
"Siang Pak Raj.." sapa Alesya yang tiba-tiba muncul di hadapan Langit. Pria itu baru saja meeting dengan sutradara yang menangani proyek barunya. "Kita ketemu lagi, rupanya takdir berpihak pada kita." ucapnya tanpa malu.
Langit mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud ucapan Alesya. Pria itu melirik ke Kalpana, memberi kode agar asistennya menangani Alesya.
"Maaf nona, tuan Raj sibuk, tidak bisa di ganggu." usirnya secara halus. Kalpana sudah selangkah di depan Langit. Menghadang Alesya yang hendak mendekati tuannya.
"Ck." Alesya mencebikkan bibirnya, tak suka dengan sikap Kalpana yang terlalu ikut campur. "Aku gak. ada urusan sama kamu. Minggir!" seru Alesya sembari menyingkirkan Kalpana. "Aku ada urusan penting sama pak Raj." kekehnya.
Melihat Alesya yang begitu nekad. Langit segera bertindak, tidak mau ada keributan. "Sudah, hentikan Kalpana." cegahnya saat tangan Kalpana akan bertindak.
"Ada urusan apa? sepertinya tidak ada hal penting yang harus saya bahasa dengan anda." ucap Langit pada Alesya.
"Ada pak." jawab Alesya cepat. "Mengenai lokasi syuting Pak Raj harus meninjaunya sendiri secara langsung. Biar Pak Raj bisa menentukan lokasi yang pas untuk setiap scane nya."
Langit tersenyum kecut. Alasan Alesya sungguh mengada-ngada. "Saya sibuk. Dan itu bukan tugas saya, melainkan sutradara dan crew lainnya" jawabnya. Langit melangkah pergi meninggalkan Alesya begitu saja. Namun Alesya tak menyerah meski Kalpana berulang kali menyeret untuk menjauh.
"Hei!" Soraya yang sedang menikmati makan siang bersama Digta di restoran itu menghampiri Alesya. Sedari tadi dia melihat geram wanita yang berusaha mendekati suaminya saudaranya. "Gue peringatin! jangan gangguin laki orang!"
Alesya terkesiap, mengingat ingat wajah gadis yang sedang mengomelinya. Menatap tajam Soraya setelah menyadari sosok pria yang berdiri di sebelah nya.
"Apa lu liat-liat! gue colok tuh mata." sembari mengacungkan sebuah garpu yang ada di genggamannya ke arah Alesya.
"Udah yank. Jangan ikut campur urusan mereka." Digta sebagai kekasih Soraya mengingatkan.
Alesya berdecih. "Dasar buaya!" semburnya yang ia tunjukkan pada Digta, mantan kekasihnya dulu. Alesya mengabaikan peringatan Soraya.
"Kamu apaan sih. Itu cewek udah godain kak Langit! suami Arlet!" kesal Soraya pada Digta.
"Jangan marah-marah yank, malu diliatin orang." Digta.
Langit tidak sempat melihat keberadaan Soraya, pria itu sudah menunggu Kalpana di dalam mobil.
Sebelum meninggalkan Alesya, Kalpana dengan kasar memberikan undangan pernikahan antara Langit dan Arletta yang akan di selenggarakan sebentar lagi. Lewat undangan itu, Kalpana menegaskan pada Alesya jika tuannya sudah dimiliki wanita lain.
Tersenyum pada Soraya sebagai tanda hormat, sebelum Kalpana pergi menyusul Langit.
***
Pesta perayaan pernikahan Langit dan Arletta pun tiba. Tamu undangan sudah memenuhi ballroom yang di hias dengan begitu mewah. Arletta terlihat begitu cantik bersanding dengan Langit yang juga terlihat tampan. Pasangan yang benar-benar serasi.
Senyuman semua orang terlihat sepanjang acara berlangsung. Tak terkecuali Lisa. Meski wanita itu tengah tersenyum dengan kebahagiaan keponakannya. Tapi hati yang terdalam tengah merindukan putranya, yang telah lama pergi tanpa kabar.
"Mom, aku merindukan kak Key." Soraya memeluk ibunya. Adiknya itu juga merindukan sang kakak yang entah berada dimana. "Apa daddy belum nemuin keberadaan kak Key?" tanya Soraya.
Lisa mengelus lembut kepala putrinya. "Mommy juga merindukan Key, sangat rindu." jawabnya.
"Daddy mu selalu diam, gak jawab pertanyaan mommy tentang keberadaan Key." tatapan wanita paruh baya itu menjadi sendu. "Semoga Key baik-baik di luar sana."
"Iya mom. Dan semoga kak Key cepet balik lagi ke kita." Soraya.
Kedatangan Digta menghentikan obrolan haru bagi ibu dan anak itu. Tak lupa Digta berbincang sejenak dengan Lisa, untuk mencari perhatian. Agar bisa terlihat baik di depan calon ibu mertuanya. Setelah itu, ia ijin membawa Soraya untuk bergabung dengan teman-temannya yang juga menghadiri pesta itu.
Benzema menatap tak percaya pada adik perempuan nya yang benar-benar sudah di miliki pria lain. Rasanya baru kemarin Arletta yang selalu mengganggunya. "Jaga adik ku baik-baik, jangan pernah menyakiti nya." ucapnya pada Langit.
"Iya kak, tentu aku akan menjaga dan membahagiakan nya."
"Aku pegang ucapan mu." Benzema memang harus melepas Arletta. Mengalihkan tugasnya pada suaminya, agar menjaga Arletta dengan baik.
"Kak Benz, berangkat besok?" tanya Arletta.
Benzema mengangguk. "Udah kelamaan kakak di sini ninggalin perusahaan di sana."
"Terus kakak kapan balik ke sini? kakak gak akan menetap tinggal di sana kan? pokoknya kakak harus cepet balik." ucap Arletta.
Benzema mengelus lembut kepala adiknya. "Kakak pasti akan pulang, lebih betah di sini daripada di Meksiko." jujur Benzema. "Kalo kakak udah dapetin orang yang bisa di percaya, secepatnya kakak pulang."
"Iya kak, jangan lama-lama di sana."
***
"Iya Ra." Lisa.
"Wah, lama gak ketemu pangling aku tuh." Clara menyambut suka cita kehadiran Dona dan suaminya yang memang ia undangan di pesta perayaan putrinya. "Terus dimana Doni?" Clara menanyakan keberadaan Doni, kembaran Dona.
"Doni kan udah lama ikut istrinya tinggal di Kalimantan mbak Clara." jawab Dona.
"Oh.. gitu ya. La terus ini siapa?" Clara menanyakan keberadaan pria tampan yang ada di samping suami Dona. "Anak mu?" tebak Clara.
"Bukan mbak, ini Panji." Dona memperkenalkan Panji pada Clara.
"Maaf anak kami sudah tertidur, mungkin kecapean jadi gak bisa ikut hadir." ucap suami Doni. "Panji ini yang mau bantuin mengkoordinir mobil mobil yang Arsen sumbangin ke beberapa yayasan di Jogja. Terutama pesantren tempat Key mondok."
"Oh. Hampir lupa ponakan ku dulu jadi santri. hehe" Clara.
"Di pemilik bengkel terbagus di daerah ku. Kita minta bantuannya, takut di jalan nanti butuh bantuannya." Dona.
"Kamu montir?" tanya Clara.
"Iya bu." jawab Panji.
"Tapi kok ganteng." ucapnya menilai penampilan Panji yang lumayan sedap di pandang untuk ukuran seorang montir.
"Ish.. kamu itu! inget suami mu Ra! kebiasaan!" seru Lisa
"Hehe.. suami ku nomor satu." Clara. "Yaudah aku samperin mas Babas dulu ya. Bye.." pamitnya pada Lisa dan yang lainnya.
"Oiya mbak. Mas Arsen nya mana? Panji ada perlu yang mau di omongin." tanya Dona pada Lisa.
"Loh belum ketemu?" Lisa.
"Panji baru datang sore, belum sempat ketemu mas Arsen. Besok pagi udah langsung mau pulang. Maknanya mau ketemu sekarang, biar urusannya cepet kelar." Dona.
"Gak usah buru-buru kali Don. Besok masih bisa di urus. Kasian juga baru nyampe besok pagi langsung pulang." saran Lisa.
"Dia kerjanya gesit mbak. Gak suka nunda-nunda."
Lisa mengerti, akhirnya memberitahu keberadaan Arsen yang tengah berada di salah satu hotel tersebut untuk beristirahat sejenak. Sebelum datang ke hotel tempat pesta itu, Arsen baru saja pulang dari luar kota.
Lisa meminta tolong pada Soraya untuk mengantarkan Panji bertemu dengan daddy nya.
"Kamu itu siapa? daddy ku lagi istirahat malah kamu ganggu! kamu orang penting gitu?" Soraya terlihat tidak suka dengan pria yang sedang berjalan mengekorinya.
"Tadi kata bu Lisa, kemungkinan pak Arsen sudah bersiap datang ke pesta. Aku rasa tidak mengganggunya, malah waktunya tepat." ujar Panji.
"Ish!" cebik Soraya. "Kok bisa sih daddy kenal sama kamu?" setau Soraya, Daddy nya itu selalu berurusan dengan orang-orang kelas atas yang berpenampilan rapih, tidak seperti pria yang ada di sebelahnya.
Panji hanya diam, tidak menanggapi gadis yang memang terlahir dari keluarga kaya. Yang sudah pasti memiliki sifat manja, sombong, berisik dan hal yang menjengkelkan lainnya.
"Ih.. sana sana jangan deket deket!" seru Soraya ketika Panji berdiri terlalu dekat dengan Soraya.
"Ini di dalam lift. Tidak bisa berjarak satu meter." ketusnya.
"Iya, tapi sanaan. Aku gak mau deket dekat sama kamu." tanpa banyak kata Panji pun menjauhkan diri.
"Kamarnya di sana. Paling pojok, aku nganterin sampe sini aja."
"Nomor berapa?"
"Aku lupa, yang jelas paling pojok." jawabnya, lalu pergi meninggalkan pria itu.
"Dasar anak orang kaya!" gerut Panji.
Bersambung...