
Pandangan Arletta terpaku pada tubuh Langit yang tak berdaya, semakin menjauh dan lenyap di antara kerumunan. "Kak Langit.." suaranya mulai terdengar walau sangat lirih.
Bisik-bisik orang-orang sekitar membuat hati Arletta cemas dengan keadaan Langit. Jemarinya mulai bergerak, kakinya berusaha untuk menapak di tanah, berharap bisa lari menyusul dan menemani Langit.
"Eh, ini siapa?" tanya seseorang menyadari kehadiran Arletta yang duduk di kursi roda sendirian.
"Itu kayaknya tadi bareng ama cowok yang tadi."
Seorang wanita paruh baya membawa Arletta dengan sukarela menyusul ke klinik terdekat, dimana Langit sudah lebih dahulu di bawa ke sana.
Langit terbaring lemah di atas brangkar, tidak terjadi hal yang serius dengan tubuhnya, karena racun berhasil di netral kan, untung saja pawang ular itu memiliki penawar racun yang memang di sediakan untuk berjaga-jaga jika hal buruk terjadi, seperti saat ini.
"Kak Langit!" tiba-tiba saja Arletta berlari ketika baru sampai di pelataran klinik. Gadis itu sangat mengkhawatirkan keadaan Langit, membuatnya tanpa sadar membangkitkan jiwanya yang terkunci di dalam sana. Wanita paruh baya itu di buat melonggo, melihat gadis yang sedari tadi diam tiba-tiba berlari.
Arletta menangisi keadaan Langit yang tak sadarkan diri. "Kak Langit, ini aku.. ayo bangun!" ucap Arletta.
Karena klinik tidak mempunyai fasilitas yang lengkap, Arletta memutuskan membawa Langit ke rumah sakit milik keluarga nya.
***
"Arlet!" teriak Kenzo yang melihat Arletta berjalan mendampingi seorang pasien. Kenzo terkejut melihat adiknya yang sudah bisa berjalan seperti sedia kala. Kenzo yang berprofesi sebagai dokter sudah pasti berada di rumah sakit itu, ketika ingin pergi ke apotek, Kenzo tak sengaja melihat adiknya.
"Arlet! kamu sudah sembuh?" Kenzo merangkul adiknya begitu erat. Bersyukur karena adiknya sudah pulih kembali. "Kakak bahagia melihat mu kembali lagi." ucapnya.
"Kamu kenapa menangis?" tanya Kenzo.
"Kak Langit.." lirihnya.
"Langit?" ulang Kenzo. Arletta mengangguk. Kenzo mengalihkan pandangan ke pasien yang baru saja di bawa masuk oleh perawat. "Langit kenapa?"
Arletta pun menceritakan kejadian di taman. Kenzo berusaha menenangkan Arletta yang masih menangis tersedu-sedu.
Arletta setia menemani Langit yang sudah di pindahkan ke ruangan rawat inap. Sebelumnya Arletta lebih dulu di periksa kondisi kesehatannya oleh Kenzo.
"Arlet.." Ardiansyah datang setelah mendapat kabar buruk itu. Pria yang tak lagi muda itu pun cukup terkejut melihat Arletta sudah membaik. "Bagaimana kondisi Langit? apa kata dokter?"
"Kak Langit sudah membaik uncle. Tinggal menunggu siuman aja." jawab Langit. Ardiansyah mengangguk mengerti.
"Lalu kamu sendiri bagaimana? apa sudah lebih sehat?" tanya Ardiansyah.
"Aku sudah baikan uncle."
"Loh kok masih panggil Uncle, panggil papa dong samaan kayak Langit. Kan kalian udah nikah." ujar Ardiansyah.
Mendengar kata menikah, kedua pipi Arletta bersemu merah. "Iya pah."
"Nikah? aku udah nikah sama kak Langit? jadi beneran, bukan sekedar mimpi?" Arletta membatin.
Pintu kembali terbuka. Bastian dan Clara datang. "Arlet!" Clara langsung berhambur memeluk putrinya. "Kamu udah kembali nak," Clara memeluk Arletta begitu erat. Bastian ikut memeluk kedua perempuan yang sangat berarti di hidupnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Bastian pada sang besan.
"Nunggu siuman." Ardiansyah.
"Kok bisa begini? gimana kejadiannya?" tanya Clara.
Arletta menjawab dengan menceritakan peristiwa yang menyebabkan Langit terbaring di rumah sakit.
Arletta masih setia menunggu Langit siuman. Kedua orang tuanya serta papa Ardi sudah pulang lebih dulu. Arletta baru saja selesai mandi, ketika keluar dari kamar mandi, Langit sudah membuka matanya.
Langit bergeming, menatap penuh haru melihat Arletta. "Arlet.. kamu--" Langit berusaha merubah posisi, duduk bersandar. Binar-binar di wajah tampan itu terlihat sangat jelas. Istrinya sudah kembali, tak lagi memakai kursi roda, serta sudah mau berbicara.
Arletta tersenyum, memejamkan mata menikmati sentuhan lembut di pipinya. Langit mengusap kedua pipi Arletta. "Aku merindukan mu." ucapnya, lalu memeluk istrinya begitu erat. Menyalurkan rasa rindu yang ada.
"Kak, aku gak bisa napas." Arletta memukul lengan Langit agar melepaskan pelukan nya yang terasa menyekik.
"Maaf, aku terlalu bahagia." ucap Langit. Kedua matanya tak henti menatap wajah Arletta. Membuat sang empunya tertunduk malu.
"Kak Langit jangan liatin aku kayak gitu napa!" ucap Arletta malu-malu.
Langit terkekeh. "Aku cuma kangen, gak nyangka kamu udah sembuh." Langit menggenggam tangan Arletta. "Kamu udah baikan? apa yang dirasakan? mana yang sakit? hem?" tanyanya beruntun menanyakan keadaan istrinya, melupakan jika dirinya lah yang saat ini tengah di rawat di rumah sakit.
"Aku baik kak." jawab Arletta. "Kakak sendiri gimana? masih sakit bekas gigitannya?'
Langit menggeleng. "Gak terasa sakitnya. Tau gitu dari kemaren aku di gigit ular. Biar kamu cepet balik." ucap Langit tergelak.
"Ish!" desisnya kesal.
"Sayang, maafin aku. Gara-gara aku, kamu jadi salah paham. Semua yang kamu liat dulu gak bener. Itu cuma sandiwara." ucap Langit menjelaskan.
Arletta mengangguk. "Tapi jangan ulangi lagi. Aku gak sanggup kak, kalo liat kamu deket ama cewek lain."
"Gak akan! cuma kamu yang kakak inginkan." Langit memeluk Arletta kembali. "Aku mencintaimu.." rasa sakit terasa hilang ketika bisa bersama dengan wanita yang ia cintai. Tubuhnya menjadi bugar dan bersemangat.
"Aku juga cinta sama kakak." Arletta menjawab ucapan cinta sang suami.
Uhuk.. uhuk.. Langit terbatuk, tenggorokannya terasa kering. Arletta sigap memberikan air minum untuk suaminya. "Ini kak, minum dulu." Langit menerimanya dan meminum sampai tandas.
"Terimakasih istri ku." ucapnya. Arletta terkejut, wajahnya kembali bersemu merah.
"Kita beneran udah nikah kak?" tanya Arletta dengan malu-malu. Wajahnya masih ia tundukkan, malu bertatap muka dengan Langit.
Langit mengelus pipi Arletta. "Iya sayang, kita udah nikah. Kamu udah sah jadi istri kakak."
"Kenapa malu? tatap kakak, Arlet." Langit meraih dagu istrinya hingga tatapan mereka beradu. Perlahan Langit mendekatkan wajahnya, meraih bibir mungil Arletta. Kemudian memberikan lummatan lembut di sana. Arletta memejamkan kedua matanya, menikmati permainan sang suami.
Ciuman itu terlepas tatkala keduanya kehabisan oksigen. Keduanya tersenyum, bahagia karena cinta mereka saling terbalaskan, bahagia karena mereka bisa bersatu dalam ikatan suci.
"Sayang aku lupa!" seru Langit tiba-tiba yang teringat sesuatu.
"Lupa apa?"
"Itu kamu belum aku ganti." ucap Langit. Kening Arletta berkerut, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya.
Langit melirik ke arah bawah Arletta. "Pembalut mu belum aku ganti." ucapnya santai tanpa dosa.
Kedua mata Arletta membeliak, nyaris keluar dari tempat nya. Kenapa Langit bisa tahu? kalau dirinya sedang datang bulan?
Belum sempat berbicara, Langit kembali bersuara. "Aku tau, karena aku yang selalu bantuin kamu."
Arletta masih bergeming, mencerna ucapan suaminya.
"Aku selalu memandikan mu, aku hapal semuanya." bisiknya seraya menggoda, tak lupa sebelah matanya berkedip genit.
"Kakak!!!!!!!! "
Bersambung..