
Kedatangan Ardiansyah dan Langit membuat si tuan rumah terkejut. Pasalnya tak ada kabar apapun tentang rencana kedatangan mereka. Bastian bukanlah pria yang bodoh, yang tidak mengerti maksud kedatangan kedua pria itu.
"Mas, mereka dateng mau ngelamar Arlet?" Clara bertanya pada sang suami.
"Sepertinya." jawabnya seperti tak suka dengan situasi seperti ini. Bastian sudah cemas sekali ketika melihat barang bawaan yang begitu banyak dan sudah pasti menyilaukan kedua mata istrinya. Takut jika keputusannya bertentangan dengan Clara. "Ingat aku punya banyak uang, apapun yang kamu mau pasti aku belikan. Suami mu ini seorang miliarder." serunya memperingatkan.
"Maksudnya apa si mas? kok kamu jadi narsis gini." Clara tak mengerti kecemasan Bastian. "Sudahlah.. aku sambut mereka dulu." Clara pergi meninggalkan Bastian untuk menyambut Ardiansyah dan Langit.
"Dia pasti mudah ter-rayu.." gumam Bastian yang bisa menebak istrinya itu.
Clara menyambut kedatangan Ardiansyah dan Langit dengan senyum mereka di wajahnya. "Pak Ardi, apa kabar? lama gak jumpa.." sapa Clara. Keduanya berjabat tangan dan saling menanyakan kabar.
"Langit, apa kabar? kenapa gak kesini lagi?" tanya Clara. Sudah lebih dari dua hari Langit tak mengunjungi Arletta.
"Gimana mau kesini? orang di persulit!" Langit membatin. Pria itu hanya bisa menggerutu salam hati tak bisa mengatakan yang sejujurnya jika putranya lah yang telah melarang nya untuk menemui Arletta.
"Iya Onti, maaf aku sibuk.." jawab Langit. "Gimana kabar Arlet? apa sudah ada kemajuan?"
"Yah.. begitulah.. cuma sama kamu dia mau ngabisin makanannya." Clara. Langit mengangguk mengerti. "Oh.. iya.. silahkan masuk." Clara mempersilahkan Ardiansyah dan Langit masuk dan duduk di ruang tamu.
Kedua mata Clara berbinar ketika para pelayan mulai mengangkat barang bawaan Langit. "Ini apa ya? kok banyak banget?" tanya Clara basa basi.
"Ini hadiah kecil untuk Arlet." ucap Langit.
"Loh kok cuma buat Arlet? buat Onti mana?" sangking antusiasnya, Clara sampai tak bisa mengerem mulutnya.
"Buat onti juga ada." jawab Langit dengan senyuman.
"Sayang, kamu ini!" saut Bastian.
"Hehe.. maaf mas." Clara.
Bastian kemudian menyapa kawan lamanya. Lalu bercengkrama terlebih dahulu, sebelum Ardiansyah mengutarakan niatnya. Sedangkan Langit tak sabar bertemu dengan Arletta. Matanya sedari tadi mengedarkan pandangannya, berharap bisa melihat Arletta dari kejauhan.
"Gini Bas, kedatangan saya dan Langit ke sini beritikad baik, yaitu melamar putri mu, Arletta." ucap Ardiansyah.
"Anak-anak kita saling mencintai, alangkah baiknya kita cepat-cepat meresmikan hubungan mereka." Ardiansyah berharap lamarannya akan tersambut oleh kedua orang yang saat ini ada di depannya. Sebelum Bastian menjawabnya, Ardiansyah lebih dulu meraih kedua kotak besar, lalu membukanya di hadapan mereka.
"Semoga buah tangan kami tidak mengecewakan. Anggap saja ini sebagai hadiah atas kepulangan ku.. oleh-oleh maksudnya." Ardiansyah menunjukkan berbagai perhiasan yang sangat cantik dan berkilau. "Jangan tersinggung, ini bukan sogokan. Tidak memaksa kalian untuk menerima pinangan kami. Tapi kami sangat berharga berita baik dari kalian." ucapan Ardiansyah sungguh membingungkan, sangat jelas merayu secara halus. Langit sampai malu melihat kelakuan ayahnya.
"Cih!" desis Bastian nyaris tak terdengar. "Gak nyogok katanya? lah ini apa namanya?" Bastian melirik istrinya yang sudah berbinar melihat benda-benda berkilau di atas meja.
"Oh iya ada lagi." Ardiansyah tak segan memamerkan barang bawaannya, menunjukkan jika dia memanglah kaya raya. "Ini saya baru beli dan semuanya limited edition loh.."
"Wah.. gak perlu repot-repot, tapi aku suka. Terimakasih banyak ya.." tentu saja Clara dengan senang hati menerima seserahan tersebut.
"Sayang.. aku bisa beliin buat kamu." Bastian.
"Tapi gak sebanyak ini kan mas?" Clara.
Bastian mendengus kesal. Lalu menatap pada Ardiansyah. "Kamu sengaja ya!" bisiknya.
"Apapun untuk putra ku." jawab Ardiansyah ikut berbisik.
"Bagaimana lamaran kami? di terima atau di setujui?" tanya Ardiansyah.
"Itu sama aja!" ketus Bastian.
Bastian menghela nafasnya dalam. "Arletta putri ku satu-satunya, putri yang sangat aku sayangi. Rasanya berat melepaskannya pada pria yang belum tentu bisa membahagiakan nya." ucap Bastian serius. "Bahagia bukan tentang materi saja. Ada hal lain yang harus mendasari hubungan sakral ini."
"Putra ku sangat mencintai nya!" sela Ardiansyah.
"Iya om, saya sangat mencintai Arletta. Dan akan selalu membahagiakan nya."
"Cinta tidaklah cukup. Harus ada komitmen besar, saling percaya dan menjaga hubungan. Tidak ada pengkhianatan ataupun orang ketiga lainnya. Saling menerima kekurangan dan kelebihan pasangan."
"Kamu sanggup setia dengan satu wanita seumur hidup mu?" tanya Bastian.
Langit mengangguk. "Saya berjanji om, tidak akan ada wanita lain." bahkan dari dulu cintanya hanya untuk Arletta seorang. Tidak terpikir sedikitpun untuk mencintai wanita lain apalagi berpaling.
"Saya tidak percaya, mengingat bibit mu seperti-- " Bastian tak melanjutkan kalimatnya namun melirik ke Ardiansyah.
"Mas, kok kamu gitu! gak boleh ngomong gitu!" sela Clara. Bastian hanya mengedikkan bahunya. Sungguh dia belum rela dengan riwayat kedua orang tua Langit.
Langit menundukkan kepalanya. Jika mengenai masalalu orang tuanya, ia tak bisa mengelak.
"Kamu nyindir aku Bas?" ucap Ardiansyah. Tak ada raut kemarahan di wajah berkumis tebal itu. Ardiansyah terkekeh. "Jiwa muda perlu adrenalin, waktu muda, aku ramah dan tampan, wanita mana yang tak terpikat pada ku. Banyak uang lagi." ucap Ardiansyah berbangga diri. Sedangkan Bastian mendengus sebal.
"Saya tipe pria yang gampang bergaul dengan orang sekitar. Gak kayak kamu Bas, mainnya kurang jauh!" seru Ardiansyah.
Clara tertawa kecil, membenarkan ucapan Ardiansyah jika suaminya itu memang kurang pergaulan. Berteman hanya dengan buku tebal dan stetoskop.
"Masalalu ku dan ibu nya Langit jangan kamu sangkut pautkan Bas. Biar kami yang menanggung dosa pada Tuhan. Langit gak tau apa apa." Ardiansyah mulai meyakinkan Bastian. "Aku jamin, Langit gak menuruni sifat kami."
"Bahkan, aku sempat meragukan kejantanannya. Dia sama sekali gak melirik wanita-wanita cantik di sekitarnya. Yang hanya di otaknya itu cuma anak mu Bas, Arletta."
"Aku terima lamaran kalian." seru Clara.
Bastian terkejut. "Sayang, main setuju setuju aja!"
"Apa salahnya, Langit mencintai Arlet mas. Aku percaya kok, kebahagiaan putri ku hanya bersama Langit." Clara.
"Kamu tahu sendiri kondisi Arlet sekarang, yakin menerima nya?" tanya Bastian pada Langit.
"Apapun kondisi Arlet, saya menerima dengan setulus hati. Saya akan menjaga dan mengurusnya." jawab Langit.
"Kurang apa lagi Bas, putra ku ini?"
"Iya mas." Clara.
"Jadi bagaimana? di terima atau di setujui?" Ardiansyah mengulang pertanyaan.
"Gak ada pilihan tidak ya?" Bastian.
"Ada! tidak menolak maksudnya..." Ardiansyah tersenyum tipis. Sedangkan Bastian tak bisa berkutik, apalagi istrinya sudah menggebu untuk menerima pinangan Langit.
"Aku bisa apa! kalo si Nyonya sudah oke." jawabnya sedikit kesal. Di antara mereka, hanya dirinya yang belum siap menerima pinangan untuk putrinya. Tiga lawan satu, tentu saja akan kalah.
"Baiklah.. malam ini juga kita laksanakan akadnya." ucap Ardiansyah tanpa menunggu pendapat dari Bastian.
Bersambung...