
"Duhhh... Natalie ultah ya! Kok ya pas bokek gini ada saja pengeluaran! Mau minta Papa, gak enak ah! Dipikir entar saja. Insyaallah ada jalan."
Setelah mendapat kacang sukro gratisan dari seorang gadis cantik yang dengan rela memberikannya kepada Andi. Pelajar SMA Perjuangan ini langsung take off, kembali ke rumah.
Setelah sampai rumah, seperti biasa, godain Sukro sebentar, ngasih kacang sukro ke ayam jago kesayangannya itu, lalu masuk rumah, salam, cium tangan Mama, naik keatas, mandi, terus tidur-tiduran sambil melamun.
Sejenak Andi berpikir tentang kado atau hadiah buat Natalie yang hari Minggu nanti ulang tahun. Dan pikirannya mengalami jalan buntu. Karena memang lagi bokek.
Kalau sudah begini, biasanya do'i memejamkan mata. Melepas beban pikiran sejenak. Sampai nanti benar-benar tertidur dan bangun ketika waktu sholat Ashar tiba.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarohkatu.... Assalamualaikum warahmatullahi wabarohkatu... astagfirullah al'adzim... astagfirullah al'adzim... astagfirullah al'adzim..."
Setelah selesai sholat dhuhur di musholla kecil di daerah Nambangan, Pak Jaka Samudra kemudian dzikir. Mengingat ALLAH, mengundang ALLAH, memasrahkan diri kepada Sang Pencipta Alam Semesta.
Musholla ini letaknya terpencil. Persis di depannya lautan yang luas. Tidak banyak yang tahu keberadaan musholla ini, selain penduduk sekitar Nambangan yang masih termasuk kawasan pantai Kenjeran Surabaya.
"Mojokerto... Mojokerto... Noyo... Genggong..."
Dalam dzikirnya, berbisik suara laki-laki ditelinga kanan Pak Jaka Samudra. Memberi petunjuk agar Papa Andi ini menuju ke kota yang banyak peninggalan Kerajaan Mojopahit ini.
Entah kenapa, Pak Jaka Samudra disarankan untuk ke kota itu. Dia pun juga tidak tahu.
"Terima kasih Ya ALLAH," kata Pak Jaka Samudra kepada Sang Pencipta, setelah mendengar bisikan gaib tersebut.
"Aku harus ke Mojokerto rupanya. Aku tidak tahu kenapa. Insyaallah ini petunjuk. Aku kesana sekarang juga. Tapi sebelum itu, aku telepon Roro dulu, biar dia tahu dan gak berpikir macam-macam," kata Pak Jaka Samudra.
Kemudian Pak Jaka Samudra menelpon istrinya. Roro Jati. Setelah menginformasikan kalau dia akan Mojokerto sekarang dan kemungkinan akan pulang malam hari ini. Papa Andi ini pun langsung meluncur ke kota Mojokerto.
"Dododo... dododo... I Want Something Just Like This... dododo... dododo... Oh I Want..."
"Siapa lagi ini, telpon siang-siang! Gak tahu apa, kalau ini jamnya aku ke Amrik!... Lho, tumben Winoto telpon. Ada apa ya?" Bunyi ringtone dari hape Andi yang disetel keras volumenya itu, membuat bos si Sukro yang tadinya sudah lier-lier, mulai tertidur, tiba-tiba matanya terbuka kembali. Dan jengkel dengan si penelepon yang mengganggu tidur siangnya.
"Ya Wi, ada apa!? Ganggu orang tidur saja kamu tuh! kata Andi menjawab telepon yang ternyata dari si Raja Ngeyel... Winoto.
"Aduh... sorry banget ya Om. Gak tahu aku, kalau kamu sedang tidur," balas Winoto meminta maaf.
"Kasep. Sudah terlanjur. Ada apa!? Cepetan, aku ngantuk!" jawab Andi yang masih jengkel, karena tidur siangnya terganggu.
"Gak... aku cuma mau kasih tahu. Nanti sore, habis Magrib, teman-teman ngajak latihan band. Buat acaranya Natalie. Gimana bisa?" Rupanya cuma mau bilang gitu doang toh, Winoto ini. Ngajak latihan band.
"Iya... ya... bisa... bye," Andi yang matanya tinggal satu seperempat, ingin segera menyudahi pembicaraan dengan Winoto.
"Hei... hei... tunggu dulu, ada yang penting lagi ini!" sela Winoto yang tidak rela sohibnya itu langsung molor.
"Apa lagi sih, Wi!? Ngantuk ini!" protes Andi pada Winoto.
"Gini lho, tadi itu ada anak baru. Cuuuanntikkknya p..." Belum selesai Winoto bicara, teleponnya sudah terputus.
"Tut... tut... tut... tut..."
"Hallo Om... hallo Om... Ohhh... bocah edannn! Dikasih info penting, kok malah dimatiin teleponnya!" Winoto bersungut-sungut, jengkel dengan tindakan sohibnya yang langsing matiin telepon darinya.
Telepon dari Winoto memang dimatikan oleh Andi dengan sengaja. Do'i ngantuk banget dan juga menurutnya info dari si Raja Ngeyel ini gak penting-penting banget. Ya sudah ditutup saja... beres.
Salah satu ilmu tingkat tinggi Andi adalah tidur. Bahkan bisa disebut tertinggi Sangat ahli di bidang yang satu ini. Belum ada satu menit menutup telepon dari Winoto, Bosnya Sukro ini sudah melakukan perjalanan yang sangat jauh. Molor, ngorok, dan ngeces. Satu kombinasi sempurna untuk menjelajah mimpi. Dan mimpi itu pun dimulai...
"Ini aku dimana? Kok banyak pohon Sawo disini. Belum pernah aku kesini. Ini mungkin perkebunan Sawo. Tapi dimana ya?" Andi tiba-tiba berada di sebuah perkebunan Sawo. Dia terus berjalan, menyusuri jalanan kecil yang ada di perkebunan Sawo itu.
Samar-samar terlihat olehnya. Seseorang, berbaju putih, bersorban putih, sedang santai duduk terlentang memegang sesuatu. Lalu dengan segera Andi pun menghampirinya.
"Aduhhh... enak tenan, es sawo ini. Seger! Tahu es sawo ini enaknya minta ampun, dari dulu aku stok ini sawo," kata Kakek tua itu memuji kesegaran es sawo yang diminumnya sambil leye-leye itu. Super enjoy pokoknya.
"Lho Kakek!? Kakek yang waktu itu ngasih Helm Sakti ke Andi, kan!? Lagi ngapain kek, disini!?" Setelah mendekat, rupanya seseorang itu adalah Kakek tua yang beberapa waktu yang lalu pernah datang juga dimimpi Andi.
"Hallo \*\*\*. Masih ingat toh? Syukurlah kalau begitu. Hhhmmm... ini Kakek lagi liburan. Makanya seperti yang kamu lihat... santai sambil minum
es sawo special." Si Kakek tua itu tersenyum kepada Andi. Tutur katanya ramah ketika menjelaskan keberadaan nya disitu.
"Ohhh... begitu ya kek. Memang Kakek ini siapa sih? Kok selalu saja Andi bertemu Kakek. Dan lagi, Kakek itu kerjanya apa? Pakai ada liburannya segala. Yang Andi tahu nih! Kalau sudah seumur Kakek... ya, santai. Gak kerja." Andi yang penasaran dengan Kakek tua yang ada didepannya itu, mencoba menggali lebih dalam tentang Kakek misterius ini.
"Siapa Kakek, itu tidak penting, Andi Bayu Samudra. Oh ya, ikut Kakek, ada yang ingin Kakek tunjukkan ke kamu." Kakek tua itu berdiri dari tempat duduk specialnya. Mengajak Andi ke suatu tempat.
"Kakek, kok tahu nama lengkap saya?Kakek ini sebenarnya siapa, sih!? Buat penasaran saja si Kakek!" Andi benar-benar heran. Darimana Kakek Tua itu tahu nama lengkapnya. Dan itu membuat pelajar SMA Perjuangan ini semakin penasaran.
"Nanti kamu akan tahu sendiri. Ayo... sekarang ikuti Kakek," pinta Kakek itu. Masih belum mau menyebutkan indentitas yang sebenarnya. Pria tua bersorban putih ini pun melangkahkan kakinya ke sebuah tempat. Dan Andi mengikutinya dari belakang.
"Iya... iya... nanti Kakek kasih kamu sesuatu. Sekarang, arahkan pandanganmu kedepan. Apa yang kamu lihat, Andi?" perintah Kakek tua itu. Sabar sekali beliau ini menghadapi tingkah Andi yang selama perjalanan ngomong terus tentang barang-barang yang diinginkannya.
Akhirnya mereka tiba ditempat tujuan. Masih di perkebunan Sawo itu. Terlihat oleh Andi, seorang gadis cantik. Rambutnya panjang indah sekali. Berbusana ala putri-putri keraton jawa.
Bergerak mengelilingi sebuah pohon Sawo. Tersenyum lepas, bahagia. Seakan tiada beban di hati dan pikirannya. Mengamati buah-buah Sawo yang matang. Siap untuk dipanen.
"Kakang, kemari! Lihat ini. Buah Sawonya sudah matang. Pasti rasanya sangat manis. Kemari Kakang...!" Gadis cantik itu seperti berbicara dengan seorang pria.
"Cewek kek! Cewek yang lagi pengen makan buah Sawo, betul kan!" Andi menjawab pertanyaan Kakek tua itu tentang apa yang dilihatnya.
"Ya benar, Cucuku. Gadis cantik didepanmu itu, nyawanya sedang terancam. Tugas kamu untuk melindungi gadis itu." Tanpa ba bi bu, Kakek tua itu langsung mengatakan tujuannya kemari mengajak Andi.
"Wait... wait... tunggu... tunggu... Jadi Kakek ngajak Andi kesini, buat ngasih tahu kalau cewek itu dalam bahaya dan Andi harus melindunginya, begitu!" Kacau sudah angan-angan Andi untuk dapat barang istimewa lagi dari Kakek tua ini. Malah dapat tugas yang menurutnya, itu mustahil dilakukan oleh seorang pelajar SMA.
"Yup," jawab Kakek tua itu singkat dan santai.
"Kek, Andi gak kenal sama tuh cewek! Dan lagi kenapa harus Andi!? Kenapa bukan Spiderman, Batman atau Superman, sih!? Mereka kan superhero. Biasa kali nyelametin orang. Andi!? Andi cuma pelajar SMA, Kek! Andi banyak PR, belum lagi Andi harus kerja freelance, dekor-dekor buat acara manten, ditambah lagi ngurusi Sukro! Kakek, belum pernah sih ngurusi Sukro! Sekali saja, hayo, pasti puyeng!" Andi gak habis pikir tentang perkataan Kakek itu. Berbagai penjelasan diutarakan. Agar supaya dirinya terlepas dari tugas yang tidak masuk akal itu.
Dengan santai dan tenang, Kakek tua itu mematahkan semua argumen Andi.
"Tenang saja, nanti-nanti juga kenal kok! Dan lagi, mereka itu sibuk. Jobnya banyak. Yang nganggur saat ini... itu kamu. Sudahlah, gak usah dipikirin ya! Kuncinya adalah apa yang ada di tanganmu." Penjelasan yang cukup singkat, sekaligus membingungkan dari Kakek tua bersorban putih ini.
Prosesor yang ada di otak Andi kurang canggih. Makanya dia bingung dengan semua yang dikatakan katakan Kakek tua itu.
"Ini gimana sih!? Kok mbulet!? Kakekkkk.... Andi gakkkk...." Sebuah benda meluncur dengan cepat ke arah Andi. Membuat konsentrasi Andi terpecah.
"Wwwwwuuuuusssshhhh"
Benda itu meluncur dari atas ke bawah dengan cepat. Tepat diatas kepala Andi.
"Kakang, terima ini..." Gadis cantik itu memetik sebuah Sawo. Lalu dilemparkannya buah itu kepada seorang pria yang sedang bersamanya itu.
"Cccceeeppp"
Andi pun menangkap buah Sawo yang meluncur tepat diatas kepalanya.
"Aneh! Kok bisa meluncur ke arahku ya!? Aku kok gak melihat sosok pria yang disebut Kakang itu, ya!?" Andi berkata dalam hati tentang keanehan yang terjadi didepannya itu.
Sesaat Andi merasa kebingungan dengan kejadian tadi. Lalu kembali tersadar akan protesnya yang terputus kepada Kakek tua yang memberinya tugas berat itu.
"Tapi Kekkk.... Andi itu gakkkk... Lho, kemana Kakek itu?" Sekali lagi kalimat Andi terputus di bagian yang sama. Sambil berkata, Andi membalik badannya. Dan Kakek itu sudah menghilang entah kemana.
"Kakek.... Andi gak kenal siapa gadis itu!!! Kenapa Andi, Kakek!!!? Jawab Kakek!!! Kepala Andi mendongak keatas, melihat birunya langit. Berteriak keras untuk mendapatkan jawaban. Sampai akhirnya...
"Jawab Kakek! jawab Kakek! Gggruubbbyyyaakkk! Aduhhhhhh... sakittt!!!" Andi menggelinding. Jatuh dengan suksesnya dari tempat tidur. Tubuh penggemar film kartun "Tom Dan Jerry" membentur lantai kamarnya sendiri.
Rasa sakit yang dialaminya barusan, membuat Andi terbangun dari mimpinya.
"Aduhhh... sakit semua badanku!" Andi berusaha bangkit, meraih tempat tidurnya. Lalu duduk.
"Mimpi rupanya. Aneh banget mimpiku siang ini. Apa ini?" Tersadar dari mimpi, Andi duduk diatas tempat tidurnya. Tanpa sengaja, mata Andi melihat tangan kanannya sendiri yang seperti menggenggam sesuatu.
Dibuka pelan-pelan tangan kanannya itu. Dan sontak dia terkaget melihat apa yang digenggamnya itu... sebuah Sawo.
Buah Sawo yang dilemparkan oleh seorang gadis dan telah ditangkapnya didalam mimpi. Kini benar-benar ada di alam nyata. Didalam genggaman tangan kanannya.
"ALLAHUAKBAR!!! Bagaimana mungkin!? Ini kan sawo yang tadi dimimpiku! Terus ini apa? Seperti kuku palsu. Warnanya hitam. kelihatannya ini kuku ibu jari deh! Coba pasang ya! Kakek... Kakek! Aku terakhir minta kuda, kok dikasih kuku palsu... pelit! Tidak cuma sebuah sawo yang ada didalam genggaman tangan Andi. Tapi juga dua buah kuku palsu berwarna hitam pekat. Dan saat ini Andi sedang iseng menempelkan benda itu di kedua ibunya. Dan seketika...
"Wwwuuungggg... ccrraapp... cccraapp"
Ketika kuku-kuku palsu itu menempel di kedua jempol Andi. Ada cahaya putih menyala didalamnya.
Kuku-kuku palsu itu menempel kuat. Sinar putih tadi masuk disela-sela ibu jari Andi. Terus menusuk masuk. Dan itu membuat Andi sangat kesakitan.
"Aaaaacccchhhh!!!... sakittt!!! Ya ALLAH!!! Sakittt sekaallii!!! Ya ALLAH!!! Gak kuattt!!! Aaacccrrrhhhh!!!... aaacc..."
Suara teriakan Andi melemah. Andi belum pernah merasakan rasa sakit yang dahsyat seperti itu. Dan akhirnya, pemilik nama lengkap, Andi Bayu Samudra ini pun pingsan.
"Ya ALLAH, Andik!!! Ada apa!!!?"
Mama Andi yang mendengar teriakan anak kesayangannya ini. Langsung panik, bergegas naik ke lantai dua. Memeriksa apa yang sedang terjadi pada anaknya.