Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Berkunjung ke makam



Arletta mengelus kedua pipi Langit, tersenyum lebar kearahnya. Kedua pipi Arletta bersemu merah mendapatkan perlakuan dari Langit. Mereka melakukan hal yang biasa pasangan kekasih lakukan.


" Maaf.. " ucap Langit sembari mengecup kening Arletta dengan sayang. Kemudian bangkit dari tubuh Arletta, membenarkan gaun Arletta yang sedikit terbuka olehnya. " Jangan merayu lagi, aku pria normal! bisa bahaya! " ucapnya.


Arletta membenarkan duduknya. " Tapi aku gak takut! bukannya kakak yang mau jadi suami ku nanti? " ucap Arletta.


Langit tak menjawab, pria itu hanya tersenyum. " Selesaikan kuliahmu dulu. " ujarnya.


" Iya kak. Aku mau nungguin kakak. " Arletta.


Setelah itu mereka berdua keluar dari ruangan kerja. Langit tidak mau berlama-lama berduaan bersama Arletta di ruangan tertutup, setan bisa saja merasuki pikirannya.


Arletta sarapan terlebih dahulu, sedangkan Langit duduk santai di ruang keluarga sembari menyelesaikan pekerjaannya.


Tidak lama, King datang ke rumah itu. King terkejut melihat keberadaan Arletta. " Kamu di sini Let? "


" Hehe.. iya kak, mau anterin kak Langit ke Bandara. " Arletta tersenyum tipis.


" Oh.. " King menganggukkan kepalanya. " Astaghfirullah! " pekik King. Wajahnya yang terlalu dekat dan bentuk alisnya yang begitu garang membuatnya terkejut melihat Kalpana tiba-tiba ada di sampingnya. " Kurap-kurap ngagetin gue lu! " semburnya. King sudah mengenal asisten dari Langit, mereka sudah beberapa kali bertemu.


" Maaf, saya hanya mau menyampaikan pesan dari nona Neelam pada tuan Raj. " Kalpana.


Arletta tertawa cekikikan mendengar omelan King. Sedangkan Kalpana yang tidak tahu jika King sedang mengatainya terlihat tenang, tidak marah sedikit pun. " Kak Key bisa aja! "


Langit mengerutkan alisnya, pria itu pun tak tahu apa yang sedang Arletta tertawakan.


" Lu beneran mau balik siang ini? gak kangen ngumpul ama kita-kita? " King menepuk bahu Langit, tidak peduli dengan pria itu yang sedang sibuk bekerja. " Mumpung gue lagi mudik nih.. jarang-jarang bisa kumpul. " King membujuk Langit agar tidak kembali ke India siang ini.


" Kerjaan gue banyak Key! " Langit.


" Yaelah.. kerjaan mah gak ada abisnya! kita butuh hiburan bro! " King.


" Hiburan apa? gadis cantik? " tanya Langit yang sudah tau watak dari sahabat sedari kecilnya itu.


" No!.. gadis cantik di mata gue cuma Camelia seorang! " seru King yang memang sudah tergila-gila dengan Camelia, cinta pertama nya.


" Ck! Camelia! " beberapa kali bertemu dengan Camelia, entah kenapa Langit tidak menyukainya. Wanita itu berhasil menjadikan King sebagai bonekanya, yang selalu menuruti apapun kemauannya.


" Ahhh.. ngomongin Camelia gue jadi kangen, pengin balik ke Jerman. " gumamnya.


" Let, udah siap-siap nih di nikahin ama uncle Basbas


" ucap King tiba-tiba pada Arletta. Tadi pagi King tidak sengaja menguping pembicaraan Clara dan Lisa lewat panggilan video call. Clara bercerita mengenai perjodohan Arletta dengan putra dari rekan kerja Bastian.


Arletta tersenyum malu. " Kakak ngomong apaan sih! " Arletta pikir King sedang menggodanya karena melihat kedekatan dirinya dan Langit.


" Kakak aus nih.. ambilin kakak minuman seger dong. " King menyuruh Arletta.


" Minta aja ke si Mbok. " Langit.


" Gila, belum lulus kuliah aja udah mau di jodoh-jodohin. " ucap King sembari melihat punggung Arletta yang semakin menjauh.


Langit menghentikan kegiatannya. " Maksudnya? "


" Iya, uncle Basbas mau jodohin Arletta sama anak temennya. " jawab King. " Gue denger tadi pas mommy VCall-an ama Onti. "


Langit terdiam.


" Yah... anaknya sih lumayan, udah jadi dokter bedah, itu yang buat uncle Basbas pengin jodohin mereka. " King.


" Kak.. ini minumannya. " Arletta memberikan segelas orange juice pada King. " Kak Langit mau aku bikinin? " Arletta lupa hanya membawakan minuman untuk King.


" Gak usah. " Langit.


" Kita nongkrong yuk di cafe. Masih beberapa jam lagi kan? masih sempetlah buat kita nongki. " King.


" Emm Sorry bro, Gue mau ke makam dulu. " Langit memang berencana untuk berkunjung di tempat peristirahatan ibunya, wanita hebat yang telah melahirkannya. Meski di mata orang lain ibunya di pandang sebelah mata, dia adalah wanita hebat di mata Langit.


" Aku ikut ya kak? " pinta Arletta.


" Lebih baik kamu di sini, kakak cuma bentar. " Langit ingin pergi sendiri tanpa di temani siapapun.


" Iya Let, tunggu di sini aja. " King.


Langit pergi ke makam ibunya yang tidak jauh dari rumahnya. Hanya butuh dua puluh menit, Langit sudah sampai. Makam Sofie ( Ibu yang melahirkan Langit) terlihat begitu terawat. Baru kali ini Langit bisa mengunjungi ibunya, rasanya sudah lama sekali. Semenjak dia pindah ke India.


Setelah selesai membacakan do'a untuk ibunya, Langit mengelus nisan yang tertera nama lengkap ibunya. " Mama.. Langit datang, maaf udah lama gak nemuin mama. " lirih Langit.


Langit sama sekali tidak memperdulikan orang yang masih saja menghujat masalalu ibunya. Profesi Sofie yang menjadi artis terkenal di masanya membuat jejak baik dan buruknya masih tersimpan jelas oleh media. Orang akan dengan mudah mengulik masalalu kelam Sofie hanya dengan mengetikan nama panggung Sofie di media masa.


Langit juga tidak suka jika ada orang yang terang-terangan menghina ibunya tepat di depannya. Meski ia tahu jika ibunya memang berkelakuan buruk. Tapi dia adalah putranya, anak yang dilahirkannya, mana bisa ia menerima cacian dan hinaan pada wanita yang telah melahirkannya.


" Mah, kenapa ini begitu sulit? " lirihnya. Langit merasa tidak pantas untuk bersanding dengan gadis yang sedari dulu ia cintai.


Langit menghela nafasnya panjang, hatinya merasa sesak, begitu sulit untuk bernafas dengan lega. Ingin sekali mengutarakan rasa yang begitu membuncah. Tapi ada sesuatu yang mengganjal, hingga dia membekukan hati dan sikapnya.


Pria itu menyesal telah kembali dan menatap gadis yang ia cintai. Perasaannya menjadi goyah, ingin selalu berada di dekatnya. Menjadi serakah, ingin memilikinya.


Bukannya Langit tidak ingin memperjuangkan cintanya? tapi bagaimana bisa dia hidup berdekatan dengan orang-orang yang tidak menghargai ibunya, meski ibunya telah tiada.


Dia tidak ingin menjalin hubungan yang semu. Bukan dia pria yang tepat, ada pria yang lebih baik untuk berada di sampingnya. Melihat gadisnya bahagia sudah cukup buatnya.


" Kalpana, bersiaplah.. aku menuju Bandara sekarang. Kamu menyusul! " Langit menghubungi asistennya untuk segera menyusul ke Bandara. Langit tidak ingin melihat wajah yang akan membuatnya tak tega meninggalkannya.


Bersambung...