
Pagi yang cerah di kota Mumbai, mengawali hari pertama bagi ketiga anak manusia yang tengah menikmati sarapan di restoran yang tersedia di hotel tempat mereka menginap.
Tidak banyak makanan khas India yang cocok di lidah mereka. Hanya beberapa menu saja yang bisa di nikmati. Terutama Sora kesulitan untuk menerima makanan yang terasa asing di lidahnya.
Sembari menyantap sarapan, King mengutarakan niatnya yang ingin segera kembali ke Jerman untuk menemui kekasihnya.
" Kakak serius? mau ninggalin kita di sini? " Soraya merasa keberatan jika King meninggalkan mereka berdua di negri asing.
" Maafin kakak, tapi kakak harus menemui Camelia. Kakak ada firasat buruk. Takut jika sesuatu terjadi pada Camelia. " ujar King.
" Kakak lebih peduli sama pacar kakak? ketimbang jagain adik sendiri? " dengus Soraya.
" Tenang, kakak udah nyuruh seseorang datang menemani kalian. Jagain kalian, gantiin kakak. " meski berat namun King harus cepat kembali ke Jerman. Hatinya gelisah memikirkan Camelia yang sulit di hubungi.
" Nanti kakak juga nyuruh Langit buat nyamperin kalian. Kalo perlu kalian tinggal di rumahnya selama di India, biar kalian aman. " King sudah memikirkan solusi terbaik untuk kedua adiknya itu.
" Yaudah.. terserah kakak! dan siap-siap di omelin daddy kalo tau kakak ninggalin kita. "
" Iya. " King sudah pasrah akan mendapatkan hukuman dari kedua orang tuanya karena telah meninggal tugasnya.
Sedangkan Arletta terlihat senang mendengar penuturan King yang mengatakan jika mereka akan tinggal di rumah Langit selama di sini. Rencananya berhasil!
" Terus kakak mau berangkat jam berapa? " tanya Arletta.
" Siang ini. " King.
" Yaudah nanti aku antar. " Soraya.
" Kak key cinta banget apa sama Camelia? " Arletta sangat penasaran dengan Camelia, wanita yang sangat di cintai oleh seorang King. Sudah sejak dulu King selalu menyebut nama wanita itu. Tidak ada wanita lain yang bisa mengalihkan King, seakan dunia King hanya di penuhi oleh cinta Camelia.
King mengangguk. " Banget! " jawabnya.
Arletta tersenyum. Cinta King untuk Camelia terlihat begitu besar. Sama dengan cinta nya untuk seorang Langit.
" Kak, di sana ada dukun gak sih? kok kakak bucin banget ama Camelia. Aku curiga kakak di pelet ama si Camelia itu. " celetuk Soraya.
" Heh! ngaco kamu! " sentak King tak terima. " Disana mana ada dukun, apalagi pelet! "
" Ya abisnya kakak terlalu bucin! bucin nya gak wajar. " gerutu Soraya yang tau jika kakaknya itu membiayai hidup Camelia di sana dan belum lama King memberikan sebuah apartemen pada Camelia, tanpa sepengetahuan daddy Arsen.
" Kalo daddy tau! bisa abis kamu kak! "
King mendelik. " Awas aja kalo kamu ngadu yang gak gak. " King ketakutan. Pasalnya penghasilan dari ketiga cafe yang di dirikan oleh Arsen, di salah gunakan oleh King.
Soraya mencibir. " Nanti juga daddy bakal tau! cepat ato lambat. "
" Huffttt... gak bakalan. Uang perusahaan kan aman!gak aku otak atik. " ujar King yang sama sekali tidak mengusik penghasilan perusahaan peninggalan keluarga besar.
Arletta hanya menyimak pembicaraan antara King dan Soraya. " Kak, daripada uangnya abis gak tau buat apa. Mending kasih ke kita aja buat shopping. " cengir Arletta.
" Ya bener! kita palakin aja sebelum di palak ama si Camelia itu! " Soraya setuju.
Dan kedua gadis itu berhasil membobol uang yang tersimpan di salah satu rekening tabungan milik King. Jumlahnya cukup banyak, Soraya tanpa ragu mengosongkan saldo di rekening itu. Dia tidak rela uang kakaknya di habiskan untuk wanita yang tidak di kenal dan tidak mempunyai hubungan persaudaraan. Rasanya Soraya ingin bertemu dengan wanita bernama Camelia itu. Dan memberi peringatan agar menjauhi kakaknya.
" Sebelum pulang, kita mampir ke Singapore dulu..hihihi..." Soraya.
" Setuju! " " Arletta.
Arletta pergi sendiri ke kediaman Langit ketika Soraya mengantar King ke Bandara. Arletta tidak sabar memberikan kejutan untuk Langit. Gadis itu menggunakan taxi untuk mengantar ke alamat rumah Langit, sesuai yang di berikan Langit waktu itu.
Ketika sampai di depan rumah yang sangat besar dan luas itu, Arletta cukup kesulitan untuk bisa masuk ke dalam. Selain kendala dalam bahasa, Arletta di kira hanya fans dari tuannya saja. Yang ingin bertemu dengan Raj tanpa ada janji temu terlebih dahulu.
Hampir setengah jam Arletta berdiri di depan pagar yang menjulang tinggi. Keringat sudah bercucuran, karena cuaca begitu terik.
" Duh.. susah amat masuk ke dalem. Kalo gue telfon kak Langit gak jadi surprise dong. " Arletta bingung.
Kedua matanya berbinar ketika melihat Ardiansyah datang dengan mobil hitam yang mengkilat, menyilaukan pandangan Arletta.
" Uncle! " teriaknya sembari berlari kecil menghampiri mobil yang di tumpangi Ardiansyah, hendak masuk ke dalam.
Ardiansyah mengerutkan keningnya, mengingat-ingat siapa gadis cantik yang memanggilnya.
" Uncle! ini aku Arletta... uncle masih ingat kan? " wajah Arletta penuh harap agar Ardiansyah mengingat wajahnya. " Arletta.. anaknya mami Clara dan papi Bastian. "
" Oh.. ya Ampun Arletta! " ingatan Ardiansyah beraksi dengan cepat ketika mendengar nama Bastian dan Clara. " Kenapa nunggu di luar? " tanyanya, lalu melirik pada penjaga gerbang.
" Maafkan uncle, udah buat kamu nunggu di luar sampai berkeringat seperti ini. Ayo masuk.. " Ardiansyah mempersilahkan Arletta ikut masuk ke dalam mobil. Jarak antara pintu gerbang dengan pintu utama rumah cukup jauh jika berjalan kaki.
" Apa kabar mu? dan keluarga besar di Indonesia? " tanya Ardi ketika telah masuk ke dalam rumah yang sangat besar dan di penuhi dengan ukiran khas negara tersebut.
" Aku baik uncle, semua juga baik. " jawab Arletta. " Uncle sendiri bagaimana kabarnya? lama gak ketemu, uncle terlihat masih sama. " ujar Arletta.
Ardiansyah tergelak. " Uncle semakin tua nak, apanya yang sama. "
" Masih keliatan muda.. pantes anaknya gantengnya kebangetan.. hihi.. " batin Arletta.
" Uncle tidak menyangka, kamu sudah tumbuh menjadi gadis cantik. Rasnya baru kemarin kamu minta uang jajan pada uncle.. " Ardiansyah terkekeh mengingat kelakuan Arletta dan Soraya yang selalu meminta uang jajan tambahan padanya. " Arletta.. sama siapa kamu kesini? "
" Tuan besar... " belum sempat Arletta menjawab, seorang pelayan datang menemui Ardiansyah. Memberitahu jika makan siang telah siap.
Ardiansyah mengajak Arletta ikut bergabung dengan keluarga besar di meja makan. Tidak lupa Ardiansyah memperkenalkan Arletta pada paman dan bibi dari Langit, serta anggota keluarga yang lainnya.
Arletta merasa sudah di terima dengan baik di keluarga itu, dan merasa nyaman. Arletta sudah tidak sabar bertemu dengan Langit. Namun Langit masih sibuk di luar karena pekerjaannya.
" Arletta.. lebih baik kamu tinggal di sini selama berlibur di India.. rumah kami terbuka untuk mu Arletta.. " Ardiansyah.
Arletta tersenyum. " Nanti Arletta akan memikirkan nya. "
" Nanti malam ada acara di rumah ini. Datanglah kalau tidak sibuk. " Ardiansyah mengundang Arletta.
" Acara apa? "
" Hanya makan malam bersama.. "
" Baik uncle.. nanti Arlet usahakan datang. "
" Uncle tunggu. "
Setelah itu, Arletta berpamitan. Soraya sudah sampai di hotel setelah mengantarkan King ke Bandara. Dan Arletta juga harus mempersiapkan diri agar nanti malam terlihat cantik di hadapan Langit. Sekalian memberikan kejutan untuk kekasihnya.
Bersambung...