
"Hhuuuiii... dingin banget. Seperti mandi di Tretes saja... hhuuuiii... dinginnya. Gara-gara Sukro nih, jamnya mepet banget," gerutu Andy yang masih saja jengkel dengan Sukro.
"Terpaksa deh, pakai jurus mandi kilat. Lagi pula airnya dingin banget kayak es," ujar Andi sambil mengeringkan rambutnya yang lumayan panjang untuk ukuran anak SMA.
Setelah memakai seragam sekolah, menyisir rambut dan kumisnya dengan rapi, Andi pun langsung bergegas turun. Tidak ketinggalan Sukro pun dibawahnya sekalian turun.
Sukro itu punya job khusus kalau bosnya berangkat sekolah. Gak cuma jadi hewan kesayangan, do'i juga menjabat sebagai security halaman depan rumah Andi.
Dan jangan coba-coba masuk ke halaman depan rumah Andi tanpa seijin Sukro. Apalagi nyelonong masuk tanpa assalammualaikum. Sudah pasti akan ditindak tegas oleh Sukro yang sangat profesional dalam menjalankan tugasnya.
"Ayo kro, jam kerja ini." Andi dengan lembut langsung menggendong Sukro untuk dibawahnya turun.
"Peeethoookkk...!" Siap bosku!
Lalu Andi bersama Sukro yang sudah digendongnya turun menuruni anak tangga menuju ke ruang makan. Disana sudah ada Mama yang memang sedari tadi sudah disibukan dengan berbagai macam urusan dapur.
"Pagi Ma."
"Pagi juga, Nak. Eh Ndik, kamu tadi itu kenapa kok teriak-teriak kayak Tarzan. Masih pagi, jangan teriak-teriak. Gak enak sama tetangga," tegur Mama Andi yang rupanya juga mendengar teriakan Andi dari dapur.
"Gak ada apa-apa Ma. Cuma ini lho ada yang buang "donat" sembarangan. Buanyakk lagi... cekkk... cekkk... sungguh terrrrlllaaalluuu..." sindir Andi kepada Sukro dengan intonasi suara khas Raja Dangdut sembari melirik Sukro.
"Tthokkk... thokk... thokkkk... peettthokkk..." Sukro pun angkat suara seakan tahu kalau sedang disindir. Dan tak lupa matanya juga membalas lirikan si Bos padanya.
"Memang siapa sih Ndik, yang buang donat sembarang itu? Kamu tahu?" tanya Mama sambil memoles roti tawar dengan selai coklat buat sarapan anak tunggalnya itu.
"Tahu sih Ma. Tinggal di rumah ini juga," jawab Andi dengan tetap melirik ke Sukro sambil alis matanya di naik turunkan. Semacam memberi kode ke Mamanya kalau Sukrolah pelakunya.
"Ooaalahhh... Ndik... Ndik... Mama kira siapa gitu? Itu kan alami. Sukro juga sering gitu di halaman depan." Lega rasanya hati Mama ternyata itu ulah Sukro, yang memang sempat punya pikiran kalau ada orang yang lompat ke halaman atas. Mama Andi kan tahu kalau anaknya gak doyan donat. Ternyata donat yang dimaksud adalah "ranjau" darat Sukro rupanya.
"Petthokkkkkk...!!!" Sukro sangat terkejut ketika dirinya dipersalahkan lagi sontak memprotes dengan gaya khas ayam tentunya. Matanya melihat keatas seakan berpikir kapan do'i pernah melakukan "pengeboman" di halaman depan. Lupa atau pura-pura lupa, cuma Sukro yang tahu jawabannya.
Sementara itu dihalaman luar....
"Wusssssss... wusssssss..." Tiba-tiba angin yang semula lembut menyambut datangnya pagi berubah menjadi lebih kencang.
Papa Andi yang sedari tadi sibuk membersihkan motornya setelah menyalakan mesin motornya dan motor Andi untuk dipanasi. Tiba-tiba terdiam...
"Ada apa ini? Kenapa angin tiba-tiba berhembus kencang?" Lalu Papa Andi pun mendongak ke atas. Pandangan matanya melihat ke atas langit.
"Lambang itu lagi. Rupanya dia ada disini. Mungkinkah orang yang sama? Atau mungkin orang lain? Siapapun itu aku harus siap," batin Papa Andi terhadap semua yang dialaminya barusan.
"Eh Ndik, kamu sudah sholat?" tanya Mama.
\*Sudah kok Ma. Oh ya Ma, Andi berangkat dulu." Andi bergegas berangkat sekolah.
"Andi makan sekolah saja Ma." Andi mengambil roti itu dan dimasukan di bagian depan tas sekolah antiknya.
"Ma, Andi berangkat dulu, assalammualaikum." Andi pamit dengan tidak lupa mencium tangan Mamanya tercinta.
"Oh ya Ndik, Papa kamu didepan, jangan lupa pamit sama Papa." Mama meneriaki Andi yang posisinya memang sudah sampai di pintu masuk rumah.
"Ya Ma," sahut Andi yang sedang membuka pintu rumahnya.
"Lho kro, Papa lagi ngapain tuh? Berdiri sambil tangannya dilipat dan kepalanya nunduk kebawah. Kayak orang mengheningkan cipta. Apa ada yang meninggal ya kro?" Andi bertanya kepada Sukro ketika dia melihat Papanya seperti itu (jangan heran guys, Andi memang sering seperti itu. Dan gak cuma Sukro lho makhluk yang diajaknya ngomong. Hiii... serem!).
"Petthokkk...?" sahut Sukro. Mungkin arti dari suara Sukro ini, "Lho iya... kenapa ya?" Pinter juga Sukro bisa ngerti.
Baik Andi dan Sukro tahu, kalau Papa belum pernah bersikap seperti itu. Diam berdiri dengan khidmat.
"Kro, kamu turun dulu ya. Dan ingat... jaga rumah. Oh ya, satu lagi, jaga juga Sastro ya, tuh burung kesayangannya Papa lho, ok?" Tumben ceramah Andi ke Sukro sebentar. Biasanya... wadohhh... wadohhh... kalau gak diteriaki Mama karena gak berangkat-berangkat sekolah, pasti isi ceramahnya bisa dijadiin novel. Asyik dong bisa langsung dikirim ke \*\*\*\*\* \*\*... hehehe.
"Peethokkk!" sahut Sukro dengan semangat. Dan langsung memulai harinya dengan berjalan lurus dan tegak laksana tentara yang sedang latihan gerak jalan. Tukwa... tukwa... badan sehat....
"Pa, Andi berangkat dulu ya," sapa Andi kepada Papanya dari belakang. Tapi rupanya Papa terlalu khidmat dalam mengheningkan cipta. Sampai-sampai sapaan anaknya tidak direspon oleh beliau.
Andi pun memberanikan diri menyentuh pundak Papa. Dan Papa pun kaget, tersadar kalau anak kesayangan itu melihat semua sikapnya.
"Pa... ada apa? Apa yang Papa pikirkan?" sapa Andi dengan lembut, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Eh gak... gak ada apa-apa kok Ndik." Jawab Papa sedikit gugup karena mungkin juga kaget ada yang menyentuh bahunya. Terkesan membunyikan sesuatu dari anak tercintanya.
"Gak mungkin, Papa gak biasanya seperti ini. Andi buat salah ya Pa?" Jawaban Papa tadi tidak cukup menyakinkan Andi. Karena Papa belum pernah sekalipun seperti itu. Dan itu membuat Andi berpikir bahwa ada something yang disembunyikan Papa darinya.
"Gak ada apa-apa sayang. Kamu mau berangkat sekolah kan? Ya sudah sana, kamu berangkat sekolah," jawab Papa sambil mengusap usap punggung Andi. Mencoba menyakinkan Andi bahwa memang tidak ada apa-apa.
"Bilang saja, gak apa-apa kok. Kalau memang Andi punya salah, Andi minta maaf. Andi gak mau Papa sedih mikirin Andi. Insyaallah Pa, Andi akan berubah." Andi masih tidak percaya akan perkataan Papanya.
"Ndik, insyaallah Papa baik-baik saja. Sudah gih, kamu berangkat sekolah sana," jelas Papa untuk yang kesekian kalinya kepada Andi.
"Beneran lho ya Pa. Kalau begitu Andi berangkat dulu Pa, assalammualaikum." Segera Andi pun berpamitan kepada Papa dengan mengucap salam dan mencium tangan Papa.
"Waalaikumsalam... hati-hati dijalan," balas Papa.
Segera Andi menaiki Nitta, tunggangannya yang selalu setia mengantar dia kemana-mana.
Disepanjang perjalanan Andi masih saja berpikir sikap Papanya yang tidak seperti biasanya. Dalam hati Andi, ada yang disembunyikan oleh Papanya.
"Aneh memang sikap Papa pagi ini. Gak biasanya Papa lupa nanyain kalau aku sudah nyiram tanaman atau belum. Kalau bukan tentang aku, terus tentang apa? atau tentang siapa? Gak tahu aku. Tapi apapun itu, Andi akan selalu mendukung Papa. I love u Papa."