Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Meminta ijin



Dua kata yang keluar dari mulut Arletta nyatanya tak juga membuat gadis itu pulih seperti sedia kala. Tidak ada orang yang mendengar kemajuan kecil dari Arletta. Hari ini ketika pagi, Clara mengajak Arletta menghirup udara segar di sekitar rumahnya.


Sepulang dari jalan paginya, Clara di kejutkan dengan kiriman yang tidaklah sedikit. Hampir penuh satu mobil box.


"Kiriman darimana?" tanya Clara pada Art-nya yang lebih dulu menemui kurir pengirim barang.


"Dari pak Ardiansyah Nyah.." jawabnya.


"Pak Ardiansyah?" gumamnya seraya mengingat-ingat siapa pemilik nama itu. "Oh.. papanya Langit!" ucapnya ketika ingatannya menemukan pria pemilik nama tak asing itu.


Kali ini Ardiansyah tidak salah alamat lagi, mengirimkan barang pada calon menantu dan besannya. Seandainya saja ia tak sibuk, Ardiansyah akan segera bertolak ke Indonesia. Melihat keadaan Arletta.


"Banyak banget!" seru Clara.


"Ada apa ini?" Bastian yang baru saja keluar dari Raja terkejut melihat kiriman sebanyak itu."Dari siapa ini?"


"Dari pak Ardi mas, papahnya Langit!" jawab Clara antusias. Wanita itu cukup senang dengan kiriman yang di berikan Ardiansyah.


"Balikin aja mih!" seru Benzema.


"Balikin? ih ngaco!" Clara enggan mengembalikannya. Barang sudah di kasih kenapa harus di kembalikan? menolak rizki tidak baik!


"Mih!" Benzema.


"Dih.. ini buat mami sama Arlet, kok kamu yang nolak? aneh!" sewot Clara. "Lagian ini bagus-bagus, mami suka." Clara memegang salah satu kain saree dengan motif paling indah, ada juga tas rajut dengan corak kas India. "Bagus banget, pasti mahal."


"Aku bisa beliin mih.. balikin aja!" Benzema.


"Mas, anak kamu kenapa sih.. sensi banget!" Clara mengadu pada sang suami. "Aku kan suka ini semua mas. Makanannya juga kayaknya enak-enak. Ada Jelebi ni mas, aku suka."


"Ayo bawa masuk semua." ucap Clara memerintahkan Art dan kurir untuk meletakkannya ke dalam rumah.


"Biarkan saja." ucap Bastian pada Benzema, ketika putranya hendak melayangkan protes.


"Yaudah pih, Benz pergi dulu." pamit Benzema.


"Kemana pagi pagi gini. Kantor juga masih tutup." Bastian.


"Kerumah uncle. Key bikin masalah kayaknya." Bastian mengangguk mengerti, lalu membiarkan Benzema pergi.


***


Siangnya Langit datang menemui Arletta kembali, sesuai janjinya. Dia akan datang setiap hari untuk menemani Arletta. Langit tidak akan menyiakan waktu untuk menemani Arletta makan siang karena dia yang akan menyuapi kekasihnya itu.


"Langit.. sampein terimakasih ya sama papa mu. Onti suka kirimannya." ujar Clara.


Kedua alis Langit menyatu, tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Clara. "Maksudnya?"


"Iya tadi pagi, Onti dapet kiriman semobil box dari pak Ardi. Sampein rasa terimakasih onti ya." Clara.


"Iya Onti." jawab Langit, meski dia tak tau apa yang telah ayahnya lakukan.


Langit membawa Arletta ke tanam belakang rumah. Sambil menyuapi Arletta makan, Langit selalu mengajak Arletta mengobrol. Tidak lupa selalu menyematkan kata-kata manis dan mengumbar cinta pada gadis itu.


Langit menunggu waktu sore hari untuk mengajak Arletta keluar, agar cuaca tidak terlalu panas. Langit sudah mengantongi ijin dari Clara.


Sebelum keluar, Arletta terlebih dahulu mengganti pakaiannya. Dengan dress bermotif bunga-bunga. Terlihat sangat cantik, cantik yang natural. Bibirnya di oles dengan lipbalm agar tidak terlihat pucat. Semua urusan Arletta di tangani Clara yang di bantu oleh suster.


"Kamu cantik." bisik Langit di telinga Arletta. "Aku semakin mencintai mu." walaupun kondisi Arletta tak berdaya seperti orang lumpuh, cinta Langit padanya tak berkurang sedikitpun. Bahkan semakin mencintai kekasihnya itu.


Langit membawa pulang Arletta ketika hari sudah menggelap. Rumah Arletta pun sudah di penuhi seluruh anggota keluarga.


Benzema sudah menghadangnya di depan pintu. Kilat amarah terlihat di wajah tampannya. Kedua tangannya terlipat, bersedekap di dadanya.


"Semakin berani kamu! hah!" seru Benzema.


Langit menanggapinya dengan santai. Tidak ada ketakutan sedikitpun.


"Aku sudah minta ijin sama Onti." ucapnya.


"Gak harus pulang malam juga!"


"Biarkan aku masuk dulu. Kasian Arlet kedinginan." Langit mendorong kursi roda hingga masuk ke dalam rumah. Dan di ruang tamu ia bisa melihat ada Bastian serta Kenzo duduk di sana.


"Kenapa pulang sampai malam! bukannya kamu tau sendiri, kondisi Arletta seperti itu. Arlet belum bisa lama-lama di luar sana!" tegur Bastian yang juga geram karena Langit membawa putrinya hingga hari menggelap.


"Maaf om, tadi aku sekalian mengajak Arlet makan malam." Langit.


Bastian menghela nafasnya. "Arlet bukan lagi gadis pada umumnya." ucapnya. Kemudian Bastian memanggil suster untuk mengambil alih Arletta.


"Sus, bawa Arlet ke dalam." ucap Bastian.


"Baik Pak."


" Tunggu biar aku aja." Langit mencegah suster mengambil alih Arletta. Langit ingin mengantar Arletta sampai ke kamar.


"Biarkan suster saja!" Bastian.


"Maaf, saya harus cepat-cepat membersihkan nona Arletta. Mungkin dia sudah tidak nyaman." suster melirik ke tubuh bawah Arletta. Memberi kode pada Langit agar mengerti.


"Tapi-- " Langit tak mengerti apa yang berusaha suster itu katakan padanya. Sedangkan suster sudah membawa Arletta.


"Langit! Arletta harus di bersihkan, duduk di kursi roda, gak bisa ngomong dan gerak. Menurutmu dia bisa menahan buang air kecil maupun besar. Kamu bawa Arlet berjam-jam!" seru Kenzo. Langit tertegun mendengarnya. Sama sekali tak terpikirkan olehnya.


"Lebih baik pulang sekarang dan jangan pernah kembali lagi." seru Benzema.


"Kecilkan suaramu Benz, oma dan opa sedang istirahat." Bastian. Benzema mendengus kesal.


Langit masih terdiam, entah apa yang ada di pikiran nya saat itu. Lalu tiba-tiba suaranya mengejutkan semua pria yang ada di sana.


"Ijinkan saya menikahi Arletta om. Saya akan menjaga dan mengurusnya." ucapnya lantang tak ada keraguan.


Bersambung...