Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
India



Arsen dan Lisa di kejutkan dengan kiriman bunga serta berbagai macam makanan khas India. Tidak lupa beberapa kain sari yang begitu indah melengkapi hadiah kiriman tersebut. Ardiansyah sengaja memerintahkan orang suruhannya yang berada di Indonesia mengirimkan semua itu, meski bukan dari India langsung. Bahan dan kualitas tidak di ragukan lagi.


" Ini bener, di kirim untuk alamat rumah ini? " Arsen bertanya pada salah satu orang yang ikut mengantar.


" Benar pak, kami kirim sesuai alamat. Dan atas nama bapak Arsen dan Ibu Lisa. " jawabnya sembari menyodorkan sebuah kertas yang tertulis alamat lengkap serta nama penerima.


Arsen mengerutkan keningnya. " Bener sih. " ucapnya membenarkan. " Dari siapa ini semua? "


" Dari bapak Ardiansyah.. "


" Ardiansyah? " ulang Arsen, mengingat-ingat nama tersebut.


" Bapaknya Langit bukan sih mas? " ingatan Lisa lebih peka.


" Sepertinya. Tapi untuk apa dia mengirim sebanyak ini? " barang yang di kirim oleh Ardiansyah hampir satu mobil box penuh.


" Iya, kayak orang mau lamaran aja. " ucap Lisa.


" Ngaco kamu! masa dia mau lamar kamu sih! " seru Arsen.


" Ikh.. bukan gitu juga mas. Aku kan bilang kayak mau lamaran. Bukan lamaran beneran. " Lisa pun heran untuk apa Ardiansyah tiba-tiba mengirim berbagai macam barang ke rumahnya. " Apa emang cuma ngirim aja, gak ada maksud lain. Mungkin kebiasaan orang India kali ngirimin banyak sama orang terdekatnya. "


" Tapi kita kan gak deket ama dia. " Arsen.


" Gak deket sih. Tapi mungkin pak Ardi udah ngrasa deket sama kamu kali mas. Kan dulu sama-sama menjalin hubungan dengan Sofie. Mantan istri kamu mas! " ucap Lisa mencibir.


Arsen mendengus kesal. " Gak usah di ingetin juga kali yank. Bikin badmood aja! "


" Cih! tapi jadi kenangan terindah kan? " cibir Lisa lalu pergi meninggalkan suaminya, masuk ke dalam rumah.


" Wanita memang aneh! dia sendiri yang mulai, dia yang ngambek duluan! hufftt... "


" Jadi gimana pak? ini semua di taruh dimana? "


" Bawa masuk aja. " Arsen menyuruh salah satu pekerja rumah untuk membantu kurir.


***


" Pih.. papih apa apaan sih ngasih tau jadwal kuliah aku sama Hugo. Aku kan risih pih, tiap hari di anterin. " keluh Arletta yang merasa keberatan dengan keberadaan Hugo.


Bastian tersenyum tipis. " Kamu sekarang kesel, nanti lama kelamaan kalo udah terbiasa juga nyaman. "


Arletta heran dengan tingkah papihnya. " Nyaman? maksud papih apa? "


" Bukan apa-apa! gak usah di pikirin. " ujar Bastian.


Arletta menghela nafasnya kesal. " Liburan semester Arlet jadi loh pih ke Luar negeri. "


" Cuma sama Sora? "


" Iya. "


" Hugo akan ikut kalian! papih dan Kenzo sibuk gak bisa temenin kamu. "


" Kok Hugo si pih.. kak Key yang mau nemenin kita, jadi aman. " Arletta mencoba membujuk papinya.


" Key? "


" Iya pih. "


Bastian diam sejenak, memikirkan terlebih dahulu. Benar juga, Hugo belum tentu mempunyai waktu beberapa hari untuk menemani Arletta. Tidak mungkin ia memaksa untuk mengambil cuti.


" Oke! tapi jaga kepercayaan papi. Kamu gak boleh nakal apalagi neko neko di sana. " Bastian.


" Siap pih. " Arletta sudah tidak sabar memberi kejutan untuk sang kekasih. Dia akan memberikan surprise kehadirannya di India pada Langit.


***


" Soraaaa! " teriak Arletta ketika masuk ke rumah Sora. Saking bahaginya, Arletta berlarian sembari meneriaki nama Sora.


" Arlet! "


Arletta menghentikan langkahnya. " Iya Uncle.. "


" Sora ada di kamar, jangan teriak teriak dan lari nanti jatoh. " ujar Arsen mengingatkan keponakan nya.


" Oh.. ini, paket nyasar! " jawabnya asal.


" Paket nyasar kok banyak banget. " kedua mata Arletta berbinar melihat kain sari yang begitu indah. " Ini bagus banget uncle. " Arletta memegang kain itu.


" Kalo mau ambil aja. " Arsen.


" Beneran? tapi ini punya siapa? ntar Arletta pake punya orang. "


" Kamu mau pake itu? buat apa? "


" Hehe.. buat di pake lah.. nari nari kayak orang India.. hihi.. pasti Arlet cantik deh kalo pake ginian. " Arletta tak sabar ingin mencoba kain sari itu.


" Gak usah deh! kalo pake itu pusernya kemana-mana! kamu di larang pake! Sora juga gak boleh. "


Arletta mendengus kesal " Iya deh.. Arlet ke atas dulu ya uncle. "


" Hem.. "


***


Hari dimana Arletta dan Sora berlibur ke India pun tiba. King dengan suka rela menemani kedua gadis itu. Walaupun sebenarnya dia ingin segera kembali ke Jerman untuk bertemu dengan kekasih tercintanya, Camelia.


" Nanti kita ke kota Kasmir ya, pemandangan di sana bagus banget. " usul Sora yang ingin menikmati liburan di negara yang di tuju.


" Iya Ra, gue juga pengin ke sana. " Arletta pun ikut antusias ingin mengunjungi kota terindah itu. " Gue mau ngajak kak Langit ke sana.. kayaknya romantis.. hihi.. " bisik Arletta di telinga Sora.


" Ish, ntar gue jadi kambing congek dong, liatin kalian pacaran! " gerutu Sora.


" Kan ada kak Key.. elu gak bakal sendirian. " Arletta.


" Kalian pada bisik-bisik apa sih! " seru King.


" Rahasia cewek kak. Kakak gak boleh tau! " Sora


" Ya.. ya.. ya.. terserah kalian deh.. " King lebih baik mengalah pada kedua gadis itu.


Jarak yang di tempuh sangat jauh. Setibanya di hotel, mereka bertiga mengistirahatkan tubuh terlebih dahulu. Keesokan harinya baru akan di gunakan untuk berkeliling dan berwisata ke tempat yang sudah di rencanakan.


Betapa bahagianya Arletta sudah bisa menginjakkan kakinya di negri yang sama, dimana Langit tinggal si sini. Rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya itu. Rindunya begitu membuncah, " Kak Langit.. kita akan segera bertemu.. " gumamnya sebelum Arletta benar-benar tertidur.


Sedangkan di kamar sebelah, King terlihat kesal dan beberapa kali mengumpati ponselnya. Sejak dua hari, Camelia tidak bisa di hubungi. Ada rasa cemas dan rindu menjadi satu.


" Arrrggghhh.. Camelia! " rasa cintanya untuk Camelia begitu besar. Sampai satu hari, bahkan satu jam tidak tukar kabar dengan Camelia membuat King frustasi. Ada rasa ketakutan kehilangan kekasihnya itu.


King menghela nafas panjang, mencoba meredam emosinya. Dan ingin berfikir positif tentang Camelia. " Mungkin dia sibuk. Kayaknya gue harus cepet-cepet balik ke Jerman. " pikir King. Memikirkan Camelia membuatnya melupakan tugas yang di berikan daddy dan uncle nya, untuk menjaga Arletta dan Soraya. Berniat untuk kembali ke Jerman esok hari.


***


" Tunggu Raj, jangan gegabah.. keputusan mu akan mempengaruhi film yang baru launching. Kita akan rugi besar. " ucap Ardiansyah menasihati Langit agar tidak gegabah mengambil keputusan.


" Tapi pah.. " Langit tampak enggan untuk meneruskan pertunangannya dengan Neelam. Pria itu ingin segera mengakhiri hubungan kepalsuan ini.


" Dua bulan saja Raj, semua tidak semudah itu. Fans fanatik Neelam akan menghujatmu dan gosip mu yang seorang gay akan tersebar luas, mereka akan mempercayai gosip buruk itu. " yang Ardiansyah.


" Aku tidak peduli pah.. walau harus rugi milyaran rupee. "


" Bukan hanya uang Raj, reputasi mu di dunia hiburan akan hancur. Karirmu yang selama ini susah payah kau gapai akan sia-sia. "


Langit menunduk lemas. " Apa tidak ada jalan keluar lain pah. "


Ardiansyah menggeleng. " Semua sudah terlanjur. Dua bulan, beri waktu papa untuk menyelesaikan semuanya. Dua bulan waktu yang cukup untuk mempertahankan pertunangan ini. Dan tidak akan mempengaruhi film terbaru mu. "


" Baik pah. " Langit setuju.


" Nanti papa akan bicarakan dengan Neelam baik-baik. Sekarang persiapkan dirimu. Besok malam ada wawancara khusus Kamu dan Neelam. " ujar Ardiansyah mengingatkan.


" Aku tidak ingin ada media meliput pah. "


" Tenang saja, papa akan urus semuanya. "


" Terimakasih pah.. " Langit.


Bersambung...