Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
INVANKRA



"Ini... terima dan makanlah!" Eyang Noyo Genggong memberikan sesuatu kepada Pak Jaka Samudra. Sebuah benda seperti kelereng, bulat kecil, berwarna hitam.



Tanpa pikir panjang, Pak Jaka Samudra mengambil benda itu dan langsung memakannya.



Seketika terjadi keanehan. Tubuh Pak Jaka Samudra yang tadinya terluka parah, secara tiba-tiba sembuh. Luka-luka yang dideritanya menutup dengan sendirinya dan hilang tanpa bekas.



Begitu juga dengan luka dalamnya. Sesak didadanya sudah hilang. Kekuatan Pak Jaka Samudra sudah kembali lagi.



"Terima kasih, Eyang," kata Pak Jaka Samudra Kepada Eyang Noyo Genggong.



"Ya! Dan ini, aku pinjamkan ke kamu. Ingat ya! Aku pinjamkan! Bukan aku berikan!" Eyang Noyo Genggong lalu mengambil sebuah benda lagi dari saku celananya. Seperti kantong ajaib Doraemon saja... hehehe...



Bentuknya seperti cangkir dengan tutupnya. Tapi itu bukan cangkir, melainkan cupu.



"Apa ini Eyang?" Pak Jaka Samudra mengambil benda itu dari tangan Eyang Noyo Genggong. Memperhatikan dengan seksama benda yang sekarang ada ditangannya.



"Itu Cupu Manikwingit. Pucuk-e Jagad. Karena kali ini lawanmu bukan dari golongan Jin, tapi Setan." Eyang Noyo Genggong memberi penjelasan singkat pada Pak Jaka Samudra.



"Rupanya, Eyang sudah tahu. Tapi kenapa, Eyang tidak mencegahnya," tanya Papa Andi.



"Bukan urusanku! Tugasku hanya menjaga Harta peninggalan Kerajaan Mojopahit ini saja.Tapi lain cerita, kalau dia sengaja datang kesini. Bisa-bisa dia, aku lempar, kembali ke Neraka," jelas Eyang Noyo Genggong.



"Kamu sama seperti Kalijaga. Tekad kamu kuat. Dan kamu juga punya hati yang baik. Rela mengorbankan nyawa demi melindungi istri dan anakmu. Maka dari itu Langit, mendukungmu. Membelamu Jaka Samudra."



"Eyang, kok tahu nama saya?" tanya Pak Jaka Samudra. Padahal dia belum memperkenalkan namanya dari tadi.



"Kok tahu! Kok tahu! Ya tahu lah! Eyang... gitu lho!" jawab sosok tinggi besar membanggakan diri.



"Tidak ada, yang Eyang tidak tahu. Apalagi kalau cuma keturunan Kalijaga dan keturunan murid-murid Kalijaga, itu ma sepele bagi Eyang!" Masih membanggakan diri rupanya do'i.



Setelah semua dirasa sudah cukup, Pak Jaka Samudra segera berpamitan dengan Eyang Noyo Genggong.



Tak lama kemudian, Pak Jaka Samudra pun pergi meninggalkan Eyang Noyo Genggong, setelah dia mengucap terima kasih dan berpamitan dengan Sang Penjaga Harta Peninggalan Kerajaan Mojopahit ini.



Pak Jaka Samudra menghentikan langkahnya. Setelah berjarak cukup jauh dari Eyang Noyo Genggong, membalikkan badan, melambaikan tangannya dan berkata, " Sampai ketemu lagi... Eyang... Semar!!!"



"Bocah kurang ajar!!! Namaku Noyo Genggong! Bukan Semar! Awas kamu nanti ya!" Eyang Noyo Genggong sewot, jengkel ketika dirinya dipanggil Semar oleh Pak Jaka Samudra.



Mau diomong apalagi, wong beneran mirip Semar kok Eyang Noyo Genggong itu... hehehe...



Adzan Maghrib telah berkumandang. Setelah melakukan sholat, Andi bergegas turun kebawah, untuk berpamitan dengan Mamanya. Mau latihan band.



Setelah berpamitan, Andi segera menyalakan Nitta. Sepeda motor legendarisnya. Dengan memakai aksesoris wajibnya, helm dan jaket blue jeans warna biru muda, pemain gitar di group Kid Rock ini segera meluncur. Menuju Studio Tujuh.



Jauh dari daerah Surabaya, seseorang dengan mengendarai mobil mewah berhenti di sebuah rumah. Yang pasti orang ini bukan Pak Jaka Samudra. Karena Papanya Andi pakai motor, gak pakai mobil. Apalagi mobil mewah. Mimpi kali.



Rumah itu terletak di daerah pegunungan. Lebih tepatnya sebuah villa. Di daerah yang terkenal dengan sebutan Tretes, disanalah tempat villa itu.



Mobil mewahnya diparkir didepan villa itu sebentar. Si pengemudi pun turun untuk membuka pagar villa tersebut. Lalu kembali lagi ke mobil dan memasukkannya kedalam halaman villa .



Pria ini pun keluar lagi dari mobil mewahnya. Menuju ke pagar villa untuk menutup kembali pagar berwarna hitam itu.



Langkahnya diarahkan ke bagasi mobil mewah itu. Dibuka bagasi mobil itu dan mengeluarkan beberapa perlengkapan. Perlengkapan untuk melakukan pemujaan.



Lalu masuk kedalam villa itu dengan sejumlah perlengkapan tadi. Didalam villa tidak ada apa-apa. Kosong. Tidak ada meja, kursi atau apapun. Cuma ruangan kosong yang cukup luas.



Diambilnya cat semprot warna hitam. Mulai menggambar lingkaran-lingkaran. Ada tujuh lingkaran yang digambar. Mulai yang terbesar sampai yang terkecil.



Kemudian mulai membuat huruf-huruf dalam bahasa latin didalam lingkaran-lingkaran itu. kecuali lingkaran yang paling kecil.



Didalam lingkaran terkecil itu, pria ini menggambar segitiga. kemudian diambillah beberapa potongan kayu.



Potongan-potongan kayu itu diletakkan di sudut-sudut ruangan. Dari potongan-potongan kayu dibentuk juga segitiga.




Dikeluarkannya sebuah pisau lipat yang sangat tajam. Dia mulai berjalan menuju lingkaran yang terkecil. Dan menempatkan dirinya tepat didalam segitiga didalam lingkaran itu. Hanya menggunakan celana panjang saja. Tanpa alas kaki dan baju.



Kedua lengannya full bertato sayap berwarna hitam. Sedang punggungnya bertato tengkorak burung yang bertanduk.



Sekarang pisau lipat itu telah terbuka. Dan....



"Jjjrrrusss!"



Pisau lipat yang sangat tajam itu ditancapkan sendiri ke dada sebelah kiri. Meskipun hanya ujungnya saja, tapi bisa dipastikan itu sakit sekali.



Tapi pria ini seperti sudah terbiasa dengan segala bentuk rasa sakit. Tidak berteriak. Biasa saja. Darah mulai mengalir, menetes di tubuhnya.



"De Igne..." Mantra dalam bahasa latin mulai diucapkan.



Suasana didalam villa kosong itu semakin mencekam. Diluar villa, awan hitam mulai datang. Angin pun mulai terasa agak kencang.



Dan tiba-tiba, semua lingkaran-lingkaran itu mengeluarkan api. Potongan-potongan kayu yang telah dibentuk segitiga itu juga mengeluarkan api.



Semua lingkaran-lingkaran dan potongan-potongan kayu itu terbakar. Darah ditubuhnya mulai turun melambat.



"Filia... Diaboli..." Semua benda mati di dalam villa itu bergerak sendiri. Pintu kamar, kaca jendela, bergerak buka tutup dengan sendirinya. keras sekali bunyinya.



"Gggruubbbyyyaakkk... gggruubbbyyyaakkk... gggruubbbyyyaakkk!!!"



Angin yang tiba-tiba datang, membuat api semakin membesar. Kobaran api setempat, menerangi ruangan didalam villa itu.



Tapi tetap saja, suasana tidak berubah. Terus... mencekam...



Suasana diluar villa lebih sangar lagi. Memang ritual ini dilakukan setelah magrib, tapi tidak mungkin segelap ini.



Terlihat seperti sudah jam sembilan malam. Suasana diluar villa semakin gelap. Angin pun bertambah kencang. Menggerakkan pohon-pohon dan rumput-rumput yang ada disekitarnya.



"Quod... Numen Tenebris Qui... Monarchiam... Tenet... In Ventum..."



"Jagad Dewa Batara! Siapa manusia, yang bersekutu dengannya!? Siapa yang telah mengundangnya kemari!?" Dari Alam Jiwa, Eyang Noyo Genggong kaget melihat perubahan suasana di dunia manusia. Tidak cuma di alam manusia. Alam jin pun juga gonjang-ganjing. Didalam "pengelihatan"nya, tidak cuma jin-jin jahat yang kocar-kacir. Tapi juga jin-jin baik.



Semua yang berlarian itu, jin dengan tingkatan terendah terendah, seperti pocong, kuntilanak, genderuwo, semua lari. Takut. Karena yang akan datang ini Makhluk yang tidak mengenal batasan. Makhluk yang selama jutaan tahun menghabisi bangsa mereka, apabila tidak menuruti kemauannya.



"Aku tidak menyangka! Aku kira yang akan datang itu Setan yang lain. Tapi ternyata... Putri dari Iblis sendiri yang datang... Invankra." Eyang Noyo Genggong tahu betul siapa dan sekuat apa "Tamu" yang datang kali ini ke dunia manusia.



"Semoga Shang Yang Widhi melindungi kita semua." Eyang Noyo Genggong duduk bersila. Berdoa, memohon pertolongan Tuhan untuk umat manusia. Karena cuma itu yang bisa dia lakukan... berdoa.



"Invankra!... Convenite... Huc!"



Gerakan pintu dan jendela didalam villa semakin cepat. Satu persatu kaca jendela itu pecah.



"Ppppiiiiaarrrr!!! Ccceekbeegeerr... ccceekbeegeerr... ccceekbeegeerr!!!"



Diluar villa, kilat mulai datang. Angin semakin kencang. Benar-benar seperti sebuah kiamat kecil.



Darah pria itu pun akhirnya menetes jatuh, tepat disamping kakinya.



"Ttteesss"



Angin didalam villa juga berhembus semakin kencang. Api semakin bertambah besar. Tapi aneh, api itu tidak membakar apapun atau siapapun. Hanya bertambah besar saja menyalanya.



"Invankra!!! De... Fortitu... denim!!!"



"Ddddddduuuuuuaaarrrrr!!!"



Dentuman dasyat pun terjadi, setelah Mantra terakhir telah diucap. Dan hujan pun turun dengan sangat deras seketika itu.