Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Lamaran resmi



Menikahi Arletta tentu saja bukan hal mudah bagi Langit. Ada Bastian dan Benzema yang berdiri kokoh menghalanginya. Niat baiknya tak tersambut baik oleh kedua pria itu. Benzema dengan lantang menolak lamaran Langit.


"Mas, kurang apa Langit? dia tampan, pinter, mapan yang paling penting sangat mencintai putri kita." ucap Clara.


"Dia bukan yang terbaik." jawabnya singkat.


"Terus yang terbaik menurut papi itu siapa? Hugo? pria pilihan papi!" seru Clara. "Mana dia dateng kesini jengukin anak kita! gak pih gak!" benar kata Clara. Semenjak Arletta sakit, Hugo sama sekali tidak datang menjenguk Arletta. Hanya karangan bunga dan parcel buah yang datang.


"Mungkin dia sibuk." Bastian masih berfikir positif.


"Ish.." kesal Clara. "Jelas-jelas Langit tiap hari datang ke sini, jengukin Arlet, bantu ngurusin Arlet. Gak cukup buat kamu mas ngliat besarnya cinta Langit ke Arlet?"


"Kamu aja kalah mas, gak bisa kayak Langit. Romantis banget tiap hari bawain bunga. Selalu muji kecantikan Arlet. -Hari ini kamu sangat cantik, aku makin cinta-" itulah kutipan kalimat yang Clara dengar ketika Langit mengajak ngobrol dengan putrinya.


"Kok jadi bawa-bawa aku sih yank. Aku romantis kok, bahkan sangat romantis!" Bastian tak terima.


"Romantis darimana!" cibir Clara.


"Ayo ke kamar, aku tunjukin."


"Cih itu mah mesum bukan romantis!" seru Clara. "Pokoknya ya mas, aku sih setuju nikahin Arlet sama Langit. Kalo kamu gak setuju itu terserah kamu!" ucap Clara final. Kemudian pergi meninggalkan Bastian sendirian di ruang keluarga.


"Ck! selalu seperti itu!" Bastian menggelengkan kepalanya.


"Pih! pokonya Benz gak setuju ya, papi nerima Langit buat Arlet." saut Benzema. Pria itu baru saja keluar dari kamar. "Jangan lembek napa pih sama mami! yang tegas dong! papi masa takut sama mami. Suami takut istri!" cibir Benzema.


"Ck, gak usah sok tau!" Bastian tak ingin memperpanjang pembicaraan dengan Benzema. Kepalanya terasa pusing. Seharian ini hanya masalah Langit dan Arletta yang di bahas di rumah ini. Ada yang pro dan kontra.


Ketika Benzema hendak keluar, pria itu berpapasan dengan Soraya yang baru saja datang.


"Kak Benz mau ke rumah ya?" tanya Soraya.


"Iya, uncle ada kan?" Benzema.


"Ada kayaknya." jawab Soraya. "Emang ada masalah apa sih kak? kak Key kenapa?" tanya Soraya yang penasaran apa yang sedang terjadi. "Beneran kak Key kena tipu?"


Benzema mengangguk. "Iya, terlalu bucin! merepotkan saja!"


"Tuh kan bener! terus kak Benz mau ke Jerman?"


"Iya, berangkat lusa."


"Aku ikut ya kak! biar aku cakar tuh si Camelia! kalo ketemu."


"Gak usah, makin repot kalo kamu ikut." Benzema berlalu begitu saja.


"Dih ni orang bener-bener ya, kaku banget!"


***


Mendengar putranya sudah melamar gadis yang di cinta, Ardiansyah buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Agar menyusul Langit ke Indonesia. Dia akan melamar Arletta secara resmi untuk putranya.


Sedangkan Langit sudah menunggu harap-harap cemas, pasalnya setelah mengutarakan niatnya waktu itu. Langit di persulit menemui Arletta. Tidak bisa menemani Arletta saat makan siang. Hal itu membuat nya gusar.


Saat ini Langit tengah berdiri di depan pintu pagar rumah Arletta. Berharap penghuni rumah mengijinkannya masuk.


Langit mengangguk mengerti, tidak mempersulit orang yang hanya bekerja. "Gak papa pak."


"Onti Clara ada di dalam?" tanya Langit, karena hanya Clara harapan satu-satunya yang dapat membantunya.


"Ada den, nyonya masih di dalam. Mau saya panggilin?"


"Gak usah pak, saya pergi dulu. Nanti ke sini." pamitnya.


Dua hari berlalu, Langit masih belum bisa menemui Arletta. Benzema mewanti-wanti agar orang rumah tidak mengijinkan Langit masuk dengan mudah. Tentu saja tanpa sepengetahuan Clara. Sedangkan Bastian membiarkan Benzema seolah pemikiran kedua pria itu sama.


"Kapan kamu mau melamar Arlet secara resmi?" Ardiansyah sudah tiba di Indonesia. Pria paruh baya itu sangat antusias melamar seorang gadis untuk putranya.


"Keluarga besarnya belum semua setuju dan menerima lamaran Langit." ucap Langit dengan jujur.


"Kenapa gak setuju? kamu tampan dan mapan. Apalagi yang mereka cari?" Ardiansyah.


"Om Bastian dan Kakak tertuanya tidak terlalu menyukaiku."


"Masa sih? gak percaya papa, Bastian bakal nolak kamu. Ayo papa temui sekarang. Pasti Bastian gak bakal nolak kamu, papa jamin." ucap Ardiansyah percaya diri. Ardiansyah dan Bastian dulu sempat dekat. Ardiansyah tahu kelemahan Bastian. "Tapi Clara setuju kan, restuin kamu?"


Langit mengangguk. "Cuma onti Clara yang berpihak pada ku."


Mendengar itu Ardiansyah kembali percaya diri. "Kamu siap-siap, sore ini kita langsung lamar Arlet. Gak usah takut di tolak."


"Tapi pah.."


"Percaya sama papa." Ardiansyah kemudian menyuruh orang suruhannya untuk membawa bingkisan yang telah ia siapkan. Sebelum ke Indonesia, Ardiansyah singgah me Singapore terlebih dahulu.


Langit mengerutkan keningnya ketika melihat banyak bingkisan memenuhi dua mobil milik Ardiansyah. "Itu apa pah?" tanya Langit.


"Itu salah satu kunci untuk kamu mendapatkan restu." Ardiansyah tersenyum jumawa.


"Yakin pah?" Langit sedikit tak percaya. Untuk apa ayahnya membawa keperluan wanita seperti tas, sepatu, gaun, dan lain-lain yang memiliki merk ternama di dunia. "Gak ada bunga? nanti kita mampir beli dulu ya pah. Sekalian ke toko perhiasan, Langit belum membeli cincin untuk Arlet."


"Kalo bunga papa lupa, nanti kita beli." ucap Ardiansyah. "Tapi kalo cincin dan perhiasan lainnya udah papi siapin." Ardiansyah menunjukkan kotak besar berisi perhiasan lengkap. "Bagus gak?"


Wajah Langit berbinar, tak menyangka papanya sudah menyiapkan dengan sempurna. "Bagus pah, Arlet pasti suka."


"Papa bawa banyak, tuh.." Ardiansyah menujukan dua kotak besar lainnya yang berisi perhiasan full set khas India.


"Terimakasih pah, semoga saja lamaran Langit di Terima dan berjalan lancar."


"Pasti di terima dong. Penghalang sudah teratasi. Bastian pasti oke kalo Clara udah oke." Ardiansyah mengedipkan sebelah matanya.


"Masih ada Benzema pah."


"Dia ada di Jerman, gak bakal ganggu. Makanya kalo lamaran di Terima, langsung nikah aja, gak perlu nunggu lama lagi."


" Iya pah." ucap Langit semangat.


Bersambung...