Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Akhirnya...



Bastian, Benzema, Kenzo dan King tampak acuh dengan kedatangan Kalpana. Hanya Clara dan Giska yang menyambut wanita itu.


"Silahkan duduk." ucap Davon mempersilahkan Kalpana untuk ikut bergabung. Tak ada senyum di wajahnya.


Kalpana mengangguk, memilih duduk di hadapan ketiga pria tampan itu. Kalpana pikir rasanya tidak enak menolak ajakan tuan rumah untuk sarapan bersama.


"Astaga semuanya bule! seperti bukan wajah orang Indonesia. Tampan semua!" Kalpana mengedarkan matanya menelisik semua wajah tampan yang ada di hadapannya penuh kagum.


King melotot sangat lebar ketika Kalpana memandang wajahnya dengan senyum-senyum tidak jelas. "Dasar gila!" lirihnya, yang mampu membuat Kalpana menundukkan pandangannya.


Sedangkan Benzema dan Kenzo tak menanggapi tatapan Kalpana yang sebelumnya mengamati wajah mereka.


Arletta datang ke meja makan bersama Langit. Senyumannya selalu menghiasi wajah cantik Atletta. "Pagi semua.." sapa Arletta. Pagi ini Arletta meninggalkan kebiasaannya yang selalu memberikan satu kecupan selamat pagi pada anggota keluarga.


"Mana kecupan selamat pagi untuk papi!" tegur Bastian.


Cup. "Aku aja yang cium kamu mas." Clara dengan senang hati menggantikannya. "Arlet udah punya suami mas, ntar suaminya cemburu." ucap Clara ketika Bastian akan melayangkan protes.


"Dia putriku, kenapa harus cemburu?" Bastian menatap tajam Langit.


"Dih, kayak kamu gak aja!" Clara. Bastian seakan lupa, dia juga pernah melarang istrinya agar tak sembarang mencium pria lain, termasuk Adrian dan Arsen. Bastian tak suka itu.


"Arlet, lehermu merah semua. Kamu di gigit serangga?" celetuk King. Sebenarnya King tahu jika tanda mereh itu bukan dari gigitan serangga, melainkan perbuatan suami mesummnya.


Sontak saja Bastian dan Benzema mendelik ke arah Arletta, lalu menatap tajam ke Langit. Tatapan yang menyiratkan kemarahan. Sedangkan Langit tersenyum kikuk, tak ada rasa takut sedikitpun, karena ia melakukannya pada istrinya sendiri. Bukan suatu kesalahan.


"Aduhhh.. putri kecil mommy ternyata udah gede." hanya Clara yang tampak senang. "Secepatnya berikan cucu untuk mami." Arletta tertunduk malu mendengarnya.


"Clara!"


"Mami!" seru Bastian dan Benzema bersamaan.


King terkekeh geli melihat ke-posesif-an Bastian dan Benzema pada Arletta.


"Masih pagi Key, jangan berbuat ulah." timpal Kenzo ketika mulut King akan berbicara, yang sudah pasti membuat suasana semkin panas.


"Oke!"


"Udah ah.. ayok kita mulai sarapannya." Giska menengahinya.


"Iya, opa udah laper." Davon.


Kekesalan Benzema tak hanya itu. "Kamu tidak pernah melihat pria tampan seperti ku! jaga mata mu dan tutup mulut mu!" rupanya Benzema jengah ditatap oleh Kalpana sedari tadi.


Kalpana gugup karena ketahuan memperhatikan Benzema.


"Jangan galak-galak Kak Benz, siapa tau dia jodoh mu!" mulut King tak bisa diam, senang sekali membuat pria berwajah datar itu marah.


"Iya.. iya.. aku diem." ucap King karena Benzema sudah menatapnya, seolah ingin memakannya hidup-hidup.


***


Arletta dan Soraya berniat pergi ke pusat perbelanjaan seusai kuliah. Arletta sudah kembali lagi dengan aktivitas nya menuntut ilmu.


"Mau beli apa Let?"


"Gue pengin beli lingerie. Mau bikin surprise buat kak Langit. hehe.." Arletta ingin mempersiapkan malam pertamanya bersama Langit.


"Cie.. yang bentar lagi jadi mantan perawan." goda Soraya.


Kedua gadis itu sibuk memilih lingerie untuk Arletta. Bukan hanya satu yang Arletta beli. "Beli banyak Let, buat stock. Biar tiap malem jadi malem panas terus."


Arletta mengangguk. Dia pun sangat senang dan tak sabar menanti malam pengantinnya.


Seusai belanja, Arletta dan Soraya pergi ke restoran untuk mengisi perutnya yang kosong. Berbelanja memuat tenaga mereka terkuras habis.


"Ra, elu yang nemenin gue belanja kok belanjaan elu yang banyak!" Arletta melihat banyak paperbag di tangannya.


"Hehe.. gue gatel kalo gak ngabisin duit banyak!"


Arletta menggelengkan kepalanya. "Jangan boros boros Ra, kasihan suami mu ntar."


"Tenang aja, gue bakal cari suami yang kaya raya melebihi daddy, jadi aman buat gue yang hobby nya shopping."


"Percaya diri banget! sekarang aja cowok lu cuma seleb abal-abal! mana ada duit dia!"


"Tapi ganteng Ra, gue gak niat ampe nikah ama dia." Soraya berkata jujur, dia hanya ingin menikmati indahnya berpacaran. "Kalo suami, nanti minta daddy aja yang cariin."


"Mau di jodohin lu?"


"Kaya ama banyak uang apa bedanya! dasar matre!"


"Gak apa matre, yang penting hidup gue aman dari kemiskuenan."


"Gak butuh cinta?"


"Butuh bangetlah.." Soraya.


"Kalo tajir melintir tapi gak cinta ama elu gimana Ra, yang ada elu menderita karena cinta!"


"Eeiitttsss.. udah di pastikan calon suami gue bakalan cinta mati! secara gue baik, cantik, penurut! cowok manapun pasti bakalan terpesona ama gue.. termasuk calon suami gue ntar." ucap Soraya dengan percaya diri.


"Dih pede banget!" cibir Arletta. "Kalo sebaliknya gimana Ra? kenyataan tak seindah khayalan lu?"


Soraya menggelengkan kepalanya." Pasti sesuai ama ekspektasi gue!"


"Kalo Ra, kalo!"


"Tenang, ada kak Key, Benz, Kenz yang bakalan nglindungin gue.. berani macem macem ama gue? tinggal panggil ke empat bodyguard itu."


"Satunya lagi siapa Ra?"


"Daddy!"


"Oh.. kirain laki gue di itung ama elu!"


"Gak ah.. kak Langit buat elu aja, gak bakal gue utak atik. Tapi Kak Benz sama kak Kenz bakalan gue repotin! elu jangan cemburu ya Let."


"Dih.. mana ada gue cemburu!" seru Arletta. "Yang bakal cemburu itu pasangan mereka ntar kalo elu glendotin mulu."


"Ahh.. mereka masih betah jomblo! apalagi kak Benz, gak ada minat ama cewek, heran gue.."


"Kak Kenz udah punya kak Tasyi, bentar lagi nikah. Kalo kak Benz kata mami perlu di jodohin baru mau nikah."


"Oh.. gitu ya."


***


Arletta menyambut kepulangan Langit sepulang dari kantor nya. "Capek banget ya?"


"Lumayan.. capeknya udah ilang pas liat wajah kamu yang cantik." Langit mencium gemas kedua pipi Arletta.


"Ehemmm.." Kalpana berdeham membuat Langit menghentikan aksinya. "Tuan, apa saya sudah boleh kembali ke hotel?" tanya Kalpana.


"Iya, pulanglah."


"Baik tuan, saya permisi."


"Kalpana tunggu." Langit menghentikan langkah Kalpana. "Mulai besok tinggal di apartemen saja, kebetulan papa punya apartemen yang gak di tempati."


"Baik tuan, terimakasih banyak." Kalpana lalu pergi


"Kamu gak marah kan?" tanya Langit pada Arletta. "Kasian harus tinggal di hotel. Kebetulan apartemen yang dulu di tempati karyawan papa kosong."


Arletta mengangguk. "Gak kok, siapa yang marah."


"Duh.. aku kangen ama kamu, ke kamar yuk!" ajak Langit.


"Ish.. mesum kamu kak!" Arletta sudah bisa menebak kegiatan yang suaminya inginkan jika berada di dalam kamar.


Langit terkekeh. "Wajar lah, punya istri cantik sayang kalo dianggurin."


"Nanti malem aja kak, aku ada kejutan buat kakak." ucap Arletta malu-malu.


"Kamu udah selesai dapetnya?" tanya Langit penuh harapan. Arletta mengangguk.


"Akhirnya.." senang bukan kepayang mendengar kabar gembira itu. "Yaudah berarti malem ini kita nginep di rumah papa, biar gak ada yang gangguin."


"Mau ya?"


"Terserah kakak." jawabnya lirih sembari menundukkan kepalanya.


"jadi gak sabar, pengin cepet-cepet malem!" bisik Langit. "Bersiaplah.. malem ini pasti kamu bakalan menjerit!"


"Ikh.. kakak!!"


Bersambung...