Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
THE SPECIAL CLASS EVER



Melihat para tamu yang menggunakan mobil sedan mewah itu sudah keluar semua, Pak Asbi, security alias satpam SMA Perjuangan bergegas menuju kearah Tante Maya beserta kedua keponakannya yang sudah memakai seragam SMA. Putih abu-abu.



"Selamat pagi Ibu, ada yang bisa saya bantu?" sapa Pak Asbi dengan tersenyum ramah.



\*Selamat pagi juga Bapak, hhhmmm... Pak Wiratnonya ada?" balas Tante Maya dengan senyum ramahnya pula.



"Kepala sekolah? Oh, ada Ibu. Kebetulan beliau baru saja datang. Mari saya antar ke kantor Pak Wiratno," jawab Pak Asbi kepada Tante Maya.



"Pak Acheng, tolong tunggu sebentar ya. Gak lama kok." Tante Maya berpesan singkat kepada sopir pribadi yang sudah lama mengabdi di keluarganya.



"Ya Ibu, silahkan. Saya tunggu," balas Pak Acheng dengan sopan.



"Mari Ibu, silahkan. Saya antar ke kantor beliau. Mari ikuti saya." Pak Asbi kemudian mengantar Tante Maya, Andien dan Ajeng ke kantor Kepala sekolah.



"Ini sekolahan aneh, serem. Bangunannya kuno. Kayak Rumah Sakit. Pasti yang sekolah disini, anak-anak aneh." Andien berkata dalam hati ketika langkahnya mulai mendekati sebuah pagar besi yang berfungsi sebagai pembatas antara halaman sekolah dan ruang belajar mengajar.



Hampir sama dengan Andien, mata Ajeng mengarah dan mengamati sekelilingnya.



"Ya Allah, ini sekolah kelihatannya angker. Serem banget. Kok bisa ada yang bersekolah disini ya? Papa tega banget. Aku dan kak Andien didaftarkan disini. Hii... serem!" gumam Ajeng dalam hati yang punya pikiran aneh-aneh terhadap bentuk bangunan dan suasana yang ada disini.



Tenang saja, baby. Di SMA Perjuangan ada ahlinya ahli, pakarnya-pakar, kalau masalah hantu, setan, demit dan sohib-sohibnya. Dan hari ini kalian akan bertemu dengan Sang Mantan... eh salah... dengan Sang Master, maksudnya.



"Ayo masuk. Tuh cewek-cewek cantiknya juga sudah masuk." Fredy mengkomando teman-temannya untuk segera masuk sekolah.



Tak ayal suasana yang tadinya biasa-biasa saja, jadi heboh, bising dan menyakitkan mata.



Kalau heboh dan bising, masih bisa dinalar. Ya, karena mereka ini seperti geng motor. Nyalain mesin motor bersamaan, membetot gas di tempat bersamaan dan menuju sekolah juga bersamaan. Pantas Khan!



Tapi kok bisa menyakitkan mata!?



Masih ingat siapa tersangka yang memproduksi asap tebal? Kalau masih ingat, Alhamdulillah. Dan doakan, semoga mereka sampai ke sekolah dalam keadaan sehat walafiat. Terhindar dari lemparan sepatu roda, galon air minum, kompor, elpiji, lukisan pegunungan, atau apapun itu dari warga sekitar. Amien.



Sebagai kakak-kakak tertua, kedatangan mereka memang sangat dinantikan. Dinantikan guru-guru untuk dihukum. The Eight Elemen. Itu julukan yang pantas buat mereka.



Untuk Hari Senin ini, formasi mereka tidak utuh seperti biasanya. Dan itu memang sering terjadi. Tapi kalau semuanya ada, bakalan ada air mata yang menetes di pipi, air hujan, air sumur, air ledeng dan lain-lain. Pokoknya dimana air yang mengalir sampai jauh.



Yang satunya bolos mancing, ditemani seorang gadis cantik, satunya lagi juga bolos, tapi bukan karena ada niatan dari rumah, karena lupa kalau hari ini do'i sekolah.



"Lie, kita berhenti dulu di warung ini, ok?" kata Andi menoleh kekanan memberi tahu kepada Natalie.



"Lie, ayo turun dulu. Hei, Lie... kamu tidur ya?" Andi meminta Natalie untuk turun, tapi rupanya cewek cakep yang diboncengnya, masih terbuai dalam angan bahagianya. Tangan masih melingkar di pinggang pemboncengnya, mata terpejam sambil senyum-senyum sendiri dengan kepala bersandar di punggung pemilik Nitta ini.



"Beneran tidur kali Natalie ini, kok gak jawab," pikir Andi.



"Tik... kitik... kitik.. kitik..." Tangan kanan Andi bergerak kebelakang, ke pinggang Natalie dan menggelitiknya.



"Aahhhhh... geli Bay! Nakal banget kamu (tapi suka Khan...)." Natalie menjerit, menggerak-gerakan pinggangnya yang terasa geli dengan sedikit protes kecil. Tentunya dengan nada manja.



"Habisnya kamu, aku panggil-panggil, gak jawab. Terpaksa aku gelitiki kamu," ucap Andi memberi penjelasan.



"Yuk, turun dulu. Kita beli nasi bungkus di warung ini." Andi meminta Natalie turun.



"Tapi Bay, aku gak lapar," jelas Natalie.



"GR. Bukan buat kamu, kok!" balas Andi.



"Buat kamu?" tanya Natalie kepada Andi.



"Bukan juga. Turun dulu yuk, kamu kalau mau minuman dingin, ambil saja. Aku nanti yang bayar." Perkataan Andi membuat Natalie bingung. Bukan buat aku, juga bukan dia. Terus buat siapa?



Andi memarkir Nitta dengan rapi. Lalu mereka pun turun dan masuk ke dalam warung sederhana Ibu Siti.



"Pagi Ibu, assalamualaikum..." sapa Andi dengan ramah kepada pemilik warung. Ibu Siti.



"Waalaikumsalam... Eh, Mas Bayu, apa kabar? Tumben pagi ke warung Ibu," balas Bu Siti dengan senyum dan ramah.



"Alhamdulillah, baik Ibu. Kabar panjenengan baik juga?" Tak lupa Andi ganti menanyakan kabar pemilik warung bertubuh subur ini.



"Alhamdulillah, seperti yang Mas Andi lihat. Ibu sehat. Eh... bawa teman cewek baru tho! Yang dulu itu kemana?" tanya Bu Siti to the point. Gak pakai bisik-bisik.



"Baru? Yang dulu? Siapa? Memang Bayu punya mantan?" Banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam pikiran Natalie ketika mendengar perkataan Bu Siti. Terkejut juga sih.



"Oh Karina, maksud Ibu. Yang sore-sore itu kan. Dulu itu cuma kebetulan. Motornya di bengkel. Saya lewat depan bengkel itu. Sekalian saya antar pulang. Begitu ceritanya." Untung cerita sudah selesai. Tamat. Coba kalau to be continued... bisa mikir terus Natalie ini.



"Oh begitu ya. Aduh-aduh, cantik sekali kamu, Nduk. Kayak artis. Siapa nama kamu, Cantik?" Kemudian pandangan Bu Siti mengarah ke Natalie. Dan dipujinya habis-habisan.



"Ibu bisa saja. Terlalu berlebihan. Nama saya Natalie, Ibu." Natalie tersipu malu oleh pujian Bu Siti yang selangit kepadanya. Didepan Andi lagi. Tambah merah pipinya. Senyumnya itu lho... eh...ehhhh... gak kuat...



"Ibu gak berlebihan. Wong kamu memang cantik sekali. Sudah cantik, sopan. Ibu mana yang gak kepengin kamu jadi menantunya." Semangat sekali Bu Siti memuji Natalie.



"Mas Bayu pintar cari pacar. Aduh.. hati Ibu ini ikut bahagia lho melihat kalian berdua." Sekali lagi Bu Siti main poin saja.



Dikatakan sudah jadi pacar Andi. Natalie menunduk. Dikembangkannya senyum cantiknya. Tenggelam didalam rambut hitamnya yang indah.



Tanpa membantah perkataan dari Bu Siti, Andi segera memesan dua nasi bungkus.



"Hhhmmm... Bu, nasi campurnya dua, seperti biasa dibungkus, tambah es teh dua juga, dibungkus juga." Andi memesan makanan dan minuman kepada Bu Siti.



"Lho, kok cuma dua bungkus, mbak Natalie yang cantik ini gak dibeliin, Mas? Kan biasanya dua bungkus itu buat Mas Andi semua," tutur Bu Siti tentang kebiasaan pelanggannya itu.



"Tadi saya sudah nawarin kok. Katanya masih kenyang, Ibu." jelas Andi



"Yo wes kalau begitu, Ibu buatkan. dulu semua. Silahkan duduk. Mas Andi... mas Andi, makannya banyak tapi kok gak gemuk-gemuk. Enak punya badan kayak situ. Bisa diajak kompromi," kata Bu Siti sambil berlalu menuju ke dapur warungnya.



"Nawarin? Kapan? Suka bohong juga rupanya," gumam Natalie dalam hati.



Selang beberapa menit kemudian, semuanya sudah siap. Tinggal dibayar dan dibawa oleh Andi.



Setelah membayar semua. Andi pun berpamitan kepada Ibu Siti. Dan siap melanjutkan perjalanan bersama Natalie.



"Bay, sebenarnya nasi bungkus itu buat siapa sih?" tanya Natalie yang sudah berada diatas pelana Nitta. Membonceng Andi.



"Nanti juga kamu tahu sendiri. Siap? Pegangan seperti tadi ya." Andi menyalakan mesin motornya. Sebetulnya gak perlu diingatkan soal berpegangan itu. Tanpa diminta pun, Natalie pasti akan melingkarkan lagi kedua tangannya. Memeluk erat dengan mesra.



Andi lalu melanjutkan perjalanannya. Dengan kecepatan standar Nitta melaju. Sudah lumayan jauh motor bebek kesayangan itu bergerak maju menyusuri jalanan.



Dan ketika tanpa disengaja, Andi melihat sesuatu. Lalu mendekat dan berhenti tepat didepannya.



"Pagi Ibu, ini saya ada rejeki. Tolong diterima." Andi memberikan dua nasi bungkus dan es teh itu kepada seorang Ibu setengah baya bersama anak perempuannya yang kira-kira berumur 9 tahunan.



Seorang Ibu dan anak perempuannya yang sedang memulung sampah. Momen itulah yang sedang dilihat oleh Andi.



"Ya Allah. Terima kasih banyak, Mas!" Senang sekali Ibu itu menerima pemberian dari Andi.



"Terima kasih, kakak!" Gadis kecil itu juga senang sekali dengan pemberian Andi.



"Semoga Allah membalas kebaikan Mas." Doa tulus seorang Ibu untuk seseorang yang tidak dikenalnya.



"Sama-sama Ibu, adek kecil. Jaga diri baik-baik dan semoga lancar. Saya pamit dulu." Andi pun segera melanjutkan perjalanan setelah niatnya tersampaikan.



"Sekarang aku baru tahu, Bay. Bukannya kamu gak bisa gemuk. Karena memang nasi-nasi bungkus itu bukan buatmu, tapi buat orang lain yang lebih membutuhkan. Dan ini sering." Natalie yang melihat semua itu... terdiam.



Terus berkata dalam hati dengan kalimat penutup, "You make me more love u."




Bel kedua telah berbunyi. Tanda kegiatan belajar mengajar telah dimulai. Semua siswa-siswi masuk kedalam kelasnya masing-masing.



Berbeda dengan kelas-kelas lainnya. Mungkin kalimat "ramai seperti pasar" sudah sangat familiar di telinga murid-murid sedunia.



Gak cuma seperti pasar. Tapi juga seperti medan perang suasana didalam kelas IIIA3.



"Ayo-ayo, silahkan yang mau cukur rambut! Tempat terbatas!" Mat Roy berteriak menawarkan keahlian turun temurun dikeluarganya.



"Ini ceritanya, aku jadi wartawan dan kamu jadi Menteri Tenaga kerja. Ini sesi wawancara ya, Ted," jelas Harris kepada Tedy.



"Pak Menteri, apa tanggapan Anda terhadap tenaga kerja Indonesia?" Lagak Harris yang lagi akting sebagai Wartawan.



"Begini Bung Harris... Ehhhh... menurut kaca mata Paman saya, Ehhhh... tenaga kerja Indonesia banyak kekurangan. Yang diantaranya... kurang olah raga dan kurang lucu. Paham kan maksud saya?" Sebuah pernyataan dari Seorang Menteri yang koplak.



Sebagai Duta perdamaian dan persahabatan, antara dunia daratan dan lautan. Ludovic, mati-matian berlatih agar penampilannya di konser yang bertajuk "Menyelami Laut Melepas Jiwa" sempurna.



Konser yang akan diadakan di Keraton Raja Naga Timur itu, akan sangat ramai, megah dan bertabur bintang.



"Jjjrrreeenggg... jjjrrreeenggg... persahabatan bagai ke... ke... bagai ke apa ya? Kecoak, kepompong atau kereta ya? Wadooohhhh... kok aku lupa!" Ludovic rupanya lupa syair lagunya. Makanya Vic, jangan kebanyakan makan kodok. Jadi begitu deh.



Dimeja tengah tampak seorang siswi bertubuh subur dengan puluhan hp second yang ditatanya barusan.



Ira atau gembul namanya. Memang do'i punya counter hp di rumah. Belajar di sekolah sekalian berbisnis. jadi keduanya bisa berjalan dengan lancar.



Dan tiba-tiba beberapa hp yang ada diatas meja Ira berbunyi bersamaan.



"kkkkrrrriiingggggg!... kkkkrrrriiingggggg!... kkkkrrrriiingggggg!..."



"hhuuuu... uuuuuu... siapa sih telpon pagi-pagi begini! Gak tahu ini lagi repot banget!" gerutu Ira diawal pembukaan bisnis masa depannya.



"Ya, Hallo. Mama, Ira mana tahu kenapa harga cabai sekarang naik! Ada-ada saja Mama ini. Sudah, Ira sibuk ini. Banyak customer, ok? Bye... (pleekk)." Setelah menutup telepon yang ternyata dari Mamanya. Ira langsung mengangkat telepon berikutnya. Sibuk sekali do'i ini.



"Ya, hallo... apa!? Bunuh diri? Silahkan! Jangan lupa kirim undangan pemakaman kamu (pleekk)!" Biasa dari mantan yang pengin balikan. Bunuh diri... lagu lama mas bro.



"Ini lagi, apa!?... Oh Om Cokro, maaf, saya kira orang iseng... jangan dong Om, itu sudah harga soulmate banget. Itu Hp limited edition, Om. Peninggalan Raja Singosari, Alibaba. Gimana jadi Om beli?" Rayuan gombal Ira supaya barangnya laku. Ira... ira, kamu tuh mau jual Hp atau keris sih? Teerrr... laa... luu.



"Jadi langkah awal, teman-teman, kompornya dinyalakan dulu," jelas Linda atau tuyul didemo masaknya edisi camilan ala Amazon ini. Banyak teman-teman cewek yang mempunyai hobi kuliner bergerombol mengelilinginya.



"Langkah kedua, panci yang tadi sudah diisi air, taruh diatas kompor portabel ini. Oh ya, apinya jangan terlalu besar, ok?" Linda menjelaskan tahapan-tahapan membuat kue khas suku Maya ini layaknya seorang MasterChef profesional.



"Terus... terus... gimana selanjutnya, Lin?" tanya Aihun yang gak sabaran. Pengin cepat-cepat tahu hasil akhirnya. Dan ikut makan gratisan.



"Sabar ya teman-teman. Selanjutnya, masukan telur yang sudah dikocok ini. Kemudian baru masukan ini." Linda mengambil sesuatu berwarna hitam, padat, terpotong kecil-kecil tidak beraturan.



"Apa itu, Lin?" tanya Aihun lagi.



"Aspal." Menjawab tanpa perasaan bersalah si Linda ini. Terus memasukan potongan-potongan kecil itu ke dalam panci. Lalu mengaduknya.



"Oh... aspal. Cepat catat-catat teman-teman," pinta Aihun kepada teman-temannya yang melihat demo masak Chef Linda Tuyul.



"Oh ya teman-teman, sebelum mencicipi masakan ini, jangan lupa berdoa lho..." Pesan singkat dari seorang MasterChef.



Dan memang benar itu. Jangan lupa berdoa. Semoga gak ada yang masuk Rumah Sakit, ok?



Kartika air matamu. Penggalan syair lagu dari Akhmad Albar dan Gito Rollies memang cocok menggambar peristiwa berikut ini. Namanya sama lagi dengan judul lagu mereka... Kartika.



"Waaaheee gillla!!! Jahat!!! Aaaaccchhh!!!... tolong.. tolong... gelap!" Teriak keras dari seorang cewek bersuara cempreng, yang kepalanya ditutupi karung goni oleh Wahe dari belakang. Tega nian...



"Hhh^e^e^e... hhh^e^e^e... hhh^e^e^e... Wahe jaahaattt!" Teriakan Kartika berubah menjadi tangisan hujan rintik-rintik. Dan semua cuek. Gak ada yang menolongnya. Kartika... Kartika, air matamu... sedih deh...



"Kamu salah, Jean! Bukan itu caranya." Andresen menghapus semua tulisan kapur di tembok kelas. Di belakang mereka persis.



"Sok tahu kamu, Sen! Coba jelasin! kalau memang jago," tantang Jean Liesman kepada adiknya.



"Begini! Perputaran roda ekonomi dunia akhir-akhir ini, membuat kondisi cuaca semakin sulit untuk diprediksi. Maka berdasar pada buku science yang ditulis Godzilla, solusi untuk masalah ini menggunakan perhitungan matematis. Dimana perhitungan gravitasi bumi dikurangi kecepatan meteor dibagi jumlah ikan di dunia, akan menghasilkan sebuah tekanan dashyat. Paham sekarang kamu, Jeans!?" Benar-benar khas seorang Pakar, Andresen Liesman menjabarkan ilmu pengetahuan tingkat Dewa kepada kakaknya, Jean Liesman. Hebat bukan! Belum tentu Albert Einstein tahu tentang cara menghitung kecepatan meteor... hehehe... Andresen dilawan...



"Aku jadi Spiderman, dan kamu jadi penjahatnya, ok Kel?" ucap Robert selaku Sutradara dan pemeran utama membagi peran.



"Lho kok aku jadi penjahatnya!? Lagian mana ada Spiderman gendut!? Terus ini, apalagi, Di episode mana, penjahat Spiderman pakai topeng kelinci kayak gini!? protes Mikel yang terheran-heran terhadap ide cerita dan pembagian peran ala Robert.



"Cerewet kamu, Kel! Sudah cepat pakai saja! Yang ngajak bermain Khan aku! Terserah aku dong!" Jengkel juga dengan Mikel yang banyak complain.



"Ya... iya... aku nurut. Nih sudah aku pakai topeng kelincinya. Terus apa?" Terpaksa Mikel mengalah. Daripada ikut-ikutan gila.



"Hhhiiiattt... rasakan senjataku Monster Kelinci... Tongkattt... Sakkktiii..." Pikiran Robert memang licik. Belum apa-apa, adegannya lansung ke pertempuran. Mentang-mentang tubuh Mikel ini small ya!



"Stoppp!... stoppp!" protes lagi rupanya si Mikel ini.



"Ada apa lagi sih, Kel!" Robert balas memprotes Mikel.



"Sebentar... sebentar...Dot! Setahuku Spiderman itu senjatanya jaring laba-laba. Kok ini Tongkat Sakti! Tongkat Sakti itu senjata Sun Go Kong," jelas Mikel yang berusaha keras membawa Robert ke jalan yang lurus.



"Ceeereeewettt! Rasakan ini! Hhhiiiattt...!" Robert rupanya gak sabar banget "menghajar" Kelinci KW yang banyak protes ini. Dengan menjadikan gulungan karton manila yang panjang sebagai Tongkat Sakti, bocah indigo ini mulai melakukan aksinya.



"Aaaaccchhh... setannnn...!"



Mikel yang berperan sebagai Kelinci itu, sontak kabur. Lari muter-muter kelas menghindari kejaran Robert.



"Puji Tuhan. Penjualan nasi bungkus ku lumayan banyak hari ini. Kalau begini terus, cita-citaku buat buka depot bisa cepat terwujud," angan Sofie ketika menghitung penjualan nasi bungkusnya hari ini.



Semangat terus Susi. Kejar impianmu. Teruslah berjuang demi masa depanmu, Susi.



"Iiihhhh... sebel deh! Nama saya Sofie. Bukan Susi," protes Sofie sambil matanya melihat keatas. Seakan do'i tahu ada yang salah lagi menyebut namanya.



"Winoto, are you ready? All Percussions, are you ready? Coldplay mania, are you ready, guys?" Para pecinta Coldplay yang dikomandoi oleh Fredy mulai ikut meramaikan suasana.



Semua benda yang bisa dijadikan alat musik alternatif numplek disini. Mulai meja, kursi, galon air minum, botol minuman bersoda sampai sisir rambutnya si Rambo ikut dalam konser perdana pagi ini.



"Let's sing together, ok?" ucap Fredy kepada teman-temannya.



"Teng... tengteng... tengteng... tengtengtengtengteng... tenteng... Oh Angel sent from up above. You know... You make my world light up... Oh I... oh I.... oh I... Got me feeling drunk and high... so high... so high..."



Hafal sekali rupanya Fredy, Winoto dan teman-temannya dengan syair lagu "Hymn For The Weekend" dari Coldplay ini



Bernyanyi bersama-sama tanpa punya pemikiran bahwa konser mereka akan mengganggu kelas yang lain.



Dan gak cuma bisa mengganggu kelas-kelas lain. Tapi juga bisa membuat orang yang lewat didepan kelas IIIA3 ini heran.



"Maaf, Mas Wir, kok kelas yang baru saja kita lewati itu ramai sekali ya? Apa gak ada gurunya?" tanya Tante Maya kakak sepupunya yang jadi Kepala Sekolah itu.



"Oh, Kelas IIIA3. Itu biasa May. Itu kelas spesial yang pernah ada disini. Dan kalau soal gurunya, nanti ada kok guru yang mengajar. Biasa menit-menit terakhir pelajaran selesai, mereka baru datang.



"Spesial bagaimana maksud, Mas?" Tante Maya rupanya keheranan mendengar penjelasan Kepala Sekolah SMA Perjuangan itu.



"Ya spesial. Semua anak yang punya masalah pikirannya dijadikan satu kelas. Bukan berarti mereka punya kelainan lho ya! Hanya saja cara mengekpresikan diri terlalu berlebihan. Butuh kesabaran untuk membimbingnya." jelas Pak Wiratno, yang masih tidak dimengerti oleh Tante Maya.



Daripada pusing-pusing mikir, Tan, mending kita nyanyi saja, ok?



Together...



"Oh I... oh I... Oh I... Got me feeling drunk and high... so high... so high..."


.