Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming

Ready Or Not,Pringgodani I'M Coming
LOVE IS ON THE WAY



"Andien, dengarkan Papa! Kalau sampai kamu buat ulah, semua fasilitas kamu akan Papa cabut... mengerti! Papa gak habis pikir, kenapa kamu selalu membantah!? Contoh adikmu, Ajeng!"



"Aku bukan Ajeng, Pa! Papa mengambil keputusan sepihak! Apa Papa pernah tanya apa yang Andien mau? Engga pernah kan Pa!"



"Bisnis Papa sekarang banyak ada hubungannya dengan orang-orang Surabaya. Jadi kita sekeluarga harus pindah kesini! Dan Papa sudah kasih kamu penjelasan, tapi kamunya saja yang masih keras kepala!"



"Tapi kenapa harus pindah kesini, Pa! Papa bisa, kan, pulang pergi Jakarta-Surabaya! Lagipula makam Mama ada di Jakarta, Andien gak bisa lagi rutin ke makam Mama kalau kita pindah ke Surabaya. Papa tega jauhin Andien, Ajeng sama Mama!



"Diam kamu Andien!!! Bisanya bantah saja! Lihat rumah yang kamu tempati sekarang ini disini. Jauh lebih luas, jauh lebih mewah, kurang apa coba!



"Andien gak peduli! Andien akan terus buat ulah selama disini. Sampai papa pulangkan Andien kembali ke Jakarta!"



"Terserah! Yang penting, hari ini Tantemu akan antar kamu dan Ajeng ke sekolah baru kalian, titik! Berikan hpnya ke Tantemu, cepat!



Andien pun dengan kasar memberikan hp yang ada di tangannya ke Tantenya. "Nih Tan! Males banget ngomong sama Papa!" Andien langsung naik ke kamarnya setelah memberikan hp itu.



"Ingat ya May, urus semua dengan baik! Aku percayakan urusan ini ke kamu! Jangan buat Mas mu ini kecewa!" Papa Andien langsung menutup telepon nya tanpa memberikan kesempatan adiknya untuk bicara



Ada saja ya... pagi-pagi sudah ada perang. Dunia... oh... dunia.



"Blinggg... blinggg... blinggg..."



Bak adegan slow motion di iklan shampoo, seorang gadis melepas helmnya dan mengurai rambut panjangnya yang indah. Tebal, hitam kinclong, bergelombang... emmmm... emmmm... glowing banget! like a Goddess.



"Ya... sebentar!" Andi menjawab panggilan yang berasal dari seberang warung kopi Giras Cak Gondrong. Dan rupanya itu adalah Bastian dan sepupunya yang cantik, Natalie.



"Ayo Fred, lanjutin..." pinta Andi kepada Fredy untuk menyelesaikan kalimatnya yang terpotong tadi.



"Eh, Oh ya... aku gak bisa Om, besok Selasa ada Komite. Jadi harus fokus latihan. Sorry ya Om," jelas Fredy kepada Andi.



"Ya gak apa-apa. Eh guys, aku tinggal ke Bastian dulu, ok?" Andi bergegas meninggalkan Sohib-sohibnya yang ada didalam warung kopi Giras Cak Gondrong.



Andi pun berjalan keluar warung Kopi Giras Cak Gondrong. Dan sesampainya dia diluar....



Ada keanehan. Banyak orang-orang yang berdiri mematung. Seperti diremote tombol stop. Gak cuma pejalan kaki yang mematung, tukang becak pun juga diam mematung. Tapi ada satu kesamaan disana, semuanya kaum Adam dan pandangan mereka tertuju pada satu titik, yaitu Natalie.



"Dduuuorrrr!!!" teriak Andi memecah suasana hening disaat itu.



"Pada ngapain semua! Ayo sudah bubar... bubar! Bikin macet saja semua!" tegur Andi kepada semua yang mematung disana.



"Hhuuu... gak asyik kamu, Om! Gak bisa lihat orang happy!" protes seorang pejalan kaki yang rupanya kenal juga sama Andi.



"Ya nih, gak asyik... gak asyik... gak asyik !... hoe mbak, jangan mau sama si Om, pacarnya banyak!" Tambah lagi seorang yang memprotes Andi. Dan kali ini sambil menebar hoax.



"Biarin!... Memang tamasya... asyik!" Ini lagi Aki-aki, tahu saja kalau ada yang bening-bening!" tegur Andi kepada peserta lomba mematung pagi itu yang ternyata kakek-kakek.



"Bbbuuukkan bbbeeeggiiittuuu Cuuukkk. Dddddiiiaaa mmmmiiiirrriiipppp pppaaaacccaarrr kkkaaakkkeekkk. Ggggaaaannngggaaa nnnaaamaaaaannnyyyaaaa," jawab Si Kakek membela diri dengan suara tuanya yang bergemetaran.



"Heee? Gangga? Anak Pak Pai tukang becak itu?" tanya Andi ke kakek tua itu.



"Iiiiiyyyyyaaaaa. Ddduuuluuuuu..." Belum selesai Kakek itu bicara, Andi langsung memotongnya. Kalau nunggu Kakek itu selesai ngomong. Kapan selesainya? Andi sudah lulus SMA kali baru selesai tuh Kakek ngomong.



"Sudah. Kakek pulang ya. Dik Gangganya sudah nunggu di rumah masa depan, ok kek?" Andi sengaja memotong omongan Si Kakek, biar do'i cepat pulang.



"Ooookkkk dddeeehhhh. Kkkkaaaakkkkeeekkkk pppuuullllaaannngg bbbbbbaaaiiii." Kakek itu pun akhirnya pulang dengan jalannya yang tertatih-tatih. Kasihan juga ya. Semoga sampai tujuan kek!



Memang kecantikan Natalie bagaikan magnet. Dengan hidung mancung, bola mata coklat, wajah oval bersinar, didukung dengan kulitnya yang putih mulus. Membuat Natalie bagaikan artis terkenal.



Tapi kenapa Andi dan sohib-sohibnya sepertinya biasa dengan pemandangan itu? Ya jelas. Mereka ini satu sekolahan. Mereka kenal Natalie sudah cukup lama, sekitar dua tahunan. Apalagi semua tahu kalau Natalie itu sepupu Bastian. Sohib mereka juga.



"Ya Bas, ada apa?" tanya Andi kepada Bastian.




Natalie pun lalu turun dari motor sport Bastian. Menghadap ke Andi sambil tangannya membelai-belai ujung rambutnya sendiri. Tanda kalau dia malu sekaligus senang bertemu dengan cowok yang selalu mengganggu tidur malamnya.



"Dddrremmm... dddrremmm..." Masih asyik membetot gas motor sportnya, Bastian menyapa semuanya dan....



"Lie, sudah ya. Om, guys, tinggal dulu ya! Bye... uuuuwweeenggg..." Bastian langsung take off, melaju dengan motor sportnya. Meninggalkan Natalie dan sohib-sohibnya.



"Hei Bas! Kamu gak... se... kolah..." Pertanyaan yang datang terlambat kepada seorang Bastian yang memang pelupa poll. Memang kamu kira ini tanggal merah, Bastian???



"Hhhmm... Bay, ap..


apa... kabar?" tanya Natalie malu-malu dengan masih membelai-belai ujung rambutnya.


"Alhamdullillah baik, kamu sendiri?" balas Andi yang menatap langsung mata Natalie. Tatapan yang membuat Jantung Natalie makin berdetak kencang.



"Alhamdulillah baik juga. Hhhmmm... Bay... sekilas aku dengar kamu mau pergi sama Fredy ya? Kalau boleh... kalau boleh tahu kemana?" Natalie mencoba untuk tenang. Tapi tetap... tidak bisa. Semua rancangan kata yang telah dipersiapkan untuk momen ini tiba-tiba terhapus sudah.



Blank....



Kan niatnya mau ngasih tuh undangan ulang tahunnya, gak tahunya yang diomongin beda. Cinta... cinta... cinta.



"Oh itu.... aku mau mancing, kenapa?" jawab Andi jujur.



"Berarti kamu mau bolos sekolah, gitu?" Natalie mencoba memperjelas maksud dari kata-kata Andi. Dan sekarang tangannya gak lagi memainkan rambut panjangnya.



"Ya... jelas Natalie yang cantik. Kalau tadi bilang ke kantin sekolah berarti aku masuk sekolah. Kan sudah bilang mau bolos." kata Andi tiba-tiba memencet hidung Natalie. Sudah berani pegang-pegang ya!



"Oh my God, dia bilang aku cantik dan menyentuh hidungku." Pikiran Natalie tambah gak fokus dengan niat awalnya semula. Yang semula smart jadi o'on. Apalagi yang semula o'on, gak tahu deh jadi apa? Dan semua itu karena Love... baby.



"Hehehe... iya... aku boleh ikut ya Bay?" pintanya dengan nada manja



"Ikut bolos? Jangan! Nanti kamu kena marah Mama kamu. Apalagi kalau sampai Bastian tahu kamu ikut bolos sama aku. Bisa kena jitak aku sama Bastian. Sudah, kamu masuk sekolah saja, ok?" Andi menolak dengan memberikan penjelasan yang logis kepada adik kelasnya ini. By the way jangan dicontoh lho ya, kakak kelas yang satu ini, ok adik-adik?



"Please... sekali saja Bay. Lagi pula aku belum pernah tahu gimana rasanya bolos sekolah itu." Natalie merajuk dengan tanpa menyadari dia memegang dan menarik tangan Andi.



"Ups... maaf ya Bay." Natalie yang tersadar tindakannya tadi langsung menarik tangannya kembali. Pipi Natalie seketika bersemu merah, malu akan kejadian tadi. Kalau Andi sih suka-suka saja tangannya dipegang cewek secakep Natalie. Asli yakin gak nolak.



"Boleh ya Bay? Boleh ya... boleh ya! Sekali ini saja... please!" pinta Natalie yang tetap berusaha untuk bisa ikut. Dan tanpa disadari lagi, tangan lembutnya meraih tangan Sang Penjaga Hatinya kelak. Ini rencananya mau minta maaf lagi ya, Natalie? Natalie... Lebaran tuh masih lama ya...



Love is on the way. Siapapun yang melihat adegan itu, pasti menyakini bahwa Cinta seorang anak manusia kepada lawan jenis sedang terjadi.


Dan mata Natalie mengisyaratkan itulah yang terjadi dengan dirinya... terkena panah asmara...


"Dddrremmm... dddrremmm..." Sampai juga akhirnya. Assalammualaikum Ma... Bastian pulang." Rupanya Bastian yang tadi langsung ngacir itu pulang ke rumahnya.



Mama Bastian membuka pintu menyambut "jagoan" kesayangannya.



"Waalaikumsalam..." jawab Mama Bastian.



"Ma, pintu pagarnya kok gak ditutup sih, kan bahaya Ma," gerutu Bastian melihat kondisi pintu pagar rumahnya yang terbuka.



"Oh, mungkin tadi Vero lupa menutup pintu pagar, Bas," jawab Mama Bastian memberi penjelasan.



"Kebiasaan Vero tuh!" sahut Bastian yang masih saja menggerutu.



"Lho Bas, kamu kok sudah pulang? Kamu gak sekolah?" tanya Mama Bastian yang heran dengan pulangnya Bastian ke rumah.



"Aadduhh, lupa aku, Ma! Aku kan harus jemput Natalie ke sekolah! Aadduhh...sudah jam berapa ini? Ma, Bastian pergi dulu, mau jemput Natalie! Bye Ma... assalammualaikum." Bastian secepat kilat menaiki motornya kembali tanpa memberi kesempatan Mamanya untuk mengucap sesuatu.



"Dddrremmm... dddrremmm.. Nnnnguuuwweeenggg..."


"Bas... Bastian! Kamu tadi kan sudah jemput Nat... talie. Ya sudah deh... waallaikumsalam." Mama Bastian mencoba mengingatkan. Tapi sekali lagi pemberian info yang terlambat kepada seorang Bastian juga akan berakhir sama.


Dan sekarang kita tahu seberapa pelupanya Bastian itu. Ya namanya juga orang lupa. Gak bisa disalahkan, yang salah itu kamu, yang gak berdoa kalau mau tidur. Berdoa ya, ok? Good Bless U All.