Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Raj Malhotra, I Love you!



Mendengar keluarga besan dari India sudah datang, Clara mengajak Bastian untuk menyambut kedatangan mereka.


"Mas, hari ini kita ke rumah pak Ardi ya?" ajak Clara.


"Jadwal ku padat. Besok-besok aja." jawab Bastian.


"Ish, gak enak mas. Keluarga besar udah dateng dua hari yang lalu. Kita belum menyapa mereka. Nunggu besok kelamaan!" ucap Clara yang tak enak hati jika tidak bertemu sapa dengan keluarga besan, jauh-jauh datang dari India tapi tidak di sambut dengan baik. "Kamu sibuk apa sih? kalo ada jadwal oprasi, minta dokter lain yang handle. Masa, pemilik rumah sakit masih aja sibuk." gerutu Clara.


"Iya.. iya.. nanti siang kita dateng ke sana." Bastian akhirnya menyetujui.


"Ajak Benz sama Kenz juga ya."


Bastian mengangguk. "Hem."


Siang harinya, tepat jam makan siang. Clara dan suami mengajak kedua putranya berkunjung ke rumah Ardiansyah. Mereka berempat di sambut dengan baik.


Langit dan Arletta menemani Keluarga Arletta untuk di perkenalkan dengan keluarga dari India, dengan sedikit bantuan dari Kalpana tentunya.


Acara makan siang menjadi meriah dengan kehadiran dua keluarga besar. Untungnya kediaman Ardiansyah cukup besar, bisa menampung puluhan orang.


"Terimakasih sudah sudi datang ke rumah ku. Menyambut keluarga besar ku." ucap Ardiansyah merendah diri.


"Kamu ini ngomong apa. Kita sudah jadi keluarga. Udah sepantasnya kami datang berkenalan dengan keluarga jauh." Bastian.


"Perkenalkan, ini adik sepupu ku." Ardiansyah memperkenalkan adik sepupu laki-laki nya yang bertubuh gempal dengan wajah yang di hiasi kumis tebal. "Rajas namanya." lanjut Ardiansyah.


Bastian dan Rajas pun berkenalan, saling melempar senyum. Tak lupa Clara ikut berkenalan juga.


"Dan ini istrinya, Nandini." Ardiansyah mengenalkan istri dari Rajas. Satu persatu Ardiansyah mengenalkan seluruh anggota keluarga yang ada.


Bastian dan Clara cukup kesulitan untuk mengingat nama mereka semua, selain sulit di ucapkan, nama mereka pun terdengar asing.


Kedua mata Clara berbinar ketika Nandini memberikan bingkisan padanya, kain saree yang sangat indah dan juga perhiasan sebagai pelengkapnya. Nandini memberikan sebagai tanda perkenalkan dan penyambutan keluarga yang telah terikat.


Clara berterimakasih, "Sukriya.." tentu satu kata yang mudah Clara ucapkan dan mengerti.


Clara menyikut Langit, sang menantu. "Mami gak bisa ngomong Hindi, bilangin ke mereka. Besok kita undang makan malem di rumah mami." bisik Clara.


"Iya mih, Langit bilangin." Langit pun menyampaikan niat baik Clara yang mengundang bibi Nandini dan keluarganya untuk makan malam di rumah mertuanya besok malam.


"Jangan lupa juga bilangin sama Pak ladoo singh, jangan cuma sama bibi mu." ucap Clara.


Langit mengerutkan keningnya, mencerna siapa yang di maksud mami Clara. Sedangkan Arletta yang mendengarnya tertawa geli.


"Bukan ladoo singh mih, tapi paman Rajas." sebisa mungkin Arletta menahan tawanya takut bibi Nandini tersinggung.


"Ah gak tau mami, lupa namanya. Pokoknya sekeluarga Ladoo singh kita ajakin makan malam di rumah." ujar Clara.


"Kamu dari tadi bilang paman, paman mulu. Udah mirip cartoon Hindi. Gak uncle aja gitu, biar enak di denger." cetus Clara.


"Hehe.. udah kebiasaan mih." Langit.


Benzema dan Kenzo hanya duduk mendengar celotehan Ardiansyah, Rajas dan Bastian. Kedua pria itu bingung harus berbicara apa. Masuk ke dalam obrolan para tetua sangat membosankan. Lagian mereka berdua cukup kesulitan dalam bahasa, kasihan juga kalau pak Ardiansyah menjadi juru translate mereka bertiga.


Kalpana yang sangat tertarik pada kedua pria itu mendekat. Bermaksud untuk lebih dekat. "Maaf tuan, jika kalian merasa bosan, di sana ada meja bilyard. Bisa menghibur anda." ucapnya pada Benzema dan Kenzo.


Kenzo menaikan sebelah alisnya, mengingat-ingat siapa wanita itu. "Kami di sini saja." ucapnya. Lalu kembali memainkan ponselnya. Berbalas pesan dengan sang kekasih. Sedangkan Benzema tak menggubris Kalpana. Jangan kan untuk menatap, melirik pun tidak.


Kalpana menundukkan kepalanya, rasanya sangat sulit untuk mendekati salah satu laki-laki itu.


***


"Sayang.. " Langit menghampiri istrinya yang sedang duduk di kursi meja rias. Melakukan rutinitas malam hari sebelum tidur. Merawat kecantikan wajahnya biar tetap terlihat cantik dan bersinar. "Udah nemu tempatnya untuk bulan madu kita?" bibir Langit sudah mulai beraktivitas, mengecupi pundak lalu leher putih mulus sang istri.


"Kita pergi ke kasmir aja kak. Aku penasaran pengin ke sana." jawab Arletta.


"Gak ke Eropa aja? atau yang lainnya gitu." saran Langit.


Arletta menggeleng. "Udah sering liburan ke sana sama mami, papi."


"Ya udah, aku nurut kamu aja deh.. yang penting kita honeymoon." Langit akan mengikuti kemanapun Arletta ingin pergi. Selama mereka berdua tidak masalah bagi Langit.


"Papa sama yang lain udah pada tidur?" tanya Arletta.


"Papa udah masuk ke kamar, kayaknya udah pada tidur. Cuma anak anak muda aja yang belum tidur." Tangan Langit mulai bergerak nakal, mencari-cari kesenangan. Arletta membiarkan saja, sudah terbiasa dengan kelakuan suaminya yang selalu tidak bisa diam jika di dekatnya.


"Sayang, aku pengin." ucap Langit yang sudah bergairrah. Ingin segera melakukan hal yang mengenakkan. Tanpa banyak kata, Langit menggendong Tubun Arletta menuju ranjang.


"Kak." desis Arletta ketika Langit mulai turun, berjongkok di depannya. Kedua kaki Arletta di bentangkan, Langit mulai beraksi.


Tubuh Arletta meliuk-liuk, merasakan geli bercampur nikmat. Dessahan tak tertahankan, keluar dari bibir manis itu.


Langit suka mendengarnya! Rasanya ada kepuasan tersendiri mendengar sang istri mendessah nikmat oleh nya. Langit bangkit seusai wanitanya mendapatkan pelepasan.


Nafas Arletta masih naik turun, ketika Langit memasukinya. Memulai permainan dengan irama pelan, lalu cepat. Langit begitu lihai dan ahli dalam kurun waktu beberapa bulan saja.


Permainan Langit sungguh membuat Arletta melayang. Dessahan yang keluar dari mulutnya membuktikan jika suaminya mampu memberikan kepuasan padanya. "Raj Malhotra, I Love you!" teriak Arletta ketika mencapai kepuasan untuk kedua kalinya.


"Love you too.." Langit menghujani wajah istrinya dengan kecupan sayang.


Bersambung...