Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Menjadi satu



Soraya tidak langsung pulang setelah menemani Arletta berbelanja, belanjaannya pun tak kalah banyak. Soraya meminta sopirnya untuk membawa pulang terlebih dahulu, karena dirinya akan bertemu dengan kekasih barunya.


Gadis itu sangat senang, mengingat ini adalah kencan pertamanya. Soraya menunggu Digta di sebuah cafe. Lama menunggu, hampir tiga puluh menit, Digta baru terlihat batang hidungnya.


"Sorry, lama nunggu ya?" ucap Digta. Pria itu mengelus sayang pipi kekasihnya. Lalu duduk di sebrang Soraya.


"Gak papa kok, aku seneng nunggunya." ucapnya di buat semanis mungkin. Padahal jika dengan yang lainnya, Soraya pasti sudah mengamuk karena kesal menunggu terlalu lama.


"Makasih sayang. Mau pesan apa? atau mau pindah resto?" ujar Digta.


Soraya menggeleng. "Aku masih kenyang. Kita langsung nonton aja yuk?" ajak Soraya.


"Oke! kita langsung nonton aja." Digta.


Mereka berdua pun beranjak, segera ke bioskop untuk membeli tiket. "Kamu kenapa? kok kringetan gitu, kayak abis di kejar anjjing?" penampilan Digta memang rapih tapi dahinya di penuhi dengan peluh, lengannya pun terasa basah.


"Aku tadi lari, takut kamu nunggunya kelamaan."


"Oh.."


Saat mengantri membeli tiket, tiba-tiba lengan Soraya di tarik oleh wanita yang tak di kenal.


"Awww!' pekik Soraya yang terkejut.


" Sialan! elu yang ngrebut Digta dari gue!" sarkasnya. Mata gadis itu berpindah pada Digta. "Bangkke banget lu ya!" matanya melotot ke arah Digta. "Lu seenaknya ninggalin gue gitu aja! mentang-mentang gue udah bangkrut! dasar cowok matre! gue sumpahin lu kena sial!"


"Gue gak ngrebut Digta dari elu! dia yang deketin gue duluan!" Soraya.


"Bebi, apa apaan lu! bikin malu aja!" seru Digta sembari menghindar dari cengkraman gadis bernama Bebi itu.


Bebi tak peduli. "Gue ingetin ya ama lu." Bebi menatap Soraya. "Jauhi dia sebelum lu di kabulin. Dia itu cowok brengsekk!" setelah mengatakan itu, Bebi pergi.


"Sayang, jangan percaya ama dia. Dia itu cewek stress, gara-gara aku tinggalin."


Soraya mengangguk, meski tak percaya sepenuhnya pada Digta. Soraya tak mau ambil pusing yang terpenting kencan pertama nya tetap berjalan lancar dengan kekasihnya. Toh, dia tidak mengharapkan lebih dari hubungan ini. Soraya hanya ingin menikmati indahnya berpacaran.


***


"Wah.. wah.. ada angin apa anak papa ini mau menginap di sini." Ardiansyah menyambut kedatangan Langit dan Arletta yang baru saja tiba di rumahnya.


"Gak ada apa apa, pengin nginep aja, gak boleh pah?" Langit.


"Arlet kangen sama papa." ucap Arletta lalu memeluk papa mertuanya itu.


"Papa serasa punya anak perempuan kalo gini." Ardiansyah begitu senang mendapatkan menantu seperti Arletta.


"Sayang, jangan lama-lama peluknya." Langit melerai pelukan itu. Menjauhkan Arletta dari Ardiansyah. " Papa gak boleh deket deket, Arlet punya Langit."


Cetak! Ardiansyah menjitak kening putranya. "Kamu pikir, papa mau ngrebut Arlet? yang benar saja!" seru Ardiansyah. "Bucin taro pada tempatnya! masa papa di cemburuin!"


Arletta terkikik geli. "Jangan kan papa, papi aja udah gak boleh aku cium."


Ardiansyah mendelik. "Raj! apa benar?"


Langit hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Sudah lah pah, aku lapar. Kita makan malam aja."


Makan malam berlangsung dengan hening, karena itu peraturan yang ada di rumah itu. Berbanding balik jika di rumah Arletta yang menyempatkan berbincang bersama ketika berkumpul di meja makan.


Seusai makan malam, Arletta lebih dulu berpamitan untuk masuk ke kamar. Sedangkan Langit dan Ardiansyah mengobrol seputar proyek yang tengah Langit tangani.


Di dalam kamar, Arletta menjadi gugup. "Apa iya aku harus pake ini?" Arletta memandangi lingerie yang ia beli. Rasanya malu sekali memakainya. Memakai pakaian tapi terlihat seperti tellanjang.


Seusai mandi, Arletta menggunakan lingerie yang sudah ia siapkan, menutupnya terlebih dahulu dengan kimono. Arletta ingin merias wajahnya agar terlihat segar. "Perfect." ucapnya memuji diri sendiri. Tak lupa menyemprotkan parfume dengan aroma sensual, untuk menggoda sang suami.


Jantung Arletta berdebar menunggu kedatangan Langit, kimono nya telah ia singkirkan. Hanya lingerie yang kini menempel di tubuhnya.


Ceklek.. pintu terbuka.


Cahaya temaram di kamar itu menyambut kedatangan Langit. Jakunnya naik turun tatkala melihat istrinya memakai baju haram yang menggugah hasratnya. Arletta masih duduk di meja rias. Arletta terlihat sangat cantik malam ini. Langit melangkah mendekat, tetapi sebelum itu, tangannya lebih dulu mengunci pintu kamar.


"Kamu cantik sekali.." Langit memeluk Arletta dari belakang, mengendus aroma di ceruk leher sang istri.


"Kak.." Arletta di buat meremang oleh sentuhan Langit.


Tak mau menunggu lama, Langit menggendong istrinya menuju ranjang. "I love you.." ucapnya lalu menyambar bibir yang sedari tadi menggoda. Mereka berdua saling bertautan, menikmati ciuman yang memabukkan.


"Kak.. kak Langit.." rancaunya memanggil sang suami ketika merasakan sensasi luar biasa. Langit begitu bersemangat menikmati kulit selembut sutra milik Arletta. Menjelajahi setiap inci tubuh istrinya.


"Sangat cantik." Langit selalu memuji apa saja yang ia sentuh. Kedua matanya tak hentinya berbinar ketika melihat tubuh polos Arletta yang sudah di penuhi buliran keringat, membuat gairrahnya melambung tinggi.


Wajah Arletta bersemu merah, rasanya malu sekali di tatap suaminya seperti itu. Berulang kali ia menutupi tubuh bagian intinya. Namun Langit selalu menepis tangannya. "Jangan di tutupi."


"Aku malu kak."


"Kenapa harus malu? Dia sangat cantik dan indah di pandang." Langit menatap lapar bagian itu.


"Kak!" pekik Arletta ketika Langit membenamkan wajahnya di sana. Penolakan yang berakhir dengan desaahan syahdu. Karena kenikmatan kembali menjalar di tubuh Arletta.


Nafas Langit terdengar memburu, matanya berkilat kabut gairrah. Begitu juga Arletta yang baru saja mencapai pelepasan untuk pertama kalinya. "Suaramu sangat sekksi." sontak saja Arletta menutupi wajahnya karena malu.


Langit terkekeh. "Kita mulai sekarang." pria itu bergegas melepaskan celana yang masih melekat di tubuhnya.


Arletta membulatkan kedua matanya ketika melihat milik suaminya. Untuk pertama kalinya, Arletta melihat benda itu dengan jelas dan nyata. "Ya ampun!" Arletta gelagapan ketika Langit perlahan mendekat. Ada rasa takut dalam dirinya, apalagi milik Langit begitu...


"Kak, tunggu.."


"Ada apa?"


"Aku mau ke kamar mandi." ucapnya gugup.


Langit mengerutkan keningnya. "Nanti aja, kakak udah gak tahan." pria itu mendekat lagi, merentangkan kedua kaki Arletta. Sangat siap memulai aksinya.


"Kak!" Arletta sedikit menjauh meski hanya bergeser mundur satu jengkal.


Langit tersenyum. "Gak usah takut, kakak akan pelan-pelan." ujarnya yang mengetahui jika istrinya tengah gugup.


"Percaya ama kakak." Langit mengelus pipi Arletta lalu mengecupnya. "Kakak akan pelan.. oke?" Arletta mengangguk. Dia tak mau mengecewakan suaminya.


"Aww.. kak!" Arletta meringis kesakitan. Ketika Langit berhasil menembus pertahanan nya. Cukup sulit dan memakan waktu beberapa menit hingga Langit berhasil mengoyaknya.


"Sakit kak!"


Langit berhenti sejenak."Sstttt... tenang sayang, sakitnya cuma bentar."


Setelah menunggu berkurangnya rasa sakit yang Arletta rasakan. Langit memulai gerakannya. Pelan namun pasti dan nikmat. Membuat kedua insan itu mendesaah untuk mencapai puncak nirwana bersama.


Dah lah ya,, segitu aja pokpokcoy nya.. yang baca pagi jangan salahkan otor๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Bersambung...