
"Awas ya! Kalau ketemu, aku tinju muka kamu! Lihat saja nanti!" Marah bercampur malu. Karena baru kali ini ada cowok yang berani menghipnotisnya. Begitu rupanya pemikiran Andien.
"Tapi kenapa ya? Aku kok bisa menuruti semua perkataannya? Dari jauh, perasaan biasa-biasa saja. Tapi dari dekat... tadi... rasanya... hati ini seperti ada berbunyi "Tek" gitu." Sambil menyetir, Andien mencoba menganalisa kejadian tadi.
"Suara itu... seperti anak panah yang menembus jantung. Nadanya memang agak keras sih! Biasa tapi tegas. Dan matanya... mata itu warnanya coklat bening. Menatap tajam. Tapi anehnya aku suka ditatap seperti itu. Wajahnya yang sedikit kotor oleh tanah, seperti pernah aku lihat. Tapi dimana ya?" Andien berbicara sendiri didalam mobil. Tetap menganalisa kejadian yang menimpanya.
"Aaccchh... bingung aku! Pokoknya kalau ketemu lagi... uhh... uhh... pasti benjol semua dia!" Tekad Andien kala itu. Tetap memegang kendali stir. Kembali pulang ke rumahnya.
Sementara itu, sepasang mata sedang menatap tajam, fokus dengan konsentrasi penuh. Memperhatikan gerak-gerik sebuah sosok putih yang datang tiba-tiba.
Tetap diam menunduk, menanti gerakan selanjutnya dari sosok itu. Dan tamu tak diundang ini benar-benar tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya.
Pernafasannya mulai diatur. Sebagai tanda... ini adalah saat yang tepat untuk bergerak maju. Tetap menunduk, tetap fokus, perlahan-lahan menglangkahkan kakinya dalam posisi terlipat itu. Benar-benar profesional rupanya si pengintai ini.
Sosok yang diintai tetap santai. Kepalanya mendongak keatas. Melihat sasaran yang tepat diatasnya.
Nyaris tak terdengar. Si pengintai ini terus maju perlahan mendekati sasaran. Matanya terpejam sejenak. Seakan merapal mantra sebelum melakukan gerakan yang mengejutkan.
Mata itu akhirnya terbuka kembali. Dan.... ini saatnya!....
"Jurus Melayang Di Lautan". Jurus lain warisan dari kakak ke sembilan.
Secara tiba-tiba, Sukro meloncat ke udara. Sayapnya mengembang sempurna. Matanya melotot, menatap tajam kucing putih yang hendak menjadikan Sastro camilan di siang hari.
Cakar-cakarannya mengeras bagaikan batu. Mengarah tepat ke sasaran. Pasti menghujam dengan dahsyat. Membuat luka yang parah apabila Ceming, kucing putih milik Pak Slamet ini tidak segera menghindar.
"Pppeeeeeetttthhhooookkkk!!!"
Kaget sekali si Ceming mendapat serangan mendadak dari The Bodyguard Of This House ini.
"Mmmeeeooongggg!!!"
Gerakan reflex yang baik, dipertontonkan si Ceming, menghindari cakar besi Sukro.
"Jeeluuusss...jjlleebbbb..."
Cakar itu menghujam turun menembus tanah dengan hebatnya.
Untung saja si Ceming menghindar dengan cepat. Kalau masih melongo seperti di sinetron-sinetron itu, ya sudah pasti wasalam deh.
Belum sempat si Ceming membalikkan badan, dengan cepat Sukro mencabut cakarnya lalu bergerak bak The Flash, menggebrak menyerang Ceming. Cakar dengan kuku hitam yang tajam ditambah jalu setajam silet memang tak ada lawan.
\*Mmmmeeeeeoooonnggg!!!"
Ceming pun kabur. Lari tunggang langgang, meninggalkan area pertempuran. Tubuhnya kesakitan setelah terkena gebrakan Sukro yang super cepat dan super keras itu. Seperti adegan Superhero, bergerak cepat tanpa berpikir, menghajar musuh-musuh nya. Kayak di film-film itu.
"Plokkk... plokkk... plokkk... kkuuruuuyyukkk!"
Berdiri tegak, memandang musuhnya yang lari terbirit-birit. Sukro lalu melakukan selebrasi khas bangsa ayam. Pertanda kalau dia adalah The Winner.
Dengerin ya Ceming... Sukro itu profesional! Selalu menjalankan pekerjaannya dengan baik. Ini masih jam kerjanya Sukro. Nanti sore-sore tuh, baru Sukro itu off...
"Kalau sore, aku juga take a rest! Memangnya aku kucing apaan! Gila!" Protes Ceming setelah mendengar saran yang menurutnya konyol. Ngeloyor lemas mengarah ke rumah majikannya, Mr. Slamet....
"Andien, kenapa kamu, sayang? Ada masalah? Tentang Papa kamu lagi?" Tante Maya mendekat dan duduk disamping Andien. Kala mengetahui keponakannya ini duduk di sofa dengan wajah cemberut.
Andien memang sudah pulang. Masuk kamar, mandi dan keluar lagi dari kamarnya. Duduk di sofa, masih jengkel kepada cowok yang menurut gadis cantik ini telah menghipnotisnya.
"Tan... aku ini cantik gak sih?" tanya Andien.
"Kenapa? Kamu tiba-tiba nanyain itu. Off course... kamu itu cantik sekali, sayang. Almarhumah Mama kamu, Midori Tokugawa Hideyoshi adalah wanita yang sangat cantik. Sudah pasti, anak-anak gadisnya pun cantik-cantik," jawab Tante Maya sambil membelai wajah keponakannya yang berwatak keras ini.
"Kenapa sih kamu itu? Cerita sama Tante..." Tante Maya mencoba mencari tahu penyebab Andien jadi cemberut seperti ini.
"Biasanya kalau cewek cantik itu indentik smart, pinter, gak o'on. Kok tadi aku dibuat seperti orang o'on!?" balas Andien dengan pemikirannya sendiri tentang seorang gadis yang terbilang cantik.
"Andien, kecantikan itu gak ada hubungannya dengan kecerdasan. Banyak kok wanita yang cantik tapi lemot. Tapi kamu gak termasuk yang golongan lemot tadi. Kamu itu cantik dan juga smart. Ini sebetulnya ada apa sih? Cerita yang jelas, yang lengkap ke Tante," jelas Tante Maya kepada keponakannya yang cantik itu.
"Jadi begini Tan... tadi itu aku dihipnotis sama seseorang..." kata Andien yang mulai bercerita. Tapi tetap berdasarkan pemikirannya sendiri.
"Apaaa! Kamu dihipnotis! Ada yang hilang gak!? Hape, dompet, uang... Kamu gak diapa-apain kan! Kamu dilecehkan gak!?... ini Papamu harus tahu! Lihat saja kalau Papa kamu tahu... bisa-bisa dikubur tuh orang yang menghipnotis kamu..." Panik sekali Tante Maya setelah mendengar perkataan Andien. Segera tangan dan matanya memeriksa wajah, tangan, lengan, tubuh keponakannya itu dengan seksama.
"Apaan sih Tante ini! Risih tahu! Andien itu gak apa-apa! Cowok itu gak menyentuh Andien sedikit pun!" jelas Andien kepada Tantenya itu.
"Katanya dihipnotis? Kok kamu bilang gak apa-apa! Gimana sih! Yang benar Andien kalau ngomong!" Tante Maya bingung juga mendengar penjelasan gadis cantik ini.
"Andien, memang merasa dihipnotis sama tuh cowok, Tan. Habisnya, Andien itu langsung nurut semua yang dikatakan cowok itu. Disuruh masuk mobil, Andien masuk mobil. Dia minta kacang sukro yang baru Andien beli, eh Andien kasihin juga! Namanya apa hayo kalau bukan dihipnotis kalau gitu?" Penjelasan Andien terkesan aneh juga lucu menurut Tante Maya.
"Andien... Andien, Tante kira kamu benar-benar dihipnotis! Ternyata kejadiannya seperti itu toh! Itu namanya bukan dihipnotis, sayang! Kamunya yang terpesona lihat tuh cowok. Ada-ada saja kamu itu, Andien." Tante Maya memberikan penjelasan yang logis kepada keponakannya yang cantik itu.
"Terpesona!? Yang benar saja, Tan! Sudah rambutnya gondrong, mukanya belepotan, motornya jelek, dari sisi mananya penampilan seperti itu bisa membuat Andien terpesona? Jadi pasti dia sudah menghipnotis Andien... ya... dia itu tukang sihir. Iiihhhh... amit-amit!" Andien membantah semua yang dikatakan Oleh Tante Maya mati-matian.
"Ya, terserah kamu. Tapi menurut Tante... kamu memang terpesona sama cowok itu. Lha itu buktinya, kamu ngotot bantahinnya." Tante Maya masih yakin dengan perkataannya. Bagaimana pun juga dia dulu kan pernah muda. Jadi pengalaman hidupnya banyak.
"Ngotot sih gak, Tan! Tapi..." Sekali lagi Andien berusaha menyakinkan Tantenya, kalau dia tidak terpesona. Namun belum sempat Andien meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Ajeng nimbrung. Memberi sesuatu kepada kakaknya itu.
"Kak Andien, ini buku komiknya. Sudah selesai Ajeng baca. Bagus cerita nya." Tanpa disadari keduanya, Ajeng datang menghampiri Andien dengan memberikan sebuah buku.
"Itu bukan komik, Ajenggggg! Itu buku kisah pewayangan. Bima Sang Ksatria Pringgodani. Lha!... ini... ini... orangnya yang menghipnotis Andien... wajah di cover buku ini... mirip!" Tiba-tiba Andien berteriak ketika tak sengaja matanya melihat karakter gambar yang ada di cover buku kisah pewayangan itu.
"Andien... ada apa!? Kesambet ya kamu!?" Tante Maya kaget banget mendengar Andien yang tiba-tiba berteriak itu.
"Ya ni kakak! Bikin kaget saja! Ada apa sih!? sampai teriak gitu." Tidak cuma Tante Maya yang kaget, Ajeng juga kaget.
"Anu... Tan, wajah cowok itu mirip wajah Bima di cover buku ini. Rambutnya gondrong, ikal, berkumis, matanya coklat, wajahnya pria banget gitu, apalagi ada sedikit tanah kering diwajahnya itu. Sama kan kayak yang di cover ini!" Penjelasan Andien kali ini berbeda dengan yang tadi. Lebih slow, telunjuknya mengarah perlahan mengikuti lekuk wajah Bima yang ada di cover buku itu.
Semua melihat, Tante Maya dan Ajeng melihat expresi wajah gadis cantik ini. Seakan ada kerinduan yang menggoda hati cewek yang suka pada olah raga kick boxing ini. Rindu kepada cowok yang telah membuat dirinya terhipnotis itu. Dan keduanya sama-sama melongo melihat Andien seperti itu.
"Nanti malam... semua beres. Suruh anak buah kamu yang bodoh-bodoh itu menyingkir! Dan ingat! Ini Jobku. Aku pasti menghabisi Penyihir itu nanti malam...(pleekk)" jawab Pria perlente yang tadi bertemu dengan Papanya Andi, dan langsung mematikan hapenya.