Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
IT HURTS



"Aahhh... sakit, Ma!"



Andi yang lagi mikirin omongan Papanya tentang Kuku Pancanaka itu, tiba-tiba berteriak, tatkala hidung cowok berkumis ini disentuh Ibu Roro. Mama Andi.



"Hidung kamu, kenapa? Memar begitu. Habis berkelahi ya, kamu tadi?" Secara tak sengaja, pandangan mata Mama Andi mengarah ke wajah anak kesayangannya itu. Ada yang tidak biasa dengan wajah itu.



Diamatinya wajah anak tunggalnya itu. Dan benar saja, ditemukan oleh Ibu Roro bahwa hidung Andi itu memar. Seperti habis kena tonjok.



"Oh ini, gak apa-apa kok Ma, tenang saja. Tadi itu Andi kebentur pintu masuk warung. Nanti juga sembuh," jawab Andi ngeles. Gak mau kalau sampai Mamanya kuatir.



Pak Jaka Samudra yang tadinya tidak tahu, sekarang jadi tahu, kalau hidung anaknya ini memang memar. Dan do'i tahu betul plus berpengalaman dalam hal ini. Maklum dulu waktu sekolah, salah satu hobi Papa Andi ini... berkelahi.



"Kamu kok mau bohongi Papa! Memar di hidung kamu itu, pasti kena tonjok seseorang. Dan kalau dilihat dari memar yang dihasilkan, tangan yang nonjok kamu itu kecil. Kayak tangan perempuan." Bak seorang ahli forensik, Pak Jaka Samudra maju mengamati luka memar di hidung anaknya itu. Mencoba menganalisa dan menyimpulkan pendapatnya.



"Ngomong apa sih Papa ini, gak jelas! Intinya Andi fine. Dan sekarang mau tidur. Bye Ma, bye Pa... cuppp..." Dari pada dianalisa lebih dalam oleh Papanya, Andi memilih out. Mengucap salam, cipika-cipiki ke ortu, langsung take off. Naik keatas dan masuk kamar.



Melihat tingkah Andi itu, Pak Jaka Samudra paham. Tapi juga menyampaikan pesan singkat kepada anaknya. Pesan yang membuat hati Andi gundah.



"Lain kali, balas ya! Kecuali kalau kamu jatuh cinta sama cewek itu." Pesan singkat dari Pak Jaka Samudra, yang seakan tahu apa yang terjadi.



Mendengar perkataan Papanya itu, Andi menoleh sejenak. Tidak berkata apa-apa. Hanya tersenyum dengan ibu jari yang ditunjukkan kearah Pak Jaka Samudra. Lalu balik lagi naik ke lantai atas.



"Memang benar, Anak kita ditonjok sama cewek, Pa?" tanya Mama Andi lirih.



"Yoi..." jawab Papa Andi singkat.



Lalu keduanya pun masuk ke kamar mereka. Untuk tidur? Ya... belum tentu... hehehe... sudah, gak usah dipikirin. Kalian tidur juga, ok? And Don't forget to pray.



Tidak seperti biasanya, Andi langsung masuk kamar. Biasanya, menengok Sukro dulu sebentar. Bahkan sering juga jahilin Sukro yang lagi uaasyikk dance dangdut with another Hen yang montok-montok. Si Siti itu mah masa lalu bagi Sukro... hehehe.



Masuk kamar, langsung selonjor di kasur. Matanya menatap ke langit-langit kamar.



Pikiran tentang Kuku Pancanaka telah berganti dengan sosok cantik yang telah memberi dia "stempel" di hidungnya. Dan tentu juga memikirkan ucapan Pak Jaka Samudra. Papanya barusan.



Mikir kalau sepi juga... gak asyik. Andi pun bangun dari tempat tidur. Lalu menyalakan radionya. Buat dengerin lagu-lagu keren gratis, tanpa harus ngabisin kuota. Dan 107,5 FM Star Radio adalah channel yang tepat untuk wujudtin semua itu.



"Yo... yo... yo... met malem, para Star trek semua. Masih bersamaaaa... Duo Gambreng disini... 107,5 FM Star Radio. Radionya semua mahkluk di Alam Semesta."



Kok rasa-rasanya kenal sama suara mereka berdua ya! Bay the way, memang gak salah dech kalian, yang bisa nebak siapa penyiar dengan nama udara "Duo Gambreng" ini.



Siapa lagi kalau bukan, Jean dan Andersen Liesman. Dua makhluk aneh dari SMA Perjuangan. Sahabat Andi.



Kok bisa mereka jadi penyiar Radio bergengsi macam Star Radio? Apa di Surabaya sudah kehabisan orang waras? Paling gak yang lumayan waras saja... sudah good.



Surabaya memang tidak akan pernah kehabisan orang waras. Ada cerita unik seputar jadinya mereka menjadi penyiar.



Jadi begini ceritanya, seperti biasa duo "ilmuwan" ini, otaknya selalu dipenuhi teori-teori aneh yang gak bisa dinalar oleh makhluk manapun.



Terlebih Jean Liesman, sang Kakak, yang jadi creator ide-ide teraneh di dunia, yang membuat adiknya, Andersen Liesman, terpengaruh. Mengikuti jejak Kakaknya. Menjadi makhluk aneh.



Suatu ketika, Jean Liesman menemukan sebuah rumus paten, bahwa untuk mengetahui luas sebuah wilayah itu gampang banget caranya.



"Jadi Sen, ini something new! Kalau kamu mau tahu luas wilayah sebuah kota, atau bahkan luas sebuah negara, planet, atau apapun, sudah gak perlu pusing-pusing lagi," kata Jean Liesman kepada adiknya, Andersen Liesman.



"Waaoohhh... sungguh sangarr! Hebat! Kasih tahu dong... please," respon Andersen Liesman atas perkataan kakaknya tadi, sangat antusias.



"Tenang brother, stay cool, tapi ini off the record ya, rahasia. Secret banget. Jangan sampai bocor, penemuan fenomenal ini," jawab Jean Liesman lirih, sambil ngecek kondisi sekitar. Kepalanya tengok kanan-kiri. Padahal ngomongnya kan di kamar... Jean... Jean... heboh banget sih kamu!



"Tenang saja, Jean. Aman. Ayo cepetan ngomong, rumusnya apa?" Andersen Liesman memang seorang pengekor sejati. Ikut-ikutan kakaknya. Bicara pelan, sambil tengok kanan-kiri.



"Rumusnya begini, kita putari monumen Bambu runcing itu tujuh kali. Lalu kan nampak tuh angka di spidometer motor kita, kemudian angka itu dikalikan jumlah bintang di langit dan hasilnya dibagi dengan jumlah penduduk wilayah itu, terus ditambah dengan jumlah daun-daun yang berguguran di sekitar rumah kita. Nah, maka ketemu sudah luas wilayahnya. Paham kamu, Sen!" Sungguh sebuah penemuan perhitungan matematik tingkat dewa, yang bahkan Einstein pun bingung kalau mendengar rumus itu. Gak cuma bingung, mungkin do'i langsung stres.... hehehe.



"Sungguh dahsyat sekali, Jean! Jenius sekali kamu!" puji Andersen Liesman kepada kakaknya, Jean Liesman.



hhhhmmm... mungkin lebih tepatnya... gila kali!



"Kalau begitu, besok kita tes, kebenaran dari rumus masa depan ini, ok?" kata Jean Liesman.



"Yoi brother," jawab Andersen Liesman.



Singkat cerita, besoknya, mereka benar-benar, muterin monumen Bambu Runcing sebanyak tujuh kali, dengan Scooter aneh milik mereka. Mungkin yang punya Scooter kayak itu di dunia manusia, ya cuma Liesman bersaudara ini. Tapi kalau di dunia Jin, mungkin banyak juga yang punya.



Saking semangatnya mereka buat ngetes itu rumus, satu yang mereka lupakan... ngisi bensin tuh Scooter.



Belum sampai putaran kedua, motor aneh itu... mogok. Dan Liesman bersaudara ini harus berjibaku untuk bisa sampai ke stasiun pompa bensin.



Seperti yang diketahui banyak orang, bahwa Scooter itu berat sekali. Dengan susah payah, mereka mendorong Scooter itu. Keringat mereka keluar bercucuran.




"Ini minum buat kalian." Seseorang tiba-tiba datang menghampiri Jean dan Andersen Liesman. Membawa dua botol minuman air mineral dingin untuk mereka.



"Oh ya, Mas, terima kasih." Jean Liesman menoleh kebelakang. Melihat air mineral yang dingin didepan matanya, Jean Liesman pun kemudian mengambil air itu dari tangan seorang pria muda. Dan tidak lupa mengucap terima kasih tentunya.



Ya begitu lah awal cerita mereka bisa jadi penyiar di Star Radio. Pria muda tadi adalah Vice Manager Star Radio. Mas Tamam.



Jean dan Andersen ditawari audisi jadi penyiar disana, mereka mau, langsung diaudisi. Dan ternyata Mas Tamam suka dengan gaya mereka. Unik, aneh, gila, dan belum pernah penyiar seperti mereka.



Dan sejak saat itu Liesman bersaudara ini resmi menjadi penyiar Star Radio.



"Oh ya, Jean, kamu tahu gak?..." kalimat Andersen Liesman belum habis, langsung dipotong oleh kakaknya. Jean Liesman.



"Enggak!" jawab Jean Liesman singkat.



"Ya jelas, kamu gak tahu! Aku belum selesai ngomong!" Sebel juga lho Andersen Liesman. Dan itu bukan settingan.



"Oh iya... ya... maaf... hehehe.... Lanjutin," jawab Jean Lies sambil cengar-cengir.



"Kamu tahu Taka kan! Itu lho vokalis band One Ok Rock. Tahu gak kamu?" tanya Andersen Liesman. Soalnya kakaknya ini kalau bahas artis gak pernah bener. Wawasannya tentang artis gak pernah di up grade. Tahunya ya, Jony Iskandar, Eddy Silitonga, pokoknya artis-artis jadul.



"Taka?Ya tahu dong! Siapa sih yang gak tahu do'i? Anak kecil saja tahu!" jawab Jean Liesman sombong. Dan untuk kali ini dua jempol untuk kamu Jean.



Tapi Andersen tidak mudah percaya begitu saja kepada kakaknya.



"Kalau memang kamu tahu,judul lagu keren milik group band One Ok Rock apa?" tanya Andersen Liesman ngetes.



"Jadi ini ceritanya aku dites, ok? Siapa takut. jawabannya whereever You Are. Betul tidak!?" jawab Jean Liesman dengan nada bicara meniru Da'i kondang Indonesia yang pakai sorban itu.



"Waaoohhh... ciamik soro! Betul sekali Jean," puji Andersen kepada kakaknya. Jean Liesman.



"Taka sama aku dulu itu CS. Dekat banget tahu. Satu SD malah. Masa kamu lupa, Sen!" celoteh Jean Liesman berbangga diri. Padahal ya, baru kali ini dia benar.



"Lho kok bisa gitu!? Ini yang kamu maksud Taka yang mana!?" Andersen heran juga mendengar perkataan kakaknya. Ya karena gak mungkin banget Taka satu SD sama Jean Liesman.



"Taka yang itu kan... anaknya Mbak Tari, tetangga kita, yang pindah ke luar negeri jadi TKW itu, kan!" jawab Jean Liesman mantap. Ealah... baru saja dipuji, ternyata... masih seperti yang dulu... error.



Pusing juga lama-lama Andersen ngomong sama Jean Liesman.



"Ok... Buat kamu yang lagi kasmaran, falling in love, tresno jalaran soko kulino atau apalah... kita putarkan sebuah tembang yang spesial buat kamu-kamu... para Startrek dimana pun kalian berada... "Whereever You Are" from One Ok Rock....



"Oh ya, satu lagi, bagi kamu yang habis kena tonjok dihidung, gak perlu banyak mikir. Itu tandanya yang nonjok kamu, suka sama kamu, ok? Happy Listening." Sebuah kalimat penutup dari Jean Liesman yang lumayan cakep, sekaligus lumayan bikin kaget.



Andi yang sedari tadi dengerin obrolan gak jelas sahabat-sahabatnya ini, sontak terbangun dari posisi wuenaknya.



"Gila! Sakti banget, Jean Liesman! Kok dia bisa tahu ya! Aku habis kena tonjok. Bahaya juga anak itu. Bisa tahu semuanya. Awas ya, kalau nyebarin ke teman-teman, kalau yang nonjok itu cewek! Aku botakin lagi dia!" kata Andi yang terheran-heran dengan sohibnya, Jean Liesman bisa sehebat itu.



Disaat yang sama, seorang gadis juga kaget mendengar perkataan penyiar Star Radio ini.



"Penyiar ini dukun atau apa sich! Kok bisa tahu ada seseorang yang habis kena tonjok! Dan mana mungkin, aku suka sama dia!? Kenal saja enggak! Nyebelinnn semuaaa!" Rupanya Andien ini juga penggemar Star Radio. Apalagi dengan acara yang bertajuk "Keanehan Tak Kunjung Padam" ini. Penyiar saja aneh, klop kan sama nama acaranya. Aneh juga.



And this is Whereever You Are by One Ok Rock...



"I'm telling you... yeah


I sofly whisper


Tonight... tonight


You are my Angel



Aishiteru yo... yeah


Futari wa hitotsu ni


Tonight... tonight


I just to say



Whereever you are


I always make you smile


Whereever you are


I'm always by your side


Whereever you say


Kimi wa omou kimochi


I promise you forever


Right now...."



Mendengar tembang yang keren habis ini, pikiran Andi pun menyeting sebuah rasa dalam hatinya.



"Hidungku memang sakit, berdarah, tapi... aku gak bisa berbuat apapun. Ketika aku... melihat matanya. Dan aku tak tahu, kenapa."Menatap langit-langit kamarnya, memikirkan rasa yang aneh yang terselubung waktu bertemu dengan gadis cantik yang telah meninjunya sekaligus menggetarkan hati anak kelas 3 SMA ini. Andien Putri Indrajit.