
Pagi yang cerah mengawali hari ini. Ketika bangun tidur, Langit bisa memandangi wajah istrinya yang begitu cantik. Langit membelai pipi Arletta dengan lembut seraya membangunkannya.
"Selamat pagi sayang.." di iringi kecupan di kedua pipi itu. Tak kunjung bangun, Langit menghujani kecupan di wajah Arletta, lalu turun ke lehernya. Pria itu begitu menikmati menyesaap aroma tubuh Arletta hingga tak terkendali. Kabut gairah menyelimutinya. Bersentuhan dengan lawan jenis terutama dengan wanita yang sangat di cintainya membuatnya gelap mata.
Namun, akal sehatnya cepat kembali. Tidak mungkin ia melampiaskan nafssunya pada kondisi Arletta yang belum sepenuhnya pulih. Ketika mendongakkan wajahnya, Arletta sudah membuka matanya. Rupanya Arletta terusik dengan kegiatan Langit.
"Maaf, aku khilaf." ucapnya, meski Arletta tak akan meresponnya. Langit menatap wajah Arletta. Pria itu tak hentinya mengagumi kecantikan istrinya. "Kamu sangat cantik."
"Cepatlah kembali, aku merindukan mu." setelah itu, Langit membantu Arletta membersihkan tubuhnya. Lagu-lagi pria itu harus menahan hasratt ketika melihat tubuh polos Arletta. Entah sampai kapan ia bisa menahan kalau setiap harinya disuguhkan pemandangan yang sangat menggiurkan matanya.
Langit mengurus Arletta begitu telaten. Memilihkan pakaian yang cukup menarik. Tidak lupa mengolesi beberapa produk kecantikan di wajah istrinya agar terlihat lebih segar. "Istriku sangat cantik." ucapnya setelah Arletta rapih. "Sekarang giliran ku mandi. Kamu di temani suster dulu ya." Langit mendaratkan kecupan di bibir Arletta, sedikit melummat bibir itu. Jika saja kondisi Arletta segar bugar, tentu saja Langit tak akan menyiakan kesempatan untuk memadu kasih dengan istri tercinta. Nyatanya Langit harus bersabar sampai hari itu tiba.
"Kamu ambil cuti kerja?" tanya Clara ketika Langit dan Arletta datang ke meja makan untuk sarapan bersama.
"Hari ini aku masih ke kantor mih. Besok sudah mulai cuti." Pernikahan mendadak membuat Langit tidak sempat meng-handle pekerjaannya. Kebetulan hari ini ada meeting dengan sutradara serta artis yang akan bergabung di film terbarunya. "Ada meeting yang gak bisa di undur."
Clara mengangguk mengerti." Yasudah sarapan dulu sebelum berangkat kerja."
Langit tersenyum, lalu menyapa papi mertuanya. "Pagi pih."
"Hem." Bastian.
***
"Mas kamu apa apaan sih! Key itu anak kita, kamu lebih sayang harta daripada anak?" ucap Lisa pada sang suami.
"Kesalahannya sangat fatal! harus di kasih pelajaran biar sadar!" seru Arsen. "Bukan harta yang aku permasalahkan, tapi Key harus belajar agar bisa menghargai apa yang ia punya." kata Arsen.
"Tapi gak perlu ngasih hukuman sekejam itu!" Lisa tak terima jika Arsen menghukum King terlalu kejam. Mencoret King dari daftar keluarga. Mencopot nama Haidar yang tersemat di nama belakangnya.
Arsen bungkam, tidak terpengaruh dengan istrinya yang memohon agar King termaafkan. Pasalnya kesalahan King memanglah sangat fatal. Tiga cafe yang cukup besar sudah berpindah tangan kepemilikannya pada wanita yang berhasil menipu putranya. Cafe yang didirikan Arsen dari nol hingga memiliki dua cabang itu sangat berarti bagi Arsen, sebagai bukti bahwa Arsen meraih kesuksesan di masa mudanya tanpa bantuan dari keluarga. Murni di dirikan sendiri.
Untung saja perusahaan peninggalan grandpa Jordan bisa terselamatkan. Entah darimana King bisa mengenal wanita picik itu. Arsen benar-benar kecewa terhadap putranya.
***
Dua minggu berada di Jerman, kini Benzema telah kembali. Pria itu ingin segera sampai ke rumahnya dan meminta penjelasan pada keluarga mengenai pernikahan adik perempuan nya.
Benzema semakin kesal ketika tiba di rumah langsung di suguhkan pemandangan yang tak ia sukai. Langit sedang berkumpul dengan keluarga nya.
"Benz, kamu udah pulang?" Clara menghampiri putranya, Benzema sama sekali tidak memberitahu kepulangannya pada siapapun.
"Stop mih!" Benzema risih dengan kecupan yang di berikan oleh maminya. "Benz bukan anak kecil lagi."
"Tapi kamu tetep putra mami." Clara tak hentinya memberikan kecupan gemas di wajah Benzema.
"Come on mih." Benzema menghindar, lalu ikut bergabung dengan Bastian dan yang lainnya.
"Bagaimana?" tanya Bastian.
"Perusahaan aman, tapi cafe milik uncle masih dalam proses agar bisa di ambil kembali." jawab Benzema. Bastian mengangguk mengerti.
"Bantu uncle mu, cafe itu sangat berarti buatnya." ucap Bastian yang sedikit lebih tahu tentang permasalahan yang telah menimpa iparnya.
"Iya pih." jawab Benzema.
"Kamu gak istirahat dulu Benz?" Clara.
"Semalam Benz tidur di hotel." dini hari Benzema tiba di Indonesia, pria itu memilih singgah di hotel terdekat untuk beristirahat. Tatapan Benzema beralih pada Langit.
"Kamu sengaja memanfaatkan situasi saat aku gak ada!" ucapnya.
"Emm.. bukan begitu kak." Langit bingung harus menjawab apa. Sedangkan dirinya pun tak menyangka bisa menikahi Arletta secepat itu.
"Sudahlah Benz, mereka sudah menikah. Arletta juga semakin ada kemajuan saat di rawat oleh Langit." Clara.
"Hubungan kami tetap sah dan akan di resmikan kalo Arlet udah sembuh!" seru Langit, tak suka jika Benzema meragukan hubungan sakral itu.
"Kita liat nanti!" Benzema.
"Benz!!" tegur Clara agar tak melanjutkan obrolan yang semakin memanas.
"Ada apa sus?" tanya Langit yang melihat suster masuk ke dalam rumah, baru saja membawa Arletta mencari udara segar di luar.
"Ini den, non Arlet seperti nya datang bulan.." jawab suster.
Langit beranjak dari duduknya menghampiri istrinya. "Kasih tau caranya aja sus, biar aku yang mengurusnya." Langit begitu tulus mengurus Arletta.
"Baik den."
"Tuh liat, adik mu dapetin suami yang sayang banget. Padahal Langit itu baru pulang kerja loh.." ucap Arletta.
Benzema terdiam, dia juga tak menyangka jika Langit akan sudi mengurus Arletta tanpa merasa jijik.
"Uhhh... seneng banget kalo dapet suami perhatian kayak gitu." ucap Clara. Suami perhatian penuh kasih sayang, siapa yang tak mau? wanita tak. lagi muda seperti Clara pun sangat mengidamkan suami seperti itu.
"Yank, aku kurang perhatian apa sama kamu." Bastian.
"Kamu gak kurang perhatian, tapi kurang romantis." jawab Clara.
"Ya ampun, kurang romantis? yakin?" Bastian.
Benzema jengah mendengar obrolan kedua orang tuanya. "Stop deh pih, mih.. Benz geli dengernya!" sungut Benzema. "Udah tua masih aja lebay!" Benzema beranjak pergi ke kamarnya.
"Benz! buruan kasih kami cucu, kalo gak mami yang kasih kamu adik lagi!" seru Clara.
"Mami!!!" teriak Benzema yang kesal. Mempunyai adik lagi? sungguh memalukan!
"Beneran kamu mau punya anak lagi? nambah?" tanya Bastian.
"Dih! ingat umur mas!" seru Clara.
"Lah tadi kamu bilang.."
"Cuma mancing biar anak mu itu cepet nikah!"
"Oo.. kirain!"
***
Sore harinya Langit membawa Arletta jalan-jalan ke taman kota, sesuai saran dari psikiater yang harus sesering mungkin mengajak Arletta ketempat keramaian.
Di bawah pohon rindang Langit dan Arletta duduk di sana, setelah tadi mengelilingi taman. Langit duduk di bangku kayu dekat dengan pohon beringin, sedangkan Arletta duduk di kursi rodanya.
Langit berbicara mengenai keseharian nya di kantor sembari menyuapi Arletta buah-buahan.
"Sayang, apa boleh aku mempekerjakan Kalpana lagi? dia cukup pintar dan handal membantu pekerjaan ku." ucap Langit meminta ijin mempekerjakan asisten lamanya.
Langit terkekeh. "Kamu gak cemburu kan? wanita cantik di luar sana aja gak aku lirik, apalagi Kalpana?" Langit kembali menyuapi Arletta meski harus sedikit memaksanya membuka mulut.
"Sayang aku merindukanmu.. rindu suaramu, tawamu, semuanya... tolong cepatlah kembali." ucap Langit sembari mengelus pipi Arletta, lalu turun mengusap sudut bibirnya yang terdapat sisa sari buah.
"Aarrggghhhh...." jerit Langit ketika punggungnya tergigit oleh ular berbisa. Langit pun ambruk tak sadarkan diri. Orang-orang mulai berkerumunan menghampiri Langit. Pawang ular yang sedang melakukan atraksi di taman tersebut segera mengamankan ularnya yang kabur dari pertunjukan. Lalu membantu Langit agar bisa ular tak menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Kak Langit.." lirih Arletta yang melihat tubuh Langit di bawa oleh orang, entah siapa itu. Yang pasti untuk menyelamatkan Langit.
Bersambung...