
Seusai menyuapi Arletta, Langit mengajak berkeliling taman, kebetulan sekali taman belakang rumah itu ada kebun bunga yang tidak terlalu luas, tapi indah di pandang. Langit selalu mengajak Arletta berbicara, meski nyatanya Langit berbicara sendiri, karena Arletta hanya diam. Berharap Arletta mendengarnya.
"Maaf Pak, sudah waktunya saya membawa nona Arletta ke toilet." ujar suster menghampiri mereka.
Hati Langit kembali tercubit. Separah itukan? hingga ke toilet pun harus di bantu orang lain? tatapan Langit tertuju pada Arletta, mendesis. "Apa setiap harinya Arletta begitu? maksudku.. Arlet gak bisa melakukan apapun sendiri?" tanya Langit yang masih tak percaya.
Suster itu mengangguk."Iya Pak, nona Arletta tidak bisa melakukan apapun. Jiwanya seperti enggan untuk hidup." ucapnya memandang pasien yang ia rawat dengan iba. Gadis cantik seperti Arletta harus mengalami nasib seperti itu, sungguh di sayangkan.
Langit mengangguk mengerti. "Biarkan aku saja yang membantunya ke toilet."
"Tapi itu tugas saya."
"Aku memaksa!"
Suster itu tak berani lagi menolak, mengantar Langit ke kamar Arletta. Namun langkah mereka terhenti ketika Benzema menghadang.
"Mau kemana kamu?" tanya nya ketus.
"Membantu Arletta." jawab Langit seadanya. Benzema meminta kejelasan lebih lanjut pada suster melalui tatapan tajamnya.
Suster itu menunduk melihat tatapan Benzema yang mengerikan. "Maaf Pak, nona Arletta sudah waktunya ke toilet dan pak Langit memaksa ingin membantunya." jelasnya.
Benzema mendelik. "Kamu gila! mau bantuin Arlet?" Benzema mulai mengeluarkan taringnya. "Memang kamu pikir kamu itu siapa? seenaknya saja masuk ke kamar Arletta! apalagi membantunya di dalam toilet! bukan mukhrim!" semburnya tak terima.
Langit terkesiap, dia baru sadar jika membantu Arletta di dalam toilet tidaklah mungkin baginya.
"Jangan pedulikan dia! cepat urus Arlet!" serunya pada Suster.
"Baik pak."
"Maaf aku gak bermaksud." ucap Langit yang baru menyadari dirinya belum berhak atas Arletta.
"Ck!" Benzema hanya berdecak lalu meninggalkan Langit seraya berkata. "Urusan mu sudah selesai, cepat pulang!"
Sebenarnya Langit enggan untuk pulang, pria itu masih ingin bersama Arletta. Tapi si tuan rumah sudah mengusirnya. Langit menghela nafasnya, mau tak mau dia harus pulang sekarang juga, besok dia akan ke sini lagi menemani Arletta di siang hari. Semoga saja Benzema besok di sibukkan dengan pekerjaannya. Langit sudah mulai pekerjaannya di negri ini. Dia akan mulai karirnya di Indonesia.
Ketika akan menggapai pintu utama, Langit berpapasan dengan Soraya yang barus saja datang.
" Kak Langit!" pekik Soraya yang terkejut melihat Langit ada di rumah Arletta. Wajahnya berbinar seketika, sudah di pastikan saran darinya berhasil.
"Hai Sora.." Langit.
"Udah ketemu ama Arlet?" tanya Soraya.
"Sudah, ini baru mau pulang. Besok ke sini lagi." Langit.
Soraya tersenyum lebar dengan kedua alis yang di naik turunkan. "Tas Hermesss keluar terbarunya jangan lupa ya kak." Soraya menagih janji.
"Asik!" soraknya kegirangan. Idenya cemerlang juga, berhasil membuat Langit menemui Arletta. Tentu tidak akan di sia-siakan oleh gadis yang pikirannya di penuhi dengan uang dan barang-barang branded lainnya. Padahal Soraya sudah cukup mempunyai uang yang banyak di rekeningnya.
"Yaudah, kakak pulang dulu." pamit Langit.
"Oke kak! jangan lupa ya.. aku tunggu tasnya."
Soraya masuk ke dalam rumah, gadis itu langsung menuju kamar Arletta. Setiap hari jika Soraya memiliki waktu, dia akan sempatkan untuk menjenguk Arletta. Mengajaknya bicara dan bercerita apa saja sampai mulutnya berbusa. Tapi Soraya tak pernah bosan, berharap Arletta segera kembali ke sedia kala.
"Hai Arletta cantik.." serunya pada Arletta yang baru saja keluar dari kamar mandi bersama susternya. "Sus, biar aku yang temenin Arlet. Suster boleh istirahat."
"Baik non."
"Arlet, tau gak?" Soraya mulai berceloteh. Gadis itu sudah duduk di sofa, sedangkan Arletta ada di hadapannya, dudum di kursi roda.
"Tadi pas di kampus, Digta nembak gue let." seru Soraya. Dia antusias sekali menceritakan kejadian saat di kampus, sebelum ia datang ke rumah Arletta. "Duh.. mimpi apa gue semalem. Tapi gue belum jawab si di terima ato gak. Gue mau ngulur ngulur waktu biar kesannya gak ngarepin banget gitu.."
"Menutut lo gimana? gue jawabnya dua hari kemudian apa seminggu kemudian?" tanya Soraya meski tau jika Arletta tak mungkin menjawabnya.
"Duh let, cepetan sembuh.. gue kesepian tanpa lu." Soraya mendengus, tidak ada gunanya membujuk Arletta. Lama memandang Arletta yang diam membisu. Tiba-tiba saja ide cemerlang melintas di otaknya.
"Emm tau gak let?" Soraya memulai menjalankan misi. "Kak Langit udah mau pindah di sini. Kerjaan juga udah mulai banyak di sini, dia gak balik lagi ke India. Mau nemenin elu katanya."
Soraya lebih mendekat ke Arletta, agar Arletta benar-benar mendengar ucapannya. "Kak Langit kan ganteng, kerja di entertainment. Belum apa-apa udah dapet fans di sini. Instagram udah banyak banget yang follow, kebanyakan kaum wanita.. nih.. liat." Soraya menunjukkan ponselnya pada Arletta. Memperlihatkan akun Langit yang sudah mempunyai jutaan followers.
Soraya tak peduli jika Arletta tidak menanggapinya, yang penting berusaha dahulu. "Nih, cewek nya cakep cakep yang follow.. terus film pertama kak Langit di sini, di bintangi artis terkenal, cantik sama bohay let. Si Anyelir Gardin." Soraya menyebut nama artis yang tengah naik daun.
"Gue sih percaya ama kak Langit yang setia ama elu. Jadi gak mungkin matanya jelalatan. Tapi gue gak percaya sama cewek-cewek itu, pasti bakal godain kak Langit. Elu gak mau kan kak Langit di embat ama cewek lain?"
"Takutnya khilaf Let, khilaf..." seru Soraya menggebu-gebu. "Makanya buruan elu balik, jagain kak Langit biar gak di rebut orang."
"Gue sih kalo jadi cowok normal mah.. ya bakalan sedikit tergoda.. apalagi gak ada pawang yang bakal marahin.." Soraya berusaha memanasi agar Arletta cepat kembali.
"Gue sih ngasih saran aja ama elu. Terserah elu kalo masih pengin semedi gak jelas." Soraya.
"Ah.. capek juga gue ngomong. Gue ambil minum dulu ya." tenggorokannya terasa kering setelah berceloteh di depan Arletta. Soraya pergi meninggalkan Arletta sendiri di dalam kamar.
"Kak Langit..." lirihnya hampir tak terdengar. Suaranya begitu kecil.
Bersambung...
Terimakasih buat temen-temen semuanya.. atas do'a kalian semua. Alhamdulillah otor sudah sehat. Maaf baru sempat ngucapin terimakasih, kemarin lupa😁buru-buru upload soalnya. Love you all😘😘😘😘Semoga bisa up tiap hari ya.. do'a kan saja biar idenya lancar..
Bye.. bye..