
Begitu sampai didepan kamar anaknya, Mama Andi langsung masuk. Dan didapatinya tubuh Andi yang pingsan diatas tempat tidur.
"Ya ALLAH!!! Andik!!! Kenapa kamu le!!!? Bangun!!!... bangun!!!... Ndik!!!..." Wanita paruh baya itu kaget sekali, melihat anak kesayangannya yang terbaring diatas tempat tidur. Entah kenapa.
Mama Andi terlihat panik sekali. Logika sudah tidak terpakai lagi. Dipikirannya sekarang hanya satu... Anaknya harus sadar, harus tetap hidup.
Teriak yang tadinya kuat, kini kian melemah. Berganti tangisan yang membasahi wajah seorang ibu yang sangat mencintai anaknya.
"Le! Bangun sayang!... jangan tinggalin Mama! Ba... ngun Ndik...!... ini... Mama... ba... ngun..." Diguncang-guncangkannya tubuh anak tunggalnya itu. Tapi tubuh Andi masih tidak bergerak. Dan air matanya pun akhirnya jatuh juga.
Suaranya sudah mulai terdengar lirih. Deras air matanya seakan mengungkapkan kesedihan yang dalam dari seorang ibu. Takut kehilangan anaknya.
"Ya ALLAH... ambil... nyawa hamba saja... jangan anak hamba... tidak kuat hambamu ini... hamba... tidak kuat... Ya ALLAH... Ya ALLAH... tolong ambil nyawa hamba... sekarang... hamba... ikhlas..." Hanya ALLAH SWT sebaik-baik tempat meminta. Air mata itu terus mengalir. Lendir dari dalam hidungnya pun sudah keluar membasahi bibirnya. Dalam kesedihan yang mendalam, wanita ini pun... berdoa. Meminta pertolongan ALLAH SWT. TUHAN Pencipta Alam Semesta, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Doa yang tulus dari seorang ibu. Doa yang tidak pernah ditolak oleh Langit. Dan....
"Cceekbeegeerr.... ccceekbeegeerr... ccceeekkkbbbeeegggeerrr... dduuaaarrr... dduuaaarrr... dduuaaarrr!!!"
Langit yang tadinya terang dan panas. Padahal masih sekitar jam setengah tiga siang waktu itu. Tiba-tiba menjadi mendung. Dan petir pun muncul bersautan. Keras sekali. Dan suara petir itulah yang akhirnya membuat Andi terbangun dari pingsannya. Memang betul kata Pak Ustad bahwa doa ibu itu lebih dahsyat dari doa 1000 orang Kyai. Remember that! Ok?
"Mmmmaammmaaaa!!!"
Tiba-tiba Andi terbangun dari pingsannya. Berteriak keras memanggil Mamanya.
Rupanya suara petir yang keras itulah, yang membuat Andi terbangun dari pingsannya. Dan itu karena ALLAH SWT mendengar doa dari seorang ibu. Yang rela ditukar nyawa untuk anak tercintanya. Salah satu dari ibu-ibu itu adalah Roro Jati. Mama Andi tercinta.
"Alhamdulillah Ya ALLAH! Andik! Kamu sudah bangun, nak!" Melihat anaknya telah terbangun. Mama Andi mengucap syukur dan langsung memeluk pangeran kecilnya itu.
Rambut Andi dibelai berulang-ulang. Kedua tangannya menyentuh dengan lembut, wajah anak tunggalnya itu.
"Alhamdulillah Ya ALLAH. Andik, kamu gak kenapa-kenapa, sayang. Hati Mama takut sekali, waktu tadi kamu pingsan." Bersyukur terus wanita paruh baya ini. Gembira, melihat Andi sudah siuman dari pingsannya.
Lha yang dipeluk, dibelai-belai rambutnya ini, masih bengong. " Ini ada apa ya? Kok Mama bisa masuk kamarku? Kapan masuknya? Jangan-jangan sudah baca buku harianku? Jangan-jangan tahu lagi, kalau tadi aku bolos sekolah? Aduhhhhhh... mati aku...!" Pikiran Andi penuh dengan segudang pertanyaan dan kekuatiran tentunya.
"Lho... Mama... kok bisa masuk kamar Andi? Kapan masuknya? Mama habis nangis ya, kenapa Mama menangis?" Pikiran Andi sudah mulai stabil. Mulai mengucap kata. Menanyakan apa yang terlintas di dalam pikirannya tadi dan apa yang terlihat didepan matanya.
Hujan pun turun. Deras sekali. Hujan yang tiba-tiba datang. Mematahkan prediksi Badan Meteorogi Indonesia bahwa hari tidak akan hujan.
Wanita yang masih terlihat cantik ini, menghapus air mata dan lendir di hidung, di bibirnya dengan kain serbet yang memang tadi dibawanya. Karena Mama Andi ini sedang di dapur, waktu mendengar anaknya berteriak.
Dengan lembut Wanita ini membelai rambut anaknya kembali. " Kamu tadi itu pingsan, sayang. Berkali-kali Mama berusaha membangun kamu. Tapi kamu tetap diam. Mama takut kehilangan kamu, sayang. Dan karena itulah Mama menangis. Takut kehilangan kamu."
Mendengar perkataan Mamanya. Andi pun terdiam. Dalam hati dia bersyukur sekali. Mempunyai Mama seperti Mamanya itu. Seorang Mama yang mempunyai hati yang indah, yang baik, yang sangat peduli dan sangat mencintainya. "Thanks GOD... for give me a mother like my mother"
"Tingggg... tongggg... tingggg... tongggg... "
"Ya... Mas, ada apa?" Seorang satpam bergegas menuju pagar rumah yang dijaganya. Menemui seseorang yang sudah memencet bel dipojok depan pagar rumah itu.
"Siang Bapak, benar rumah Mbak Andien?" tanya pria yang tadi memencet bel itu.
"Ya benar. Ada keperluan apa ya? Cari anak bos saya?" jawab Security rumah Andien tersebut. Pak Udin.
"Begini Bapak, saya dari Matahari Flowers, mau kirim pohon pesanan Mbak Andien," balas pria yang ternyata adalah kurir dari sebuah perusahaan tanaman itu.
"Pohon? Sebentar ya, saya tanyakan dulu ke Mbak Andien," pinta Pak Udin kepada kurir tersebut.
Pak Udin lalu kembali ke posnya. Memencet nomor yang langsung tersambung ke dalam rumah mewah itu.
"Ya Pak Udin, apa ada? Ini saya Bu Maya." kata Tante Maya menjawab telepon dari Pak Udin.
"Pohon, Pak Udin? Sebentar ya, saya tanyakan dulu ke Andien." Rupanya Tante Maya juga heran, kenapa Andien pesan pohon. Kok gak pesan pizza atau apa gitu. Cuma Andien yang tahu jawabannya.
"Andien... apa benar kamu pesan pohon, sayang?" tanya Tante Maya kepada keponakannya itu. Kebetulan Andien juga lagi baca-baca buku kisah pewayangan di sofa. Jadi gak perlu teriak-teriak manggil gadis cantik ini.
"Andien... Andien! Berhenti dulu bacanya. Kamu pesan pohon ya?" Andien yang lagi fokus dan larut dalam kisah tentang tokoh wayang idolanya itu tidak mendengar perkataan Tante Maya.
"Oh ya Tan, apa? Sorry gak dengar. Ceritanya bagus soalnya. Ada apa, Tan?" tanya Andien yang sejenak tadi tidak mendengar perkataan dari Tantenya.
"Ckckckck... yang lagi baca wayang, sebegitunya. Ini lho, ada kurir yang ngantar pohon ke rumah kita. Apa benar kamu yang pesan itu pohon?" tanya Tante Maya yang mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali.
"Pohon? Oh iya... Tan, kemarin siang memang Andien pesan pohon. Andien cari-cari lewat internet, akhirnya ketemu deh tempat yang jual pohon itu," sahut Andien yang akhirnya ingat kalau memang dia yang memesan pohon itu.
Andien pun menutup buku kisah pewayangan itu. Lalu pergi keluar untuk melihat pohon yang dipesannya.
"Hallo Pak Udin, ya betul, Andien yang pesan pohon itu, tolong buka pagar depan ya, terima kasih." Setelah mengetahui bahwa keponakannya yang pesan pohon itu, Tante Maya langsung mengontak Pak Udin. Security rumah mereka.
Pak Udin pun langsung menuju pagar depan kembali. Setelah mendapat kepastian dari Tante Maya.
"Maaf ya Mas... menunggu lama. Soalnya sudah tugas saya memastikan semuanya," kata Pak Udin kepada kurir itu.
Lalu Pak Udin membuka pintu pagar rumah mewah itu.
"Gak apa-apa, Pak. Saya mengerti kok. Hhhmmm... ini saya kan pakai mobil... mobilnya boleh masuk ke halaman rumah,Pak?" tanya kurir itu pada Pak Udin.
"Oh ya, gak apa-apa, Mas. Mobilnya langsung bawa masuk sekalian saja. Biar gak jauh-jauh nurunin pohon itu." Pak Udin dengan ramah mengijinkan mobil pengiriman itu untuk masuk ke halaman rumah itu.
"Terima kasih Pak," balas kurir tersebut. Kemudian dia kembali menuju mobil pick up yang ada tepat didepan pintu pagar rumah Andien.
Mobil pengiriman itu masuk ke halaman rumah. Tampak Andien yang sudah berada didepan pintu rumahnya. Menunggu pohon yang sudah dipesannya itu.
Tak lama kemudian Tante Maya menyusul Andien, keluar dari pintu rumah mereka. Penasaran pohon apa yang dibeli keponakannya yang cantik itu.
Berjalan mendekati Andien. Tante Maya ikut menunggu pohon misterius yang telah dipesan oleh Kakak dari Ajeng ini.
"Kamu ini, ada saja, Ndien. Pakai pesan pohon segala. Pohon apa sih yang kami pesan itu? penasaran Tante." Tante Maya tahu benar bahwa keponakannya ini sering melakukan hal yang aneh-aneh. Tapi pesan pohon!? Itu gak wajar menurutnya.
"Dari dulu, Andien kepengen punya pohon ini. Tapi gak kesampaian. Di Jakarta nyari pohon ini, sulit banget, Tan! Eh Alhamdulillah, di Surabaya ini ada yang jual. Ya sudah beli saja," jawab Andien kepada Tante Maya.
"Hhhmmm... begitu ceritanya. Pohon apa sih itu?" tanya Tante Maya lagi.
"Tante lihat saja sendiri nanti, pasti tahu kok." Andien menjawab pertanyaan Tantenya dengan sebuah teka teki. Dan itu membuat Tante Maya makin penasaran.
"Apaan sih kamu, Ndien! Ditanya kok malah kasih teka teki! Andien... Andien..." Sebel juga Tante Maya mendengar jawaban Andien. Tapi tenang... do'i gak marah kok sama Andien.
Mobil pick up itu sudah masuk ke halaman rumah. Berhenti tepat disamping taman yang ada di halaman itu.
Kurir itu pun turun dari mobil. Berjalan ke arah Andien yang sudah menunggu didepan pintu rumah.
"Oh ya Mbak, pohon ini mau ditaruh dimana? Ini mau sekalian ditanam? Biaya tanamnya free kok. Sudah termasuk harga pohon ini," kata kurir itu memberi penjelasan.
"Begitu ya. Hhhmmm... taruh disana Mas... dilahan yang sudah saya kasih tanda pakai batu itu," ucap Andien yang kemudian menunjukan lokasi tempat pohon itu ditanam.
"Baik Mbak." Segera kurir dengan dibantu sopir mobil pick up itu menurunkan pohon itu perlahan-lahan. Lalu membawanya ke lokasi yang sudah diberi tanda oleh Andien.
"Ini Mas, tip buat Mas dan Bapak sopir. Tolong ditanam yang rapi ya. Terima kasih." Andien menghampiri mereka. Memberikan dua lembar uang kertas berwarna pink kepada Mas kurir dan temannya. Bapak sopir mobil pick up itu.
"Waaddoohhh... terima kasih,Mbak," jawab Mas kurir itu.
"Ya Mbak, terima kasih banyak." Bapak sopir itu pun juga mengucap terima kasih kepada Andien.
"Tante kira pohon apa, Ndien! Ternyata pohon Sawo toh! Ada-ada saja kamu itu, Andien. Beli buahnya banyak kok yang jual, Eh kamu, malah beli pohonnya sekalian. Andien... Andien..." Rasa penasaran Tante Maya terjawab sudah. Dan memang beliau tahu kalau buah yang sangat-sangat disukai keponakannya ini adalah buah Sawo. Tidak terpikir olehnya, kalau Andien tidak cuma buah yang dibeli, tapi sekalian sama pohon nya. Benar-benar Sawo Mania Sejati.
Tante Maya pergi meninggalkan Andien. Masuk kembali ke dalam rumah sambil geleng-geleng kepala. Pusing ya Tan? Tenang... ini baru permulaan... hehehe... welcome to Surabaya...
Andien cuek mendengar perkataan Tante Maya. Yang penting bagi Andien, sekarang dia happy. Keinginannya terwujud. Punya pohon Sawo. Jadi gak harus beli... hehehe... pinter juga tuh anak...
"Mimpi yang aneh! Kuncinya yaitu apa yang ada digenggaman tanganku. Aneh! kuku palsu hitam itu sekarang tidak ada. Seakan masuk kedalam kuku ibu jariku. Sekarang warna kuku jempolku kembali normal. Sakit sekali tadi. Sampai-sampai aku pingsan. Ya, aku ingat penyebabnya." Andi yang baru tersadar dari pingsannya. Tetap duduk diatas ranjang. Masih memikirkan arti mimpi di siang hari itu.
"Mama juga gak tahu, arti mimpiku tadi. Gak bisa beri jawaban apapun. Cuma berpesan untuk memasrahkan semua ke ALLAH SWT. Buah Sawo ini real. Nyata. Semua nyata. Padahal mimpi." Andi berkata pada diri sendiri. Pandangan matanya mengarah ke buah Sawo yang telah dimakannya separuh itu.
Juga kuku palsu berwarna hitam itu real. Belum pernah Andi mengalami peristiwa seperti ini. Walau dimimpi sekalipun.
"Semua orang, rata-rata suka Sawo. Segar dan manis. Atau mungkin sebaliknya ya? Ah... bingung aku. Ngapain coba, aku repot-repot mikirin mimpi! Mau seaneh apapun, mimpi tetap mimpi. Bunga tidur! Lagian, kurang kerjaan apa! Nyari cewek yang suka Sawo, yang realitanya banyak cewek yang suka sama buah itu. Atau mau cari cewek yang gak suka Sawo, diantara jutaan cewek-cewek? Ahhh.. ruwet! Sholat Ashar dulu saja." Memang betul mending sholat dulu, baru lanjut mikir, ok Mas bro?
Hehehe... yang suka buah memang banyak, Mas bro. Tapi yang sampai beli dan nanem pohonnya? Sedikit.
Mau dipersempit lagi!? Kalau yang beli dan nanem itu cewek cantik? Sangat-sangat sedikit... seekaaliii tak iye... Monggo, silahkan dibuktikan.