
Mendengar adik perempuan satu-satunya pergi berlibur ke India, sesibuk apapun pria berwajah datar dan dingin itu langsung melesat ke negri Bollywood itu. Ada rasa cemas dan tak rela jika adik perempuan nya datang hanya bertujuan menemui pria yang menurutnya tidak pantas untuk adiknya.
Sejak dari dulu Benzema mengetahui jika Arletta mempunyai ketertarikan pada pria berketurunan India itu. Adiknya itu selalu memuji-muji apa saja yang ada di diri pria bernama lengkap Raj Malhotra. Meski tak ada di depan matanya, Arletta selalu saja setia memantapkan hatinya untuk seorang Raj Malhotra. Jauh di mata dekat di hati, seperti itulah kebanyakan orang bilang, dan itu membuat Benzema merasa risih dan tak suka.
Bahkan telinga nya serasa sakit jika mendengar pujian yang dilontarkan oleh Arletta, padahal saat itu usia Arletta masih terbilang belia.
Raj Malhotra memang pria yang baik, tapi bukan berarti terbaik untuk Arletta. Masih banyak pria lain di luar sana yang jauh lebih baik dari Raj Malhotra.
Benzema mengumpat kesal ketika tahu jika King yang di percayai untuk menjaga kedua gadis itu malah pergi meninggalkan mereka demi seorang wanita yang tak jelas asal usulnya.
Meski Benzema jauh dari keluarga besarnya, pria itu selalu mengontrol apa saja yang memang berhak untuk ikut andil. Seperti perusahaan peninggalan buyutnya, grandpa Jordan. Sebagai cicit tertua, Benzema menasihati King agar berhati-hati dalam mengurus perusahaan tersebut. Kalau saja dia acuh, mungkin King akan menggila, memberikan dengan suka rela apapun yang wanitanya inginkan.
" Antar aku ke hotel tempat mereka menginap. " ucapnya ketika mendaratkan kakinya di tanah negara tersebut.
" Baik tuan. "
***
" Sora, lu beneran gak mau ikut? " tanya Arletta sekali lagi.
" Gue capek. Lu aja deh yang dateng. Gak papa kan? " Soraya terlalu lelah untuk ikut datang ke acara yang akan berlangsung di rumah besar Langit. Seharian dia menemani Arletta untuk berkeliling mencari gaun khas India yang paling bagus di mata Arletta.
" Beneran gak ikut? ntar kalo kak Langit sama Uncle Ardi nanyain elu gimana? gak enak kalo lu gak dateng. " ucap Arletta.
" Besok aja deh gue kesana. Malem ini gue mau tidur, beneran capek banget gue. " Soraya merebahkan diri di ranjang setelah selesai membantu Arletta berias. " Salamin aja buat mereka. "
Arletta mengangguk mengerti. " Iya ntar gue sampein. "
" Elu bisa kan berangkat sendiri? gak nyasar? " Soraya.
" Bisa lah kan pake taxi. Jadi gak mungkin gue nyasar. "Arletta.
" Oh.. iya juga sih. " Soraya.
" Gue jalan ya.. " pamit Arletta.
" Iya.. Hati-hati.. "
Arletta terlihat begitu cantik malam ini. Gadis itu menggunakan pakaian khas India. Rok mengembang yang cantik di hiasi manik manik berkilau menambahnya semakin memukau, sehelai selendang ia letakan di pundak menjuntai hingga menutupi perut ratanya yang terekspos. Rambut tergerai dengan hiasan kepala tertata dengan rapih dan benar. Telinganya tersemat anting panjang, kedua lengannya pun di penuhi gelang perak, serta lehernya di lingkari sebuah kalung senada dengan gelangnya. Arletta terlihat cantik seperti orang India sungguhan.
" Kak Langit tunggu aku.. " gumamnya begitu bahagia tak sabar bertemu dengan sang kekasih.
Perjalanan menuju rumah Langit lumayan memakan waktu, karena banyaknya kendaraan memadati jalanan.
Pintu gerbang nan tinggi terbuka lebar, kali ini Arletta dapat masuk ke rumah itu dengan mudah. Gadis itu menatap sekeliling, halaman rumah di penuhi dengan kendaraan. " Sepertinya keluarga kak Langit banyak banget. "
***
Soraya terkejut mendapati Benzema ada di depan kamarnya. " Kak Benz. " mata yang sedari tadi lengket, enggan terbuka menjadi mendelik ketika melihat Benzema di depannya.
" Sedang tidur? " tanyanya.
" Ini beneran kak Benz? " Soraya mengabaikan pertanyaan Benzema. Gadis itu masih tak percaya dengan kehadiran kakak sepupunya itu.
" Ck! " Benzema menoyor kening Soraya. " Beneran! masa jelmaan! "
Soraya tersenyum lebar, lalu menghamburkan pelukan pada pria yang semakin gagah itu. " Aku kangen.. " lama tidak bertemu, Soraya merindukan sosok kakak yang cuek namun sangat perhatian.
" Gak usah lebay! mana Arlet! " Benzema.
Soraya mengendurkan pelukannya, " Arlet gak ada kak. Pergi.. "
" Kemana? "
" Hehe.. tapi jangan marah ya kak. " cengir Soraya. " Arlet pergi nemui kak Langit. "
" Eh.. mau kemana kak? " tanya Soraya, ketika Benzema pergi begitu saja.
" Nyusul Arlet! "
" Aku ikut kak! " Soraya berlari mengejar langkah Benzema.
Pria itu menghentikan langkahnya. " Mau ikut? " tanyanya. Soraya menganggukkan kepalanya. " Pake ini? " Benzema menyelusuri pakaian tidur yang di kenakan Soraya.
" Hehe.. tunggu kak aku ganti dulu. " secepat kilat Soraya mengganti pakaian nya.
Beberapa menit kemudian. " Ayo! " Soraya sudah siap. " Kak, kakak gak capek apa? baru dateng langsung jalan lagi? "
" Gak! "
" Ikh.. masih aja sama. Nyebelin! " cibir Soraya. Benzema masih saja seperti dulu, sangat irit bicara. " Kak? "
" Hem. "
" Minta uang jajan ya? kan udah lama gak ketemu. hehe.. " Soraya tetaplah Soraya, gadis cantik si pemburu barang branded. Gadis penyuka uang itu tidak ingat, siang tadi sudah menguras isi dompet kakaknya-King.
" Iya. " jawabnya yang tak mungkin menolak. " Kamu masih saja boros! " Benzema.
" Biarin.. sumber uangku banyak..hihihi.. " Soraya.
" Kak. "
" Apalagi! " kesalnya. Mulut Soraya pasti tidak akan berhenti mengoceh, membuat telinga nya sakit. " Kamu masih cerewet! "
Soraya mencibir, lalu berkata. " Aku denger dari mommy, Onti Clara mau cariin jodoh buat kakak. Kakak emang gak punya pacar? "
Benzema menghela nafasnya. Dia paling tidak suka jika ditanya mengenai wanita. Hidupnya terlalu sibuk untuk mengenal wanita. " Berisik! "
Melihat wajah Benzema yang menakutkan, Soraya membungkam mulutnya. Takut jika Benzema marah, uang jajannya akan terhambat.
***
Arletta melangkah masuk ke dalam rumah. " Apa aku terlambat? " gumamnya saat melihat ruang tengah yang sudah di penuhi banyak orang.
" Kenapa ada wartawan? " Pemandangan Arletta menangkap beberapa orang yang memegangi camera dan microphone. Mengerubungi sebuah sofa yang sudah tertata dengan apik di depan para wartawan tersebut.
Arletta melangkah maju untuk melihat ada siapa di balik gerombolan wartawan. Kendala bahasa membuat Arletta tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Samar-samar dia mendengar suara yang sangat ia kenali, berbicara dengan fasih bahasa India.
Senyuman Arletta mengembang. " Kak Langit. " Langkahnya semakin bersemangat untuk melihat betapa keren nya sang kekasih berbicara di depan camera.
Perlahan wajah tampan kekasihnya terlihat di antara celah. Semakin maju, bukan hanya Langit yang bisa ia lihat di sana. Di sampingnya duduk seorang wanita cantik, begitu dekat. Arletta masih mengikuti dan mengamatinya dari jauh. Menanti hingga acara itu selesai. Tanpa tahu apa yang mereka bicarakan.
Senyumannya memudar ketika tangan Langit menggenggam erat tangan wanita itu. Lalu memamerkan cincin di jari mereka, terlihat sama persis.
Jantung Arletta serasa berhenti berdetak, satu kata yang ia pahami di sela pembicaraan mereka 'Happy Engagement'.
" Kak Langit.. " lirihnya. Dadanya tersentak, terasa begitu sakit. Kedua tangannya telah merammas di letaknya di depan dada menahan rasa sakit itu. Air matanya pun luruh tanpa di pinta. Gadis itu tidak pernah menyangka akan mendapatkan kenyataan pahit itu.
" Arlet! " teriak pria yang baru saja masuk dan melihat Arletta jatuh terkulai lemas.
Semua mata tertuju pada gadis yang baru saja pingsan. Kedua mata Langit membulat, terkejut melihat kedatangan Benzema dan Soraya yang sedang memeluk gadis terkulai lemas di lantai.
" Arletta.. " dengan cepat Langit berlari untuk melihat kekasihnya.
" Jangan mendekat! " teriak Benzema yang sudah di penuhi amarah. " Jauhi adik ku! " Benzema menggendong tubuh Arletta keluar dari mansion itu.
Bersambung...