Raj Malhotra, I Love You!

Raj Malhotra, I Love You!
Restoran



"Tuan Raj, ada meeting siang ini pukul 2." ucap Kalpana mengingatkan atasannya. Saat ini Langit dan Arletta tengah berada di sebuah butik untuk mempersiapkan gaun pengantin, yang tak lama lagi akan di gunakan di acara pesta perayaan pernikahan mereka.


"Iya." jawab Langit. Lalu menghampiri istrinya yang sedang berbincang dengan designer. "Sayang, aku harus kembali ke kantor, ada meeting. Kamu masih lama?"


"Yaudah kamu ke kantor aja kak, aku masih lama." Arletta.


"Selesai jam berapa? biar aku jemput." Langit.


Arletta menggeleng, "Aku bisa pulang sendiri kak, gak usah di jemput."


"Beneran?" tanya Langit.


"Iya kak, ini belum tau selesai nya kapan."


"Oke." tak lupa Langit mencium pipi istrinya sebelum pergi. "Bye.. sayang.."


"Bye.."


Kalpana menundukkan kepala untuk berpamitan pada Arletta. Kemudian berjalan mengikuti Langit.


"Meeting dengan siapa siang ini?" tanya Langit.


"Sutradara dan Alesya, serta dua artis lainnya yang akan bergabung dengan proyek film kita selanjutnya." ujar Kalpana.


Langit mengangguk mengerti. "Kapan mereka mulai syuting?"


"Secepatnya, dua minggu lagi. Bisa lebih cepat atau lebih lama, tergantung pertemuan nanti. Semua akan di bahas saat meeting."


"Oke!" Langit mengangguk mengerti. "Bahasa mu sudah mulai lancar, good job." itulah yang Langit suka dari Kalpana. Cara kerja nya bisa di andalkan. Mudah menyesuaikan diri dengan cepat.


"Terimakasih.."


Langit membuka pintu mobil, duduk di bangku pengemudi. Kalpana duduk di sampingnya. "Jangan terlalu serius bekerja, mulailah mencari kekasih. Kamu terlalu lama menjomblo." ujar Langit.


"Siapa tau cocok dengan orang Indonesia." lanjutnya.


Kalpana mengangguk. " Iya."


Sesampainya di kantor, ruang meeting telah di penuhi peserta. "Untung pas waktunya." gumam Langit yang melihat jam tangannya menunjukkan pukul dua tepat.


"Selamat siang.." kedatangan Langit di sambut oleh rekan yang sudah menunggu. Meeting pun berlangsung. Langit mendengarkan nya dengan fokus.


"Jaga mata anda. Tuan Raj sudah memiliki istri!" ucap Kalpana setengah berbisik pada wanita yang menatap atasannya begitu mendamba.


Alesya, artis yang tengah berada di puncak saat ini begitu terpana melihat Langit, produser yang menaungi film yang akan ia bintangi. Ia pikir, produser nya sudah lanjut usia. "Dia tampan, tapi sayang udah nikah.. tapi apa bener udah nikah? apa si cewek itu bohong?"


"Sudah ku bilang, jangan menatapnya seperti itu!" Kalpana memperingatinya lagi.


"Ck!" Alesya berdecak kesal. "Kayak bininya aja! bawel banget!"


Seusai meeting, Alesya yang penasaran dengan Langit pun memberanikan diri mendekati Langit. "Hai Pak Raj, senang bisa mengenal anda." Langit tersenyum dan menganggukkan kepala. Tanpa berniat untuk menjawab nya.


"Terimakasih sudah mengajak saya bergabung dengan proyek film ini."


"Bukan karena saya, tapi karena talenta anda memang bagus. Terbukti anda bisa lolos casting." ucap Langit.


Alesya tersenyum. "Iya.. bagaimana pun juga saya tetap berterimakasih pada anda. Untuk itu saya mengundang anda makan malam bersama sebagai tanda terimakasih. Malam ini jika anda berkenan." Alesya sangat berharap Langit akan menerima ajakan makan malamnya.


Belum sempat menjawab, Kalpana sang asisten datang meminta Langit untuk kembali ke ruangannya. Membuat Alesya kesal bukan main.


"Thanks.." ucap Langit pada Kalpana. Dari dulu, asistennya itu sangat bisa di andalkan. Menghalau wanita wanita yang ingin mendekatinya.


Kalpana tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali terlihat di wajah wanita itu. Meski awalnya ia tak menyukai Arletta, entah karena apa itu. Tapi sekarang Arletta sudah menjadi istri tuannya, dia harus menghormati Arletta seperti dirinya menghormati Langit.


Sepulang dari butik, Arletta ingin mampir ke restoran terlebih dahulu karena perutnya merasa lapar, dia melewatkan makan siangnya karena terlalu sibuk.


Restoran yang ia singgahi kebetulan dekat dengan perusahaan milik ayahnya. Arletta meminta kakak tertuanya untuk menemani.


Benzema datang bersamaan dengan Soraya. Ternyata Arletta juga mengundang Soraya.


"Ck! kakak sibuk, kenapa maksa kakak dateng kalau udah ada Sora." gerutu Benzema. Dia harus meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menemani adiknya.


"Yaelah kak, kapan lagi bisa makan bareng di luar. Bentar lagi kaka kan balik ke Meksiko." keberangkatan Benzema ke Meksiko tertunda beberapa hari atas permintaan Bastian-ayahnya.


"Hai Let, kak.." Soraya datang tak seorang diri, ada Digta sang kekasih yang menemaninya.


"Hai Ra." balas Arletta. Sedangkan Benzema tak menyapa balik Digta, menurutnya tidak penting berurusan dengan pria tak di kenalnya.


"Siapa dia?" Benzema bertanya pada Soraya.


"Hehe.. dia pacar aku kak." jawab Soraya sembari memamerkan gigi rapihnya. Benzema melirik pria di sebelah Soraya, pria muda dengan gaya K-poper. Menggelikan di mata Benzema.


Pesanan datang, namun Benzema ijin pergi ke toilet terlebih dahulu. Kebetulan ponselnya pun ikut berbunyi. Pria itu menjauh untuk menerima panggilan sebelum ke toilet.


"Wah.. wah... ternyata elu berhasil juga dapetin dia." suara mantan kekasih Digta tiba-tiba saja terdengar. "Elu yakin masih mau jadi pacar dia." ucap Bebi pada Soraya. "Hati-hati ntar ketipu kayak gue. Cuma di manfaatin doang."


"Apaan sih elu. Kita udah gak ada hubungan lagi, jadi jangan ganggu gue, apalagi nuduh gue gak jelas kayak gitu." seru Digta tak terima, juga takut Soraya akan mempercayai ucapan dari Bebi.


"Yank, jangan percaya ama dia. Dia stress karena gue putusin." ucap Digta pada Soraya. "Dia susah move on kali ama aku yank."


"Heh! enak aja kalo ngomong!" seru Bebi. "Cuih.. gue susah move on dari elu! ge er banget!"


"Kalo gak susah move on terus apa? masih gangguin gue?" Digta. Arletta dan Soraya hanya diam mendengarkan.


"Gue cuma gedeg baget tiap liat muka elu! pengin gue cakar!" Bebi begitu menggebu, terlihat sangat membenci pria yang sudah berhasil menipunya. "Asal elu tau! gue udah dapet pengganti elu yang jauh lebih oke dari elu!"


"Bulshit!!" Digta.


"Aduh.. udah udah.. kenapa jadi ribut di sini sih.. bikin malu aja!" Arletta mulai jengah melihat pertengkaran itu.


"Itu pacar baru gue!" tunjuk Bebi pada pria gagah yang berjalan mendekati arah mereka.


"Kak Benz!" pekik Arletta dan Soraya yang terkejut melihat Bebi menunjuk Benzema dan mengaku kekasihnya.


"Jangan ngaco lu!" Digta tak percaya begitu saja. Apalagi yang di tunjuk Bebi adalah pria yang baru saja ia kenal. Tidak mungkin seorang Bebi mengenal Benzema.


Bebi berjalan mendekati Benzema, tanpa aba-aba gadis itu mengecup bibir Benzema. Untuk membuktikan bahwa dia memiliki kekasih yang lebih segalanya dari Digta.


Cup.. kecupan singkat itu membuat tubuh kekar yang berdiri menjulang terdiam mematung. Terkejut akan ciuman yang mendarat tiba-tiba di bibirnya.


Arletta dan Soraya menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Mereka berdua pun terkejut, tak menyangka jika kakak yang super duper kaku nan garing itu sudah memiliki seorang kekasih.


"Sorry.. please bantu gue.." bisik Bebi pada Benzema dengan wajah memelas.


"Kalian percaya kan dia cowok baru gue?" ucap Bebi. "Dan dia lebih segalanya dari elu!" tunjuk Bebi pada Digta.


Dengan berani Bebi menyeret dan menggandeng Benzema keluar dari restoran tersebut. Benzema masih terdiam karena syok dengan kejadian barusan.


"Mami.. kak Benz masih normal." gumam Arletta sembari memandangi Benzema yang semakin menjauh.


Soraya mengangguk. "Kabar baik buat onty Clara."


"Dan kak Benz pinter banget milih, dia cantik dan sexyy.. " Arletta.


Bersambung...