
Cinta yang mulai tumbuh ketika ia beranjak remaja, hingga sampai saat ini hanya nama pria itu yang selalu ada di hatinya. Pria kedua setelah ayahnya yang ia cintai, ia kagumi, ia damba. Berharap suatu saat nanti akan hidup bersama layaknya pasangan.
Mendapat perhatian serta kasih sayang lebih dari seorang laki-laki yang tidak memiliki tali persaudaraan, membuat Arletta berharap penuh akan cinta dari seorang Langit.
Cinta yang begitu dalam di relung hatinya membuat Arletta tak berpaling pada pria manapun. Tidak ada wajah tampan yang berkilau di matanya selain pria bernama Langit.
Namun kenyataan pahit serta kekecewaan menerpa gadis itu. Gadis yang tidak pernah merasakan apa itu luka, gadis yang hanya tahu rasanya bahagia saja. Sedari kecil, Arletta belum pernah merasakan betapa sulit, sedih, kecewa yang begitu mendalam pada suatu hal, karena kedua orang tuanya serta saudara nya selalu saja memberikan kebahagiaan padanya.
Tetapi kini ia merasakan rasa sakit di hatinya, begitu pilu, serasa menyayat hati. Semua itu di awali karena adanya rasa cinta. Cinta yang bisa membuat kita bahagia sekaligus sedih.
Gadis itu masih tak sadarkan diri ketika Benzema dan Soraya membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Kak, kenapa Arlet gak bangun-bangun?" tanya Soraya. Sudah hampir satu jam, Arletta belum juga sadarkan diri.
"Jangan cemas, sebentar lagi Arlet akan siuman." jawab Benzema yakin. Menurut keterangan dokter, Arletta dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin Arletta syok mendapati kenyataan jika Langit telah bertunangan dengan wanita lain.
***
"Pah, apa yang papa katakan?" Langit terkejut mendengar pengakuan Ardiansyah yang mengaku jika sudah mengundang Arletta untuk makan malam. "Kenapa papa ceroboh."
"Sebenarnya ada apa dengan kalian?" Ardiansyah masih bingung dengan situasi yang ada. "Apa kesalahan papa?"
Langit mengelak nafasnya dalam, meraup wajahnya dengan kasar. "Kenapa papa tidak bilang kalau Arlet datang ke sini."
"Papa lupa nak." jawabnya. "Tapi kenapa Arlet pingsan? dan Benzema melarang mu untuk pergi ikut dengannya." Langit terpaksa tidak ikut mengantar Arletta ke rumah sakit, karena ancaman Benzema.
"Pah, Arlet adalah wanita yang kucintai. Dia kekasih ku." Langit menjeda, menghirup nafasnya dalam. "Dia pasti sedih melihat aku bertunangan dengan Neelam." perasaan Langit kacau, tidak bisa di bayangkan betapa sakitnya Arletta melihat pertunangan palsunya.
Ardiansyah terkejut mendengar pengakuan Langit. Ia pikir, putranya itu bukan mencintai Arletta, melainkan Soraya. "Papa kira kamu sukanya sama Soraya, adiknya King."
Langit mendengus kesal. "Arletta pah, bukan Soraya! " tak habis pikir, bagaimana papahnya berfikir dirinya mencintai Soraya!
"Dia juga tak kalah cantik. Kamu pinter nak, milih gadis secantik Arletta." baik Soraya maupun Arletta, Ardiansyah tetap menyukainya. Mereka sama-sama cantik dan dari keluarga baik juga.
"Ini akan semakin sulit! Benzema tidak menyukai ku. Apalagi uncle Bastian! hufftt.." Langit merasa akan lebih sulit untuk mendapatkan Arletta.
"Kamu harus berjuang! jangan menyerah. Mendapatkan gadis secantik Arletta memang harus penuh perjuangan." Ardiansyah mendukung putranya untuk memperjuangkan Arletta. " Kejarlah dia, urusan kamu sama Neelam biar papa yang bereskan."
"Maaf papa melakukan kesalahan besar nak."
"Sudah terlanjur. Aku memang harus berusaha untuk mendapatkan Arlet."
Dengan berbekal pesan dari Soraya, yang memberitahu rumah sakit dimana Arletta di rawat. Langit bergegas menuju rumah sakit itu. Berharap keadaan Arletta baik-baik saja. Dan Langit akan memberitahu yang sesungguhnya, jika tunangan itu hanyalah sandiwara belaka. Tidak peduli lagi dengan kemarahan Benzema.
"Ngapain kamu kesini!" sentak Benzema melihat kedatangan Langit, kedua matanya melirik Soraya tak suka. Benzema yakin jika Soraya yang telah memberitahu keberadaan mereka.
"Sorry.." mulut Soraya berucap tanpa suara.
"Peduli apa kamu! dia pingsan itu gara-gara kamu!" kesal Benzema. "Sudah ku bilang dari dulu, jauhi adik ku!" seru Benzema.
"Sumpah kak, itu semua hanya sandiwara--- " ucapannya terhenti karena Benzema menyelanya.
"Dunia mu itu penuh dengan kepalsuan! Lingkungan pekerjaan mu itu buruk untuk adik ku!" Benzema memang tidak menyukai dunia pekerjaan Langit, yang selalu berkecimpung dengan artis cantik nan seksii serta hingar bingar dunia malam. Benzema yakin, jika Langit mengikuti dan terbawa arus tidak benar. Menjadikannya pria yang buruk! sama sekali tidak pantas untuk adiknya.
"Entertainment..menggelikan!"
"Kak Benz, bukannya onti Clara juga artis ya?" celetuk Soraya. Jika Benzema tidak suka pekerjaan Langit yang berurusan dengan entertainment, bukannya ibu dari Benzema sendiri adalah artis papan atas yang terkenal pada jamannya.
Benzema mendelik pada Soraya, tidak suka mengatakan kebenaran itu. "Beda! mami Clara wanita baik-baik!" ucapnya.
"Tapi kan--"
"Bisa diem gak!" Benzema.
"Iya kak, aku diem." Soraya langsung tertunduk.
Benzema dan Soraya kembali masuk ke dalam ruangan Arletta di rawat, membiarkan Langit berdiri di luar ruangan. "Jangan masuk!" ucapnya pada Langit.
Meskipun tidak di perbolehkan masuk oleh Benzema, Langit tetap menunggu di kursi tunggu yang terdapat di luar ruangan itu. Menanti Arletta sadarkan diri.
Tengah malam Arletta membuka kedua matanya, tetapi tatapannya terlihat kosong. Bahkan Arletta tidak merespon apapun pertanyaan dari Benzema dan Soraya.
Kedua matanya melihat lurus ke depan. Sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Benzema dan Soraya.
"Kak, kenapa Arlet diem aja?" Soraya panik dengan keadaan Arletta. "Arlet gak kenapa-napa kan kak?"
Benzema menggelengkan kepalanya, dia sendiri pun tak tahu.
Dokter mengatakan jika Arletta kemungkinan mengalami guncangan kejiwaan, karena menghadapi peristiwa yang tidak diharapakan. Dan harus segera berkonsultasi ke psikiater.
Mendengar itu, Benzema melupakan amarahnya pada pria penyebab kondisi Arletta saat ini. "Brengssekkk!" beberapa tinjuan melayang di wajah Langit.
Langit pun terkejut mendengar kabar buruk itu. Sangat merasa bersalah pada kekasihnya. "Arletta.. maafkan aku.." tanpa melawan apapun yang dilakukan Benzema padanya.
Benzema memutuskan akan membawa Arletta kembali ke Indonesia. Dengan private jet milik keluarga nya, memudahkan mereka pulang malam ini juga.
Langit hanya bisa memandang kepergian Arletta. Tanpa bisa ikut ataupun mengantarnya. Tubuh Langit tak berdaya akibat amukan dari Benzema.
Langit baru menyadari jika cinta Arletta begitu besar padanya, dan menyesal karena telah mengambil keputusan yang salah. Jika saja dia tidak menyetujui pertunangan sandiwara itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Dia tidak akan menyakiti Arletta. Kini hanya penyesalan yang ada. Tidak mungkin ia bisa mengulang semuanya.
"Arlet.. tunggu aku.."
Bersambung...