
Andi yang tidak tahu, kalau dia diikuti oleh Andien, Ajeng dan tentunya Pak Acheng. Ya dong, do'i juga termasuk yang mengikuti Andi. Kalau yang ngikuti kamu itu Debt Collector, makanya kalau punya hutang itu dibayar, ok?... hehehe
Akhirnya sampai juga di toko kelontong milik Ko Beny, di daerah perumahan Wisma Permai Indah.
"Pak Acheng, berhenti sini, ya. Kita lihat ngapain Penyihir itu masuk ke toko itu," pinta Andien Kepada Pak Acheng untuk menghentikan mobil. Andien ini keppo banget dech....
"Hah... apa non bilang tadi!? Tukang sihir!? Anak tadi itu Penyihir! Wadohhh... kumaha ini? Mending kita pergi saja non." Kaget sekali Pak Acheng mendengar perkataan Andien barusan. Dan do'i percaya banget sama ucapan Andien. Takut disihir jadi kodok. Tenang Pak Acheng, kalau jadi Kodok, sich gak. Untuk Anda, kalau jadi Kodok, rasanya kurang keren. Yang keren jadi gorengan, ok? Enak, bisa buat ngisi perut... hehehe.
"Pak Acheng ini gimana sich!? Sama anak SMA saja takut! Tenang ada saya. Pokoknya, berhenti disini. Dan tunggu Penyihir itu keluar." Andien ini masih sebut-sebut kata Penyihir lagi. Nanti Pak Acheng ngompol baru tahu rasa kamu, Andien.
Dan benar, mendengar anak Majikannya yang cantik ini, menyebut kata "Penyihir" lagi, keringat Pak Acheng langsung keluar. Padahal didalam mobil kan dingin, aneh-aneh saja nich gorengan, eh salah... Pak Acheng.
Setelah berbasa-basi sebentar dengan Ko Beny, akhirnya Andi pun keluar dari toko kelontongan itu, dengan membawa sebuah tas kresek yang didalamnya berisi .. Kacang Sukro merk Burung kemasan jumbo. Sama persis dengan milik Andien yang waktu itu diminta oleh Andi.
Dan Andi pun langsung meluncur pulang ke rumah. Janji untuk mengembalikan Kacang sukro milik Andien akan segera terwujud. Karena bagi Andi, ucapan seseorang harus bisa dipegang. Dan melihat itu Andien pun menjadi bimbang, tentang penilaiannya selama ini kepada Andi.
"Rupanya, dia kesini, untuk beli Kacang sukro. Merk dan kemasannya sama pula. Berarti dia, orang yang punya prinsip." Andien kembali mengevaluasi penilaiannya kepada sosok cowok berkumis ini.
"Gimana non Andien? Itu anaknya sudah keluar toko dan pulang. Kita bisa pergi sekarang?" kata Pak Acheng kepada anak Majikannya ini.
Andien yang masih larut dalam lamunannya, sudah pasti tidak mendengar perkataan sopirnya. Pak Acheng.
"Doooorrrrrr!"
Melihat kakaknya sedang melamun, Ajeng pun bertindak, dengan membuat Andien kaget.
Dan benar juga, Andien kaget dengan teriakan Ajeng itu.
"Jeng, kamu ini kenapa sich!? Ada saja dech tingkahnya!" tegur Andien kepada adik kesayangannya itu.
"Aku! Kamu itu yang kenapa!? Melamun. Melamunkan siapa sich? Tukang sihir cakep itu? itu lho, kamu ditanya Pak Acheng." Ajeng mulai menggoda kakaknya yang cantik ini.
"Apaan sich kamu! Siapa yang melamunkan dia!? Sorry ya!" jelas Andien mengelak. Padahal ya jelas, dia melamunkan Andi. Tapi memang tidak ada yang tahu itu. Yang tahu cuma Langit... dan...S....
"Maaf, Pak Acheng, tadi ngomong apa?" tanya Andien kepada sopirnya. Pak Acheng.
"Enggak non, ini, tuh anak sudah pulang. kita pulang sekarang atau masih tetap disini?" tanya Pak Acheng.
"Lho, yang benar Pak Acheng! Penyihir itu sudah pulang?" Andien memang tidak tahu, kalau Andi sudah pulang. Sibuk melamun sich.
Mendengar kata "Penyihir" lagi, keringat Pak Acheng yang sudah kering, sekarang... keluar lagi. Takut banget Pak Acheng ini sama Penyihir. Takut disihir jadi gorengan ya... eh salah, jadi kodok, maksudnya.
"Eh... eh... anu non, kalau bisa jangan sebut-sebut lagi kata "Penyihir" ya. Pak Acheng, takut banget, non," pinta Pak Acheng dengan nada lirih. Kuatir kedengaran sama tuh Penyihir. Andi... maksudnya.
"Sudah non," jawab Pak Acheng.
"Ya sudah Pak, kita langsung pulang saja," kata Andien kepada Pak Acheng.
"Kakak, naksir ya, sama cowok itu? Hayoo jujur saja, sama adik sendiri lagi," goda Ajeng pada kakaknya yang cantik. Andien.
Andien tidak menanggapi candaan dari adiknya itu. Hanya melirik, selebihnya kembali lagi kepada aktifitas nya yang tadi... melamun.
Semua berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang aneh. Mulai siang tadi sampai sore hari. Kan gak harus juga ada yang aneh, emangnya sinetron... hehehe.
Adzan Maghrib mulai berkumandang. Selesai sholat Maghrib, Andi langsung bersiap-siap untuk pergi menonton pertandingan Komite Karate Kyokushinkai. Pertandingan Karate full body contacts yang akan diikuti oleh Fredy. Sohibnya.
Setelah berpamitan dengan Mama dan Papanya. Andi segera meluncur. Langsung naik ke pelana Nitta. Tunggangan kesayangannya selama ini.
Jarak antara rumah Andi dan gedung Go Skate lumayan jauh. Tapi toh, Alhamdulillah, akhirnya Andi sampai juga.
Disana sudah ramai pengunjung. Dan semua sohib-sohibnya juga sudah datang. Kecuali Duo Gambreng. Jean dan Andersen Liesman.
"Hei Om, sini! Kita disini semua!" teriak Robert yang secara kebetulan melihat Andi yang baru datang. Lagi tengak-tengok, mencari sohib-sohibnya.
Andi lalu segera menghampiri Robert dan sohib-sohibnya yang lain. Dan ternyata disana tidak hanya ada sohib-sohibnya saja. Tapi ada juga cewek cakep, tinggi, dengan potongan rambut pendeknya.
Cewek ini namanya Lana. Nama panjangnya gak tahu. Do'i ini memang tidak satu SMA. Do'i ini anak SMA Petra. Dan Lana Kesini, buat nonton cowoknya bertanding. Kalau belum paham, Lana ini pacarnya Fredy. Dan kalau masih belum paham juga, tanya Kak Soto, ok?
"Hallo semua. Eh, ada Lana juga rupanya. Gimana kabarnya? Sekolahnya masih jualan roti kan!" tanya Andi dengan bercanda.
"Baik Om. By the way, sejak kapan sekolahku jualan roti?" Lana heran juga dengan perkataan Andi barusan. Dan gak cuma Lana yang heran.
"Om, kamu jangan malu-maluin SMA Perjuangan dong! Sejak kapan SMA Petra jualan roti," tanya Winoto yang langsung nyamber mempertanyakan statement sohibnya ini.
"Iya... ya, sejak kapan SMA Petra jualan roti, ya! Coba cek di Google, ah," Gaya Robert, seperti orang yang gemar berpikir saja. Ngomong sendiri, mata melihat keatas, sambil ngeluarin hp.
"Hei, Ndot, maaf ya, memang hp kamu, bisa buat lihat Google? Kan hp kamu jadul. Bisanya cuma bisa lihat setan!" Wahe memang heran juga dengan perkataan Andi. Tapi lebih heran lagi dengan perkataan Robert.
Bukan menghina, semua sohibnya tahu, hp Robert ini jadul, gak ada internetnya. Jadi mana bisa buat lihat Google, yang harus pakai internet untuk mengaksesnya.
"Memang gak bisa... weekkk! Suka-suka aku dong! Sirik saja kamu, He!" jawab Robert sekenanya. Tapi betul. Mulut-mulutnya Robert, jadi ya, syah saja indigo gila ini ngomong apapun.
Wahe pun rupanya sudah paham bahwa "yang waras ngalah'. Jadi do'i memilih diam mendengar jawaban Robert. Dari pada harus berdebat.
Wahe... Wahe... Robert kok dilawan. Kan sudah dibilang, dia nyambungnya sama... Kuda... hehehe.