranjau" darat Sukro dengan mulusnya.
"Peethokkk... petthokkk... thokk...thokkk..." celoteh Sukro yang mungkin berarti "emang gue pikirin...hehehe."
Meskipun belum berhasil membuat Andi berbenjol ria, tapi bisa menambah pekerjaan Andi untuk bersusah -susah membersihkan halaman dari "ranjau" darat miliknya itu sudah lumayan. Daripada tidak terbalaskan sama sekali... bisa menderita lahir batin lho. Repot juga kan!
Keringat Andi mulai mengalir kebawah. Dari leher ke baju. "Awas ya kamu kro, bikin repot saja!" Andi terus mengomel sambil jongkok membersihkan "ranjau" darat Sukro yang banyak menyebar dihalaman depan kamarnya dengan sikat gosok keramik.
"Hhhuuu... capek sekali. Alhamdulillah, beres sudah. Dan kamu... Mr. Sukro prekete kete... tunggu pembalasanku. Hei kro... aku bicara sama kamu, kok malah noleh kanan kiri! Engga lucu tahu! Ingat-ingat ya!" Andi pun segera meninggalkan Sukro untuk pergi mandi setelah ngomel-ngomel kepada Sukro.
"Sukro lagi... Sukro lagi kan, yang disalahin! Memang repot ya jadi ayam itu!" Mungkin itu yang dipikirkan ketika do'i kena semprot bosnya. Tanpa pikir panjang lagi... Sukro membalas Omelan.
Plok...plok...plok...'Kkkuuuruuyuukkk..."