Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Wanita gila!



"Dasar wanita gila!" Benzema menghempaskan tangan Bebi yang melingkar di lengannya. Mereka berdua sudah berada di luar restoran. Kesadaran Benzema kembali ketika suara klakson kendaraan terdengar nyaring di telinganya.


"Sorry.. aku emang sengaja." ucap Bebi yang tidak merasa bersalah sedikitpun, gadis itu tidak tahu jika dirinya sudah mencuri ciuman pertama dari pria yang ada di hadapan nya saat ini. "Dan terimakasih atas bantuannya."


Benzema menatap nyalang. "Apa wanita seperti anda tidak mempunyai sopan santun? seenaknya saja mencuri ciuman ku!" ucapnya berang.


"Itu bukan ciuman bung, cuma kecupan!" ucap Bebi santai, tidak ada takut sedikitpun meski tatapan Benzema terlihat sangat menyeramkan. "Ayolah.. gak usah marah, itu cuma sekedar kecupan, bukan ciuman! dan harusnya kamu beruntung mendapatkan kecupan dari ku yang cantik ini."


"Cuman kecupan katanya!! beruntung? memangnya siapa dia??" Benzema menahan amarahnya agar tidak meledak.


"Bye.." Bebi pergi begitu saja meninggalkan Benzema yang masih diam mematung. Pria itu tak habis pikir dengan tingkah konyol gadis yang berhasil merenggut ciuman pertama nya.


"Wanita gila!" umpatnya setelah sadar jika Bebi sudah jauh dari pandangan matanya.


***


"Jangan pernah melukai Sora, apalagi mempermainkannya!" ucap Arletta tegas pada Digta. Arletta tidak ingin Soraya termakan bualan cinta dari mulut Digta yang tidak bisa di percaya itu.


"Kamu ngomong apa, mana mungkin aku mempermainkan Sora. Aku beneran cinta sama dia." ucap Digta.


"Semoga ucapan mu bisa di pegang." Arletta yakin jika Digta ada niat terselubung mendekati Soraya. "Aku tau kamu ada maksud mendekati Sora. Aku gak peduli kalo kamu cuma mau pansos lewat Sora. Tapi jangan sampai kamu menyakitinya."


Arletta bisa menebak jika Digta hanya ingin mempermudah karirnya di dunia entertainment. Buktikan Digta berhasil mendapatkan simpatik dari Langit. Dan Digta kini tengah bergabung di Haidar Productions.


"Aku gak kayak gitu. Semua yang kamu pikirkan tentang aku gak bener. Aku tulus sama Soraya."


"Terserah kamu mau ngomong apa. Yang penting aku udah wanti-wanti kamu." obrolan mereka terheti ketik Soraya datang.


"Sorry lama, toilet nya ngantri." Soraya kembali duduk di sebelah Digta.


"Iya Ra. Abis makan gue langsung pulang ya." Arletta.


"Gak bareng ama kita? biar gue ama Digta anterin."


"Gak usah, kalian lanjut aja.. gue bisa pulang sendiri."


***


Malam harinya Arletta sudah siap menyambut kedatangan suaminya. Sudah beberapa hari ini Arletta dan Langit berada di rumah Ardiansyah. Mereka memutuskan akan tinggal di rumah itu, menemani sang papa yang hidup sendirian.


Arletta memandang pantulan dirinya di depan cermin. Pakaian tipis yang terlihat sangat menggoda melekat di tubuhnya. Arletta membenarkan riasan wajahnya, menyemprotkan parfum beraroma sensual untuk memikat sang suami.


Terdengar pintu kamar terbuka. Langit menyembul dari balik pintu itu. Senyuman mengembang di wajah Langit, sangat senang melihat pemandangan yang di suguhkan sang istri.


"Maaf buat kamu lama nunggu." Langit mendekat lalu merengkuh tubuh istrinya dari belakang, mengecup pundak istrinya yang terbuka. "Papa ngajak ngobrol tadi abis makan malam."


Arletta mengangguk. "Iya gak papa." ucapannya, kedua matanya terpejam tatkala menerima sentuhan Langit yang terasa memabukkan.


Langit terus menyusuri lekuk tubuh Arletta yang terekspos dengan bibirnya. Tangannya pun tak tinggal diam, merayap kesana kemari mencari kesenangan sendiri.


"Kak.." Arletta mulai mendesaah. Jemari sang suami semakin nakal dan berani menyentuh bagian inti tubuhnya.


"Sayang, kamu selalu membuatku ingin." ucap Langit.


"Kak.."


"Jangan salahkan aku, kalo aku gak puas cuma sekali. Kamu yang godaiin aku duluan.." Langit menggendong tubuh Arletta menuju ranjang.


"Sepuasnya untuk malam ini." Arletta.


"Dengan senang hati."


***


"Benz.. kapan mami bisa lamar pacar kamu itu." Pagi-pagi sekali Clara sudah heboh menanyakan kabar baik dari putranya. Clara terlalu senang mendapatkan berita dari putri dan keponakannya yang mengatakan jika Benzema telah memiliki seorang kekasih yang cantik dan juga sexy.


"Pacar apaan sih mah."


"Itu yang kamaren kiss kamu, kata Arlet sama Sora kalian ciuman mesra di depan umum." ujar Clara.


"Ck! itu wanita gila! bukan pacar Benz mih," ucap Benzema. "Kenal aja gak, apalagi pacaran!"


"Loh.. gimana sih, jadi itu bukan pacar kamu? kamu belum punya pacar Benz?" tanya Clara. Benzema mengangguk.


"Kamu gak itu kan?" tanya Clara ragu.


"Itu apa mih?" Benzema.


"Itu.. emm.. kamu gak menyimpang kan?"


"Enak saja! dia putra ku, mana mungkin belok ke batangan!" sembur Bastian yang mendengar tuduhan tak berakhlak istrinya. "Belum waktunya aja. Bukan berarti udah belok. Nanti juga kalo udah nemu pas bakalan betah di kamar!"


"Hehe.. iya juga ya mas, kayak kamu."


Benzema menggelengkan kepalanya. "Mih, pih, Benz berangkat dulu." pamit Benzema setelah menyelesaikan sarapan paginya.


"Iya.Tapi jangan lupa ya, nanti siang ke butik buat fitting baju seragam."


"Iya mih."


***


Undangan pesta perayaan pernikahan sudah tersebar. Persiapannya pun hampir rampung.


"Papa undang beberapa kerabat yang ada di India. Mungkin sekitar lima belas orang. Termasuk paman dan bibi mu." ujar Ardiansyah.


"Bukannya bibi lagi sakit? kenapa di suruh kemari? kita kan adain pesta di sana juga." ujar Langit.


"Bibi mu sendiri yang pengin kesini. Katanya gak sabar pengin liat menantu cantiknya."


"Oh.. asal dapet ijin aja dari dokter untuk melakukan penerbangan."


"Semua udah di urus."


"Terserah deh. Langit oke aja."


"Oh iya.. Arlet mana? dari tadi gak keliatan." tanya Ardiansyah.


"Tadi berangkat kuliah buru-buru, gak sempet pamitan sama papa."


"Yasudah, papa duluan ya.. ada meeting penting." pamit Ardiansyah. Langit mengerutkan keningnya. Meeting penting? semenjak kapan papanya kembali bekerja di luar? biasanya papanya itu mengerjakan pekerjaannya yang tidak terlalu banyak itu di rumah saja.


"Meeting apa pah? biar aku yang gantiin. Nanti papa capek." usul Langit.


Ardiansyah menggeleng. "Meeting sama rante Rosmi, masa kamu yang gantiin. Gak bisa lah."


"Papa beneran suka sama tante Rosmi itu?" Ardiansyah hanya mengedikkan kedua bahunya, enggan untuk menjawab.


"Pah.." Langit ingin protes namun belum sempat berbicara, Ardiansyah lebih dulu memotongnya.


"Papa cuma TTM-an doang."


"TTM? apa itu? "


"Masa anak muda gak tau TTM-an? payah!" gumam Ardiansyah yang tau isi pikiran dari putranya.


Bersambung...