Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Berpisah



Pagi-pagi sekali Arletta sudah bersiap untuk mengantarkan Langit ke Bandara. Gadis itu terlalu bersemangat hingga tak menyadari keberadaan maminya.


" Sayang, mau kemana kamu pagi-pagi udah cantik? " tanya Clara. Wanita itu baru saja dari dapur membuat teh hijau untuk dirinya dan suaminya yang tengah bersiap untuk berangkat bekerja. " Kemarin pagi-pagi udah ngilang? sekarang gitu lagi? "


Arletta menyengir. " Hehe.. maaf mih, Arlet ada urusan penting. "


" Urusan apa? " tanya Clara.


" Ya penting aja! mami gak usah kepo deh ah.. ini urusan anak muda. " ujar Arletta.


Clara memicingkan sebelah alisnya. " Gak aneh-aneh kan? ntar ketauan papi bisa gawat! "


" Gak mih, mami tenang aja. Arlet cuma nganterin temen ke Bandara kok. Abis itu langsung ke kampus. " jawab Arletta. " Udah ah.. Arlet mau cepet-cepet, ntar telat. " Arletta mendekat lalu mencium pipi kanan dan kiri maminya. " Arlet pergi ya mah.. " pamitnya.


" Iya, Hati-hati.. " ucap Clara. " O iya.. jangan lupa nanti malam ikut mami pergi ke pesta.. " teriak Clara mengingatkan acara nanti malam.


" Iya mih.. Arlet inget! " serunya.


***


" Pagi.. pacar ku yang paling tampan.. " sapa Arletta mengejutkan Langit yang tengah menikmati sarapan paginya seorang diri.


Langit tersenyum. " Pagi juga cantik.. cantiknya cuma punya kakak.. " Langit ikut menggoda balik. Arletta memang terlihat sangat cantik di mata pria itu.


Arletta duduk di samping Langit. " Aku juga laper... belum sarapan, aaaa... " ucap Arletta lalu membuka mulutnya, meminta suapan dari Langit.


Langit dengan senang hati menyuapi nasi goreng yang tengah ia santap. "Kenapa gak sarapan dulu sebelum kesini. "


" Takut di tinggal kakak, jadi harus cepet-cepet. " ucapnya sembari mengunyah makanan dalam mulutnya. Langit melihatnya sangat gemas, bibir Arletta mengerucut karena mulutnya penuh dengan makanan.


" Pelan-pelan makannya. " ucapnya. " Kakak gak akan ninggalin kamu kok. "


Arletta mengangguk. " Iya jangan sampe! kalau kakak ninggalin aku, Bisa-bisa aku jadi gila karena di tinggal kakak. "


" Kok gitu? "


" Iya.. aku gak mau kakak ninggalin aku. Soalnya aku udah cinta benget.. banget.. banget!!!! ama kakak. Udah mentok pokoknya! hati aku udah terisi full nama kakak! gak ada yang lain.. hihi.. " akunya di sertai tawa cekikikan.


Langit menatap Arletta, tidak percaya gadis itu memliki cinta begitu besar. " Cinta ku padamu lebih besar dari pada cinta mu pada ku! " Langit tak mau kalah.


" Iya.. iya kak, aku tahu. Makanya cepet-cepet halalin aku. Biar kita bisa bareng terus. "


" Iya nanti kakak minta sama papi kamu dan kak Benz. "


" Beneran kak? " wajah Arletta berbinar mendengar nya.


Langit mengacak gemas puncak kepala Arletta. " Iya, tapi tunggu waktu yang tepat. Sabar ya cantik.. "


Arletta mengangguk. " Aku bakal sabar kok, sabar benget malah.. " senyum Arletta tak surut, selalu merekah. " Hihi.. aku udah gak sabar pengin jadi nyonya Malhotra.. "


Langit terkekeh. " Orang sabar di sayang Tuhan, yang pasti aku tambah sayang.. " terlalu gemas, Langit tak tahan untuk mendapatkan kecupan di pipi Arletta.


Cup. " Gemes aku tuh.. " Langit.


Arletta merona. " Ikh.. kakak nakal.. tapi.. "


" Tapi apa? "


Langit kembali tergelak. " Sini.. sini.. kakak kasih bonus kecupan.. " Langit pun mengecup kening, kedua pipi, hidung, dan terakhir di bibir Arletta. " Udah kan? " Arletta mengangguk.


" Kak, kalo kita nikah nanti.. aku di dandanin kayak orang India dong? kayak yang aku liat di tipi.. pasti aku tambah cantik deh.. " terlalu bahagia, Arletta sudah memikirkan sejauh itu. Rasanya tak sabar menunggu hari dimana dia dan Langit akan menjadi pengantin.


" Apapun keinginan mu, kakak akan kabulkan. " ucap Langit.


" Uuhhh.. so sweet... makin cinta aku sama kakak. " Arletta memeluk erat tubuh Langit. Sarapan pagi mereka terlupakan begitu saja.


Langit membalas begitu erat pelukan itu. Lalu mengecup puncak kepala sang kekasih. " Tunggu kakak.. kakak akan menyelesaikan nya semua dan kembali untuk mu. Menjemput mu. "


" Menyelesaikan apa? " tanya Arletta.


" Emm.. pekerjaan. "


" Oh.. " Arletta mengangguk. " Tapi kak.. liburan semester aku -- " ucapannya terhenti. " lebih baik jangan kasih tau dulu ah.. aku kasih kejutan buat kak Langit. "


" Kenapa liburan semester? "


" Gak kak.. gak jadi hehe.. " Arletta mengurungkan niatnya memberitahu jika liburan semester dia berencana untuk berlibur ke India bersama Sora. Tentu saja dia akan menemui Langit di sana.


" Kak! kita gak jadi ke Bandara? " pekik Arletta ketika melihat jam menunjukkan angka setengah delapan. " ayok kak berangkat ntar telat. "


" Ya ampun! keasikan ngobrol ama kamu jadi lupa waktu. " Langit bergegas.


" Kak, kok aku jadi sedih ya.. bakal lama nih gak ketemu ama kakak. " wajah Arletta berubah menjadi sendu. Enggan sekali berpisah dengan kekasih barunya.


" Kita bisa telfonan, Vcall juga bisa. "


" Iya.. tapi beda aja.. gak bisa peluk kakak. "


" Aduh.. jangan sedih dong! kakak gak tega ninggalin kamu kalo kamu sedih gini.. " ucap Langit lesu.


" Hehe.. iya.. iya.. aku kuat kok.. gak bakal nangis. Bisa, bisa nahan gak sedih liat kakak pergi. "


Nyatanya ucapan Arletta hanya besar omongannya saja. Dia menangis tersedu ketika di Bandara. Tidak rela melepas kepergian Langit. Memeluk erat tubuh Langit, agar tidak pergi meninggalkan nya. Arletta tak peduli dengan tatapan orang sekitar.


" Tuh.. kan katanya gak nangis? ini kok malah kejer. " Langit mengelus-elus punggung Arletta, menenangkan gadis itu.


" Hiks.. hiks.. aku gak sanggup liat kakak pergi. "


Langit menghela nafasnya. Lalu melihat jam yang melingkar di tangannya. " Yaudah kakak anterin kamu ke parkiran. Lebih baik kamu pulang dulu aja.. gak usah liat kakak pergi. "


Arletta mengangguk setuju. " Iya kak, aku gak sanggup. Tapi sama aja, abis kakak anterin aku, kakak akan pergi juga.. hiks.. hiks.. "


" Hei.. jangan nangis. " Langit menangkup kedua pipi Arletta. " Kakak pergi untuk kembali lagi. Kamu mau kan? tungguin kakak? "


" Iya kak. "


Dan perpisahan mereka di akhiri dengan sebuah kecupan manis. Arletta berjalan tanpa menoleh ke belakang, takut jika dia tak sanggup menerima perpisahan itu.


" Aku akan kembali Arlet.. tunggu aku menyelesaikan semuanya.. aku berjanji pada mu. " ucap Langit sembari menatap punggung Arletta yang semakin menjauh dari pandangannya.


Bersambung...