
"Pagi mas Bastian, mau jemput non Natalie ya?" sapa Pak Karno dengan ramah.
"Pagi juga Pak Karno. Eh... Natalie sudah siap Pak?" balas Bastian dengan ramah pula kepada Pak Karno, security di rumah Bu lek Yanti. Tantenya Bastian.
"Gak tahu juga ya mas. Langsung masuk saja. Bu Yanti ada kok didalam." Ramah sekali Pak Karno ini sama Bastian. Jelas ramah, Bastian itu keponakan majikannya. Yang punya rumah mewah ini.
"Terima kasih Pak Karno. Bastian masuk dulu ya." Bastian dengan sopan meninggalkan Pak Karno yang sudah membukakan pintu gerbang untuknya. Dan langsung masuk kedalam rumah Natalie yang luasnya gak tanggung-tanggung. Maksudnya luas banget gitu.
Pintu masuk dari jati berukir burung cendrawasih mulai terbuka perlahan. Karena berat pastinya pintu orang kaya... kalau ringan pastinya pintu kamar mandi... hehehe...
"Assalammualaikum Bu lek... Hallo... Assalammualaikum Bu lek... Natalie... kemana semua sih orang-orang ini." Bastian celingukan, mencari para penghuni rumah itu yang belum menjawab salamnya.
"Waalaikumsalam den Bastian, maaf mbok gak dengar. Ibu lagi sama non Natalie." Nongol juga akhirnya penghuni rumah ini. Meskipun bukan yang punya rumah, tapi pembantu yang punya rumah. Mbok Yem namanya. Dan mbok Yem sudah mengabdi di keluarga ini sejak Dina dan Natalie belum lahir.
"Pagi mbok Yem, Oh begitu ya, ok deh Bastian tunggu disini saja." Bastian pun menunggu di sofa setelah ada pemberitahuan dari mbok Yem.
"Den Bastian mau minum apa? mbok Yem buatin," tanya mbok Yem.
"Gak usah mbok Yem, paling sebentar lagi mau berangkat sekolah. Thanks ya," tolak Bastian dengan halus.
"Ya sudah kalau begitu, mbok Yem tinggal dulu. Mau bersih-bersih dapur. Monggo Den Bastian," kata mbok Yem yang lalu pergi meninggalkan Bastian sendirian.
."Silahkan mbok Yem. Huhu... liliput ini lama banget. Gak pernah on time deh tuh anak," gerutu Bastian dalam hati tentang kebiasaan Natalie yang lelet habis.
Tidak seberapa lama Bastian menunggu di sofa yang super empuk itu, Bu lek dan Natalie turun dari anak tangga. Untung saja cepat turun Natalie dan Mamanya. Telat sedikit saja, jangan ditanya tuh anak. Langsung mooloorrr alias tidur. Dan itulah ilmu terhebat yang dikuasai Bastian... ilmu tidur.
"Assalammualaikum Bastian, maaf lho kamu nunggunya lama. Maklum anak gadis dandannya gimana gitu." Mama Natalie menyapa keponakannya dengan ramah.
"Assalammualaikum Bastol, nunggu lama ya? Syukurin... memang enak nunggu itu." Natalie menyapa saudaranya itu sembari meledek Bastian.
"Assalammualaikum Bu lek, Lie, ya gak apa-apa kok Bu lek... santai saja." Bastian membalas salam mereka berdua tanpa memperdulikan ledekan Natalie kepadanya.
"Walaikumsalam Bu lek" Bastian membalas salam Bu leknya dengan sopan."Ya... walaikumsalam juga siput (Natalie maksudnya)" balas Bastian sambil meledek saudara sepupunya yang cantik itu... Natalie. Begitu sampai di lantai bawah, Bastian lalu menghampiri dan mencium tangan Bu leknya itu.
"Bu lek sehat? Pak lek sehat juga?" tanya Bastian setelah mencium tangan Bu leknya.
"Alhamdulillah Bas.Bu lek dan Pak Lek sehat. Sekarang ini Pak lekmu sedang di Ausi mengurusi semua keperluan Dina," jelas Bu lek kepada Bastian.
"Jadi Dina beneran kuliah di Ausi, Bu lek? Gak nyangka ya tuh empat mata jadi kuliah ke luar negeri," balas Bastian.
"Kabar Mama, Papa kamu gimana Bas?" Vero gimana kabarnya? Jadi kan dia kuliah di U.K?" Mama Natalie balik menanyakan kabar keluarga Bastian. Keluarga kakaknya. Mamanya Natalie adik kandung Mamanya Bastian.
"Papa dan Mama Alhamdulillah baik Bu lek. Vero juga baik. Kalau masalah kuliahnya Vero, Bastian gak tahu Bu lek. Jadi atau gak dia kuliah di U.K. Dianya lho sampai sekarang masih santai-santai dirumah," balas Bastian memberi penjelasan.
"Eh, tumben Bas, kamu gak lupa kalau hari ini kamu harus jemput Natalie ke sekolah? Kamu sama Pak Mat,kan?" Mama Natalie baru menyadari kondisi yang sedang berlangsung pada diri Bastian. Karena Bastian memang pelupa. Seberapa parah? Kita lihat saja nanti... lanjuuttt...
"Ya diantar Pak Mat, Bu lek. setelah sampai, Pak Mat langsung pulang ke rumah naik taxi," jelas Bastian.
"Lho Lie... dandanan kamu kok kayak ondel-ondel sih!" canda Bastian kepada sepupunya itu.
"Enak saja kayak ondel-ondel! Ma... Bastol ini lho jahat! Ngatain Natalie ondel-ondel." Natalie melaporkan Bastian pada Mamanya. Dasar tukang lapor.
"Sudah dong Bas, jangan goda adikmu. Dia dandan karena mau ketemu someone. Gak kok sayang, kamu cantik kok," ucap Mama Natalie sambil membelai rambut anak gadisnya yang memang cantik.
"Iya kan, aku cantik... wwweeekkk..." ejek Natalie sambil menjulurkan lidahnya. Kayak anak kecil mengejek temannya. Manja Natalie ini kalau ada Mamanya.
"Oh gitu ya Bu lek. Aku tahu lho siapa itu someone specialnya Natalie, Bu lek." Bastian lagi-lagi menggoda Natalie.
"Kamu tahu toh Bas? Bu lek penasaran siapa!?" tanya Mama Natalie yang benar-benar ingin tahu siapa cowok yang sudah membuat anaknya klepek-klepek.
"Namanya Om, Bu lek. Tapi ngomong-ngomong, sini Lie aku bisikin..." Bastian ingin ngomong sesuatu yang rahasia kepada Natalie.
"Lho kok namanya Om, Bas, gak salah kamu? Hayoo... kenapa bisik-bisik segala," goda Mama Natalie pada dua remaja ini.
"Ngapain sih Bastol pakai bisik-bisik segala. Ngomong saja langsung," protes Natalie dengan tingkah Bastian yang aneh.
"Gak apa-apa Bu lek. Sini sebentar ini info penting, jangan sampai kamu nyesel nanti." Perkataan Bastian rupanya berhasil membuat Natalie mendekatinya. Keppo juga rupanya.
"Ya... ya... cepetan, awas lho ya kalau kamu bohong!" Natalie mengacungkan tinjunya ke arah Bastian, kuatir kalau-kalau Bastian cuma menjahilinya.
Lalu Natalie pun mendekatkan telinganya dan Bastian mulai berbisik ke telinga Natalie.
"Hei Lie, aku kasih tahu kamu ya, Om itu gak suka sama cewek yang doyan dandan... akurat nih infonya," bisik Bastian dengan nada super pelan ke telinga Natalie. Sampai-sampai kucing pun gak bisa mendengar apa yang dikatakan Bastian. Bukan gak bisa dengar, tapi memang Natalie gak punya kucing. Jadi sekarang tahu alasannya Khan.
"Beneran kamu, Bas?" tanya Natalie memastikan.
"Yup... its true. Kalau sampai aku bohong, sumpah deh nanti malam aku gak akan bisa tidur (tidur berdiri saja bisa, kok sumpahnya seperti itu. Dasar Bastol)." Bastian memasang mimik serius tentang infonya itu. Lihat tuh lengan Bastian sampai terangkat dengan dua jari tangannya yang terbuka. Sebagai bukti kalau info dari dia benar.
Dan....
"Ma... ma, punya pembersih! Oh my God, tisue... tisue... ada gak? Mama punya lap?" Mendengar info dari Bastian barusan, sontak membuat Natalie panik.
"Aadduhh... gimana nih...!"
Dan memang bukan ada serangan monster di kalijudan. Serangan asap tebal yang datang membabi buta itu berasal dari sebuah motor Scooter dengan tambahan tempat duduk disampingnya milik duo gambreng ini. Jean Liesman dan Andersen Liesman. Kembar sih gak, tapi mereka bersaudara.
Dilihat dari penampilan Scooter mereka, bisa diprediksi kepribadian dan karakternya. Lihat saja, ada tongkat Sun Go kong di motor yang difungsikan sebagai gantungan. Ada tas bekas ledakan bom, rangkaian bawang putih pengusir vampir, sapu terbang nenek sihir, gitar buntut tanpa senar, sampai dirijen plastik yang isinya oli bekas terpajang disana. Macam-macam deh pokoknya.
Dari pengakuan yang sangat tidak bisa dipercaya dari pemiliknya, bahwa Scooternya pernah ada yang nawar 100 juta. Liesman brother menjelaskan Scooter ini pernah dipakai perang oleh Jerman melawan Mojopahit. Maka dari itu harganya mahal sekali dan gak mungkin teman-temannya mampu membeli Scooter antik itu. Bukannya gak mampu... tapi buat apa beli barang rongsokan sampai 100 juta. Sudah warnanya gak jelas, lampu depannya pakai senter, ban serepnya diganti dengan ban sepeda gayung, belum lagi spionnya yang diganti dengan centong nasi yang ditempel kaca. Kacau pokoknya. Jerman perang sama Mojopahit... ? Salah kingkong! Yang benar Jerman itu perang lawan Sriwijaya abad ke lima... gitu saja gak bisa... Liesman... Liesman... payah banget ilmu sejarah kalian!
Seperti orang yang gak punya dosa Liesman bersaudara ini malah bernyanyi ditengah kepungan asap tebal dari motornya sendiri. Judulnya Pelangi, lagi! Mana mungkin bisa lihat Pelangi, wong asapnya tebal gitu.
"Kulihat Pelangi di pagi hari..." Happy kali nih... ! Rasa-rasanya habis dapat arisan nih bocah-bocah.
"Tongggtrongtronggtonggg... tttrrronnggg... tttrrronnggg... Pelangi, engkau Pelangi..." Suara Scooter berbenturan dengan suara dua duo jin iprit makin membuat suasana semakin larut dalam kepanikan.
"Liesman!!! Matiin motornya!!!" teriak Cak Gondrong karena yakin kalau gak teriak kagak bakalan dengar tuh siluman air.
"Nih sudah mati! Gak bisa lihat orang lagi asyik?" sindir Jean Liesman ke Cak Gondrong.
"Kamunya asyik, tetangga sekitar bisa mati berdiri dengar suara motor kamu. Belum lagi dengar nyanyian kamu lho itu. Gak tahu model matinya seperti apa kalau ketambahan dengar kamu nyanyi." Cak Gondrong balas menyindir dengan nada bercanda.
Tak lama kemudian, masuklah sebuah motor sport warna kuning. Warna favorit Bruce Lee. Langsung parkir disamping Scooter Liesman bersaudara.
Pengendara motor sport ini rupanya penggemar berat Bruce Lee. Lihat saja, di motor sportnya ada lukisan wajah Bruce Lee, potongan rambutnya pun mirip Bruce Lee. Intinya do'i itu Bruce Lee Lovers. Tapi ada yang beda, Bruce Lee mempelajari bela diri Kung Fu, sedang Fredy mempelajari bela diri Karate. Beda tapi sama-sama keren dan mematikan.
"Hallo Fred," sapa Liesman bersaudara bersamaan.
"Hallo Jean, hallo Sen," balas Fredy menyapa sohib-sohibnya itu.
"Hallo semua," sapa Fredy kepada semua sohib-sohibnya yang ada didalam warung kopi Giras Cak Gondrong, ya termasuk yang punya warung sekalian.
"Hallo teman-teman sebangsa dan setanah air," ganti Jean Liesman menyapa semua teman-temannya. Sekali lagi juga termasuk pemilik warung kopi itu.
Fredy, Jean dan Andersen Liesman kemudian masuk dan bergabung dengan sohib-sohibnya yang lain. Dan untuk kesekian kali Andi menawarkan paket liburan tambahan kepada pendatang-pendatang baru ini yang juga biasanya menyambut dengan gembira kalau ada acara liburan tambahan seperti ini. Bahkan sampai terharu berlinang air mata.
"He, Bayu.Kamu kan sahabatnya Jean dan Andersen, tolong dong, kalian ajak mereka liburan. Om gak mau mereka sibuk terus dengan project ilmiah mereka. Apalagi Andersen sekarang ini satu hobi dengan Jean. Om gak mau Andersen tinggal kelas seperti Jean. Khan gara-gara kebanyakan project ilmiah Jean jadi tinggal kelas." Pak Liesman memberikan penjelasan puannjang lebar serta meminta Andi mau mengajak anak-anaknya berlibur.
"Ya itu mudah sih Om, tapi ngomong-ngomong Jean dan Andersen ada project ilmiah apa? kok kita-kita gak tahu?" tanya Andi dengan serius.
"Begini Ceritanya," Pak Liesman mulai menceritakan semuanya. Matanya menerawang jauh kebelakang. Mencoba mengingat semua kejadian satu tahun yang lalu.
"Awalnya Jean menemukan sebuah pemikiran yang diilhami dari kisah Doraemon dengan baling-baling bambunya. Jean berpikiran bagaimana caranya dengan modal kipas sate, manusia bisa terbang. Karena baling-baling Khan masih mahal harganya, gak merakyat, maka dari itu diganti oleh Jean dengan kipas sate, yang jelas-jelas harganya ekonomis dan praktis. Begitu penjelasan Jean ke Om waktu itu. Jean berpikir keras agar supaya idenya itu bisa terwujud. Begitu seriusnya Jean mewujudkan impiannya, akhirnya pelajaran Jean ketinggalan dan harus menerima keputusan dari pihak sekolah kalau dia tidak naik kelas. Begitu ceritanya,Bayu." Cerita yang mengharu biru dari seorang Ayah yang memaklumi betul bahwa gak selamanya yang kita inginkan bisa terwujud. Hello... yang benar saja... kipas sate!
Andi yakin kalau sampai Pak Liesman mendengarkan hal yang disampaikannya ke anak-anaknya, pasti beliau akan sangat berterima kasih dan terharu. Akhirnya anak-anaknya bisa sedikit relax dan berjalan di jalan yang lurus... hehehe...
"Fred, Jean dan kamu Sen, dengerin! Hari ini aku mau mancing, siapa yang mau ikut? Tempat terbatas nih!" pancing Andi yang sangat yakin sohib-sohibnya yang barusan datang akan antusias sekali. Bahkan berebut mau ikut.
"Wadooohhh Om, sorry banget. Aku dan Andersen ada project ilmiah yang urgent nih," tolak Jean sebagai jubir keluarga memberikan penjelasan.
"Project apa lagi!?" sebel juga Andi dengar jawaban Jean Liesman.
"Ini tentang teknologi masa depan, tentang membuat segalanya lebih mudah. For better life," jawab Andersen dengan diplomatis menyambung omongan kakak kandungnya itu.
"Bingung ya kalian semua? Aku paham." Dengan pandangan meremehkan intelegensi sohib-sohibnya. Jean Liesman mulai lagi dengan penjelasannya.
"Ya nih... jadi penasaran juga. Ngomong-ngomong ini warung kopi ya! Bukan tempat meeting. Fred, kamu pesan apa? Sekalian kamu Jean, Sen, pesan apa!?" Jengkel juga Cak Gondrong kepada new comers ini. Datang, duduk, ngobrol tapi gak pesan kopi. Ini warung kopi guys, bukan tempat kursus, ok?
"Ya... ya, ganggu saja kamu, drong! Kopinya tiga. Sampai mana tadi?" Banyak gangguan buat Jean Liesman hingga lupa tadi mau jelasin apa.
"Sampai kamu pesan kopi..." sahut Robert yang serius banget mendengar penjelasan lebih lanjut dari Sang Pemimpi ini.
"Oh ya, jadi begini, ketika aku lihat film Ironman, aku mikir, andai ada baju, celana, handuk atau apapun itu bisa datang sendiri begitu kita pencet tombol. Kayak Bajunya Ironman itu. Tony Stark pergi kemana, bajunya langsung meluncur ke tujuan. Gak repot, praktis, gak kena ongkos bagasi. Hebat kan...! Siapa dulu dong... Jean Liesman... hehehe..." Jean Liesman yang terlalu pede menutup pidatonya dengan ketawa bangga.
Bukan hebat tapi koplak. Sembilan puluh lima persen itu pasti yang ada dipikiran Andi, Wahe, Fredy dan Cak Gondrong.
Tapi beda dengan Winoto, do'i memang dari tadi juga serius dengerin Jean Liesman ngomong. Tapi dari mukanya, do'i terlihat sedang berpikir serius dengan kapasitas IQ nya yang minimalis.
"Ironman... Ironman, kok rasa-rasanya pernah dengar ya? Tapi dimana ya? Atau jangan-jangan, Ironman itu saingan bisnis yang pernah diceritakan Papa? Kok Jean bisa kenal sama saingan bisnisnya Papa? Wadohhh... gawat nih! Sahabatku adalah mata-mata! Apa yang harus aku lakukan?... Jean... Jean... kenapa? Apa gak ada job lain?" Pikiran Winoto penuh dengan berbagai macam pertanyaaan yang membuat dirinya cemas dan bingung 100 keliling. Menyimak sesuatu tanpa disertai kecerdasan... begini jadinya. ERROR.
Kalau Robert beda lagi pemikirannya dengan Winoto. Ada bagian penjelasan Jean yang membuat do'i ragu.
"Hhhmmm... seingat aku ya, Ironman itu bajunya gak terbang sendiri gitu. Dia tuh kalau mau berubah jadi Ironman, tinggal buka kancing bajunya saja. Yup... positif itu yang benar," gumam Robert dalam hati sambil matanya menatap keatas dengan tangan kanan memegang dagu. Seperti orang mikir benar gitu. By the way Robert, itu Superman o'on, yang berubahnya pakai buka kancing bajunya segala.
"Ooohhh gitu ya, gak bisa, ok?" jawab Andi datar.
"Kalau kamu, Fred?" ganti Andi bertanya kepada Fredy.
"Sorry, Om, aku... " Belum sempat Fredy melanjutkan perkataannya, tiba-tiba....
"Dddrremmm... dddrremmm... dddrremmm..." Suara motor sport yang terus di geber, berhenti diseberang warung kopi Giras Cak Gondrong.
"Om... hoe... Om... sini cepat! Ada yang mau bicara nih!" Seseorang memanggil Andi dari seberang sana dengan nada agak keras.
"Blinggg... blinggg... blinggg..."