Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
FAILED MANING... FAILED MANING



Gak cuma Andi dan Andien yang terheran-heran dengan kemampuan penerawangan yang dilakukan Jean Liesman. Tapi juga Andersen Liesman. Adiknya.



"Waaoohhh... hebat banget kamu, Jean! Kok kamu bisa tahu, kalau ada seseorang yang kena tonjok malam ini?" tanya Andersen Liesman disela-sela menunggu lagu dari One Ok Rock yang diputarnya tadi selesai.



"Makanya Sen, banyak baca kamu itu! Itu mudah banget kok, gak perlu sakti! Jadi begini, berdasar Kitab Primbon Jawa karangan Mpu Karpov dari Ukraina abad ke-7 disebutkan, bahwa tepat dihari ini semua Galaxi di Alam Semesta ini berhenti berputar. Why? Ada meeting para Alien soalnya. Biasanya hujan deras yang datang tiba-tiba, akan disertai kejadian ditonjoknya seorang pria oleh seorang wanita. Dan itu semua adalah peristiwa kecil yang mengikuti peristiwa fenomenal ini. Paham kamu, Sen!?" Penjabaran yang sulit diterima oleh otak manusia telah diucapkan Jean Liesman dengan sangat jelas dan... rumit.



Dan hasil akhirnya, gak cuma Andersen Liesman yang langsung minum obat sakit kepala, tapi semua kru Star Radio yang bertugas saat itu.



Hujan deras masih saja mengguyur Surabaya, saat Jean Liesman memberi penjelasan yang super rumit kepada Andersen. Adiknya.



Namun seiring dengan bergantinya waktu dari malam ke dini hari. Tetesan air yang turun dari langit itu kini semakin berkurang intensitasnya.



Dan memang waktu belum menunjuk kan pukul empat pagi. Masih kurang sekitar lima belas menit lagi menuju waktu Subuh.



Sepasang mata, secara tiba-tiba, terbuka. Pandangan matanya tajam dan sangar. Bergerak naik keatas secara perlahan-lahan. Menolehkan kepalanya kesamping bak kepala robot. Bergerak pelan tapi penuh arti.



Keinginannya untuk melihat sosok yang tertidur pulas tepat dibelakangnya, akhirnya terpenuhi sudah.



Dan diyakininya bahwa sosok itu masih pulas dalam buaian mimpi indah, akibat dinginnya udara yang dihasilkan oleh hujan deras kemarin malam.



Dipastikannya sekali lagi. Dan benar, sosok itu masih pulas tertidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.



Bagi Sukro, ada atau tidaknya cahaya yang menyorot matanya, itu tidak mempengaruhi apapun. Cukup sebuah niat jahat, itu sudah bisa membuka mata tajam dari keturunan langsung Eyang Panji Simatupang. Ayam legendaris milik Prabu Ciung Wanara.



Dendam yang terbalaskan setengah-setengah, membuat Sukro masih "panas" dengan si Bos. Andi Bayu Samudra.



"Hehehe... kali ini, kamu akan betul-betul berhias "pentol bakso" di kepalamu... hehehe..." Mungkin itu yang terpikir diisi kepala Sukto. Mata itu mengeluarkan kilatan seperti film-film kartun ala Jepang. Senyuman diparuhnya, seakan menandakan bahwa dendamnya kali ini akan terbalaskan.



Dan kali ini, bukan lagi merapikan semua bulu yang ada di tubuhnya sebagai ritual awal. Tapi menuju level yang lebih tinggi lagi. Yaitu... tanpa... gerakan.



Langsung menggelegar menembus istana Dewa Naga Langit. Secara tiba-tiba, gak pakai ancang-ancang, gak pakai ritual apa-apa. Memekik dahsyat, mengguncang Bumi...



Jurus "Kokok Halilintar Pengejut Nadi"....



"Kkkuukkkuuurrruuuyyyuuuuukkkkkk!!!"



"Ayam Gila!!! Berisik!!!" Suara keras terdengar dari samping rumah Andi.



"Oooohhheee... eedaannn!!! Masih Pagi!!! Jangan nyanyi!!!" Terdengar juga suara protes dari tetangga lainnya. Dan banyak lagi yang protes, cuma gak bisa diceritakan semuanya. Pokoknya seru dan menghebohkan.



Dan Sukro cuek dengan semua protes para manusia itu. Tujuannya cuma satu... balas dendam.



Seperti hari yang lalu, agak mirip sich sama lirik lagunya Om Iwan di lagu "Buku Ini Aku Pinjam". Tidak ada suara gaduh sedikit pun di kamar Andi. Bosnya Sukro. Dan itu membuat Sukro curiga.



Ditengoknya sekali lagi. Pemandangan yang dilihatnya, Bosnya masih saja pulas dalam tidurnya.



Pengamatannya sangat detail. Sangat fokus juga. Sampai-sampai do'i gak mengetahui ada yang sedang mendekatinya. Merangkak seperti kadal monitor. Seperti layaknya tentara berlatih menyerang dengan tiba-tiba, dengan cara... merangkak.



Padahal dari tadi ada sepasang mata yang juga mengamati Sukro. Dari jarak dekat tapi tersembunyi. Dan....



"Dddduuuuoooooorrrrrrrr!!!"



"Pppeetthhoooookkkkkk!!!



Sukro yang lagi fokus mengamati Bosnya, sontak terkaget habis. Mendengar teriakan keras tepat didepannya. Wajah Sukro langsung pucat, lemes dan pingsan dengan sukses. Seketika.



"Plok... plak... plok..."



Andi bangkit berdiri, membersihkan tangannya yang dibuat merangkak tadi.



Sukro... Sukro... gagal maning.. gagal maning... teeerrrllllaaallluuu.




Untuk kemarin malam, memang Andi tidak bisa tidur. Pikirannya masih dibayangi wajah cantik gadis yang telah meninjunya itu. Andien.



Jadi tidak heran, kalau Andi bisa bangun terlebih dahulu dari pada Sukro. Serta menyiapkan serangkaian jebakan buat ayam jantan kesayangannya ini. Menaruh guling yang seakan-akan dirinya dan menutupi dengan selimut. Tanpa disadari Sukro, do'i pun masuk kedalam perangkap Andi... hehehe...



Semua aktivitas dipagi sudah Andi lakukan. Kembali mandi untuk berangkat sekolah.



Dan aktivitas itu selesai semua dilaluinya. Mandi, pakai seragam sekolah, nyiapin buku yang mau dibawa, meskipun cuma satu buku, terus turun, makan, pamit Mama, Papa. Sudah beres semua.



Maka Andi pun langsung berangkat sekolah dengan meninggalkan Sukro yang masih terlihat pingsan didalam kandangnya yang masih terkunci. Jadi hari ini kemungkinan Sukro off dulu dari job utamanya. The Security of Andi's House.



Melewati jalanan yang sama, masih bertemu dengan cewek-cewek kece dari SMA lain, Andi terus memacu Nitta untuk bisa sampai di sekolah tepat waktu. Kalau dibilang sich, bukan tepat waktu ke sekolah, tapi tepat waktu tiba di warung Kopi Giras Cak Gondrong.



Tapi setelah tiba di warung Kopi Giras Cak Gondrong, tidak ditemukan siapa pun disana. Pemilik warungnya juga tidak ada.



Ya jelas yang punya warung gak ada, wong warungnya tutup... hehehe....



Jadi hari ini warung Kopi Giras Cak Gondrong tidak buka. Mungkin do'i ada acara, sampai harus menutup warungnya. Dengar-dengar sich mau operasi plastik lagi. Cuma kali ini bukan wajahnya lagi. Do'i kuatir salah lagi seperti dulu. Jadi sekarang yang mau dioperasi itu... lidahnya. Supaya bisa punya gaya bicara kayak bule gitu, Cedal-cedal gak jelas.



Pikirnya, kalau cara dia bicara sudah mirip bule, otomatis pasti bisa bahasa Inggris. Ya... begitulah antara Cak Gondrong, Liesman bersaudara dan Robert memang beda-beda tipis cara mikirnya.



Karena warung Kopi Giras Cak Gondrong tutup, Andi pun langsung masuk ke tempat parkir motor siswa di SMA Perjuangan. Motor diparkir, lalu langsung berjalan menuju arah kelasnya.



Banyak adik-adik kelas yang menyapa Andi. Tapi Andi gak mentang-mentang kakak kelas, jadi harus disapa lebih dulu. Tidak sedikit kok, adik kelas yang disapa lebih dulu oleh Andi. Karena kenal. Simple.



"Tumben, para begajul-begajul itu sudah ada didepan kelas. Duduk berjejer seperti di halte bis umum," kata Andi dalam hati, yang lihat semua sohibnya pada sudah datang. Hari tobat nasional rupanya hari ini. Rajin banget.



"Hallo semua!" sapa Andi kepada semua sohibnya.



Tapi yang disapa merespon dingin. Cuek. Balik menyapa sich. Tapi cuek. Seperti ada yang ditunggu oleh semuanya. Dan itu bukan Andi.



"Oh ya Om," jawab mereka hampir bersamaan.



"Mana He, katamu ada cewek baru yang super cakep?" tanya Bastian kepada Wahe. Dan memang kemarin khan, Andi dan Bastian yang tidak masuk sekolah. Jadi mereka tidak tahu kalau ada cewek baru yang cantik di sekolah mereka.



"Sabar Bas! Wi, sekarang jam berapa?" tanya Wahe pada Winoto.



"Sekarang tepat jam 7 sich, harusnya dia memang sudah nongol!" jawab Winoto kepada Wahe.



Andi pun mendekati sohib-sohibnya itu. " Ini sebenarnya lagi nunggu siapa sich kalian ini? Kok kelihatannya penting banget!" tanya Andi kepada sohib-sohibnya.



"Sudah, kamu lihat sendiri saja. Pokoknya semolohe. Cantik banget," jawab Fredy dengan kepala tingak-tinguk. Berdiri menjijit, tengok kanan-kiri, berusaha menemukan sosok yang sedang ditunggu-tunggu.



"Oh ini, sedang nungguin cewek toh, ceritanya. Kurang kerjaan! Masuk kelas saja!" jawab Andi pada Fredy.



Tiba-tiba lengannya dipegang oleh Robert, yang mencoba mencegah Andi untuk masuk kelas.



"Sudahlah Om, disini saja, nyesel kamu nanti kalau sampai ketinggalan. Lagian sekarang, infonya gak ada pelajaran. Guru-guru sedang meeting." Robert memberi Andi masukan. Tapi tetap gak penting bagi Andi.



"Ahhh... Males, lepasin Ndot, aku mau masuk kelas!" Benar khan, gak penting bagi Andi.



"Gak! Lihat dulu!" jawab Robert ngeyel.



"Lepasin! Atau aku panggilin Hartini lho!" Andi menggoyang-goyangkan tangannya, tapi tetap tidak dilepaskan oleh Robert, yang sengaja menggodanya. By the way, who is Hartini?



Ketika Andi dan Robert lagi asyik bermain "pegang-pegang tangan", muncul dari arah selatan, sosok yang mereka tunggu-tungu. Dan itulah yang membuat Robert melepaskan tangannya dari lengan Andi secara perlahan.



"Waaoohhh... cantikkknya..." kata mereka bersamaan.



Dan tidak cuma yang diluar kelas yang mengucap kata yang sama itu. Tapi juga yang didalam kelas juga. Yang tiba-tiba nongol dari jendela kelas. Seperti Tedy, Mikel, Ludovic, Dony dan lain-lain. Dan itu cowok semua. Yang cewek-cewek mah cuek, sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.