
Minggu malam ini Surabaya lagi-lagi diguyur hujan deras. So pasti akan banyak kekecewaan bahkan air mata terjadi dikarenakan ada hajat yang tidak kesampaian. Tapi ada pula yang happy banget karena adanya hujan deras yang pasti akan membuat suasana tambah romantis dan... huanggatt.
Itulah sebabnya Andi minggu malam bengong home alone di rumah sampai besok. Bisa kebayang boringnya tuh. Karena Minggu malam ini Andi dan teman-temannya mau latihan band Bu mengisi acara ulang tahunnya Natalie. Gadis cuanntikk poll, siswi kelas dua SMA di sekolah yang sama yaitu SMA PERJUANGAN.
Natalie ini adalah sepupu Bastian, teman sekelas Andi yang juga anggota group band "Kid Rock" yang merupakan nama group band dari Andi dan teman-temannya.
So pasti Andi dan anggota group yang lainnya happy banget, kecuali Bastian. Khan engga mungkin Bastian terpesona sama kecantikan sepupunya sendiri.
Yang pasti ya... Andi, Robert, Fredy Dan winoto yang happy ketika diberi kabar oleh Bastian buat manggung di acaranya Natalie.
Tapi mau bilang apa, wong hari minggu malam itu hujannya deras banget. Mulai sore tuh hujannya sudah turun membasahi bumi Surabaya.
Bengong di rumah buat Andi bosan dan akhirnya memutuskan buat tidur lebih awal. Tapi sebelum tidur, muncul niat jahat buat ngejahilin Sukro. Hehehe...
"Pasti Sukro sedang asyik mimpi lenggak lenggok genit dibawah tatapan mata ayam-ayam betina montok," terka Andi berburuk sangka.
Rupanya memang benar, Sukro memang lagi ngeces dalam tidurnya, terlihat pulas banget. Mungkin memang sekarang ini sedang mimpi aduhai.
Sampai-sampai do'i engga sadar bahwa ada sepasang tangan yang sudah masuk kedalam kandangnya dan hendak membuat kejahatan yang serius kepada dirinya.
"Aaaahaaa... ayo lagi ngapain!" teriak Andi yang langsung membekak tubuh Sukro yang sedari tadi memang terbang ke alam mimpi dalam tidur pulasnya.
"Petthokkk... peettthokkk!!!" Sukro kaget luar biasa mendapat serangan mendadak dari si bos yang memang suka sekali jahil kepada dirinya.
Lalu dikeluarkan Sukro dari kandangnya sembari berkata," Hehehe... kaget ya? Memang sengaja kok! Lagian ini jam berapa kok kamu sudah tidur!"
Sukro yang masih nguantukk berat hanya bisa manggut-manggut, lemas tak berdaya. Tapi... seperti prosesor komputer, otaknya langsung secara otomatis merancang sebuah evil plan buat Andi, si bos yang hobi banget ngejahilin dirinya.
Akhirnya Sukro dimasukan kembali kedalam kandangnya. Puas sudah Andi membuat Sukro spot jantung... hehehe.
Andi pun kembali ke kamarnya untuk tidur, tanpa disadarinya sebuah evil plan sudah dirancang Sukro guna membalas semua yang dilakukan malam ini. Dan biasanya memang... Lebih... Kejam.
Seiring berjalannya waktu, hujan yang semula mengganas kini perlahan mulai reda. Dan malam pun berlanjut menjadi dini hari yang dingin. Dan hari pembalasan pun telah tiba.
Mata yang tertutup itu tiba-tiba terbuka. Seakan ada suara yang menyelinap masuk kerelung hati untuk mengingatkan "This is time for u to revenge."
Bak adegan slow motion di film-film, mata itu sekarang terbuka lebar dan... clingggg, seperti ada bintang yang keluar dari mata itu. Sukropun secara perlahan-lahan juga mulai bangun dan berdiri tegap seperti tegapnya pasukan perang Romawi. Terekam jelas diingatkannya bagaimana perih hatinya ketika rayuan gombalnya buat Siti ayam bahenol milik Lek Di, dipaksa harus bersambung. Padahal jarang-jarang lho do'i bisa mimpi seperti itu.
Sebelum melakukan aksinya, Sukro berusaha mengingat alur pembalasan dendamnya kepada si Bos. Jadi begini nih, hari ini dengan sangat terpaksa jurus kakak ke sembilan akan dikeluarkan."Kokok Halilintar Pengejut Nadi" Setelah jurus yang menakutkan itu dikeluarkan Sukro. Maka yang pertama si bosnya seperti biasa akan terbentur gitar legendarisnya, lalu setelah menghantam gitar, keseimbangannya akan kacau dan langsung bibirnya yang gak ada ****-sexinya itu dengan sukses akan mencium tembok samping ranjang si bos.
Gak cuma sampai situ, setelah peristiwa bibir dower itu terjadi, membuat si Bos uring-uringan gak jelas, sampai-sampai gak tahu kalau disamping tempat tidur itu ada kipas angin kecil. Niscaya kakinya menginjak kipas angin kecil itu, akhirnya tubuhnya terjun bebas membentur keramik lantai kamarnya sendiri. Kepala benjol, bibir dower poll berlipstik darah dan gigi rontok plus tulang remuk... sukses sudah. Pembalasanpun selesai. Dan Sukro pun tersenyum puas dalam lamunannya tersebut.
Alur pembalasan yang perfectly, bukan! Segera dengan semangat Sukro langsung mengambil kuda-kuda.. khas ajaran ilmu tingkat dewa dari kakak ke sembilan.
Power jurus ini bisa dibilang sebelas dua belas dengan aji Kumbalageni milik Prabu Dretarasta, ayahanda para kurawa. Dan ini real. Step awal untuk melakukan jurus maut ini terbilang unik bahkan cenderung aneh. Lantas Sukro pun mulai melakukan langkah awal itu dengan merapikan semua bulu-bulu indah yang membungkus tubuhnya yang gagah seperti Bima. Semuanya, termasuk ekornya.
Ini memang jurus langkah dan sempat dibilang mitos didunia ayam, maka langkah awal untuk melakukan jurus maut ini terbilang sangat aneh... yaitu... Kerapian(hehehe... Kayak mau interview saja, pakai rapi segala).
Mata yang tadinya terbuka mulai tertutup pelan-pelan. Suasana pun menjadi hening, sepi tanpa ada suara sedikitpun yang ikut nimbrung dalam ritual yang sangat dangerous itu. Aneh, bukan ? Gak juga sich, wong subuh saja belum, jadi ya sepi banget lha.
Angin yang semula lembut menerpa tubuh Sukro, perlahan mulai meningkatkan intensitas hembusannya. Selanjutnya Sukro mulai merenggangkan sayapnya, membusungkan dada, menghirup udara sekuat-kuatnya.
Paru-parunya mulai terisi penuh, siap untuk menderu kencang menghantam pita suaranya. Dan inilah"Jurus Kokok Halilintar Pengejut Nadi" yang akhirnya dikeluarkan Sukro, terlontar keras dan dasyat sekali serta ( mohon maaf ) memakan banyak "korban."
"Kkuukkuurruyyuuukkkk...!!!"
Dahsyat sekali man!!!" Mbah... mbah... bangun... bangun Mbah, gempa bumi...!" Terdengar suara-suara gaduh memecah keheningan pagi di kampung dukuh, tempat tinggal Andi selama ini.
Kondisi yang sama juga dirasakan Mama dan Papa Andi yang tadinya masih molor pulasnya.
"Pa... pa... bangun pa,
ada lindu pa... bangun!" Mama Andi yang terkejut dengan bergoyangnya rumah mereka langsung bergerak refleks membangunkan suaminya yang sedang "PW" poll itu.
Bumi gonjang ganjing, langit kelap kelip. Siapapun atau apapun yang ada di sekitar Sukro pasti terkena efek dari jurus sakti warisan eyang Panji Simatupang, ayam sakti milik Prabu Ciung Wanara. Leluhur Sukro.
By the way, semua heboh, semua terkejut, kok yang didalam kamar ini tenang2 wae ya? Dan pemandangan itu sangat mengganggu pikiran Sukro.
"Ooahhhh... mulet sek (menggeliat, terj.)... pagi Sukro yang lucu-lucunya. Kenapa? Kaget ya? Hehehe... pinter kan?" sapa Andi dengan jenaka dipagi hari buat Sukro sambil menunjuk sesuatu yang ada dikepalanya.
"Hooekkk... hooekkk... petthokkk...!!!" Demi Galih dan Ratna, Sukro kaget luar biasa bahkan histeris melihat penampakan didepan matanya itu. Matanya saja hampir loncat keluar saking histerisnya.
Apa sih yang membuat Sukro begitu histerisnya, sampai-sampai nanti do'i mogok makan kecuali... kalau laper? Jadi begini, setelah berpengalaman selama bertahun tahun harus benjol setiap hari, maka Andi pun menemui ahli spiritual license XXX yang namanya mbah Ja(bukan Tony Jaa lho ya).
Lewat mbah Ja, Andi disarankan buat Semedi, puasa patigeni, mendaki gunung dan melewati lembah buat dapat yang namanya Wangsit.
Dan memang, apabila diperhatikan saran untuk mendapatkan wangsit itu terbilang unik dan uaanehh tenan. Tapi setelah diusut dan diselidiki RT setempat ternyata mbah Ja itu dukun beranak. Jadi siapa yang salah konsul disini?
Setelah melakukan ritual itu, sesuatu yang ditunggu tunggu itu akhirnya datang juga. Tepatnya malam minggu, ketika Andi sedang melungker didalam sarung kesayangannya, hadir dalam mimpinya sosok tua dan bijak yang menyampaikan pesan dari langit.
"Cucuku... cucuku... cucuku.... Eyang tahu kamu sangat terluka. Jadi terimalah ini... Helm sakti divisi tujuh. Pakailah kalau tidur dan jangan lupa... Jangan lupa cucuku gosok gigi sebelum kamu tidur ok. Eyang mau pamit dulu... Cerio."
Begitulah kisahnya. Dan memang bukan Power Ranger yang dilihat Sukro tapi Andi yang sedang pakai helm supaya terhindar dari hiasan bulat dikepalanya yang suatu saat nanti diyakininya bisa membuat do'i gegar otak. Seakan tak percaya dengan yang dilihatnya barusan, Sukro pun tertunduk lesu. Kacian deh loe, kro!
Disaat yang bersamaan, sebuah kehangatan sedang berlangsung, berbeda jauh dengan yang terjadi di tempat tinggal Andi.
Di sebuah komplek perumahan mewah sesuatu yang santai dan kekeluargaan banget sedang berlangsung.
"Lie, dear... bangun. Mandi, terus sholat subuh sayang," sapaan lembut mencoba membangunkan putri cantik yang memang lagi asyik tidur.
"Natalie, sayang... ayo bangun. Eenncup." Diciumnya kening putrinya yang manja itu dengan penuh kasih sayang.
"Ooahhhh... Hmmm Mama, masih ngantuk nih," protes kecil sosok cantik ini kepada Mamanya yang sangat penyabar itu.
"Ayo bangun, sayang. Mandi, terus sholat subuh sayang, anak gadis itu harus bangun pagi. Katanya kemarin mesti berangkat pagi-pagi, mau ngasih undangan ke mas bro berkumis itu." Masih dengan lembut Mama Natalie berusaha membangunkan putri cantiknya dan kali ini dengan sedikit menggoda anak bontotnya itu.
"Apaan sih Mama ini? Ya... ya... Lie bangun." Dengan nada manja, Natalie mengkomplain Mamanya yang barusan memggodanya.
Setelah mandi dan sholat subuh, Natalie pun menghampiri Mama di meja makan yang tengah tenang dengan secangkir kopi dihadapannya.
"Pagi Ma." Natalie mengucap salam
"Pagi juga, sayang. Eh... mau kopi atau teh, cantik?"
"Teh saja, Ma."
"Sebentar ya, dear." Dengan perlahan Mama Natalie menuangkan teko teh hangat ke sebuah cangkir cantik yang kosong.
"Ini sayang, tehnya."
"Terima kasih, Ma. Hhhmmm... Wangi sekali, Ma."(Kok jadi kepengen ya... Hehehe).
"Hhhmmm... Ma, kapan Papa pulang?" Natalie memulai percakapan.
"Insyaallah minggu depan, sayang."
"Kok lama sih, Ma? Ngapain saja sih di Ausi?" tanya Natalie lagi.
"Papamu kan mengurus kuliah kakakmu, Dina. Bukan cuma itu, sayang. Cari apartemen buat kakak, kan sementara ini Dina tinggal di rumah om Hendra. Lagian kamu juga yang engga mau ikut. Apa jangan--jangan kamu sengaja tidak mau ikut ke Ausi, ada hubungannya sama mas bro yang berkumis itu?" Masih saja Mama Natalie menggoda anak gadisnya yang mungkin sedang jatuh cinta.
"Mulai deh, Mama mancing-mancing. Aacchhh... engga usah bahas itu ya Ma." Natalie berkelit dengan pipinya yang bersemu merah karena malu.
"Kamu suka sama dia, sayang?" Perlahan Mama Natalie mulai menyelidiki anak gadisnya yang manja itu.
Natalie terdiam sejenak mendengar lontaran pertanyaan tanpa basa basi dari Mamanya. Lurus tepat mengenai hati Natalie yang sebenarnya ingin menjawab....
"No, Mother. I don't like him... But i love him very much." Natalie membatin
"Honey, why are you so quiet?" Terdiamnya Natalie mulai membuat Mama curiga.
"hhhmmm... Oh ya Ma, Natalie baru ingat kalau hari ini hari Senin.... banyak tugas. Natalie mau siap-siap dulu. Muuuaaccchhh..." Natalie pun bergegas meninggalkan Mamanya setelah memberikan kecupan sayang ke pipi Mamanya tercinta.
Mama Natalie tahu kalau Natalie sengaja mengalihkan pembicaraan, sehingga Natalie pun mengambil langkah seribu untuk bergegas menghindar dari pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang mungkin akan lebih tajam dan menembus sasaran.
"Tak terasa 17 tahun sudah kamu lewati Lie. Sekarang kamu dewasa sayang... benar, sekarang kamu dewasa," gumam Mama Natalie yang sangat paham bahwa gadis kecilnya sudah mulai merasakan....jatuh cinta.