Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
MEET U AGAIN



"Hallo! Paket sudah aku bereskan!" Pria penyembah Invankra ini rupanya sedang menelpon seseorang, setelah dirinya kembali lagi ke villa itu.



"Bagus, kalau begitu. Nanti aku lihat. Bye." Berkata singkat, pria perlente yang tadi siang bertemu dengan Pak Jaka Samudra ini, langsung menutup teleponnya. Merapikan semua dan bersiap-siap meninggalkan villa di daerah Tretes itu.



Hujan terlihat memang sudah mulai reda. Pak Jaka Samudra yang berteduh di sebuah warung kopi pun segera melanjutkan perjalanan. Pulang ke Surabaya.



Disaat yang sama, sebuah keluarga sedang berkumpul, penuh keakraban dan kasih sayang. Keluarga Oma Rosa.



"Ini non Alexa, buah sawonya. Silahkan dimakan. Enak lho. Segar lagi," kata mbak Tina, pembantu setia di rumah Oma Rosa.



"Hmmm... enak... manis, dingin lagi. Beli dimana sawo ini, mbak?" tanya Alexa setelah mencicipi sepotong buah sawo.



"Alexa, sayang, Kita kan punya perkebunan sawo, apel dan jeruk di Malang," sahut Oma Rosa yang duduk tidak seberapa jauh dari Alexa.



"Ah, yang benar, Oma! Setahu Alexa, Kita cuma punya perkebunan Teh di Garut. Perkebunan milik mendiang Opa." jawab Alexa yang belum mengetahui kalau Opanya punya banyak perkebunan yang tersebar dimana-mana.



"Perkebunan milik Opa kamu itu banyak, sayang. Jadi hampir semua buah-buahan, sayur-sayuran yang kita makan itu, tidak beli. Gratis," Sela Pak Brahma. Papanya Alexa.



"Kamu mau ikut, nanti hari Minggu, Papa ada rencana ke Malang. Ngecek pembukuan disana. Sekalian kamu, bisa lihat cara pekerja-pekerja kita memanen buah-buahan itu. Gimana mau?" Pak Brahma menawarkan paket liburan kepada anak gadisnya yang cuanntikk poll itu.



"Mau Pa... mau Pa! Hari Minggu ya! Asyik! Boleh ajak teman gak?" tanya Alexa yang antusias banget pengen lihat perkebunan milik keluarganya di Malang. Jawa timur.



"Boleh dong, sayang. Tapi siapa?" sahut Oma Rosa yang keppo.



"Hehehe... ada deh Oma," jawab Alexa malu-malu. Meskipun kalau ditanya terus menerus, pasti akan dijawab. Karena gadis cakep ini memang tidak berbohong kepada Neneknya tercinta ini.



"Paling juga yang mau kamu ajak itu, Jeffry kan! Kelihatannya dia suka lho sama kamu. Apalagi dia anaknya baik, sopan lagi kalau sama Oma." Oma Rosa mencoba menerka jalan pikiran Alexa.



"Malas! Mending di rumah saja, kalau perginya sama dia. Dia itu gak fun, Oma! Monoton kayak robot. Malas Alexa ngajak dia," jawab Alexa.



"Terus siapa? Tony? Atau teman cewek? Liony?" Oma Rosa kelihatannya keppo banget.



"Yang pasti cowok. Bukan Jeffry, Tony atau siapa pun yang sekampus dengan Alexa," jawab Alexa santai, sambil mengambil lagi potongan buah sawo yang ada didepannya.



Tadi itu potongan buah sawonya banyak. Sekarang tinggal tiga potong. Sawo mania juga rupanya.



"Memang kamu punya teman baru yang tidak sekampus? Dan lagi, baik Jeffry atau pun Tony, menurut Oma, mereka anak baik-baik. Seiman lagi dengan kita," kata Oma Rosa pada Alexa. Cucu yang sangat disayanginya.



Mendengar perkataan Oma Rosa, Alexa pun berkata lirih. "Apa... kalau tidak seiman, tidak boleh ya, Oma?"



"Oh Alexa sayang, bukan begitu maksud Oma. Maafkan Oma ya, sayang. Sini dekat Oma." Oma Rosa meminta Alexa mendekat. Dibelainya rambut cucu cantik kesayangannya dengan lembut.



"Alexa, cucu Oma yang cantik, Oma minta maaf ya. Bukan begitu maksud Oma. Kamu boleh ajak siapapun. Mau seiman atau tidak. Dihadapan Tuhan, semua agama sama. Maafkan Oma ya sayang." Diciumnya rambut cucunya cantik itu dengan tulus dan penuh kasih sayang.



"Alexa, Papa yakin juga kok, Oma gak bermaksud seperti itu. Kamu kan tahu Oma," Pak Brahma juga ikut memberikan pengertian kepada anak gadisnya. Yang sekali lagi... suanggat cantik itu.



"Nah, Papa tahu! Kamu pasti mau ajak dia kan!" Untuk mencairkan suasana, Pak Brahma sengaja menggoda gadis cantik ini.



Mendengar perkataan Papanya, Alexa menoleh ke Pak Brahma. Pasang wajah sebel sambil menyibakkan rambutnya kebelakang.



"Apaan sih Papa ni! Sok tahu!" kata Alexa yang kesannya takut, kalau jalan pikirannya ketebak oleh Papanya.



"Ya tahu dong. Pasti kamu mau ajak cowok yang nolongin Lily, kan! Hayo ngaku sama Papa." Pak Brahma langsung mendekat dan menggelitiki anak gadisnya itu.



"Ihhh... Papa, geli... Pa!" Alexa berteriak kecil, lalu menghindar, berpindah tempat duduk.



"Gak tahu ah, Alexa! Pada keppo semua! Pokoknya rahasia! Mau ajak Bayu atau..." Perkataan Alexa belum selesai. Eh... Papanya main serobot saja... cekkk... cekkk... tterr... llaa... lluu...



"Atau siapa? Lagian, Papa kan gak nyebutin kalau dia, Bayu. Kenapa nama Bayu yang kamu ingat? Memang yang yang pernah nolongin Lily cuma Bayu saja! Banyak kan!" sahut Pak Brahma menggoda anak gadisnya itu.



"Ihhh... Papa... jengkelin banget deh!" kata Alexa sambil menutup muka dengan rambutnya.



"Benar itu? Kamu mau ajak Bayu?" tanya Oma pada Alexa.



Alexa pun membuka tangan dari wajah cantiknya. Menghela nafas, setelah mendengar Oma Rosa bertanya. Dan gadis cantik ini memang tidak bisa berbohong kepada Sang Nenek tercinta.



"Hhhhooouuuuuuuu....."



"Iya... Oma. Boleh kan?" Berkata lirih, menatap Nenek yang sangat dicintainya, Alexa meminta ijin.



"Alexa, cucu Oma yang cantik... kamu boleh ajak siapa saja, apalagi kalau yang mau kamu ajak itu Bayu. Oma sudah pasti memberi ijin." Oma Rosa berkata dengan lembut kepada cucu semata wayangnya ini.



Alexa terlihat senang sekali. Langsung bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Oma Rosa.



"Terima kasih, Oma... cuppp..." Ciuman dari gadis cantik ini untuk Neneknya tercinta.



"Wadohhh... pakai cium Oma segala! Memangnya kalau Oma sudah acc, terus Papa juga ikut acc gitu!" kata Pak Brahma yang masih saja menggoda anak gadisnya yang cantik ini.



Mendengar Papanya berkata seperti itu, Alexa pun merajuk. Mendekati Pak Brahma.



"Please... Pa, ijinin ya! Alexa janji gak bandel lagi. Swear deh!" rayu Alexa kepada Papanya, sampai dua jari tangannya terangkat. Berupaya supaya dapat ijin.



"Diijinin gak ya, enaknya...!" Kata Pak Brahma sambil bergaya seperti orang mikir masalah serius. Tangan di dagu, mata melihat keatas. Padahal disana gak ada apa-apa lho. Lihat apa sih Pak Brahma ini? jadi keppo juga nih.



"Ayo dong, Pa! Please... ijinin! Papa cakep deh! Mau ya... mau ya..." Berusaha banget deh Alexa ini kelihatannya.



"Hhhmmm... gimana ya! Bayu... Bayu... diajak ke Malang.... Boleh!!!" jawaban yang sangat sengaja diolor-olor dan... bikin kaget juga tentunya.




"Asyikkk!!! Thank U Papa... cuppp..." Alexa tidak bisa membohongi kata hatinya. Bahwa cuma Bayu yang bisa membuat gadis cantik ini salah tingkah.



"Tumben ini ada yang mampir di warung Cak Kan pakai mobil," kata Andi dalam hati.



Andi memang sudah selesai latihan bandnya. Tapi do'i gak langsung pulang ke rumah. Lagi boring.



Maka dari itu, setelah mempertimbangkan secara serius, Andi memutuskan buat me time dulu. Ngopi di warung Cak Kan. Warung kopi langganannya di daerah Arief Rahman Hakim.



Gak jauh kok dari Studio Tujuh. Tempat group band Kid Rock latihan.



Kalau Studio Tujuh itu alamatnya di Jl. Raya Klampis, Sedangkan Warung kopi Cak Kan di Jl. Arief Rahman Hakim.



"Kayaknya pernah lihat ni mobil, tapi dimana ya?" kata Andi dalam hati.



"Ah, cuek saja. Ngapain repot-repot Mikir!" kata Andi dalam hati lagi.



Begitulah Andi gak mau ribet plus ruwet dalam berpikir. Datang, motor diparkir rapi dan langsung masuk warung.



Turun dari Nitta, melangkah dengan santai masuk kedalam warung kopi Cak Kan. Kelihatannya lagi sepi waktu itu. Cuma ada satu pelanggan.



"Hallo Cak Kan!" sapa Andi ketika berada didepan pintu masuk warung.



Tapi bukan pemilik warung berbadan subur itu yang menjawab sapaan Andi barusan, melainkan....



"Lho kamu!... Kebetulan! Kembalikan kacang sukroku!"



Ternyata oh ternyata, yang menjawab sapaan Andi itu seorang gadis cantik yang sedari tadi menunggu pesanannya selesai. Tiga puluh es teh bungkus. Dan cewek itu ternyata Andien.



Pepatah Jawa mengatakan "Dunia Tak Selebar Daun Kelor", tapi rupanya itu wrong. Bahkan mungkin perlu diganti atau direvisi, diremisi, diservis... ya... macam itu lah!



Bangun dari tempat duduknya. Pasang muka serem, alisnya yang tebal naik keatas. Menghampiri Andi yang bengong melihat something yang membuat hatinya bergetar.



"Mak... tek... ALLAH Maha Hebat... bisa ciptain makhluk secantik ini..." kata Andi dalam hati. Hehehe... padahal Andien terlihat baru bangun tidur lho itu. Dasar si Om.... modus.



"Kamu kan! yang tadi siang ambil kacang sukroku! Mana sini kembalikan!" Andien maju mendekati Andi dan minta kacang Sukronya dikembalikan. Dengan nada yang tidak bersahabat tentu.



Tapi yang diajak ngomong, masih bengong. Sudah bengong, jawabannya ngawur lagi. Gak nyambung sama pertanyaannya.



"Kamu bangun tidur ya?" tanya Andi kepada Andien. Ditanya malah nanya. Koplak!



Sontak Andien tambah jengkel. Ditanya apa, jawabnya apa. Gak nyambung.



"Kamu waras!? Ngapain tanya-tanya, aku bangun tidur atau gak! Pokoknya mana kacang sukroku!" Andien kaget, jengkel dan gak habis pikir dengan pola pikir cowok berkumis dihadapanya ini.



Dan Andi masih saja tertegun dengan pemandangan indah didepannya.



"Hei! Diajak ngomong, malah bengong! Kembalikan kacang sukroku!" Tidak henti-hentinya Andien meminta kacang sukronya. Sedang yang diajak bicara, tidak henti-hentinya juga... bengong...



"Oh... eh...ya... kenalkan, namaku Andi." Dikira Andi, ini acara temu jodoh. Pakai kenalan segala. Ini cewek bukan ngajak kenalan... Om. Kayak baru sekali lihat cewek cakep saja nih, sih Om. Bikmal. Bikin malu.



"Hei! Yang ngajak kenalan itu siapa! Jangan modus! Cepetan balikin kacangku! Aku tinju muka kamu, baru tahu rasa!" Andien gak cuma jengkel kali ini, tapi marah. Cuma yang namanya cewek cantik, kalau marah ya... tetap... cantik... hehehe....



"Oh maaf... aku pikir ngajak kenalan... hehehe. Tadi barusan ngomong apa ya?" Andi baru sadar, kalau cewek didepannya ini marah sama dia. Padahal dari tadi lho Andien ini pengin jotos muka Andi.



Andien ini memang dulu di Jakarta, belajar bela diri Kick Boxing. Makanya do'i gak takut sedikit pun untuk menebar ancaman kepada cowok yang lumayan kekar ini.



"Kamu tuli ya! Mana kacang sukroku!?" Kali ini tangan Andien sudah dalam posisi membentuk tinjunya. Marah sekali gadis cantik ini.



"Kacang?... kacang?... kacang?... Oh, ya, aku ingat sekarang! Kamu, yang tadi siang, buat jaketku kotor kan! Pantesan, aku mikir pernah lihat dimana mobil putih itu, eh, gak tahunya, kamu, cewek Topan." Lemot sekali ingatan cowok berkumis ini. Padahal kan baru tadi siang peristiwanya.



"Cewek Topan! Cewek Topan! Apaan tuh! Balikin gak!?" gertak Andien ke cowok yang menanggapinya dengan santai ini.



"Maaf, kacang kamu sudah habis. Tapi aku janji kok..." Kalimat Andi terhenti, terpotong oleh sebuah tinju yang persis mendarat di mukanya. Dan hidung cowok berkumis ini pun berdarah.



"Ccceeeppprrrokkk!"



"Balikin gak kacangku!? Aku gak takut sama kamu! Marah! Ayo balas! Kalau berani!" Kemarahannya sudah sampai ubun-ubun. Andien langsung memasang kuda-kuda. Bersiap diri, akan kemungkinan serangan balik.



Muka Andi terlihat memerah. Dia tidak menyangka, bakalan ditinju oleh gadis cantik yang ada didepannya.



Tanganya mulai menggenggam keras. Darah yang keluar dari hidung itu perlahan mulai menetes ke jaket yang masih melekat di tubuh Andi.



Wajah yang tadinya bengong, cengar-cengir, kini berubah tegang. Berkata tegas kepada gadis cantik yang telah memberinya salam perkenalan dengan tinjunya. Andien.



"Besok! Besok malam, disini, jam yang sama, kita bertemu! Aku ganti kacang kamu! Mengerti kamu! Assalamualaikum." Setelah menyelesaikan kalimatnya. Andi pun masih sempat mengucapkan salam. Meskipun dia telah ditonjok oleh Andien. Gadis yang membuat hatinya... bergetar.



Membalikan badan, dan langsung pergi dari warung kopi Cak Kan. Meninggalkan Andien.



"Iy... iy... iya... waalaikumsalam," jawab Andien.



"Lho, kenapa aku kok malah bengong? Pakai jawab salamnya lagi. Terus biarin dia pergi begitu saja. Jangan-jangan.... aku kena hipnotis lagi..." Andien memang seperti dihipnotis. Tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya menjawab salam dan melihat Andi yang pergi begitu saja meninggalkannya. Dan itu membuat Andien marah.



"Dasarrr... Peennyyiihiirrr!!!"