Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Kalah telak



"Selamat pagi istriku.." Langit menyapa, ketika istrinya membuka matanya. Sedari tadi, Langit terus memperhatikan Arletta yang masih tertidur nyenyak hingga terbagun. Tak pernah menyangka, dirinya telah memiliki wanita itu seutuhnya.


Arletta tersenyum malu, lalu menutupi wajahnya dengan selimut. Bayangan kegiatan erotis semalam membuatnya sangat malu bertatapan langsung dengan suaminya.


Langit pun tersenyum melihat tingkah istrinya yang masih malu-malu padanya. Padahal semalam mereka sudah saling melihat tubuh polos tanpa sehelai benang pun. Bahkan saling merintih dan mendesaah karena kenikmatan.


"Sayang, udah siang. Gak mau bangun nih? apa masih mau tidur tiduran?" ucap Langit sembari meraih selimut yang menutupi wajah istrinya.


"Kak, jangan di buka! aku malu!"


"Gak usah malu sayang. Kamu malah bikin gemes, jadi pengin minta lagi." tingkah Arletta membuat Langit semakin gemas. Rasanya ingin mengulang kegiatan semalam di pagi hari ini.


Langit mulai mendekat, perlahan memeluk tubuh Arletta. Membuat jarak di antara mereka mengikis. Hingga tubuh yang masih sama-sama polos bersentuhan kembali. "Kakak mau lagi, boleh?" permainan satu ronde belum membuat seorang Langit merasa puas.


"Gak mau! masih sakit kak." tolak Arletta.


"Yaudah deh.." Langit tidak mau memaksakan kehendaknya. "Tapi ntar malem bolehkan?" pria itu sangat berharap nanti malam bisa menikmati kembali.


"Mending kakak mandi dulu gih.." Arletta.


"Mandi bareng aja gimana? biar cepet, gak perlu nunggu." tentu saja Langit tak akan menyiakan kesempatan untuk bermesraan dengan istrinya.


"Ishh.. itu mah modus!" Arletta cemberut.


"Iya.. iya.. kakak mandi deh."


Di lantai bawah, Ardiansyah tengah menunggu pasangan pengantin baru yang belum juga menunjukkan batang hidungnya.


Arletta berjalan tertatih menuruni anak tangga. Rasa perih dan tidak nyaman membuatnya susah berjalan. Arletta lebih dulu selesai membersihkan diri. Karena Langit mengalah, membersihkan diri di kamar mandi lainnya, agar ritual mandi mereka tidak lama jika harus bergantian. Padahal mandi bersama lebih asik dan menyingkat waktu. Tapi Arletta menolaknya dengan alasan malu.


Arletta menengok ke kiri dan kanan. "Aman.." gumamnya ketika tidak melihat satu orang pun berkeliaran di sekitarnya. Kemudian Arletta melangkah kembali dengan cara jalan yang tak biasa. "Aduh.. kok masih perih sih.."


"Arlet!" panggil Ardiansyah yang membuat Arletta terkejut.


"Ya ampun!" pekiknya. "Iya pah.. ada apa?"


"Sini, belum sarapan pagi kan?" tanya Ardiansyah. Ayah mertuanya menyuruhnya ikut bergabung duduk di sofa ruang keluarga. Lalu menyuruh salah satu pelayan untuk membawakan sarapan untuk sang menantu. " Sarapan di sini aja ya? papa temenin." ujar Ardiansyah. Toh sarapan yang Arletta pintar hanya sandwich dan segelas susu.


"Iya pah.." perlahan Arletta melangkah, sebisa mungkin langkahnya di buat normal, seperti biasanya.


Ardiansyah mengerutkan keningnya ketika memperhatikan cara jalan Arletta yang terlihat lamban dan susah. Tawanya menggelegar tatkala akal pikirnya langsung bekerja. "Putraku hebat!" batinnya memuji anak laki-laki nya.


"Apa semalam putra ku membuat menantu papa kelelahan?" tanya Ardiansyah.


"Hah?" Arletta.


"Papah!" tegur Langit yang baru saja keluar dari ruang kerja. Rupanya seusai membersihkan diri, Langit menyempatkan menyelesaikan pekerjaannya yang kemarin tertunda.


"Sayang, jangan dengerin papah." Langit merangkul bahu istrinya, lalu berbisik. "Apa masih sakit? mau aku gendong?"


Arletta menjawab dengan sebuah cubitan kecil di perut Langit. "Ishh.."


"Sakit sayang.." lirih Langit.


Ardiansyah memperhatikan dua sejoli itu, tanpa mendengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan. "Iya.. iya.. papa diem." ucapnya santai, sembari mengerlingkan sebelah matanya, menggoda putranya.


***


Siang harinya, Langit mengantarkan pulang istrinya. Sebenarnya Langit ingin lebih lama menginap di rumahnya, namun Arletta ingin cepat-cepat pulang. Karena harus belajar dan mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk.


"Siang kak.." sapa Arletta pada Benzema dan King. Sedangkan Langit hanya tersenyum. Menyapa Benzema pun belum tentu mendapat balasan.


Langit tidak akan memaksa agar Benzema menerimanya. Tipe seperti Benzema harus di ambil hatinya secara pelan-pelan.


Benzema menyambut adik perempuan nya dengan seulas senyuman. "Kamu gak papa kan? di culik ama dia? apa ada yang sakit?"


"Kita cuma nginep kak." Langit.


"Ihk.. aku gak di culik kak, Arlet pergi ama kak Langit, suami ku kak!" Arlet sedikit kesal karena kakaknya itu masih saja belum menerima Langit.


"Kakak cuma khawatir." Benzema mengabaikan Langit.


"Maklum Let, gak ada yang di khawatirin selain kamu, jomblo abadi!" seloroh King di sertai gelak tawanya yang renyah.


Benzema melotot tak terima. "Urus semua sendiri!" pria itu melemparkan satu bendel kertas ke wajah King.


"Eh.. eh.. gak bisa gitu dong.. aku kan cuma bercanda!" King menghentikan tawanya. "Bercanda, oke?" jika saja dia mempunyai cukup uang, sudah pasti akan mengurus masalahnya sendiri, tanpa bantuan dari Benzema.


Arletta dan Langit pamit untuk ke kamar. "Kak, aku antar Arletta ke kamar dulu."


"Iya Ngit." King. Benzema hanya diam.


"Wah.. wah.. wah.. di rumah ini udah kehabisan perawan kayaknya." celetuk King, yang memperhatikan cara jalan Arletta. Sontak saja membuat ketiga manusia itu mengalihkan pandangannya pada King.


"Apa maksud mu?" Benzema yang tidak peka bertanya.


King mengedikkan kedua bahunya, mengabaikan Benzema. Lalu tatapannya tertuju pada Langit. "Pecah telor nih?" ucap King dengan kedua alisnya si naik turunkan. "Gimana rasanya? nikmat kan?" King tergelak.


Langit membulatkan matanya. "Sialan lu Key!" Arletta sudah tertunduk malu, menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Sedangkan si manusia minim pengalaman masih menerka-nerka tentang apa yang King bicarakan. Sedikit mengerti namun tak yakin.


"Key, kamu ngomong apa?" Benzema.


"Astaga! si orang pinter gak ngerti juga?" King tepok jidat. "Kayaknya perlu di training nih.."


"Key! jangan bicara nglantur! ngomong yang jelas!" sentak Benzema.


King menghela nafasnya. "Mereka nginep buat menjalankan ritual malam pertama yang tertunda!" ucap King dengan satu tarikan nafas. "Jelas? apa masih belum ngerti juga?"


Benzema tak lagi mendengar ocehan King. Kedua matanya menatap tajam Langit. "Kamu lupa dengan janji mu?"


Langit menggeleng. King dan Arletta tak mengertiengenai janji yang sedang di bicarakan. "Lalu kenapa mengingkarinya?"


"Aku gak ingkar kak." jawab Langit santai. Tangannya menggenggam erat tangan Arletta.


"Terus namanya apa kalo gak ingkar?" suara Benzema meninggi. "Cih! bisa-bisanya menipu ku!"


"Kak aku gak ingkar. Aku kan cuma meniduri Arletta, istriku. Janji ku kan gak akan menghamili Arletta sebelum Arlet menyelesaikan kuliahnya." Langit.


Benzema kalah telak. Rupanya otaknya tak berfungsi dengan baik kala itu. Meminta Langit jangan dulu membuat hamil adiknya, yang ia pikir kalimat itu sudah cukup memperingati agar Langit tak menyentuh Arletta.


"Bener itu!" sela King.


"Kamu yang kurang pinter kak, meniduri bukan berarti menghamili! ck. ck. ck.. bener-bener harus di training ini." King tergelak.


"Diam kamu!" Benzema.


Bersambung...