
Pagi-pagi sekali, Arletta sudah meninggalkan rumahnya untuk menemui Langit. Gadis itu menitip pesan lewat pelayannya, untuk disampaikan kepada kedua orang tuanya, dia pergi meninggalkan rumah tanpa sarapan terlebih dahulu karena ada kegiatan di kampus.
Arletta tidak mau melewati kesempatan mengantar Langit sampai ke Bandara siang ini. Dia juga ingin memanfaatkan sisa waktu yang ada, untuk mendekatkan diri pada Langit.
Hati Arletta berseri-seri. Sudah tidak sabar bertemu dengan Langit. Pagi hari jalanan masih lenggang, membuat Arletta terhindar dari kemacetan, yang mungkin beberapa menit lagi banyak kendaraan memulai aktivitas dan akan memenuhi jalanan ibu kota.
Pintu gerbang terbuka lebar mempersilahkan mobil Arletta masuk. Arletta menyapa security dengan menampilkan senyuman manisnya.
Arletta dengan mudah masuk ke dalam rumah. Di sana ada pelayan yang sedang bersiap menyiapkan sarapan pagi. Arletta ikut bergabung, gadis itu ingin membuatkan secangkir kopi untuk pria pujaan hatinya. Tidak lupa satu tangkap roti tawar berselai coklat kacang menemani secangkir kopi hitam yang di letakan di atas nampan.
Penampilan Arletta pagi ini sangat cantik, seperti biasanya. Dia selalu memikat bagi siapapun yang melihatnya. Mini dress dengan corak bunga-bunga kecil menambah manis penampilan Arletta.
" Kak.. bangun udah pagi. " Arletta mengguncang bahu Langit, membangunkan pria itu. Nampan yang berisi sajian untuk Langit sudah ia letakan di atas nakas. Arletta dengan mudah masuk ke dalam kamar Langit, karena pintu kamar itu tidak di kunci.
Arletta tersenyum, rasanya senang sekali bisa melihat wajah Langit di pagi hari. Pria itu masih terlihat tampan walau dalam keadaan tidur, rambut acak-acakan, mulut sedikit terbuka. Begitu menggemaskan di mata Arletta.
" Kak.. bangun. " Arletta kembali membangunkan Langit. Pria itu hanya bergumam tak jelas.
" Kak. " panggilnya dengan suara sedikit di tinggikan.
Grep..
" Sebentar saja. Aku sangat merindukanmu.. " Langit menarik tangan Arletta, lalu memeluk tubuh itu. Kedua mata Langit masih terpejam. Tetapi pelukan itu begitu erat membuat Arletta senang bukan kepayang. Gadis itu pun membalas pelukan Langit, bahkan tubuhnya sudah berbaring di samping Langit.
" Aku merindukan mu.. sangat! " ucap Langit. Arletta tersenyum, lalu mendongak untuk menatap wajah Langit. Kedua mata Langit masih terpejam.
" Kakak! kakak udah bangun? " tanya Arletta untuk memastikan. Namun tak ada sahutan dari pria itu. " Cuma ngigo ternyata.. "
Lama mereka saling berpelukan, hingga Arletta memejamkan matanya, rasa kantuk tak bisa gadis itu tahan, Arletta pun tertidur. Semalam saking antusiasnya bertemu dengan Langit, Arletta kesulitan untuk tidur.
Satu jam kemudian Langit mengerjapkan matanya, pria itu terkejut mendapati Arletta berada di pelukan nya. " Aku kira hanya mimpi. " gumamnya.
Langit bisa leluasa memandangi wajah Arletta yang semakin cantik. Seulas senyuman terbit di wajah pria itu, tatkala bibir Arletta bergumam tak jelas. Jemari Langit pun mengelus pipi Arletta dengan lembut. Perlahan Langit mengendurkan pelukannya, berusaha agar tidak menganggu tidur nyenyak Arletta.
Langit membiarkan Arletta tertidur di ranjangnya sedangkan dirinya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Seusai membersihkan diri, langit menyantap sarapan paginya yang sudah tersedia di atas nakas.
Panggilan Kalpana membuat Langit bergegas keluar dari kamar. " Ada apa? "
" Tuan, jadwal penerbangan kita hari ini jam satu siang. Apa tuan ada kegiatan di luar? " tanya Kalpana berharap Langit akan membawanya berkunjung ke suatu tempat yang belum pernah ia singgahi.
" Tidak ada. Aku hanya ingin beristirahat di rumah saja. " jawab Langit. " Kalau kamu ingin jalan-jalan silahkan aja. Sebelum jam 12 harus sudah ada di sini. " Langit memperbolehkan Kalpana menikmati waktunya di Jakarta, karena ia tahu Kalpana baru pertama kalinya datang ke Indonesia.
" Oh.. baiklah. tapi saya di sini saja menemani tuan. " Kalpana.
" Terserah.. " ucap Langit.
" Tuan.. mari kita sarapan bersama. " ajak Kalpana.
" Aku udah sarapan.. " Langit.
Kalpana mendegus kesal, atasannya itu selalu saja bersikap dingin. " Tuan.. " panggil Kalpana ketika Langit ingin pergi.
" Ya? " pria itu berbalik.
" Tadi nona Neelam menghubungi ku. Menanyakan tuan, ponsel tuan sulit di hubungi. " ujar Kalpana memberitahu. Neelam Kapoor, salah satu artis Bollywood yang sedang naik daun. Neelam membintangi film yang di sutradarai oleh Langit. Dan media menggosipkan jika Neelam dan Raj mempunyai hubungan khusus.
Langit mengangguk. " Ponsel ku mati. Nanti aku akan menghubungi balik. " Langit pergi meninggalkan asisten nya itu. Untuk melakukan meeting secara online.
Arletta pun keluar, sebelumnya dia sudah mencuci muka terlebih dahulu, agar terlihat segar.
" Hei! kenapa kamu di sini! " Kalpana terkejut mendapati Arletta berada di rumah ini. " Lancang sekali kamu! " geramnya yang menyadari jika Arletta baru saja keluar dari kamar tuannya.
Seakan tuli, Arletta mengacuhkan ucapan Kalpana. Gadis itu melewati asisten Langit begitu saja, tanpa menanggapi ataupun melawannya.
" Kurang ajar! " Kalpana semakin geram.
" Berisik! suara mu menyakiti telinga semua orang yang mendengarnya! " seru Arletta.
" Sialan! " umpatnya.
Tidak mau mendengar ocehan Kalpana yang tak jelas dan memuakkan. Arletta memilih untuk mencari keberadaan Langit.
" Kak.. " Arletta membuka pintu ruangan kerja tuan Ardi. Salah satu pelayan memberitahukan keberadaan Langit pada Arletta.
Langit menoleh. " Ya? "
" Aku cari kakak tau! tadi kenapa gak bangunin aku? " tanyanya.
" Kamu keliatan kecapean. Aku gak tega banguninnya. " jawab Langit. Arletta mendekat, berdiri di samping Langit.
" Duduk di sofa dulu. Aku lagi meeting. "
" Oh.. " Arletta membulatkan bibirnya, baru sadar jika Langit sedang melangsungkan meeting di depan laptop nya. Arletta pun menurut, menunggu Langit di sofa.
Beberapa menit kemudian...
" Udah kak? " tanya Arletta saat Langit menutup laptopnya.
" Hem.. " Langit menganggukkan kepalnya.
" Kak, sini.. " Arletta menepuk sofa di sebelahnya, meminta Langit duduk di dekatnya.
" Ada apa? " Langit menurut, duduk di samping Arletta.
" Kakak bentar lagi mau pergi. Aku mau ngabisin waktu berdua sama kakak. " ucap Arletta. Gadis itu sudah membenamkan kepalanya di dada Langit, memeluknya erat. " Apa kakak gak kangen sama aku? " tanya Arletta yang masih penasaran. Kemarin Langit belum sempat menjawabnya. Arletta ingin tahu, apakah Langit merindukan dirinya? seperti dirinya merindukan Langit. "
Langit bungkam, mulutnya seakan rapat. Tidak mendapatkan jawaban dari Langit, Arletta mendongakkan kepalnya menatap Langit. " Kakak gak kangen aku? " tebaknya karena Langit tak kunjung menjawab. Ada raut kekecewaan di wajah cantik itu. Tatapannya berubah menjadi sendu.
" Aku tau, kakak pasti gak kangen kan, ama aku! " Arletta mengendurkan pelukannya. Kecewa karena hanya dirinya yang memiliki rasa rindu.
" Bukan begitu. " Langit bingung menjelaskannya.
Arletta kembali memeluk erat. " Aku gak mau tau! meski kakak gak kangen sama aku. Aku tetep kangen sama kakak. Aku gak pengin jauh-jauh dari kakak! " Arletta kekeh mempertahankan perasaan nya untuk Langit. Dia tidak akan berhenti memperjuangkan cinta pertama nya.
" Aku kangen kakak! "
Cup.. Niat hati mengecup hanya sekilas. Namun bibir Arletta sudah terpaut dengan bibir Langit. Langit menyambut ciuman itu. Melummatnya dengan lembut. Nafas Arletta terengah-engah, Langit menciumnya dengan durasi lama.
" Jangan salah kan aku Arlet, Kamu yang memulainya.. " ucapnya. Kemudian menyambar bibir Arletta, melummatnya dengan rakus. Perlahan tubun Arletta terbaring, menikmati sentuhan yang baru pertama kali ia rasakan.
" Aku gak bisa berhenti! " bisik Langit.
Bersambung...