
Arletta tidak percaya begitu saja dengan Kalpana, yang mengatakan jika Langit tidak ada di rumah. Arletta berjalan ke arah pintu lalu secepat kilat berbalik, berlari melewati Kalpana yang berteriak kesal. Kalpana yang berfikir Arletta akan pergi tidak sigap mencegah Arletta.
Arletta berlari ke lantai dua, menuju kamar milik Langit. Arletta masih mengingat seluk beluk rumah yang dulu sering ia kunjungi. Gadis itu tidak mau lagi kehilangan kesempatan bertemu dengan pria yang selama ini ia rindukan.
Ceklek..
Pintu kamar itu terbuka. " Kak.. kak Langit! " Arletta menyerukan nama Langit, sembari berjalan masuk mencari keberadaan pria itu.
Ranjang terlihat kosong, pintu kamar mandi pun terbuka, tidak ada tanda-tanda keberadaan Langit di sana. Namun saat Arletta ingin berbalik, gadis itu melihat pintu balkon kamar yang terbuka. Langkahnya ter-urungkan untuk menggapai pintu hendak keluar.
Arletta berjalan semakin mendekat, jantung nya berdegup dengan kencang ketika melihat punggung seorang pria ada di sana. Tubuh tegap dengan lengan berotot, rambut yang sedikit gondrong, kini berdiri membelakanginya.
" Kak.. " lirih Arletta. Sungguh hatinya berbunga sekaligus gugup bertemu untuk pertama kalinya dengan pria yang berhasil bersemayam di hatinya.
Jantung nya semakin cepat berdetak tatkala pria itu menoleh, memperlihatkan hidung mancung nya, alisnya yang tebal, bibir sedikit berisi, kelopak mata yang cekung, sungguh Arletta terkesima dengan wajah tampan Langit, meski hanya terlihat dari samping saja. " Kak.. " panggilnya sekali lagi seraya melangkah lebih dekat.
Arletta tertegun, wajah Langit kini menghadap sempurna ke arahnya. Arletta mengembangkan senyum manisnya. Akhirnya ia dapat bertemu juga dengan pria itu.
" Hai.. " sekali lagi Arletta menyapa Langit dengan canggung karena pria itu diam dan hanya menatapnya lekat. " Kakak masih ingat kan sama aku? aku Arlet.. " ucapnya.
Langit mengangguk. " Iya.. aku mengingatnya. " hanya mendengar suara Langit saja membuat darah Arletta sudah berdesir, gadis itu benar-benar mencintai Langit.
Arletta yang terlalu merindukan Langit dengan cepat memeluk tubuh tegap itu. " Kakak aku kangen.. " kepalanya sudah bersandar di dada bidang pria itu. Menghirup aroma tubuh yang bercampur dengan parfum laki-laki itu.
Kedua tangan Langit masih tak bergerak, membiarkan Arletta memeluknya erat tanpa membalas dengan pelukan hangat. " Apa kabar? " tanyanya.
Arletta mendongakkan kepalanya, hingga wajah mereka berdua berhadapan langsung, pelukan itu masih belum terlepas, sepertinya Arletta enggan untuk melepaskannya.
" Aku baik kak. " jawab Arletta. Wajah cantik Arletta memenuhi netra coklat milik Langit. " Kakak sendiri bagaimana? apa kakak selama ini baik-baik aja, meski jauh dari ku? " seolah sudah menganggap mereka memiliki hubungan khusus, Arletta bertanya seperti layaknya kekasih. " Kakak makin tampan. " ucapnya tak sadar. Wajah tampan Langit tepat ada di depannya, membuat bibir mungil milik Arletta tak tahan, untuk tidak memuji ketampanan pria itu.
Satu tangan Arletta mengurai pelukan, sedangkan yang satu lagi masih melingkar di pinggang Langit. Arletta mengelus rahang pria itu, seakan tak percaya jika yang di hadapan nya kini adalah Langit, pria yang selama ini sulit untuk di hubungi, pria yang di tunggu-tunggu tentang kabarnya.
" Apa kakak merindukan ku? " tanya Arletta, bibirnya selalu mengulas senyuman, menghiasi wajah cantiknya. Sedangkan Langit hanya dia menatap Arletta begitu intens. Gadis kecilnya kini tumbuh dewasa dan sangat cantik.
" Ish.. kakak! jawab dong! " suara Arletta merengek begitu manja. " Apa kak Langit gak kangen sama aku? kakak udah janji mau kasih kabar ke aku, tapi kak Langit bohong! sama sekali gak ngasih kabar, di hubungi juga susah! " keluhannya.
Belum juga Langit menjawab pertanyaan Arletta, suara Kalpana terdengar.
" Hei.. gadis lancang! " serunya. " Maaf tuan, saya tidak bekerja dengan baik. Gadis ini memaksa masuk ke dalam. " Kalpana meminta maaf pada Langit karena tidak bisa menghalau Arletta.
Kalpana semakin meradang ketika melihat Arletta memeluk erat tuannya, dengan cepat menarik Arletta agar menjauhi Langit. " Lancang kamu ya! " serunya, kali ini kedua matanya membola, begitu mengerikan.
Arletta meronta dari cekalan Kalpana, tidak mau pergi dan berpisah dengan Langit. " Ish.. lepasin gak! "
" Gadis sialan! tidak tau malu! " Kalpana.
" Jaga ucapan mu Kalpana! " seru Langit. Mendengar pembelaan dari Langit membuat hati Arletta berbunga, lalu menjulurkan lidahnya pada wanita asli India itu. Kalpana mendelik, mengumpat dalam hati.
" Arletta.. lebih baik kamu pulang. Ini sudah malam, orang tuamu akan cemas. " ucap Langit.
" Sudah di usir masih saja tidak mau pulang! memalukan! " cibir Kalpana dengan suara rendah. Hanya Arletta yang dapat mendengar jelas cibiran itu.
" Kak.. "
" Udah malem Arlet. " ucap Langit seraya melihat jam yang melingkar di lengannya. " Udah jam sembilan lebih.. kamu harus pulang. "
Arletta tertunduk, rasanya tidak mau waktu berlalu dengan cepat. Bertemu Langit hanya beberapa menit saja membuatnya sedih. " Besok kakak berangkat jam berapa? " tanya Arletta.
" Siang. " jawab Langit.
" Tepatnya jam berapa? biar aku ikut antar kakak ke Bandara? " Arletta ingin mengantar kepergian Langit sampai ke Bandara.
" Kakak lupa, nanti tanya aja ke Kalpana.. semua dia yang urus. " Langit.
Arletta mendengus kesal, tidak mungkin Kalpana akan memberitahu nya, mengingat wanita itu sangatlah sinis padanya. " Yasudah, besok pagi sekali Arlet akan ke sini. Kakak tunggu Arlet ya, jangan jalan duluan. " pinta Arletta.
" Iya. "
Arletta tersenyum. " Yaudah Arlet pulang dulu. " sebelum benar-benar pergi, Arletta mendaratkan satu kecupan di pipi Langit.
Cup
" Malam kak. " Arletta tertunduk malu dengan kelakuannya sendiri. Tapi gadis itu tidak tahan untuk mengabaikan Langit.
Langit menatap punggung Arletta yang semakin menjauh. Laki-laki itu tidak berusaha menawarkan diri untuk mengantarkan pulang ataupun mengantar hingga pintu utama.
Kalpana menghadang langkah Arletta. " Jangan dekati tuan Raj. Dia tidak suka gadis seperti mu! " peringatan Kalpana membuat kening Arletta berkerut.
" Ck! kak Langit itu calon suami ku! dia mencintai ku! " seru Arletta. " Kamu hanya perempuan yang bekerja dengan kak Langit! jadi jangan menghalangi ku dan terus ikut campur dengan urusan tuan mu! "
" Percaya diri sekali kamu! " Kalpana tersenyum remeh. " Saya bukan sekedar bekerja dengan tuan Raj. Kami memiliki hubungan spesial. " akunya.
Arletta terkekeh, tidak percaya begitu saja dengan ucapan Kalpana. " Mana mungkin kak Langit menyukai mu! apalagi mencintai mu! " seru Arletta.
" Alis menukik tajam, kedua mata di hiasi lingkaran hitam, lipstik mu terlalu merah. " Arletta menilai dandanan Kalpana. " Gak mungkin kalau kak Langit suka! kak Langit sukanya gadis cantik dan imut seperti aku! " Arletta mengerlingkan sebelah matanya seraya meledek.
" Kamu bukan saingan ku! " tingkat percaya diri Arletta menuruni ibu kandungnya.
Sedangkan Kalpana sudah geram dengan kesombongan dan hinaan Arletta.
" Aku pulang dulu.. bye.. Aunty Kalpana... sampai jumpa besok pagi! " serunya sembari berjalan keluar.
" Sialan! " geram Kalpana, wanita itu tidak suka dengan panggilan Arletta ( Aunty).
Bersambung...